
Bagian 13.
...Kenangan pahit di kota Song...
Puluhan gerbong kereta telah keluar dari gapura kediaman keluarga Zhang. Ratusan pendekar berjejer rapi di samping gerbong kereta untuk mengawal dan menjaga rombongan. Para pendekar ini berada pada tingkatan pendekar tingkat lanjut.
( note : tingkatan pendekar :1. Bela diri – 2. Penempaan tenaga dalam ‘ pendekar tingkat dasar’ – 3. Pembentukan Qi ‘ pendekar tingkat atas’ - 4. Penyempurnaan Qi ‘ pendekar tingkat lanjut’ – 5. Pendekar suci ‘ pendekar tingkat dewa’. Untuk pendekar tingkatan dewa masih ada tahapannya lagi. )
Terdapat lebih dari 50 gerbong kereta dengan dua kuda yang menariknya. Gerbong kereta tersebut mampu menampung sampai satu ton muatan bahan material. Setiap gerbong berisikan dua orang yang nantinya bertugas memuat barang.
Zhang Quan dan Zhang Kun duduk di gerbong yang berbeda, mengingat pria kecil ini masih kesal dengan ucapannya sendiri untuk ikut kavilah ini ke kota Song.
Zhang Quan duduk di samping tukang muat barang yang merangkap mejadi kusir kuda. Penampakan yang lucu sebab ini seperti sebuah lagu anak anak ‘ kusir kuda’.
Bocah kecil yang duduk di samping kusir kuda dengan bahagia dalam lagu, tapi tidak dengan bocah kecil Quan yang terlihat malas dan tidak bahagia dalam perjalanan kali ini.
Perjalan kali ini melewati bebrapa gunung dengan hutan tapi bukan hutan liar sebab tidak ada monster atau binantang liar, ada juga pasangan muda liar yang besembunyi di semak semak melakukan reproduksi.
Di depan perjalan mereka terdapat sakte-sakte menengah di dekat perbatasan kota Bong dan Song. Mereka tidak kesulitan dalam mendapatkan ijin untuk melewati wilayah mereka, mengingat Keluarga Zhang merupakan keluarga besar pedagang.
Dan seluruh sakte telah sepakat untuk tidak mengusik dan menyusahkan golongan pedagang karena golongan ini memiliki alkemis untuk keperluan pengobatan bagi setiap pendekar.
Kesepakatan tersebut sebenarnya telah di buat sejak jaman dahulu, dimana kaum pedagang pasti memiliki tabib dan alkemis yang sangat di perlukan bagi setiap aliran sekte . Bila sahaja ada sakte yang menggangu pedagang maka sakte yang memiliki hubungan dekat dengan pedagang ini akan ambil tindakan.
Malam berganti dan bocah kecil ini tidak memulai lagi obrolannya dengan keponakanya. Ia masih sebal sendiri dengan keputusanya. Malam mereka lalui dengan diam. Mereka mengambil istirahat dan berhenti berjalan di saat malam hari.
Para pendekar melakuakan perburuan untuk makan malam dan para tukang muat barang merangkap menjadi koki memasak yang handal.
Pikiran Zhang Quan mulai hanyut dalam kenanganya di kota Song. Dia yang mentap api ungun mulai terkenang masa lalunya di kota Song. Perlahan kenagan kenagan tersebut membentuk sebuah video dalam pikirannya.
...5 tahun yang lalu di kota Song....
Kota Song. Sebuah wilayah di benua dataran tengan di bagian timur, satu wilayah dengan kota Bong dengan pembatas wilayah berupa sungai yang bernama sungai tanpa ujung.
Di perbatasan ini pula kepala keluarga Zhang menemukan bocah kecil Quan dalam keranjang yang hanyut dalam sungai. Bayi kecil tersebut begitu tenang tidak seperti bayi biasa pada umumnya.
__ADS_1
Kota Song memiliki nama lain yaitu kota seribu kisah. Banyak kisah kisah jaman dahulu yang terukir dalam tembok megah yang mengelilingi wilayah tersebut. Ada seseorangan yang mengatakan dulu kota Song merupakan pusat kerajaan di benua dataran tengah.
Lima tahun yang lalu. Di kota ini Zhang Quan juga melakukan pembelian material untuk pembuatan ramuan. Waktu itu Zhang Quan di temani pamannya Zhang Ping ke kota ini.
Kota ini sangat ramai. Terdapat satu sakte besar, enam sakte menengah dan puluhan sakte kecil. Sebab semua sakte sakte ini berlairan yang sama membuat kota ini jarang terjadi kerusuhan.
Jika pun ada paling cuma perkelahian biasa, tapi kadang pula terjadi perang kelompok. Namun itu bisa di atasi oleh sakte besar yang mendominasi kota Song.
Sakte Serigala putih. Sakte dengan keahlian kusus senjata tombak dan kapak. Sakte ini termasuk sakte besar lantaran memiliki jutaan anggota sakte. Hampir 60 % anggota sakte bermarga sama sebab sakte ini seperti keluarga pedagang Zhang yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan.
Di kota ini terdapat wilayah kusus, dimana seluruh orang yang berbeda sakte bisa saling berinteraksi. Pasar, benar sekali. Di tempat inilah seluruh jenis sakte bebas melakukan perdagangan dan pemenuhan kebutuhan pokok di sakte mereka masing masing. Di pasar ini pula lah sering terjadi perkelahian dan perang kelompok.
Pasar Guyangan namanya. Pasar yang memiliki luas lebih dari seribu kilometer persegi. Orang akan mengira ini kota bila baru pertama datang ke kota Song mengingat segala jenis hiburan, kedai, toko obat, kota sayuran dan hotel penginapan lengkap berada di sini.
Rombongan Zhang Quan dan pamannya ke kota ini berniat untuk membeli bahan. Mereka membagi tugas masing masing. Zhang Quan memiliki daftar sendiri dan pamannya juga memilik daftar sendiri. Mereka berpencar mencari bahan yang ada dalam daftar mereka.
Daftar bahan yang Zhang Quan miliki meliputi : daun putri malu, bunga jam empat, daun seribu warna, bunga pisang, bunga encenggondok, teratai daun kuning, biji semut laut, daun coklat kemangi dan daun lima jari.
Dengan dua ratusan pengawal pendekar dan lima puluhan tukang muat barang. Zhang Quan dapat menyelasaikan pembelian bahan bahan tersebut dalam waktu 4 jam.
“Yosss, masih terlalu siang untuk kembali ke rombongan. Mari kita habiskan sisa waktu ini dengan belanja keperluan masing masing.” Ucap Zhang Quan mencentang daftar pembelian barang yang terakhir.
“Bagi seluruh pasukan menjadi dua bagian. Satu bagian menjaga barang dan satu lagi bebas berbelanja. Bagi yang sudah selesai berbelanja harus bertukar posisi untuk bergantian berjaga.”
Seru Zhang Quan yang terdengar oleh semua orang.
“ Siaaaaapppp.”
“Laksanakan.”
“okey.”
Berbagai seruan terdengar serempak di telinga bocah kecil ini. Zhang Quan dan setengah pasukan pergi ke berbagi tempat untuk memenuhi perlengkapan mereka.
Dua ratusan orang menyebar dengan cepat. Ada yang menuju kedai, toko perhiasan, toko ramuan, tempat hiburan, hotel cinta dan sebagainya. Zhang Quan tidak ambil pusing sikap mereka yang mengabaikannya sebagi sosok tuan muda nya.
__ADS_1
Zhang Quan merasa sudah besar dan tidak terlalu peduli dengan pengawalan lagi mengingat usianya yang sekarang sudah dua puluh lima tahun saat ini.
Untuk masalah tingkatan pendekar, Zhang Quan sanggup imbang satu lawan satu dengan pendekar tingkat dasar tahap puncak. Menurut Zhang Quan itu cukup untuk sekedar melindungi dirinya sendiri.
Berbeda dengaan rombongan yang lainnya. Zhang Quan lebih tertarik dengan toko kitab silat di pasar Guyangan ini. Lantaran berbeda dengan yang lain Zhang Quan terpisah dari rombongannya.
Langkah pelan dan mata yang terus mengamti serta menyisiri sekitar pasar. Zhang Quan tidak ingin melewatkan padangannya dari keramaian pasar ini. Tingkal beberpa langkah lagi Zhang Quan akan mencapai toko yang di tujunya.
Bukkkkk
Seorang wanita remaja menabrak Zhang Quan di persimpangan jalan. Zhang Quan mengumpat kesal dalam hatinya. Namun tidak samapi hati ia mengucapkanya karena wanita di hadapanya terlihat imut dan lucu seperti anak kecil.
“Adek kecil, larinya hati hati. Kamu lagi cari mamah kamu yah” Ucap Zhang Quan sambil mengulurkan tangannya.
Zhang Quan menganggap wanita di hadapannya berusia kurang lebih 10 tahun. Dengan tinggi badan 140an cm dan rambut kucir kuda serta wajah yang tidak dewasa. Pakaiannya terlihat dewasa walaupun tidak sesuai dengan usianya.
“ Jangan pangil aku adek, aku bahkan lebih tua dari mu.” Wanita tersebut bangun dari jatuhnya dan berdiri di hadapannya.
Zhang Quan seperti di sambar petir. Jatungnya tersentak saat mendengar ucapan yang sering ia ucapkan kepada Zhang Mei.
“Owh, maaf kaka. Kaka kenapa terburu hingga bisa menabrak ku” Ucap Zhang Quan yang mencoba tersenyum terpaksa sambil menarik tangan dari ulurannya.
Wanita tersebut hanya diam dan menarik tangan Zhang Quan untuk ikut berlari bersamnaya. Zhang Quan tidak bisa memberontak karena wania di hadapnnya memiliki tingkatan berbeda denganya.
‘Tingkatan pendekar atas tahap menengah. Berarti benar dia wanita yang sudah berumur' Batin Zhang Quan.
Wanita tersebut terus membawa lari Zhang Quan. Zhang Quan tidak memiliki kuasa untuk memberontak, tingkatan bela diri nya hanya mampu mengimbangai pendekar tahap dasar.
Zhang Quan hanya menelan ludahnya sendiri. Ia menyiapkan mentalnya untuk apapun yang akan terjadi kedepanya. Bisa sahaja dia di jadikan sandera oleh wanita di hadapannya.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
__ADS_1
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.