Paviliun Bunga Suci

Paviliun Bunga Suci
Bagian 24. Penyakit dalam


__ADS_3

Bagian 24


...Penyakit dalam...


...Di tempat Zhang Quan....


Zhang Quan sudah seharian penuh belajar bab ke dua dari buku kitab nafas dewa naga. Kali ini dia sudah lebih baik di setiap geraknanya. Nafas yang di hembus dan di hirup mulai bisa ia ikuti dengan pendengarannya. Hampir lima puluh persen setiap gerakan Zhang Quan semakin baik, walaupun tidak ke seluruhan semua gerakannya benar.


“Bagus, bagus. Gerakan mu semakin baik. Kita sudahi latihan hari ini.”


“Siap, guru.” Zhang Quan memberikan penghormatan kepada gurunya.


Zhang Quan merasakan rasa lelah pada setiap tubuhnya. Pikiran di haruskan berkonsentrasi penuh untuk memperrtajam pendengaran, membuat Zhang Quan merasakan lelah di fisik dan pikiran.


“Huaaaahh..” Zhang Quan langsung merebahkan sahaja tubuhnya di atas tanah. Gurunya seperti biasanya, setelah selesai mengajar ia akan pergi sesukanya.


Ia merenggangkan setiap tubuhnya. Pandangannya ke atas langit, dengan berbantalkan kedua tangannya membuat Zhang Quan teringat kembali kehidupannya di keluarga Zhang.


“Paman Ping pasti mendapat masalah kali ini.” Zhang Quan tersenyum simpul saat meningat pamannya.


Pikirannya melayang jauh lebih dalam lagi. Suasana senja dengan langit oranye mebuat Zhang Quan teringat akan masa masa indahnya dengan Zhang Ann. Namun semua kenangan tersebut berusaha ia lupakan.


Ada hal yang lebih penting lagi yang harus ia pikirkan dan lakukan. Zhang Quan tahu betul konflik besar yang akan terjadi di benua dataran tengah ini.


Zhang Quan yang berada di fraksi pedagang merasakan sausana yang memanas di benua dataran tengah ini. Sekte hitam sedang membangun kekuatanya sedangkan sekte putih sedang memperbesar pengaruhnya.


Sekte sekte dapat Zhang Quan ketahui pergerakanya karena ia beberapa kali melihat mereka sedang membangun kekuatan mereka masing masing. Lewat pembelian ramuan di keluarga Zhang dan pemesanan yang mereka lakukan. Zhang Quan sadar pasti ada ambisi besar yang hendak mereka lakukan.


“Aku harus lekas menjadi kuat. Dalam beberapa tahun lagi mungkin akan terjadi peperangan besar di benua ini.” Gumamnya pelan.


Zhang Quan langsung sahaja bangkit dari tidurnya. Ia membuka kembali kitab nafas dewa naga yang di berikan gurunya. Ia baca ulang terus menerus kitab ini. Dari bab awal sampai bab akhir.


Tidak terasa malam sudah tiba. Zhang Quan yang menamatkan bukunya dua kali hendak membuat api ungun untuk penerangan. Setelah selesai mebuat api ungun. Zhang Quan pergi ke sungai terdekat untuk mencari ikan dan mebersihkan tubuhnya.


“Uhuk, uhuk, uhuk.”


Suara batuk terdengar jelas dalam perjalannya menuju sungai. Zhang Quan mencoba mengintip orang yang batuk tersebut. Ia menghampiri suara yang tidak jauh dari lokasi sungai yang ia tuju.


Seorang pria paruh baya dengan jubah putihnya terlihat sedang memuntahkan darahnya di pinggir sungai. Zhang Quan menyipitkan matanya kearah orang tersebut. Ia menduga itu gurunya, tapi ia mencoba memastikan kebenaran yang ia lihat.


“Ternyata benar itu guru.”

__ADS_1


“Penyakit apa yang sebenarnya ia derita.” Zhang Quan menutup mulutnya dengan satu tanganya. Ia terkejud bukan main melihat kondisi gurunya.


Ia mengira sosok gurunya adalah sosok terkuat yang ia temui. Tubuh dan raut wajah yang terlihat muda dan sehat membuat Zhang Quan tidak menyangka bahwa gurunya memiliki penyakit dalam.


“Sepertinya, nanti dulu aku ke sungainya.” Ucap Zhang Quan pergi dari semak semak dengan wajah penuh tanya.


...Di kediaman keluarga Zhang....


Zhang Ping yang di kejutkan oleh sosok wanita muda yang tidak di harapkanya. Dia hanya bisa mengumpat pada dewa keberuntungan, lantaran tidak pernah mendukungnya. Ia bergegas masuk ke dalam sebuah rumah besar milik kakanya. Zhang Ping tau keponakanya pasti akan menanyakan Zhang Quan.


Dengan tangan yang masih gemetar. Ia masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu di balik punggungnya. Ia tersenyum lega. Nafas yang memburu telah kembali seperti biasa.


“Ketua ZHANG. Apa kau dirumah.” Ucap keras Zhang Ping yang sedang menahan dorongan pintu di balik pungungya.


Suara keras terdengar mengema di ruang tamu Zhang Qiang. Tidak ada yang menjawab. Sampai beberapa saat ia mengulangi ucapanya. Datang seorang penjaga dan pelayang menghampirinya.


Zhang Ping kalut dengan keadaanya. Ia yang bingung akan bagaimana dengan situasinya. Sebuah pikiran singkat terbesit dalam akalnya.


Ia menjelaskan maksud dan tujuan nya bertemu kepala keluarga kepada dua orang pria ini. Zhang Ping juga menambahkan bahwa informasi ini adalah rahasia dan tidak boleh sampai bocor kepada Zhang Mei.


Kedua pria di hadapan Zhang Ping terlihat sulit mencerana situasinya. Mereka paham akan maksud Zhang Ping, hanya sahaja mereka tidak ingin berurusan dengan Zhang Mei yang terkenal keras kepla dengan keinginannya.


“Saudara ku Ping. Ada apa ini...........” Suara Zhang Qiang terdengar jelas di luar pintu.


“Itu ada tuan besar, tuan bisa bicara langsung dengannya.” Ucap kompak kedua pria ini yang tidak ingin ikut campur.


Zhang Ping menghela nafas panjang dan berat. Ia sadar akan posisinya. Tidak bisa menghindar lagi. Di luar pintu ada sepasang ayah dan anak yang menuntut penjelasan akan sikap nya.


Ia terseyum pahit saat mendengar ucapan pria penjaga kediaman. Mereka bersikap sesuai apa yang ia duga. Banyak orang yang malas bila berurusan dengan Zhang Mei, dan Zhang Ping tahu hal itu.


Zhang Ping membuka pintu dan di hadapannya nampak ayah dan anak dengan wajah penuh tanya terlihat jelas di matanya. Kali ini ia tidak berdalih untuk menjelaskan situasinya.


“Rombongan dagang kali ini tidak berhasil membeli bahan material karena..........” Ucap Zhang Ping dengan wajah yang menunduk.


Zhang Mei langsung sahaja menarik kerah pamanya ini. Ia berteriak histeris dan beberapa kali akan memukulnya, namun ayahnya mencoba menghalanginya.


“Aku akan mencari sendiri kak Quan. Dan kau paman Ping harus bertanggung jawab untuk membantu ku menemukannya. Bila tidak.......” Ucap Zhang Mei mengancam pamanya sendiri.


Zhang Ping menatap kakaknya, tapi dalam sekejap sahaja ia memalingkan mukanya seolah tidak peduli. Sebenarnya Zhang Qiang ingin marah tapi bila di lihat dengan benar setiap kesalah rombongan dagang kali di luar keteledoran mereka.


“Saudaraku Ping, benar kata anak ku. Kau harus bertanggung jawab.” Ucap Zhang Qiang yang tidak sebenarnya tidak ingin terlibat dengan urusan anaknya.

__ADS_1


Zhang Pin sendiri hanya bisa mengumpat kepada anaknya sendiri. Dugaanya benar, apa yang kira sesuai dengan kenyataan.


Zhang Mei masih kesal dengan pamannya. Wajah merah padam terlihat jelas dalam mukanya. Bukan karena malu ia menampakan wajah merah itu. Kesal dan marah yang sangat membuat wanita ini berwajah merah sangat.


“Paman bagaimana sih........”


“Apa yang kalian lakukann.......”


“Kenapa bisa sampai terjadi........”


“Bagaimana tugas parajurit pengawal..............”


“Arrrrgggg, aku pokoknya tidak mau tahu........”


“Pokoknya paman harus.........”


“Paman dan Zhang Kun Harus,.........”


Berbagai omelan panjang lebar sekan tidak bisa berhenti bila perempuan ini marah. Zhang Pin dan Zhang Qiang hanya bisa menyumpal telinga mereka dengan tangan.


Pandangan Zhang Mei semakin marah melihat pamanya berusaha menutupi telinganya. Ia berbicara semakin keras lagi. Wajah Zhang Ping kali ini terlihat pucat sangat, wajahnya seperti tidak ada darah yang mengalir.


Hal inilah salah satu yang di takuti semua orang di keluarga Zhang terhadap Zhang Mei. Amarah yang besar membutnya kehilangan rasa lelah untuk berhenti memarahi kesalahan Zhang Kun beserta rombongannya.


Zhang Pin hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Penampkannya seperti seorang guru killer perempuan yang memarahi muridnya.


Di sekte aliran putih besar di kota Long.


Kota tempat kediaman keluarga Zhao tinggal dan tempat sekte aliran putih besar menetap.


Sekte Harimau emas. Sekte aliran putih yang pernah berperang dengan sekte aliran hitam tengkorak putih ratusan tahun yang lalu. Sekte ini adalah salah satu sekte yang terlibat konflik dengan sekte aliran netral Paviliun Bunga Suci.


“Apaahhhh. Pasukan Liang Fung bergerakk dalam jumlah yang besar kemari.”


“Seingat ku, aku tidak punya masalah dengan nya .”


Halllooo


Para readers.


Jangan lupa yahh.

__ADS_1


Klik tombol like yaaa.


Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.


__ADS_2