
Bagian 14
Kenangan pahit di kota Song 2
Zhang Quan hanya menelan ludahnya sendiri. Ia menyiapkan mentalnya untuk apapun yang akan terjadi kedepanya. Bisa sahaja dia di jadikan sandera oleh wanita di hadapannya. Mengingat di belakangnya ada gerombolan pria yang mengejarnya.
Zhang Quan menyeringai kesakitan. Cengkraman tangan seorang pendekar tahap atas terhadap seseorang di tahap bela diri tentu begitu erat.
Mereka berlari cukup jauh tapi segerombolan pria itu terus mengejar wanita ini. Di depan mereka ada persimpangan lagi. Wanita ini terus mengambil jalan kiri di depannya. Sedangkan pria di belakang mereka berpencar mengejar mereka.
wanita tersebut membawa Zhang Quan ke dalam gang sempit. Gang tersebut hanya mampu untuk di lewati dua orang lanataran dua banguan tinggi yang menghimpitnya.
Wanita tersebut perlahan berhenti dalam larinyaannya. Dengan cepat sahaja dia meluk Zhang Quan denga erat. Suara mendesah wanita tersebut keluarkan beberpa kali.
“Ahhhhhhhhh.”
“Ahhhhhhh.”
“Ahhhhhhhhh.”
“Ahhhhhhhh.”
Segerombolan pria yang mengejar wanita tersebut memalingkan wajahnya saat mendengar suara desahan seorang wanita dengan penampakan lelaki kecil yang sedang memeluk kekasihnya.
“Mana mungkin tuan putri berbuat seperti itu.”
“Ayo kita teruskan pencarian, jangan ganggu pasangan muda yang lagi kasmaran ” seru seorang pria yang menyuarkan pendapatnya.
Wanita tersebut menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kini dia sekarang terlihat lebih lega seperti orang keluar dari Wc selesai buang hajat.
“Li Annci nama ku. Nama mu siapa adek kecil.” Wanita itu angkat bicara dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Zhang Quan mencoba tersenyum. Walaupun lekuakan di bibirnya melengkung dengan paksaan ia mencoba terlihat ramah. Perasaan nya bercampur antara kesal, marah dan takut. Ia takut dengan wanita ini mengingat tingkatan kultivasinya jauh lebuh tinggi darinya.
“Aku Zhang Quan, kaka.” Zhang Quan tidak ambila inisiatif untuk bertanya lebih. Posisinya yang tidak aman di temapat asing membuat pria kecil ini tidak bernai bertanya lebih. Ia takut menyinggung perasaan wanita kecil di hadapannya.
Mereka diam untuk beberapa saat. Zhang Quan yang tidak bernani mengabil inisiatif untuk bicara memilih diam. Ia hanya melihat sekitar dan beberapa kali menunduk kebawah.
__ADS_1
Li Annci berbeda lagi. Sedari tadi ia menatap Zhang Quan dengan perasaan yang aneh. Ia melihat wajah kecil dan tubuh kecil di hadapnnya seperti orang dewasa. Ia sadar suara berat dan berwibawa Zhang Quan tidak layak di sebut sebagai bocah kecil. Namun pikiran tidak berdasar mebuat wanita bermarga Li ini hanya menepis segala angapanya sebagai tidak mungkin.
“Tidak mungkin. Dia paling tidak jauh di bawah usia ku.” Li Annci tersenyum canggung melihta wajah Zhang Quan yang salah tingkah.
“Ayo kita cari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.”
Li Annci segera sahaja menarik lengan Zhang Quan dengan paksa lagi. Namun berbeda dengan sebelumnya. Cengkraman tangan perempuan itu lebih lembut dengan berjalan santai melalui banyak keramaian pasar.
Penampakan seperti seorang kaka yang mengandeng adiknya. Mereka berjalan cukup jauh meninggalkan gang sempit tersebut dan berjalan menuju sebuah kedai minuman yang cukup besar dengan dua lantai dan kubah yang besar di atasnya.
“Di sini sepertinya cukup nyaman.” Suara lirih Li Annci terdengar jelas dalam telinga Zhang Quan.
Mereka memasuki kedai minuman tersebut. Mereka berdua duduk di dekat pintu lantaran lantai satu ini sudah peh padat akan pengunjung. Mata Zhang Quan terbelakak dan ia mencoba memalingkan wajahnya.
Zhang Quan melihat segerombolan pasukan kediaman Zhang yang sedang menikmati menimunan di kedai ini. Ekspresi wajah zhang Quan menjadi rumit. Terlebih lagi dia di kejutkan lagi dengan pemandang segerombolan pria yang mengejar Li Annci duduk bersebelahan dengan meja mereka berdua.
Zhang Quan mengumpat keras dalam hatinya. Akan terjadi keributan besar bila pasuakan nya bertemu dengan pria yang mengejar Li Annci.
Li Annci bersikap santai dan tenang. Tidak ada ekspresi terkejut dan takut di wajahnya. Entah dia menyadarinya atau tidak segeromboala pria yang mengejarnya duduk di kedai yang sama.
“Adik kecil apa kau takut keramaian. Jangan takut ada kaka yang akan menjaga mu. Pilihlah minuman yang kamu inginkan, kaka yang traktir kok.”
Zhang Quan mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu jelas pria yang mengejar wanita ini berbicara tentang tuan putri. Zhang Quan sadar segerombolan pria yang mengejar wanita ini melihat jelas wajahnya. Kelakuan wanita bermarga Li ini mencoreng image Zhang Quan.
Setatus wanita ini bisa di bilang cukup berpengaruh menurutnya. Ia menuruti ucapan Li Annci dan memesan makanan. Beberapa kali ia memalingkan wajahnya dan menunduk lantaran wanita di hadapannya memandanginya terus.
Li Annci merasakan perassan yang aneh lagi. Tapi bukan karena rasa heran dan penasarannya melainkan ia kagum dengan wajah kecil dengan dagu yang dangkal serta hidung yang cukup macung serta rambut panjang yang terurai seperti pria pendekar dewasa.
Jantung Li annci berdebar. Rasa kagum akan wajah kecil lucu dan imut tapi tampan ini memikat hati wanita ini.
“Adek kecil berapa usia mu?”
Zhang Quan hanya diam. Suara berat dan keras walaupun pelan bisa membuat sepasukanya menyadari keberadaanya. Ia memilih membisu dan menunjukan pesanan yang dia ingin dengan menujuk daftar menu di hadapannya.
LI Annci tersenyum simpul. Ia mengira bocah kecil di hadapannya takut dengannya mengingat ia bertindak di luar batas dengan orang asing yang baru di temuinya.
Bebrapa saat kemudia pesanan sampai di depan mereka berdua. Zhang Quan memesan sebuah minuma sepeerti jus yang berwaran hijau yang terbuat dari ekstrak buah alvokado yang memiliki khasiat dapat menetralisir racun. LI Annci memesan minuman yang sama, ia berusaha mencoba mengenali bocah kecil di hadapannya.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan Li Annci keluarkan untuk mengisi obrolan. Mulai dari rumah, keluarga, dan berbagai pertanyaan pribadi ia tidak segan bertanya tanpa ragu dengan bocah yang baru pertama kali ia temui.
Zhang Quan hanya diam untuk pertanyaan yang berbau privasi dan berberpa pertanyaan yang lain ia jawab dengan iya dan tidak sahaja.
Zhang Quan mencoba menghabiskan minuman di hadapanya dengan segera. Ia ingin pergi dari situasi di hadapnnya. Tidak ingin lagi ia berurusan dengan wanita remaja ini. Zhang Quan tahu posisinya di keluarga Zhang yang di pandang sebelah mata sebagian keluarga, bila image keluarga zhang tercoreng karena dia, maka tidak ada muka lagi baginya bertemu dengan ayah dan ibu angkat .
Sepasuka keluarga Zhang telah selesai minum. Rombongan pendekar berjumlah kurang lebih 9 orang kelaur dari kedai. Zhang Quan yang duduk di dekat pintu, mencoba memalingkan wajanya agar wajahnya tidak terlihat oleh pasukannya.
Waktu seakan berjakan pelan. Langkah kaki sepasukan berjalan mendekati pintu dapat Zhang Quan rasakan. Ia memalingkan wajahnya ke arah yang berlainan dengan wajah yang menunduk ia mencoba melihat daftar menu lagi.
Li annci semakin heran dengan sikap lelaki di hadapanya ini. Ingin bertanya lagi takut tidak di jawab. Ingin memulai lelucon tapi sepertinya situasi di hadapanya kurang tepat untuk berbicara gurauan.
“Adek kecil apa mau tam........”
Suara tegas dan jelas keluar dari segerombolan pasukan yang ingin keluar dari kedai memotong pembicaraan wanita remaja ini.
“ Tuan muda, kenapa tidak bareng sahaja tadi minumnya.” Ia melirik seorang wanita di meja tuan nya itu.
“ Owh, maaf maaf. Kami akan menungu di tempat awal sebelum bertemu tuan besar Ping.” Sepasukan yang hendak kelaur dari pintu memberikan hormatnya kepada tuannya dengan sedikit mencondongkan badannya.
Zhang Quan mecakar sendiri mukanya. Penampakan di kedai menjadi heboh lantaran sepasukan pendekar tingkat lanjut memberi hormat kepada pria kecil di meja dekat pintu.
Segerombolan pria yang mengejar Li Annci ikut penasaran dengan tuan muda di dekat pintu. Beberpa dari mereka berdiri melihat sosok tuan muda yang mendapat penghormatan dari pendekar tingkat lanjut.
“Itu bocah mesum di gang sempi itu kan.”
“Coba lihat dia itukan tuan putri Li Annci.”
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1