
Bagian 16
Kenangan pahit di kota song.
Duarrrrrr
“Mana pemuda baj*an itu.”
Sebuah pintu lepas dari dinding ruang aula. Sepasukan keluarga Zhang telah bersiap dengan posisi menyerang dengan tangan yang memegang gagang senjata mereka. Zhang Quan masih terduduk dengan santai di meja besar tersebut. Raut mukanya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Li Annci berdiri tidak jauh di belakang pria besar kekar ini. Eksepresinya meunjukan senang saat melihat Zhang Quan dan merubahnya kembali bersedih ketika masuk lebih dalam ke ruang aula tersebut.
Pria kekar yang terlihat muda ini sebenarnya adalah ayah Li Annci. Dia terlihat muda untuk pria yang seharusnya berusia 60 tahuana. Wajah dan tubuh yang seperti lelaki yang berumur 30 tahuana.
Salah satu pasukan membisikan sesuatu kepada ketua sakte mereka. Li Fengyin mentapa tajam kearah Zhang Quan. Zhang Quan memeberiak hormat kepada ketua sekte di hadapannya.
“Ketua sekte Li, junior Zhang Quan memberikan hormat.”
“Hmp....”
“Anak muda kau dengan berani berbuat seperti itu. Apa kau tau aturan di skate ini.” Ucap pria kekar ini memegang kursi di dekat Zhang Quan.
“Bisakah kita berbicara dengan duduk. Aku bisa menjelaskan kesalah pahaman ini.”
“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi.” Ucap Li Fengyin mencengkram kursi di dekatnya kemudian dia aliri dengan tenga dalam yang membuat kursi tersebut hagus menjadi debu.
Sepasukan keluarga Zhang semakin bersiap siaga melihat tingkah laku ketua sekte di hadapan mereka. Sebaliknya para pengawal Li Annci menyeringai bangga akan kehebatan ketua Sekte mereka.
“Apa anda tidak ingin tahu siapa saya sebenarnya.” Sebuah pukulan dengan aliran tenaga dalam berhenti tepat di wajah Zhang Quan. Sepasukan keluarga Zhang terlambat menyadari serangan berkecepatan tinggi yang menjuru kepada tuana muda mereka.
“Sunggung cepat sekali serangan pendekar tingkat dewa itu.” Batin Zhang Quan.
Sepasukan keluarga Zhang menghembuskan nafas lega melihat sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi tidak menghantam tuan muda mereka. Sebuah pukulan tersebut merubah mereka pada posisi bertempur dengansemua senjata yang talah keluar dari sarungnya.
“Tenagkan diri kalian, kita ini tamu di sini.” Zhang Quan mencoba menenangkan pasukannya yang terlihat panas denga ketua sekte di hadapan mereka.
Sepasukan keluarga Zhan menurunkan senjatanya. Li Fengyin menatap tajam bocah kecil Zhang Quan dengan takjub. Suara berat dan berwibawa keluar dari bocah kecil sepeerti itu, ia seakan melihat sesosk pemimpin besar dalam tubuh yang kecil.
Li Fengyin juga semakin takjub dengan sorot mata tajam Zhang Quan yang tidak berkedip sama sekali saat ia melayangkan sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi. Ia bisa merasakan keteguan, keberanian dan jiwa kesatria yang tinggi dalam pria kecil di hadapnnya,
__ADS_1
‘Anak ku tidak salah memilih calon menantu.’ Batin Li Fengyin.
Li Fengyin menghela nafas berat. Ia sebenanya tidak serius melayangkan sebuah pukulan mematikan itu kepada Zhang Quan. Namun sebab putrinya mengatakan bahwa ia merasakan cinta pada pria kecil ini, Li Fengyin selaku ayah mencoba mengetas sebarapa hebat mental lelaki yang di sukai putrinya itu.
“Baiklah perkenalkan diri mu dengan baik.”
Zhang Quan memulai perkenalan dirinya dan menceritakan maksud dan tujuan kedatanganya ke kota Song. Dengan singkat dan jelas ia menjelaskan pula bagaimana ia bertemu dengan Li Annci.
Di sisi lain Li Fengyin mengerutkan dahinya. Mendengar ia berasal dari keluarga pedagang Zhang ia tidak mencoba untuk memotong bicaranya yang keluar dari tema perkenalan.
Li Fengyin yang sejak awal tahu ini kesalah pahaman dari putri nya, ia melempar semua kesalahan dan kemarahan nya kepada para pengawal yang bertugas mengawal LI Annci. Ia menatap tajam kearah sepasuak pengawal Li Annci.
“Owh, begitu ceritanya. Maafkanlah kejahilan putri ku dan para pengawalnya yang telah salah sangka.” Li Fengyin dengan santainya meminta maaf tanpa merasa dirinya telah bersalah karena bertindak tidak sopan kepda tuan muda keluarga Zhang.
Zhang quan mencoba menampilkan poker facenya, ia sadar peria di hadapnya sebenarnya sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya anatara dia dan putri nya.
“Kalau begitu bolehkah kami dan pasuakn ku mengudurkan diri.” Ucap Zahng Quan yang tidak tingin terlibat lebih dalam dengan sekte besar.
Li Fengyin mengelengkan kepalanya, sesaat ia menatap putri tercintanya yang menunjukan ekspresi kode yang hanya ayah dan anak yang tahu.
“Tidak kau harus menikahi putri ku.” Balas Li Fengyin dengan nada santai.
Kode tersebut berarti membutuhkan bantuan. Zhang Quan tidak berani bertindak licik dengan sekte besar. Mengingat sekte besar di benua dataran tengah jumlahnya tidak banyak dan pengaruh mereka terhadap keluarga pedagang bisa memicu perang besar anatar alirn kareana masalah suplai ramuan.
“Saya tidak bisa memutuskan perkara ini. Tapi bila putri anda benar benar mecintai saya. Bila usia saya sudah cukup maslah ini bisa di bicarakan lagi.”
Sepasukan keluarga Zhang ikut andil dalam bicara yang intinya sama, bahwa tuan muda mereka masih belum cukup umur dan kuat.
Li Fengyin tersenyum kecut dengan pernyataan bocah kecil di hadapnnya. Ia sadar pria kecil dihadapanya masih terlalu lemah untuk sanggup melindungi putri kecilnya. Sepasukan keluarga Zhang yang menyanggah ucapan tuan muda mereka semakin meyakinkan pria kekar ini.
“Saya pegang perkataan mu, bila kau berbohong. Kota Song ini akan memblokir pedagang Zhang untuk berdagang maupun membeli material di pasar Guyangan.”
“Dan ingat kota Song tidak akan menerima pedagang Zhang bila dirimu tidak ikut dalam rombongan.”
“Satu lagi, setiap pedagang Zhang ke kota Song diri mu wajib menemui putri ku dan melayaninya sebagai calon istri mu.”
“Satu lagi....................”
“Satu lagi...............”
__ADS_1
“Satu lagi..........”
“Satu lagi...........”
“Satu lagi.............”
“Satu lagi...........”
Begitu banyak pesan dan syarat yang Li Fengyin berikan. Ia seperti mencerminkan seorang ayah yang teralalu over perhatian kepada anaknya. Semua orang di aula tersebut sampai bosan dan jenuh mendengar ceramah tidak jelas yang pada intinya sama, hanya sahaja pengulangan dengan kata yang berbeda yang membuat pesan menjadi bertele tele.
Zhang Quan hanya berkata iya di setiap pernyataan Li Fengyin. Di akhir pernyataan ia menghela nafas panjag dan berat sebab hampir semua inti yang lelaki bicarakan ia lupa. Sebab ayah Li Annci terlalu banyak bicara tidak jelas dan muter muter ke topik yang berbeda.
“Kalau begitu kami dari kediaman keluarga Zhang undur diri.” Seru Zhang Quan yang menucapkan kata iya terkahir pada pernyataan terakhi ayah Li Annci.
Rombongan Zhang Quan keluar segera dari sekte serigala putih, ia tidak ingin berlama lama lagi dengan orang orang aneh yang ia temui kali ini. Mereka keluar dari sekte ini dan di sambut oleh rombongan paman Ping yang telah menunggu di depan gapura depan sekte Serigala putih.
Zhang Quan terlihat lesu dengan wajah rumit yang belum hilang dari raut mukanya. Ia lupa semua hal penting yang di sampaikan Li Fengyin dan untuk kedepannya ia pasti mendapat masalah bila tidak memenuhi pernyataan ketua sekte besar di kota Song ini.
Zhang Ping yang melihat Zhang Quan dengan ekspresi yang rumit tidak berani bertanya lebih dalam mengenai situasi yang terjadi. Zhang Ping mencoba mengobati rasa penasaranya dengan bertanya kepada rombongan pasukan yang mengawalnya.
Zhang Ping mencoba menahan tawanya saat tahu kenyatan yan ia dengar dari sepasukan rombongan Zhang Quan. Zhang Quan yang melihat pamannya menahan tawanya hanya memalingkan wajannya pergi ke rombongan yang lain.
Kembali ke masa kini.
Zhang Quan yang hanyut dalam lamunanya tersadrkan akan sebuah pertarungan sengit antara pendekar misterius di dekat tempat peristirahatan rombongan pedagang keluarga Zhang.
“Berhenti jangan lari lagi, kau sudah terkepung. Cepat serahkan kitab itu pada kami.”
“Hmmmppp. Hanya dalam mimpi mu sekalipun tidak akan aku beri kesempatan untuk mu memiliki kitab ini.”
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1