
...Paviliun Bunga Suci...
Ketua sakte Paviliun Bunga Suci melesat menuju pusat kota. Pusat kota Dong di dataran benua tengah adalah pusat pendidikan terbaik di seluruh dunia.
Di pusat kota ini terdapat lebih dari seratus perguruan pendekar dengan 50 perguruan terbaik yang melahirkan ribuan pendekar tingkat tinggi dan lanjut.
Ketua sakte geram dengan seluruh pasukan aliansi. Ia berniat membumi hanguskan kota pendidikan pendekar ini.
Kebenciannya terhadap pendekar aliansi memberikan dendam yang mendalam kepada seluruh pendekar, terlebih lagi kota Dong ini sebenarnya berdiri atas jasa dan kerja kerasnya waktu dulu masih terjadi peperangan antar sekte .
Kehadiran kota Dong ini didirikan oleh para leluhur sakte Paviliun Bunga Suci sebagai simbol perdamaian antar sakte aliran hitam dan sakte aliran putih.
Kenyaataan yang saat ini ia terima begitu menyakitkan untuk di ingat. Segala jasa dan kerja keras nya tidak bernilai sama sekali di hadapan kedua aliran tersebut. Tidak ada alasan lagi bagi tetua sakte untuk menjaga kota ini.
“Aku yang mendirikan dan kini aku yang menghancurkan”.
Seluruh kota hancur tidak tersisa. Ribuan rumah rata dengan tanah. Kota yang seluas 2000km kini rata dengan tanah. Kehancuran kota Dong ini di menjadi sejarah yang kelam dan saksi bisu kehebatan dari pendekar tingkatan dewa.
***( note : sebenarnya terjadi pertempuran sengit antar penduduk kota Dong. Namun sengaja tidak penulis ceritakan karena MC udah kebelet keluar pengin memainkan perannya { :) }
*********************************
30 tahun berlalu.
...Di sebuah kota....
Kediaman keluarga Zhang.
Seorang anak lelaki duduk melihat pemandangan kolam di taman tepat ia tinggal. Lelaki tersebut memandangi wajahnya yang masih terlihat seperti anak remaja berrusia belasan tahun. Tubuh nya yang kecil serta raut wajah yang tidak menunjukan bertambahnya dewasa usianya.
“Ini sudah 30 tahun tapi wajah ku sama sekali tidak mengalami penuaan dan lihatlah tubuh ini apa benar usia ku tiga puluh tahun”. Ucap Zhang Quan saat melihat tampilan wajahnya dalam pantulan air di kolam.
Zahng Quan adalah salah satu anak angkat tetua di kediaman keluarga Zhang. Zhang Quan ditemukan di sungai tanpa ujung sewaktu rombongan pedagang keluarga Zhang melintasi sungai untuk menuju kota sebelah.
Zhang Quan hidup di lingkungan keluarga yang harmonis, ia pula sudah di anggap seperti anak sendiri di kediaman keluarga Zhang ini. Tidak ada yang tidak hormat pada tuan muda ini, walaupun sebagai anak angkat tapi ia tetap mendapatkan perhatian serta penghormatan penuh dari seluruh kalangan keluarga Zhang.
Hal tersebut bukanlah tanpa sebab. Perhatian dan penghormatan selayaknya tuan muda keluaraga Zhang ia dapatkan sebab ia di angkat anak langsung oleh keluarga utama keluarga Zhang.
__ADS_1
Banyak kalangan yang iri dan dengkri dengan setatus nya di kediaman keluarga Zhang, namun itu hanya terjadi di belakang punggungnya sahaja. Segala jasa dan kontribusi untuk keluarga Zhang telah banyak Zhang Quan berikan untuk keluarga Zhang.
Mereka yang dengan berani mengusik atau mencela terang terangan tentu mendapatkan masalah yang berat dengan keluarga utama kelurga Zhang.
Keluarga Zhang tidak berdiri di aliran hitam atau pun putih. Mereka bukan termasuk pendekar di benua dataran tengah ini. Mereka adalah keluarga pedagang terbesar di benua dataran tengah .
Basic utama usaha mereka adalah perdagangan obat obatan, ramuan ramuan dan segala keperluan ramuan yang di perlukan pendekar untuk menaikan tingkatan mereka.
Zhang Quan masih sibuk memandangi wajanya dan beberpa kali kesal sendiri dengan kondisi tubuhnya. Ia memang lelaki yang cerdas dan penuh tipu daya. Ia pandai merangkai kata kata dan menyusun kalimat untuk merayu serta mengsuksekan perjanjian perdagangan. Tapi itu tidak berlaku bila di hadapan wanita yang di cintainya.
Segala kemampuan merangkai kata kata atau pun menyusun kalimat hilang saat berhadapan dengan wanita. Rayuan maut sekan tersangkut hanya di tenggorokan tidak sampai di buah bibir.
Rasa minder yang ia rasakan saat berhadapn dengan wanita tidak lain karena kondisi tubuhnya yang sama sekali tidak dapat menua dan bertambah dewasa.
Sosok lelaki gagah perkasa yang dapat melindungi pasangannya hanya menjadi impian dalam tidurnya sahaja. Bisa di bayangkan bocah remaja melindungi emak emak, tentu dia akan di anggap sebagai anaknya bukan pasangnnya.
Zhang Quan masih meratapi nasibnya dengan penampakan fisik yang terus ia pandangi dalam pantulan air dalam kolam. Sampai terdengar suara yang mengejutkannya.
“Bocah kecil Quan, dimana kau.”
Ketenangan baru beberapa saat ia rasakan setelah penat melakukan berbagai perjalanan bisnis yang melelahkan . Sekarang di hadapnnya ada lagi perusak suasanan yang menyebalkan.
“ Aduh ngapain lagi nih si anak, apa tidak tahu sih aku baru pulang dari perjalanan .” Dengus kesal Zhang Quan saat mendengar suara yang tidak asing dalam telinganya.
“Ayo sini main sama kaka, kaka bawain kue nih”. Ucap wanita dewasa yang sedang memegang keranjang berisi kue.
Zhang Quan menatap sebal wanita ini. Namannya adalah Zhang Mei ia adalah anak dari Zhang Qiang selaku pimpinan keluarga Zhang sekaligus sebagi ketua kediaman keluarga Zhang utama.
Zhang Mei adalah adik nya Zhang Quan. Ia adalah anak dari lelaki yang mengadopsi Zhang Quan. Usia yang terpaut sepuluh tahun lebih muda tidak bisa membuat Zhang Mei menggangap Zhang Quan sebagai kaka.
Benar sekali, Zhang Quan tidak bisa menua, tubuh kecil dan wajah bayinya mengharuskan nya mendaptkan perlakuan sebagi adik dari Zhang Mei.
Zhang Quan sesegera mungkin mencari tempat persembunyian. Beberapa kali ia mengendap endap bersembunyi di balik batu dan dari batu ke pohon. Ia mencoba mencapai jalan kelur dari taman tanpa di ketahui Zhang mei.
“Ayolah adik ku, jangan main petak umpet dengan kaka mu yang cantik ini.” Seru Zhang Mei yang melirik batu dan pohon tempat Zhang Quan bersembunyi.
Nafas Zhang Quan mulai tidak teratur, detak jantungnya mulai berdetak tidak normal. Itu bukan cinta, itu perassan takut saat bertemu dengan sesuatu yang tidak ingin dia temui.
__ADS_1
Langkah kaki Zhang Mei semakin dekat, pikiran Zhang Quan menjadi mandek, tidak ada cela untuk bersembunyi dan tidak ada momen untuk bisa berlari pergi mengigat tinggal bebrapa langkah lagi ia akan sampai di tempat persembunyiannya.
“Tuan putri Zhang, tuan besar ingin menemui anda di ruang utama”. Salah satu prajurit menghentikan langkah nya yang tinggal selangkah lagi sampai ke temapat persembunyian Zhang Quan.
“Baiklah aku akan segera ke sana.”
Perlahan langkahnya pergi mengikuti prajurit penjaga itu.
Zhang Quan menghela nafas lega. Kini monster perusak suasanya telah pergi dari hadapnnya. Pikirannya sekarang kembali tenang, nafas yang tadi tidak teratur perlahan kembali teratur dengan benar.
Zhang Quan menengok kanan dan kiri serta tidak lupa depan belakang untuk memastikan keberadaan moster wanita itu benar benar hilang dari sekitarnya.
“ Akhirnya dia benar benar pergi”. Zhang Quan mengusap dadanya dan melangkah dengan ceria sebab berhasil menghindari monster wanita itu.
Langkah yang senang dengan diringi bebrapa gerkan lucu dengan mengangkat beberapa kali seperti anak kecil yang sedang senang ketika berhasil mendapatkan sesuatu.
Dari atas pohon seorang wanita terseyum ceria dan bebrapa kali ia tertawa melihat gerak gerik lelaki di hadapannya, usia yang tua tidak merubah sama sekali kebiasaan anak kecilnya. Iya, walaupun itu wajar sih untuk lelaki berusia tua dengan paras dan tubuh seperti anak remaja awal.
“Iya iya iya, hore hore hore, aku bisa menikmati tidur siang ku tanpa masalah”. Seru Zhang Quan yang tersenyum dan berlari kecil sambil bebrapa kali mengangkat salah satu kakinya bergantian.
Seorang wanita turun dari pohon dan melesat langsung di hadapan Zhang Quan. Wanita itu tertawa keras sambil memegang perutnya.
“Haahahhahhahahha”
Senyum Zhang Quan terhenti dengan sesosok orang di hadapannya. Langkahnya terhenti dan ingin berbalik untuk segera melarikan diri. Senyum kecut mengiasi bibir kecil peria bocah ini.
“Apa hari ini dewa keberuntungan sedang tidak di sisi ku.” Ucap Zhang Quan menghela nafas panjang dengan pikiran yang menampakan memori kenangan masa lalu dengan wanita itu yang membuatnya tersiksa.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1