
Bagian 23.
Di sebuah sekte besar aliran hitam.
Sekte aliran hitam. Tengkorak putih.
Sekte yang berkediaman di kota Tong di wilayah barat benua dataran tengah. Dulu sekte ini adalah sekte yang mengambil peran besar dalam pertempuran besar 30 tahun yang lalu. Setelah pertempuran usai sekte ini kehilangan 70 % kekuatannya.
Sekte ini merangkak turun menjadi sekte kecil. Namun 20 tahunan yang lalu mereka mendapatkan sebuah koneksi dari sekte luar benua. Mereka mendapat dukungan penuh dari sekte besar di benua dataran selatan.
“Lapor ketua. Sekte Gagak hitam bergerak dalam kelompk besar. Mereka sepertinya sedang berniat melakukan peperangan besar.” Ucap seorang pria yang memberikan laporan kepda atasannya.
“Liang Fung. Dia pria keras kepala tapi ia seorang pendekar yang memiliki jiwa kesatria. Aku yakin alasan peperangan kali ini pasti tidaklah sepele.”
“Jangan ikut campur dengan konflik mereka. kita sedang dalam fase penyembuhan. Setelah pertempuran besar 30 tahun yang lalu kita sudah kehilangan separuh anggota kita.
Laporkan terus pergerakan mereka dan amati sekte sekitar kota. Aku berniat dalam beberapa tahun ingin menguasai kota Tong.” Ucap Lin Yu selaku ketua sekte Tengkorak putih.
“Siap, ketua.”
Lin Yu memegang dahinya. Ia berpikir keras untuk mewujudkan segala impiannya tentu tidak mudah. Tapi rasa penasaran akan sebuah kekuatan besar di dalam segel di kota Tong ini membuat pria sepuh ini berambisi besar.
Lin yu adalah sosok tokoh penting dalam sekte aliran hitam. Pria sepuh ini dulu pernah melakukan perang besar dengan sekte aliran putih. Sejak saat itu lah, sekte aliran netral, Paviliun Bunga Suci mengambil peran melerai peran kedua aliran.
Jutaan orang meningal di kota ini, tapi sejak itu mata pria sepuh ini terbuka. Ia melihat sebuah bentuk segel yang menghubungkan beberapa titik di kota ini. Ia yakin di dalam segel tersebut terdapat kekuatan besar yang tersembunyi.
Kemunculan sekte Paviliun Bunga Suci semakin mempersulit ambisinya untuk mempelajai segel tersebut. Jarak antara keingianannya semakin melebar.
Ia mengira akan menyerah atas impiannya, menginggat dulu ia bahkan tidak cukup kuat untuk berhadapan sendiri dengan sekte Paviliun Bunga Suci.
Namun setelah ratusan tahun lebih, sekte Paviliun Bunga Suci membuat sebuh kesalahan. Mereka membuta konflik dengan sekte aliran putih.
Pria ini memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan ambisi nya. Ia mencari konflik sepele dan mengompori sekte aliran putih untuk menghapuskan simbol perdamian mereka.
Impian Lin yu berhasil. Ia berhasil menghancurkan sekte yang ia takuti, tapi harga yang ia harus bayar hampir tidak sebanding dengan yang ia dapatkan.
Ia berhasil menghilangkan musuhnya namun ia tidak cukup kuat untuk membuka segelnya. lantaran seluruh pasukannya habis dalam peperangan.
Lin yu terseyum simpul saat melihat berbagai siasat di kepalanya. Ia begitu peraya diri dengan rencananya. Ia mengira ia cukup kuat untuk menguasai satu wilayah ini dengan mudah.
Padahal sebenarnya tidak demikian. Di luar dugaan yang ia kira, ada sosok pria sepuh misterius yang menjaga segel tersebut dengan ketat.
__ADS_1
“Hahahhahahahh. Aku yakin beberapa tahun lagi sudah cukup.”
...Kediaman keluarga Zhang....
Zhang Ping berwajah pucat pasih kali ini. Zhang Kun selaku anaknya melemparkan segala permasalahannya kepada ayahnya.
Memang sudah tugas Zhang Ping yang bertanggung jawab penuh mengenai suplai barang material.
Namun ia tidak bertanggung jawab sendirian. Ada Zhang Quan yang mengambil separuh tanggung jawab suplai barang. Akan tetapi permasalahan kali ini akan sulit karena Zhang Quan juga hilang di tengah di tengah kegagalan pengambilan suplai material.
Zhang Kun yang penuh rasa cemas hanya bisa menungu pasrah di kediamannya. Ia sudah mendaptkan banyak omelan ayahnya selepas pulang ke kediaman dengan kereta yang kosong.
...Di tempat Zhang Mei....
...Flash back....
Setelah semalaman sampai pagi beraktifitas olahraga malam. Zhang Mei bangun kesiangan. Wajah puas dan bahagia terpatrikan oleh senyum cerianya. Namun ia memiliki sebuah rasa penasan yang mengganjal di benaknya.
Ia melihat sebuah gambar rajah yang berada di tubuh Zhang Quan bercahaya. Jika pada siang hari bentuk rajah tersebut memang tidak terlihat dengan jelas, lantaran berwarna hampir sama dengan kulitnya.
“Aku harus bertanya nanti jika dia pulang.” Batinnya.
“Kemana lagi dia perginya. Apa ia pergi berdagang lagi.”
Setelah Zhang Mei mencari ke setiap sisi rumah. Ia menemukan sebuah surat yang terindih sebuah vas bunga. Ia mengerutkan dahinya setelah membaca surat tersebut.
“Ihhhh, Awas sahaja kalau kau pulang yah.” Dengus kesal Zhang Mei sambil mengembungkan pipinya.
...Kembali ke masa saat ini....
Zhang Kun mendapat perintah dari ayahnya untuk mengunci di dalam rumah sendirian. Ia melarang keluar putranya agar Zhang Mei tidak bertanya macam macam dan memojokannya.
Seluruh rombongan dagang beserta sepasukan pengawalnya mendapat pesan yang sama dari Zhang Ping, yaitu sebisa mungkin menghindari Zhang Mei.
Zhang Ping berjalan dengan penuh hati hati, matanya bebrapa kali menengok kanan dan kiri saat melewati persimpangan. Ia khawatir ia akan bertemu dengan seseorang yang tidak ingin ia temui.
Tinggal beberapa belokan lagi ia akan sampai di tempat tujuannya. Langkah kaki yang cukup pelan kadang cepat mendadak ia mainkan.
Detak jantung yang cukup keras ia rasakan, rasa khawatir terlihat nampak jelas dari gerak geriknya. Ia persis seperti pencuri yang sedang menyelundupkan barang di tempat keramaian.
Keringat terlihat membasahi dahinya. Sesekali ia mengelap dahinya dengan tangannya. Perasaanya sedikit tenang karena satu lagi belokan ia akan sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
“Ayo sebentar lagi, aku bisa melempar penjelasan ini kepadanya.”
Zhang Ping sangat takut akan sikap keponakanya ini. Bisa di bilang sangat manja dan setiap keinginanya harus di penuhi. Bila keinginannya tidak di penuhi ia akan mengancam nyawanya sebagai jaminan atas keinginannya.
Zhang Ping sangat khawatir bila ada pertanyaan Zhang Quan sampai padanya. Jawaban yang tidak memuasakan dan alasan yang tidak berdasar yang bisa mebuat wanita itu marah dan kesal.
Sedangkan kesal dan marahnya wanita ini lah yang paling tidak di harapkan seluruh orang di kediaman keluraga Zhang.
Tinggal beberapa langkah lagi Zhang Ping sampai di depan pintu kediaman kakanya. Perasaanya mulai tenang. Sebentar lagi ia akan terlepas dari beban yang ia rasa kan.
Tangan Zhang Ping sudah mengetuk sebuah gagang pintu besar di hadapannya. Ia telah bersiap membuak pintu detik itu juga. Namun sebuh tangan berukuran sedang menepuk pundaknya.
Ia mengumpat kesal akan dewa keberuntungan yang tidak memihaknya kali ini. Wajahnya terlihat gugup dengan tangan gematar yang masih memegang gagang pintu .
“Oh, tuhan mengaapa harus kali ini.” Batin Zhang Pin setelah melihat sosok Zhang Mei di hadapannya.
“ Paman Ping.”
...Di tempat Liang Fung....
Kurang lebih dua ratus ribu pasukan dari sekte gagak hitam dan mawar biru bergabung menjadi satu pasukan. Mereka berangkat ke kota Long di utara benua bagian tengah. Tempat kediaman keluarga Zhou.
Sekte mawar biru berada di kota Mong. Masih satu wilayah bagian utara membuat pasukan sekte Mawar biru tidak lama melakukan perjalan, tapi sekte Gagak hitam yang berada di barat membuat pasukan sekte mawar biru menungu kedatangan mereka.
Butuh waktu kurang lebih satu hari penuh pasukan bagi sekte Mawar biru menunggu kedatangan pasukan Gagak hitam. Mengingat perjalanan mereka dari wilayah berbeda.
Dan saat ini mereka sudah bersiap dalam kelompok besar menuju ke kediaman keluarga Zhao. Meskipun tidak sesuai rencana.
Lantaran Liang fung menduga sepasukannya akan datang pada siang hari, tapi kenyataanya berbeda. Mereka baru sampai pada siang hari tapi di hari yang berbeda.
“Ayo kita ratakan keluarga Zhao.” Liang Fung menyerinagi seperti penjahat jalanan.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1