
Bagian sembilan
Zhang Quan mati langkah, ia sadar ia tidak dapat berlari ataupun menghindar dari monster wanita ini. Zhang Quan tahu betul di hadapannya sekarang ada wanita yang setara dengan pendekar tingkat atas.
Lari sekuat tenaga pun tidak akan membuat kesulitan Zhang Mei untuk menangkapnya. Mengingat Zhang Quang hanya manusia biasa dan tidak memiliki tenaga dalam.
Zhang Quan mengangkat tangnya nya memberikan salam kepada adiknya. Senyum kecut lagi menghiasi lengkungan bibirnya.
“Yooo, Mei Mei.”
Zhang Mei mendekat sambil menundukan wajahnya. Wajah yang merona terlihat jelas dari padangan Zhang Quan. Zhang Mei tidak kuasa menahan kerinduan yang teramat dalam kepada lelaki kecil ini. Perlahan ia memeluk nya dan semakin keras dekapannya.
Kratkkkk
Bunyi retakan tulang memecah keheningan, rintihan kesakitan Zhang Quan terdengar samar samar saat Zhang Mei memeluknya. Jika itu seorang manusia biasa tentu bisa di pastikan seluruh tulang rusuk nya patah.
“Argghh, Mei Mei apa kau berniat membunuh ku”.
Zhang Mei dari balik punggung Zhang Quan menitikan air matanya. Perasaannya campur aduk. Rindu, kesal, benci memenuhi segala pikirannya. Ia tidak peduli dengan pelukan yang berlebihan itu. Dia hanya kesal sahaja dengan sikap Zhang Quan yang selalu sahaja membuatnya khawatir.
“Siapa suruh kau ikut kavilah dagang paman Zhang Ping ke kota tersembunyi” ucap Zhang Mei mendengus kesal.
Pelukan Zhang Mei semakin keras dan beberapa kali ia mencium tubuh lelaki kecil ini. Namun sayang bukan nuansa romansa yang ia dapatkan melainkan sakit yang teramat karena pelukan yang berlebihan.
Kraatakkk
.
“Iya iya, aku tahu. Tapi itu semua kan demi keluarga kita.” Dalih Zhang Quan.
“Demi keluarga ya demi kelurga lagi. Bukankah saat itu ada pilihan untuk menghadiri ujian kenaikan kelas ku.”
“Ya karena saat itu aku takut kau malu memiliki kaka yang seperti bocah, eeehh, bocah maksud ku. Tidak akan ada yang percaya aku ini kaka mu terlebih lagi aku tidak lebih kuat dari diri mu, yang pastinya tidak layak mendapatkan ............” Ucap Zhang Quan lemas.
“Tidak apa apa kok, nantikan aku bisa bilang itu adik ku atau mungkin kekasih ku.” Ucap Zhang Mei malu dan mulai mengendorkan pelukannya.
Saat itu pula Zhang Quan mendapatkan kesempatan untuk melepaskan diri. Raut wajah kesal dan marah terlihat jelas dalam raut mukanya. Namun itu tidak membuat wajahnya mengerikan. Raut wajah kesal dan marah semakin menambah lucu lelaki kecil ini.
“ Jangan pangil aku adik mu dan jangan pangil aku bocah. Aku ini kaka mu dan usia ku sepuluh tahun lebih tua dari mu”. Ucap Zhang Quan mengembungkan pipinya dengan tangan yang menyilang di dadanya.
Zhang Mei mencoba menahan tawanya. Ia mencoba mengendalikan rasa geli melihat bocah kecil di hadapnnya mengaku sebagai kaka. Walaupun kenyataan sebenarnya memang benar seperti itu, tapi itu tidak bisa menepis pemandangan yang di hadapnnya.
“Iya , iya kamu itu kaka ku.”
“Uuuuwuuu wuuuu uuwwwuuu.” Ucap Zhang Mei sambil memegang kedua pipi Zhang Quan.
“ BERHENTI memegangi pipi ku, aku bukan bocah kecil dan kau bukan lagi anak kecil jadi dewasalah.” Bentak Zhang Quan marah atas sikap Zhang Mei dan berusaha menyingkirkan tangan Zhang Mei dari wajahnya.
Raut wajah Zhang Mei memucat mendengar bentakan kakak kecilnya ini. Sesaat itu pula Zhang Quan pergi meninggalkan Zhang Mei sendirian.
__ADS_1
Zhang Mei sadar akan sikapnya itu. Ia merenungi segala perbuatanya di masa lalu dimana dia selalu memperlakukan kaka kecilnya ini deperti seorang bayi kecil. Sewaktu kecil sampai masa remaja, wanita ini senang sekali mencium, memeluk dan memegangi pipi kakanya seperti anak kecil.
“Tuan putri, ayo cepat tuan besar sudah lama menunggu.”
Suara prajurit mengejutkan Zhang Mei dari lamunannya.
“IYA, IYA SEBENTAR DULU KENAPA” ucap Zhang Mei marah saat mendengar prajurit yang menganggu pikirannya.
Zhang Mei memang terkenal sebagi wanita yang dingin. Tidak suka banyak berbicara dan bila bicara pasti bernada tinggi. Mudah emosi dan mudah kesal, tapi sangat mudah tersentuh dengan sesuatu yang imut dan lucu.
Dan semua keimutan dan kelucuan dapat ia temukan pada kaka kecilnya yang seperti bocah. Hanya kepadanya sahaja wanita ini akan terbuka mengenai semua permasalahnya dan sikap lembut serta manja hanya di tunjukan kepada kaka yang tidak layak di sebut kaka mengingat wajah serta postur tubuhnya.
*****************************************************
...Di sebuah kamar....
Seorang bocah kecil sedang membaringkan tubuh kecilnya. Matanya menatap ke gelang giok berwaranya hijau yang dia acungkan ke atap ruang tidurnya.
“Yang lemah selalu sahaja, hukum rimba apa lagi hukum rimba. Apa bedanya manusia dengan hewan.”
Pandangannya tajam ke arah gelang giok tersebut, berbagai kenangan masa lalu yang menyakitkan terlintas kembali dalam benak pikirannya. Rasa sedih semakin menorehkan luka pada hatinya akan kenangan indah bersama pemilik giok tersebut.
Matanya tidak sanggup menampung air yang tertahan kelopak matanya. Segala penyesalan dan ketidak mampuanya mebuat peria kecil ini hanya bisa meratapi dan berusaha sebisa yang ia bisa untuk melindungi sesuatu yang berharga baginya.
“Seandainya aku lebih kuat” ucap Zhang Quan menghapus air matanya. Dan menutup matanya untuk beristirahat setelah pulang dari perjalanan dangang yang melelahkan.
kediaman keluarga Zhang.
Kepala keluarga kediaman Zhang. Zhang Qiang.
Di dalam ruang utama dengan meja besar serta kursi tinggi dan empuk yang mengitarinya. Seorang lelaki tua menatap lekat anak putrinya. Anaknya pun membalas tatapan ayahnya dengan begitu banyak pertanyaan di benaknya.
Kedua ayah dan anak ini mencoba mengutarakan pertanyaan dalam hati yang sulit mereka ungkapkan.
“Ayah ingin.......” / “ Aku ingin.....” ucap mereka serempak.
“Ayah duluan sahaja.” Seru sang anak.
“Tidak kau duluan sahaja.” Balas sang ayah.
“Tidak ayah dulu sahaja.”
“Tidak putri ku, kau dulu sahaja.”
Perdebatan antara siapa dulu yang mengungkapkan isi hatinya terjadi antara kedua ayah dan anak ini. Sampai pada suatu titik dimana salah satu di antara mengalah.
“Baiklah putri ku, ayah duluan. Ayah ingin agar kau segera mencari pasangan. Ada beberapa peria muda se usia mu dari sakte besar akan ke sini untuk melamar diri mu, apakah kau setuju ” Tanya sang ayah mengawali pembicaraan.
“ Ayah apakah ada obat yang bisa menyembuhkan kak Quan dari kelainan nya.” Tanya Zhang Mei mengungkapkan perassanya tanpa mempedulikan pertanyaanya ayahnya.
__ADS_1
“Ada tapi itu tidak mungkin. Untuk menyembuhkan kaka mu di butuhkan meditasi gabungan dengan wanita berdarah yin. Sedangkan wanita berdarah yin keberadaanya sangat di rahasikan oleh setiap sakte yang memilikinya karena keberadanya sanggup membawa peperangan antar sakte untuk menguasainya”.
Raut wajah Zhang Mei terkejut dan merah merona. Ia tahu benar apa itu meditasi gabungan yang ayahnya katakan.
“Lebih baik seperti itu sahaja, lebih baik.” Dengus Zhang Mei saat tahu obat untuk kaka yang berkelainan tubuh itu adalah dengan meditasi gabungan.
“Udahlah, itu urusan ayah dan kaka mu. Sekarang bagaimana dengan pertanyaan ayah mu di tadi.”
“Aku belum menemukan lelaki yang aku cinta ayah.” Seru Zhang Mei memalingkan mukanya malas menjawab pertanyaan itu.
“Apa di perguruan beladiri itu tidak ada cowok seganteng ayah yang bisa memikat hati mu.” Balas sombong sang ayah memegang dagunya.
“Memamg cinta itu seperti apa sih, aku tidak tahu cinta.” Balas Zhang Mei yang masih memalingkan wajahnya.
“Hahahahhhahahahah.”
“Putri kecil ku sepertinya belum paham rasa nya cinta.”
“Dengar baik baik apa yang ayah mu ini katakan.”
Zhang Mei menolehkan wajahnya melihat wajah ceria ayahnya itu.
“Cinta adalah perasaan dimana seseorang harus merindu ingin bertemu ketika berpisah. Rasa dimana seseorang ingin selalu dekat dengan lawan jenisnya. Rasa saat seseorang ingin memiliki orang tersebut untuk dirinya. Rasa jantung berdebar kencang saat dekat atau bersentuhan dengan lawan senisnya.”
“Adakah seseorang lawan jenis yang bisa kau rasa seperti itu. Jika ada kau harus menikah dengan nya.” Tutup sang ayah sambil tersenyum ramah.
“Orang yang aku rindu kaka Quan, aku ingin dekat selalu dengan kaka Quan, aku ingin memiliki kaka Quan, akhir akhir ini jantung ku berdebar kencang saat memeluk kaka Quan”. Batin Zhang Mei.
“Apakah ada Mei’er lelaki yang seperti itu di hidup mu.” Pertanyaan sang ayah memecah lamunan wanita ini.
“Ayah, aku ingin menikah dengan kaka Quan” ucap Zhang Mei tanpa keraguan sedikitpun di wajahnya.
Zhang Qiang menunjukan ekspresi yang rumit mengingat hubungan mereka. Terlebih lagi seluruh anggota keluarga baik di keluarga utama dan keluarga cabang akan menentang keras hubungan mereka.
Halloo para readers yang telah memberikan like dan komentar di kolom komentar. Terimakasih banyak atas apresiasinya. Like dan komen kalian adalah bentuk dukungan kalian untuk penulis agar tetap semangat untuk meneruskan kisah ini.
***Untuk chapter 10 ada dua episode kusus. Alurnya masih sama tapi isi pokoknya berbeda. Satu chapter edisi kusus ++, satu lagi cerita biasa.
Selamat membaca.
halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar
__ADS_1