
Bagian 22
Negosiasi peperangan
Semenjak keruntuhan sekte Paviliun Bunga Suci seluruh sekte di benua dataran tengah membentuk sebuah fraksi golongan masing masing. Aliran hitam membentuk sendiri kekuatannya dan aliran putih juga melakukan hal yang sama.
Lebih mengejutkannya lagi berbagai pihak dari luar benua ikut andil untuk membantu kedua aliran dalam mewujudkan ambisinya masing masing.
Di kubu aliran hitam mendapat banyak bantuan penuh dari sekte besar yang berasal dari benua dataran utara dan selatan.
Di kubu aliran putih mendapat pula sokongan dari berbagai sekte di benua dataran timur dan barat. Berbeda dari aliran hitam yang berupa sekte besar, di aliran putih mereka mendapat bantuan langsung dari kerajaan di dua benua itu.
Dan sekarang di benua dataran tengah terdapat empat fraksi besar dengan satu fraksi netral. Dua dari aliran hitam yang berbeda pendukung antara utara dan barat. Dua lagi dari aliran putih beda pendukung dari kerajaan timur dan selatan. Satu fraksi netral dari para pedagang.
Fraksi frakasi ini belum berani ambil tindakan terang terangan dalam mewujudkan ambisi mereka. Terlebih fraksi pedagang yang belum ambil tindakan akan memilih pihak yang mana.
Kedua aliran masih mempersiapkan matang matang rencana mereka. Mereka tahu, terdapat banyak pesaing dalam perebutan kekuaaan di benua dataran tengah ini. Pergerakan setiap fraksi ini masih samar samar, hanya kelompok mereka sahaja yang tahu.
Dan lebih anehnya lagi setiap fraksi tidak menyadari bahwa setiap fraksi mendapat bantuan dari berbagai pihak di benua luar. Setiap fraksi mengira, diri merekalah yang paling kuat lantaran di setiap kubu memiliki banyak pendekar tingkat dewa.
Kehilangan pilar perdamaian di benua dataran tengah dan kehancuran puspendik pendekar di benua ini menyebakan banyak sekte luar benua dan beberapa kerajaan di luar benua memiliki keinginan untuk menguasai benua dataran tengah.
Mereka beralasan membantu dan mendukung, tapi kenyataan yang sebenarnya adalah mereka memiliki ambisi masing masing untuk menguasai benua dataran tengah ini.
...Di tempat yang lain....
...Sekte mawar biru...
Seorang wanita dewasa sedang menangis, matanya sembab lantaran ia telah menangis untuk waktu yang lama. Kesedihan terlihat jelas dalam raut mukanya. Tubuh yang bertambah kurus sangat nampak dari pipi tirus yang di milikinya.
Wanita ini telah kehilangan selera makannya dalam beberapa hari yang lalu. Semenjak kematian anak nya yang mengenaskan dengan bagian tubuh yang terpisah dari kepala membuat wanita ini selalu bersedih.
Dia adalah Wang Lien, istri dari Liang Fung ketua sekte mawar biru dan ayah berserta ibu dari Liang Bao yu.
Liang Fung menatap istrinya dengan penuh rasa sakit di dadanya. Kematian anak tercintanya membuat istrinya sangat sedih dan kesedihan istrinya membuat lelaki bertubuh besar ini merasakan sakit hati yang sama.
“Sayang. Makanlah sesuap sahaja, kau sudah tidak makan untuk waktu yang lama. Jangan membuat ku terus bersedih dengan kondisi mu. sungguh aku ikut sakit melihat mu menyiksa diri mu.” Pandangan pria ini mulai berkaca kaca, terlihat jelas kesedihan di raut mukanya.
Wanita ini menghampiri arah suara yang ia dengar. Ia berlari dan memeluk pemilik suara tersebut. Suara tangis terdengar jelas dalam kamar besar ini. Beberapa kali wanita ini sesengkukan dalam tangisannya.
Liang Fung ikut menitikan air matanya. Ia merasakan tubuh istrinya yang semakin kurus di pelukannya. Tangisan di pungungnya membuat pria kekar ini tidak kuasa menahan air di kelopak matanya.
“Ayolah, makan istri ku.”
“Aku tidak sanggup menelan makanan suami ku, jasad anak kita masih teringat jelas dalam pikiran ku. Aku belum bisa tenang selama pembunuh anak kita masih hidup di benua ini.”
__ADS_1
Mata Liang Fung melotot tajam ke depan. Ia juga merasakan hal yang sama dengan istrtiya.
Liang Bao yu, adalah anak semata wayang mereka, melihat anak kesayangan mati mengenaskan tentu siapa pun orang tua pasti akan merasakan kesedihan yang teramat dalam.
“Tenang sayang, sekte kita akan bergerak dalam kelompok besar untuk membunuh orang yang membunuh anak kita.”
Wang Lien menganguk dalam pelukan lelaki kekar ini.
Di tempat lain.
Kediaman keluarga Zhao.
Keluarga Zhao adalah keluarga besar seperti keluarga Zhang. Mereka adalah keluarga pedagang setingkat dengan keluarga Zhang. Namun berbeda dengan keluarga Zhang yang menjaga erat adat tradisi keluraga.
Keluarga Zhao yang sangat menghargai Alkemis dan menjadikan sosok Alkemis sebagai orang yang paling tinggi derajatnya dalam keluarga ini. Tidak heran lagi dalam kelurga ini Alkemis terhebatlah yang akan dilatik sebagai ketua keluarga.
Di aula besar keluraga Zhao.
Semua kepala keluarga cabang serta kepala keluarga utama berkumpul di tempat ini. Mereka sedang melakukan rapat untuk membahas tentang kelompok besar yang akan melakukan penyerangan terhadap keluarga mereka.
“Liang Fung beserta sektenya telah mengumpulkan pasukan dalam sekala besar. Usut punya usut ternyata mereka berniat membunuh pembunuh anak mereka.”
“Itu benar, sekte bodoh mereka mengira keluarga kita yang membunuh anak nya. Peledak yang kita jual dijadikan alat tuduhan untuk menyerang kita.”
“Bagaimana ini ketua.”
“Tidak adakah ide yang lebih baik. Mencari alibi hanya akan menambah runyam masalah ini.”
“Bagaimana bila kita melakukan negosiasi dengan kelompok mereka. Kita akan menjanjikan pencarian atas pelaku yang membunuh anak mereka.” Seru Zhao Tad selaku kepala utama kelurga Zhao.
“ Sepertinya ide kepala keluarga benar.”
“Iya aku setuju, itu lebih baik dari pada mencari kambing hitam yang bisa sahaja menjadi senjata makan tuan.”
“Iya, benar itu lebih baik.”
Di sekte mawar biru.
Liang Fung yang menjadi anak ketua sekte aliran hitam dan menikahi Wang lien dari sekte aliran putih. Menjadikan pria ini memimpin kedua aliran. Dengan ideologi Liang Fung, ia bisa membuat kedua aliran tidak terlibat pertikaian dan kedua aliran dapat hidup rukun sesuai harapannya.
Liang Fung telah bersiap dengan ratusan ribu pasukannya. Mereka rata rata di tingkat lanjut, walaupun ada sebagian dari mereka yang berada di tingkat puncak.
“Liang Fei, pasukan gagak hitam apa sudah berkumpul semua.” Seru Liang Fung kepda adiknya selaku wakil ketua di sekte gagak hitam.
“Sebentar lagi ketua.” Seru Liang Fei sambil menekuk salah satu kakinya.
__ADS_1
“Wang Jili bagaimana dengan pasukan sekte mawar biru. Apa mereka sudah dalam posisinya.”
“Sudah siap dalam posisi ketua.” Wang jili sebagai wakil ketua sekte mawar biru melaporkan pasukannya.
“Sepertinya kita baru bisa berangkat nanti siang.” Liang Fung sedikit mengelengkan kepalanya.
Di tempat pria sepuh misterius.
“Hahahhahahhah.”
“Ini akan menarik, kita lihat akan seperti apa kedepannya.” Ucap pria sepuh ini setelah mendapt laporan dari anak buahnya.
Di tempat Guo Jun ( nenek lampir )
“Sepertinya otak tumpul Liang Fung memiliki rencana, dia pasti tidak bertindak gegabah kali ini.” Ucap wanita ini saat mendapat laporan dari pasukan pengintainya.
“Ada seseorang yang membuat kambing hitam akan pembunuhan ini.” Ucap Guo Jun yang mengeryitkan dahinya.
Sementara di tempat Zhang Quan.
Zhang Quan sedang berlatih bab kedua dari kitab nafas dewa naga.
Zhang Quan terlihat kesulitan dengan pola gerakan yang di contohkan gurunya. Dengan mata yang tertutup kain ia di haruskan mengikuti pergerakan gurunya.
Bab kedua ini meniti beratkan pada indra pendengaran. Nafas yang keluar di haruskan selaras dengan nafas yang di peragakan gurunya. Bila nafasnya telah sama. Pergerkan yang di contohkan oleh gururnya dapat dengan mudah di ikutiya.
Bleeetakkk
Suara pukulan kayu menghantam kepala Zhang Quan. Ia menyeringai kesakitan dan beberapa kali mengosok kepalanya.
“A..duu..hhh.” Ucapnya pelan.
“Selaraskan dulu nafas mu dengan nafas ku. Pertajamkan pendengaran mu dengan fokus pada setiap tarikan nafas yang aku ambi. Ikuti dengan benar..........” Ucap kesal gurunya.
Di kediaman kelurga Zhang.
“APA, bagaimana ini terjadi. Kenapa kalian bisa sebodoh itu.” Ucap marah dan terkejut Zhang Ping saat mendapati rombongan pedagang Zhang Kun tidak berhasil mendapat material yang keluraga Zhang butuhkan.
Zhang Pin memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Ia bisa sahaja berbicara kebenaran di hadapan kaka nya sendiri Zhang Qiang, tapi bila berbicara dengan keponakanya. Itu cerita yang berbeda.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
__ADS_1
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.