Paviliun Bunga Suci

Paviliun Bunga Suci
Bagian 28. Pasukan pencari abu


__ADS_3

Bagian 28


Pasukan pencari abu.


Di tempat Zhang Mei.


" Ayah, kita harus mencari ide yang tepat. Bila tidak....... "


Zhang Ping tersenyum pahit mendengar penjelasan anaknya.


Ayah dan anak ini terlihat sedang berisik bisik. Mereka sedang mencari sebuah ide untuk mengelabuhi Zhang Mei. Pasangan ayah dan anak ini tahu betul Zhang Mei.


Mereka harus cepat menemukan ide, bila tidak apa yang mereka takuti pasti akan terjadi.


Sepasang ayah dan anak ini berkeliling bersama. Mereka mencari jejak atau tanda tanda keberadaan Zhang Quan.


Di sisi lain tidak jauh dari mereka. Zhang Mei juga melakukan hal yang sama. Sepasukan pun melakukan hal yang sama juga.


Beberapa saat berlalu. Sudah hampir tiga jam lebih sepasukan ini mencari. Wajah lelah nampak sangat terlihat jelas pada wajah seluruh orang. Mereka belum berihat setelah sampai di lokasi ini.


" Ayah aku ada ide..." Seru Zhang Kun.


" Jadi seperti ini........ " Zhang Kun mulai berbisik pelan di telinga ayahnya. Ia menjelaskan rencana nya untuk mengelabuhi Zhang Mei.


Zhang Ping tersenyum cerah. Ide ini memang cukup baik, tapi tidak akan baik jika untuk mengelabuhi orang cerdik. Namun beda lagi ceritanya bila itu untuk Zhang Mei.


Zhang Mei masih sahaja terus mencari. Wajah lelah dan pucat dengan lingkaran hitam yang tidak cukup tebal, terlihat jelas di kedua mata wanita ini.


Wanita keras kepala ini sama sekali belum tertidur sejak perjalanan ini dilakukan. Sepasukan yang melihat tuan putri mereka hanya bisa menatap iba.


Mereka memang sempat mengumpat, tapi sejak melihat kondisi tuan putri mereka yang begitu memperihatinkan, mereka merubah kekesalan dengan rasa simpati.


Zhang Ping dan Zhang kun mulai melakukan rencana mereka. Mereka mencari abu mayat seseorang.


Kedua ayah dan anak ini juga memerintahkan salah satu pasukan untuk membeli abu mayat di pasar guyangan, kota Song. Bila ada kemungkinan mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari di sini.


" Bibi, apa tidak sebaiknya bibi berihat sebentar. Bibi terlihat lelah sekali. "


" Zhang Kun, masih sempat kau bicara seperti itu. Apa kau tidak berpikir ini semua itu salah mu!!! " ucap kesal Zhang Mei.


Zhang Kun hanya bisa terseyum pahit mendengar pernyataan bibinya, ia tidak bisa mengelak pernyataan nya.


" Kalian harus tetap mencari. Siapa tahu ada jejak yang menunjukan arah kemana kepergian kak Quan " ucap Zhang Mei meninggalkan Zhang Kun sendirian.

__ADS_1


Zhang Kun, melihat punggung bibinya semakin menjauh, jalan yang terlihat kadang sempoyongan terlihat jelas pada pandangan nya.


" Aku harus cepat menemukan abu itu. Jika tidak mungkin bibi akan mati karena kelelahan " gumamnya pelan.


Dua jam berganti. Namun mereka tidak menemukan apa pun. Cahaya sinar mentari yang hampir setombak, membuat sepasukan ini semakin lambat dalam melakukan pencarian.


Wajah sangat lelah semua orang tunjukan. Zhang Mei terlihat hampir pingsan. Namun masih sahaja memaksakan dirinya.


" Tuan putri. Aku menemukan jejak tuan Quan " seru salah satu pasukan.


Zhang Mei langsung sahaja bergegas berlari menuju arah suara. Jantung nya seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Mata nya melotot tajam dan mulai berkaca kaca.


Tangisan keras dan jelas keluar dari mulutnya. Ia menangis sejadi jadi nya. Namun beda lagi dengan sepasukan, ayah dan anak ini. Mereka menanggapinya dengan terseyum lega.


Di tempat Zhao Tad.


" Baiklah. Biarkan aku ke medan perang. Siapkan pasukan penjaga. "


Pria dewas ini sudah kehilangan ide, melihat saudara nya mati mengenaskan tentu tidak di harapkannya. Ia akan sendiri yang akan tampil untuk menghadapi Liang Fung.


Sepasukan penjaga berjumlah ratus an mengawal Zhao Tad beserta para tetua. Pasukan ini berada pada tingkatan pendekar atas.


Berbeda dengan keluarga Zhang yang memiliki pasukan kusus pengawal rombongan atau penjaga kediaman yang berjumlah puluhan ribu. Keluarga Zhao sama sekali tidak memiliki pasukan besar seperti keluarga Zhang.


Bendera putih besar terlihat jelas di depan gapura keluarga Zhao. Berbeda dari sebelumnya, sekarang ketua kediaman serta para tetua tampil menyambut Liang Fung.


" Hormat kepada tuan besar Liang " ucap Zhao Tad sambil menekukan salah satu kakinya. Sepasukan dan para tetua pun melakukan hal yang sama.


" Ada apa gerangan tuan Liang berbuat onar di kediaman kami. "


" Hmpphh.. KALIAN,!!! Apa perlu aku perjelas lagi kedatangan ku kali ini!! "


Zhao Tad terseyum canggung, ia berbicara seperti itu hanya untuk basa basi sahaja.


" Baiklah. Kami takan basa basi lagi. Jujur sahaja. Kematian anak mu bukan sebab keluarga kami. Untuk masalah peledak itu memang berasal dari keluarga kami. Tapi soal pembunuhan anak tuan belum tentu ada kaitannya dengan keluarga kami " ucap Zhao Tad yang kembali berdiri seperti biasa.


Liang Fung menghela nafas berat. Apa yang di katakan Zhao Tad memang benar nyatanya.


" Baiklah, aku memang tahu hal itu. Kedatangan kami kesini memang untuk bertanya siapa pembeli peledak itu. Ada kemungkinan salah satu dari mereka pelakunya. "


Zhao Tad sudah menduga akal hal ini. Ia sama sekali tidak terkejut akan pernyataan Liang Fung. Ia hanya menanggapi pernyataan pria kekar itu dengan terseyum simpul.


" Sejujurnya itu adalah privasi pembeli kami. Kami sebenarnya tidak berhak membocorkan kepada orang lain " seru Zhao Tad terseyum kecut.

__ADS_1


Sama seperti Zhao Tad yang sudah menduga pernyataan Liang Fung. Pria kekar inj juga sudah menduga pernyataan Zhao Tad. Maksud dari Liang Fung membawa sepasukan besar kali ini, memang untuk mengancam Zhao Tad untuk memberi tahu privasi pembeli mereka.


Sekarang giliran Zhao Tad yang menghela nafas berat. Ia harus memikirkan solusi seperti apa yang harus di ambilnya.


" Baik lah, tapi dengan satu syarat............" Zhao Tad menjelaskan syarat yang ia berikan.


" Lebih baik kita berbicara di dalam. Kurang baik sepertinya jika berbicara seperti itu di sini. "


" Baiklah. Lagian juga syarat yang kau berikan tidak sulit bagi ku. "


Liang Fung beserta parta ketua pasukan memasuki gapura kediaman keluarga Zhao beserta Zhao Tad dan rombongannya.


Di tempat kakek sepuh misterius.


" Lapor yang mulia. Seperti nya sekte besar di utara sudah mulai mengambil gerakan. "


" Bagaimana dengan sekte tengkorak putih. Kelihatan nya mereka belum mengambil gerakan atas segel yang mereka ketahui. "


" Untuk itu, kami tidak mengetahui pergerakan mereka. Seperti nya mereka sedang membuat rencana besar kali ini. Setiap pergerakan mereka sangat mencurigakan. "


" Bagaimana dengan sekte besar lainnya. "


" Sama seperti biasanya. Mereka masih bergerak sembunyi-sembunyi. " Ucap pria ini sambil menekukan lutut nya, memberikan laporan.


" Baiklah lakukan tugas mu seperti biasa. "


Seorang pria seperti asasin pergi meninggalkan pria sepuh ini. Pria sepuh ini terseyum simpul saat mengingat keberadaan cucu nya di hutan siluman.


" Apa bisa dia membuka segel nya bocah Quan yah " ucap pria sepuh ini saat teringat Guru Zhang Quan.


" Sepertinya sekte tengkorak putih akan memulai gerakan besar kali ini. " Pikiran pria sepuh ini teralihkan saat teringat kembali laporan pasukannya.


Di tempat Zhang Quan


" Bagus bocah Quan. Besok kita akan belajar bab terakhir dari kitab nafas dewa naga. " Ucap kagum gurunya saat melihat murid nya yang begitu cepat memahami jurus yang di ajarkan nya.


Halllooo


Para readers.


Jangan lupa yahh.


Klik tombol like yaaa.

__ADS_1


Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.


__ADS_2