
...Bagian 48. Motifasi...
Zhang Quan menghela nafas berat. Untuk melangkah satu langkah sahaja baginya sangat sulit, apalagi untuk melakukan sebuah jurus yang terdapat begitu banyak gerakan.
" Baiklah guru....... " ucap lemas Zhang Quan.
Zhang Quan mulai menggerakan tubuhnya, ia mencoba memperagakan setiap gerakan yang ia ingat. Langkah dan gerakannya seperti robot, sangat pelan serta sangat kaku
Guru Zhang Quan yang melihat muridnya kesulitan melakukan gerakan, terseyum simpul. Wajah senang pria ini tunjukan, seperti telah berhasil mewujudkan sebuah impian.
Berbeda lagi dengan Zhang Quan, ia merasa kesal dengan gurunya. Setelah melihat guru terseyum simpul, Zhang Quan sadar bahwa dugaannya sepenuhnya benar terhadap gurunya.
Guru Zhang Quan mebalas tajam tatapan melotot muridnya.
" Apa yang kau lihat bocah!!
Kau itu memiliki tubuh yang berbeda dari manusia normal lainnya, jangan mengeluh dan kesal dengan cara pelatihan ku.
Apa kau lupa dengan hukum rimba di dunia pendekar. "
Zhang Quan tersentak dengan ucapan gurunya, ia teringat kembali dengan masa lalu. Wanita yang ia cinta, pasukan yang setia dan teman yang berharga. Terlibas semua oleh hukum rimba, dimana yang kuat berhak melakukan segalanya.
Zhang Quan menghela nafas pelan, ia mencoba menenangkan pikirannya yang membenci gurunya. Ia berhenti sesat dari gerakannya.
" Hukum rimba ya, aku benci dengan kata itu...... " ucap lirih Zhang Quan.
Mata pria kecil ini menutup sesaat, memori masa lalu ia coba kenangan kembali. Ia merasa bersedih dengan segala ketidak berdayaannya, ia mengepalkan tangannya keras.
" Aku..... "
Zhang Quan mulai membuka matanya dan mentap ke atas, atap langit-langit ruangan yang berwarna coklat seakan membawa kenangan sepesial bagi Zhang Quan.
" Tidak akan menyerah!!!! " seru Zhang Quan dengan suara lantang.
Zhang Quan merapatkan gigi nya, ia mencoba menggerakan seluruh tubuhnya yang berbalut zirah besi yang berat. Semangat yang tinggi dan ambisi tiba-tiba mendorong jiwa Zhang Quan.
Sekarang gerakannya tidak seperti robot lagi, walaupun masih kaku, tapi lebih cepat dari sebelumnya.
" Bocah Zhang, gerakan mu masih lambat, jika gerakan mu sepelan itu. Kau tidak memiliki kesempatan menyerang, bila berhadapan dengan pendekar tingkat dewa. "
Zhang Quan melirik sumber suara, kesal pasti kesal apalagi sekarang ia berada pada kondisi marah karena mengenang masa lalunya.
__ADS_1
Keringat mengucur deras di seluruh tubuhnya, ia kembali melakukan gerakan jurus yang di ajarkan gurunya. Sekarang ia mencoba tidak peduli lagi dengan bisikan buruk yang ia dengar.
" Gunakan ilmu nafas dewa naga. Atur nafas mu dengan benar. Fokus pada ambisi mu, lupakan rasa lelah mu. Ingat setiap gerakan yang aku ajarkan. "
Seperti mendapat pencerahan, ia mendapatkan dorongan lebih lagi dari dalam. Sebelumnya ia memang lupa menggunakan ilmu pernafas dalam kitab nafas dewa naga.
Zhang Quan berhenti sejenak dan menghela nafas beberapa kali. Sekarang ia menggunakan seni ilmu nafas dewa naga di setiap gerakannya.
Kedua tangan Zhang Quan mengepal keras dan pandangannya tertuju ke depan. Kali ini, ia mencoba memfokuskan tujuannya dan membulatkan tekadnya.
" Aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa......aku pasti bisa!!!! " ucap Zhang Quan dengan keras.
" Wooooaaaaarrgggghhh "
Zhang Quan melakukan kombinasi gerakan jurus dengan ilmu pernafasan, perlahan gerakannya semakin cepat dari sebelumnya. Matanya kanannya berubah warna menjadi kuning keemasan.
Rajah di tubunya bercahaya, menampilkan sebuah zirah menyala terang dengan berbagai cahaya yang keluar dari beberapa sisi lekukan Zirah besi.
Gerakan Zhang Quan semakin cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Saat ini, Zirah besi yang ia kenakan seperti terasa ringan baginya. Pukulan dan hempasan tendangan kaki terlihat begitu ringan bagi Zhang Quan.
Gurunya Zhang Quan berdecak kagum melihat muridnya begitu mudah menggunakan Zirah seberat itu, padahal dirinya sendiri sahaja belum mampu menggerakan zirah seperti itu dengan mudah.
" Cepat hentikan dia, dia akan lepas kendali.... Junior Chang cepat hentikan cucuku!! "
...Di sekte besar utara...
" Kali ini kita bertaruh, jika sahaja benar sosok yang kau sebut itu musuh sesepuh, maka nyawa mu aku ampuni. Jika tidak...... "
Ucapan Xu Shanyuan membuat kering dingin di dahi Kang Jianguo bercucuran. Kali ini ia tidak dapat lagi selamat, saat ini ia hanya bisa berharap semoga pria sepuh itu tidak berkata bohong.
' Habislah sudah ' batinnya.
Setelah melakukan beberapa hari, kelompok ini akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sebuah gunung berapi dengan lahar panas mengitari sisi gunung yang terlihat begitu menyeramkan.
Semua orang bergidik ngeri saat melihat anak sungai yang mengitari gunung, tidak ada air sungai yang berwarna bening, putih. Penampakan yang mereka saksikan kali ini adalah larva merah yang menyala-nyala.
" Yang mulia, apa benar ini tempatnya " ucap Kang Jianguo menyeka keringat di dahinya.
" Menurut petunjuk peta sih, iya. Ayo cepat masuk, nyawa mu taruhanya kali ini. Berdoalah semoga kau bernasib baik " ucap datar Xu Shanyuan pimpinan rombongan.
Kang Jianguo yang mendengar pernyataan tuannya, merubah wajahnya menjadi pucat pasih. Ia tidak menanggapi lebih lanjut ucapan pimpinannya.
__ADS_1
Rombongan mereka, berisi seratus lima puluh orang. Rata-rata pasukan ini berada di tingkatan dewa, tapi hanya ada lima belas orang yang bisa masuk. Mengingat di jalan masuk gunung tertulis ' maksimal orang masuk adalah lima belas orang, jika lebih dari itu maka jembatan penghubung akan roboh'.
Jembatan penghubung gua cukup aneh, jembatan yang menanjak ke sisi atas gua, lebih layak di sebut anak tangga dari pada sebuah jembatan. Namun pemilik gua mengatakan itu adalah jembatan dengan alasan di bawah anak tangga ada sungai larva.
Butuh waktu kurang lebih sepuluh menit bagi rombongan ini naik menuju puncak gua, sebuah pintu besar berwarna hitam dengan ukiran naga melawan singa terlihat indah pada dinding pintu ini.
Tok tok tok
" Sesepuh pendekar, pangeran Xu datang berkunjung " ucap Kang Jianguo berdiri mengetuk pintu.
Tidak ada suara balasan dari pemilik pondok di atas gunung ini, sunyi senyap suasana di sekitar mereka.
Coba kembali melakukannya lagi. Kang Jianguo mengetuk pintu lagi, tidak mendapatkan balasan lagi. Dan untuk yang terakhir kali nya ia mencoba mengetuk pintu di depan nya.
Tak tak tak
Kang Jianguo mengetuk pintu dan memalingkan wajahnya ke arah rombongan, kemudian ia berucap.
" Sepertinya sesepuh pendekar tidak berada di sini, apa mungkin dia sedang menyepi untuk naik tingkat? "
Kang Jianguo merasa memukul sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, ia memang mengetuk pintu tanpa melihat apa yang di ketuk.
Seluruh rombongan dan pimpinan Xu menggelengkan kepala dan terseyum pahit, rombongan ini berusaha mengingatkan Kang Jianguo.
Tiba tiba hawa dingin menyelimuti seluruh tubuh seluruh orang, Kang Jianguo yang melihat ekspresi buruk para rombongan, membalikan pandangannya karena merasakan aura mengancam di depannya.
" Wuaaahhhh. "
Kang Jianguo melompat dari posisinya, ia tidak menyangka bahwasanya yang di ketuk adalah kepala seorang kakek tua botak.
' Matilah aku....'
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1