
Bagian 21
...Rasa penasaran...
Pasukan misterius menatap ngeri kepada pria sepuh ini. Mereka memandang sosok ketua mereka sebagai orang yang terkuat yang mereka temui. Di hadapan seorang kakek tua sahaja pimpinan mereka bahkan tidak sanggup bertahan lebih dari dua jurus.
Mereka saling menatap dan memberikan isyarat. Mereka tahu posisi mereka yang di ujung tanduk. Tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka. Di bunuh dengan sadis tentu bukan keinginan dan harapan mereka.
Dengan kode yang hanya sepasukan itu yang tahu. Mereka menelan sebuah pil hitam yang beraura sangat pekat. Pil tersebut berbau sangat menyengat. Kakek sepuh itu, sadar apa yang sepasukan ini lakukan.
“Cepat hentikan mereka. Mereka sedang menelan pil racun kematian.”
Sepasukan elit dan Li Hao berserta kakek berusaha mencegah sepasukan ini menelan pil racun kematian. Mereka bergerak cepat, berbagi upaya mereka lakukan, seperti mencengkram leher, memukul perut dan upaya upaya lain agar mereka tidak berhasil bunuh diri.
Namun sayang seribu sayang. Sepasukan misterius ini telah di latih dengan sangat baik bila kondisi seperti ini terjadi. Sepasukan kakek sepuh ini gagal mencegah mereka untuk bunuh diri.
Mereka yang menelan pil racun kematian akan merasakan kematian yang tidak berasa sakit. Pil ini sangatlah pahit, namun memiliki efek kusus yaitu langsung mematikan fungsi jantung. Pil ini digunakan para pendekar agar informasi yang mereka pegang tidak bocor ke tangan musuh.
Kakek sepuh ini menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia tersenyum kecut melihat penampakan yang ia saksikan. Ia tahu betul pil racun kematian lantaran ia juga memilikinya beberapa.
“Para prajurit yang setia.” Ucapnya lirih.
“Ayo kita lanjutkan pencarian lagi, kepergian mereka pasti belum jauh.”
Kakek tua ini dan sepasukan elit bersama Li Hao terbang melesat lebih dalam menuju hutan siluman.
...Di tempat Zhang Quan....
Zhang Quan dan gurunya terbang melesat cukup jauh. Mereka masuk ke bagian dalam hutan siluman. Hutan siluman ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian luar dan bagian dalam.
Mereka para pendekar yang berada pada tingkat lanjut sahaja tidak berani mencari sumber daya di bagian dalam hutan lantaran berbagai siluman kuat kebanyakan setara dengan pendekar tingkat dewa.
Zhang Quan mengeryitkan dahinya. Aura kuat yang gurunya pancarkan sangat jelas membuat para siluman bergidik ngeri dan pergi dari kawasan yang mereka lewati.
Zhang Quan masih terpikirkan pernyataan gurunya mengenai kitab tanpa tanding yang di milikinya. Setahu bocah kecil Quan ini, pendekar tingkat dewa hanya ada di benua dataran tengah sahaja.
__ADS_1
Lantaran keberadaan pendekar dewa di benua dataran tengah ini, banyak kalangan di berbagai benua lain yang menyekolahkan putra putri mereka di benua dataran tengah untuk belajar ilmu bela diri langsung dari para ahlinya.
Zhang Quan penasaran, kok bisa ada banyak pendekar tingkat dewa di benua lain. Seingat nya pendekar dewa kebanyakan di benua ini telah mati di bunuh pasukan aliansi 30 tahun yang lalu.
Zhang Quan mecoba menahan rasa penasaranya, ia menunggu gurunya ini berhenti dari terbang nya dan menunggu situasi yang tepat untuk bertanya rasa penasarannya.
...Di kota Song. Zhang Kun....
Wajah Zhang Kun terlihat rumit kali ini. Ia bahkan melupakan makan siang nya karena tidak ada mod baginya yang membuatnya berselera makan. Ia dilema dengan keadaanya. Sepasukannya tidak ada yang bisa menyuarakan ide apapun kepadanya.
Zhang Kun masih duduk di samping kereta. Wajahnya terlihat pucat dan rumit. Sepasuakan yang melihatnya hanya bisa berdiam diri dan berpikir untuk mencari solusi akan masalah yang menimpa tuan muda mereka.
Zhang Kun yang masih terduduk dengan posisinya di kejutkan oleh sebuah suara. Ia mencoba menegnali suara tersebut dan mengingat gambaran wanita yang pernah ia dengar dari ayahnya.
“Apa kalian rombongan pedagang Zhang.” Ucap seorang wanita yang di kawal puluhana pasukan.
Zhang Kun menatap tajam sosok wanita tersebut. Ia teringat kembali cerita ayahnya.
“Bibi Li Annci.” Ucap Zhang Kun dengan suara lemasnya.
“Bibi, bibi. Aku sahaja belum menikahi paman mu. Dimana dia sekarang. Paman kecil mu.” Dengus sosok wanita yang bertinggi badan hampir sama dengan Zhang Quan.
“Anu,....” Zhang Kun mencoba menjelaskan situasinya kepada LI Annci. Ia menceritkan kejujuran kali ini. Berbohong dengan situasi kali ini akan menimbulkan situasi yang sulit kedepannya.
Li Annci yang mendengar cerita Zhang Kun menunjukan ekspresi yang biasa sahaja. Ia tidak terkejut dan khawatir.
“Bocah itu tidak mungkin mati, dia pandai bersilat lidah. Jika apa yang kau katakan benar. Tapi sesuai kesepakatan awal. Keluarga Zhang tidak boleh bertransaksi bila Zhang Quan tidak ada di rombongan. Bisa sahaja cerita mu berbohong karena bocah Quan mencoba menghindari ku.” Ucap Li Annci yang pergi dari hadapan Zhang Kun.
Zhang Kun mencakar sendiri mukanya. Ia semakin memperjelek raut wajahnya dengan keadaan yang sama sekali tidak berubah karena kejujurannya.
“Mengapa ini semua terjadi kepada ku.” Ucap Zhang Kun yang sedang meratapi nasibnya.
...Kembali ke Guru dan murid....
Zhang Quan dan Gurunya yang sudah berhenti dari terbangnya, beristirahat di pinggir sungai. Mereka sedang menyantap ikan bakar yang susuah payah Zahang Quan dapatkan.
__ADS_1
Sambil menyantap ikan bakarnya Zhang Quan menanyakan rasa penasarannya. Ia menyatakan apa yang ia tahu dan membandingkan dengan apa yang Gurunya katakan.
“Hahahhhhaa.”
“Bocah Quan. Apa kau tidak akan percaya bahwa yang menulis kitab tanpa tanding itu aku.”
“Tidak. Mungkin aku akan setengah percaya.”
“Ehmmm. Baiklah jadi begini ceritanya.”
“Dulu. Aku dan kaka ku adalah salah satu anak ketua sekte besar di benua dataran utara . Aku dan kaka ku , di antara kami harus memilih mana yang akan belajar bela diri ke benua dataran tengah. Waktu itu aku masih kecil dan tentu kaka ku yang mengambil keputusan untuk pergi menuruti perkataan ayah kami.
Waktu berganti dan sudah dua ratus tahun lamanya. Kaka ku yang di bilang jenius di dunia pendekar menciptakan sebuah buku silat tenaga dalam. Ia merumuskan inovasinya dari kitab yang ia pelajari dari sekte Paviliun Bunga Suci.
Kaka ku yang sadar kitab hebat yang ia miliki. Ia berkeinginan memberikan salinannya kepada ayah kami untuk meningkatkan kekuatan sekte kami. Kami terkejut bukan main. Kitab ini sungguh luar biasa dan dalam beberapa tahun sahaja pendekar tingakat dewa dapat di capai di sekte kami.
Tiga puluh tahun yang lalu. Kitab ini bocor dan di ketahui banyak kalangan di benua dataran utara, berbagai perang terjadi untuk merebut kitab ini. Kami mencoba memberikan salian yang palsu untuk mereda peperangan ini.
Namun dalam dua puluh tahun mereka sadar kitab yang mereka pelajari ternyata palsu. Seluruh sekte bekerja sama membumi hanguskan sekte kami dan seluruh sanak famili kami di benua dataran utara.” Ucap guru Zhang Quan yang mengakhiri ceritanya dengan nada sedihnya.
Zhang Quan yang mendengar cerita gurunya semakin yakin akan kebenaran yang ia percayai. Ia melihat wajah sedih dan sorot mata yang jujur dari pria paruh baya ini. Zhang Quan yang sudah puluhan tahun belajar sifat dan karakter mengerti bahwa pria yang ia lihat di hadapanya berkata jujur.
“ Takdir macam apa ini sebenarnya. Mengapa bisa mereka saling bertemu.”
“Setidaknya aku bisa tenang, ternyata cucu ku bersama dengan.......” Ucap pria sepuh ini beserta seluruh pasukannya meninggalkan Zhang Quan.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1