
Selamat siang. bestie.
Alina fokus dengan dunia nya sendiri.
Karena saat ini ia ingin fokus.
Dan ia berhasil mengalahkan perasaan nya sendiri dengan keprofesionalan nya.
Karena saat ini fokus nya hanya satu yaitu mencapai target yang sudah ia rencanakan.
Waktu nya tidak banyak hanya tinggal lima hari lagi.
Karena di hari yang sama saat Billy akan melangsungkan akad, Alina juga akan terbang ke tempat yang sudah ia incar untuk kelangsungan hidup nya, dan di sana sudah beres karena banyak orang-orang dari daddy Al yang sudah mengatur nya di sana.
Sedang kan orang itu hanya bisa melihat Alina dengan tatapan yang berbeda dari biasa nya.
Karena Alina terlihat aneh di saat ia tidak lagi memperhatikan nya.
Orang itu memiliki firasat yah tidak baik dengan perubahan Alina, apalagi ia pagi pagi sekali sudah mendapat kan laporan jika Alina sudah mengatur beberapa jadwal nya untuk dua hari ke depan.
''Kenapa aku merasa dia sedang merencanakan sesuatu,'' gumam nya.
''Tapi aku tidak yakin juga,'' ucap nya lagi.
Dan setelah itu orang itu langsung masuk ke ruangan nya tanpa menoleh sedikit pun ke alina yang sedang fokus.
Sedang kan Alina sendiri juga tidak menghiraukan orang itu padahal Alina tahu jika ada orang yang lewat di depan nya, tapi Alina masa bodoh karena ia harus menyelesaikan pekerjaan nya lebih awal agar dia bisa mempersiapkan kepergian nya dengan semaksimal mungkin, dan juga bisa menikmati waktu santai nya bersama dengan Daddy, dan juga mommy tercintanya.
Saat ini Alina mendapat kan pesan jika rapat akan di majukan, dan mau tidak mau ia harus pergi ke ruangan Billy.
Seperti biasa Alina akan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dan ternyata di dalam sana ada Sintya yang sedang berbicara serius dengan Billy.
Dan itu membuat Alina tidak nyaman, dan juga merasa sedikit canggung.
Karena masuk tanpa permisi.
''Maaf,'' ucap Alina dengan kikuk.
''Sudah kebiasaan, tapi lain kali saya akan mengetuk pintu terlebih dahulu,'' lanjut Alina.
''Ada apa?'' tanya Billy.
''Lima menit lagi rapat akan di langsung kan,'' jelas Alina.
__ADS_1
''Ada lagi?'' tanya Billy datar.
''Tidak ada,'' jawab Alina.
''Saya pamit dulu,'' jelas Alina, dan langsung pergi begitu saja.
Sedang kan Sintya merasa heran karena ia baru tau jika Alina bekerja dengan calon suami nya.
''Sejak kapan dia berada di kantor ini?'' tanya Sintya
''Itu bukan ukuran mu,'' jawab Billy datar.
''Aku ini calon istri mu,'' jawab Sintya.
''Dan kamu harus sadar dengan apa yamg terjadi, pertunangan ini terjadi karena ada unsur keterpaksaan, dan kamu juga harus sadar dengan posisi mu, sekalipun kita sudah sah di mata hukum, dan agama, aku tidak akan pernah tinggal satu rumah sama kamu, sesuai dengan kesepakatan awal, hanya status kita yang akan berubah,'' jelas Billy.
Dan itu mampu membuat Sintya sadar.
''Dari awal aku sudah katakan, jika kamu masih mau memaksa kan pernikahan ini terjadi, hanya akan ada neraka di dalam hubungan kita,'' jelas Billy.
''Siapapun tidak akan bisa mengeluarkan kamu dari neraka yang aku buat ,'' ucap Billy dengan sadis.
''Ini adalah pilihan yang kamu buat, dan kamu sudah menandatangani surat perjanjian itu,'' lanjut Billy dengan tersenyum miring.
''Aku harap kmu mampu,'' jawab Billy dengan tersenyum misterius.
Shintya yang melihat itu hanya bisa menelan ludah nya dengan kasar.
''Taoi bisakah kamu jangan terlalu dekat dengan perempuan itu,'' ucap Sintya.
''Perempuan mana?'' tanya Billy.
''Perempuan yang tadi,'' jawab Sintya.
''Jika menyangkut perempuan tadi, aku saran kan kamu jangan pernah menyenggol nya entah itu sengaja atau tidak, karena orang tua mu sekalipun tidak akan pernah bisa melakukan apa apa,'' jelas Billy.
''Se berharga itu?'' tanya Sintya.
''Menurut mu,'' jawab Billy yang langsung meninggal Sintya seorang diri.
''Sekarang aku sadar jika posisi ku tidak pernah menguntung kan sedikitpun, dan aku rasa akan sangat sulit untuk masuk, apalagi untuk merusak pondasi di dalam keluarga itu,'' gumam Sintya.
Sedang kan Alina sendiri mencoba untuk tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Billy.
Karena setelah rapat selesai Alina harus pergi ke luar untuk menemui beberapa bawahan pemilik perusahaan hanya untuk mengatur jadwal Billy beberapa bulan ke depan.
__ADS_1
Alina sudah sangat siap.
Dan mau tidak mau ia harus melangkah maju, dengan meninggalkan beberapa perasaan nya di negara itu.
Alina sudah membuat perjanjian dengan orang tua nya.
Ia akan kembali setelah ia memiliki nama yang besar di negara yang akan ia tempati untuk beberapa tahun ke depan.
Di ruang rapat pun Alina nampak cuek dengan sekeliling nya, ia hanya fokus mencatat hal yang harus ia catat untuk di lakukan revisi agar bisa lebih baik lagi.
Dan setelah itu Alina keluar lebih dulu karena memang rapat sudah selesai.
Tanpa pergi ke ruangan nya terlebih-lebih dahulu Alina langsung melangkah kan kaki nya ke parkiran.
Karena tidak ada kegiatan lagi setelah ini.
Billy ingin mengejar Alina, tapi sudah tidak keburu karena gerakan Alina sangat lah gesit.
''Sial,'' ucap Billy yang merasa sangat terganggu dengan sikap Alina hari ini.
''Seharus nya aku senang karena dia mau menjauh dari ku, sesuai dengan apa yang aku ingin kan, tapi kenapa sekarang aku merasa ini tidak seharus nya terjadi, dan aku lebih suka Alina yang biasa nya selalu membuatku marah dari pada Alina yang cuek seperti hari ini,''ucap Billy tanpa sadar.
Saat ini Billy merasa tertekan dengan sikap Alina, merasa jengkel dengan diri nya sendiri, merasa tidak terima dengan perubahan sikap Alina.
Billy pergi ke ruangan nya sendiri karena setelah ini adalah jam makan siang, Billy ingin membuat Alina kembali ke kantor, dengan alasan ia ingin makan siang.
Karena memang itu adalah salah satu tugas Alina.
Saat Billy menghubungi nya tidak ada jawaban, dan itu mampu membuat nya uring uringan.
Dan beberapa detik kemudian ada yang mengetuk pintu dan itu adalah salah satu staf kantin yang mengantar kan beberapa makan siang untuk nya, atas perintah dari Alina.
''Apa yang membuat nya langsung berubah seperti ini?'' tanya Billy pada diri nya sendiri.
Dan tiba-tiba Billy langung teringat dengan perkataan sang mama.
''Tidak, itu tidak akan mungkin,'' ucap Billy.
''Sekalipun kita tidak bisa menjadi pasangan kita masih bisa menjadi sahabat,'' ucap Billy.
Dan seharian ini kerjaan Billy hanya uring uringan.
Mungkin secara tidak sadar jiwa mereka sudah bisa merasakan perasaan satu sama lain.
Jangan lupa dukungan nya bestie.
__ADS_1