
Sedari tadi memang Billy ada di sana, dia sedang mengantar kan klien nya, karena mereka mengadakan pertemuan di restoran tersebut.
Selain fasilitas lengkap restoran itu juga sangat menjaga privasi tamu nya belum lagi berada di tengah tengah kota.
Awal nya Billy tidak yakin jika itu Alina tapi setelah melihat dengan jelas, menatap nya dengan seksama, dia sedikit yakin jika itu Alina, sekalipun diri nya masih ragu tapi kaki nya melangkah untuk mendekati perempuan tersebut.
Dan Billy terkejut karena itu memang Alina.
Terlihat Alina yang sedang mencari sesuatu di tas nya, Billy ingin memeluk nya tapi tas Alina terjatuh di hadapannya.
Dengan cepat Billy membantu nya, dan langsung memeluk nya dengan erat.
Alina membiarkan nya saja karena ia juga merindukan Billy.
Sekuat tenaga Alina menahan perasaan nya.
Ia tidak ingin Billy besar kepada.
Setelah di rasa cukup Billy melepaskan nya.
Alina langsung mengambil barang barang nya yang tergeletak begitu saja di tanah.
Billy membantu nya, dia masih menatap Alina dengan sangat intens.
Alina terlihat lebih dewasa, dan juga sangat berbeda dengan Alina yang dulu.
Rambut yang panjang kini sudah di potong menjadi sebahu.
Alina terlihat sangat imut di mata Billy.
Tanpa sadar Billy memuji Alina.
Alina pura pura tidak dengar sampai akhir nya ia menerima telpon dari sang kakak.
Axcel menanyakan di mana ia sekarang.
''Aku lagi di restoran, Kak," jawab Alina.
''........''
''Iya, iya bawel.''
''.........''
''Baik, kak.''
Dan setelah itu Alina mematikan sambungan telpon nya.
Billy masih menatap Alina tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Billy sibuk mengagumi kecantikan Alina, sedangkan Alina sibuk dengan pemikiran nya sendiri, Alina tidak tahu harus bersikap seperti apa harus merespon Billy, seperti apa membalas ucapan nya, Alina bingung karena ini di luar dugaannya, dia tidak pernah berpikir jika Billy berada di kota itu juga.
''Alin,'' panggil Billy.
Mendengar nama kecil nya di panggil Alina lagi lagi mematung.
Alin adalah panggilan Billy kecil untuk nya, dan sekarang Billy memanggil nya dengan nama itu.
Ingin rasa nya Billy menanyakan banyak hal, tapi ia urungkan.
__ADS_1
''Kamu merokok ?" tanya Billy.
Alina bingung karena sekalipun ia sering minum ia tidak pernah menyentuh apa yang di tuduhkan Billy untuk nya.
''Aku," balas Alina.
Billy mengangguk.
''Tidak,'' jawab Alina datar.
''Ini,'' tunjuk Billy pada Alina.
''Itu bukan punya ku," jelas Alina takut Billy salah faham.
''Aku hanya minum,'' jujur Alina.
Ya begitulah Alina, ia gadis yang terus terang, dan todak bertele-tele.
Kecuali hal yang ingin ia sembunyikan.
''Kamu ngapain di sini?" tanya Billy.
''Ada urusan pekerjaan,'' jawab Alina.
Billy tidak tau harus bagaimana karena Alina yang sekarang sangat lah berbeda dengan Alina yang dulu.
Alina yang sekarang memiliki benteng untuk membangun jarak dengan nya.
''Kamu selama ini di mana?" tanya Billy.
Alina tidak tau harus menjawab apa ia tidak ingin ada ketegangan antara Billy, dan semua orang.
''Jika tidak ingin di jawab, jangan di jawab," jelas Billy.
Alina membuang nafas nya, ia merasa sangat canggung begitupun juga dengan Billy.
''Kamu ngapain di sini ?" tanya Alina pada akhirnya.
Mendengar itu Villy merasa sangat senang karena Alina menanyakan tentang nya.
''Meeting sama beberapa klien,'' jujur Billy.
Lagi, dan lagi mereka sama sama diam.
Billy menatap Alina, apakah Alina tau jika pernikahan nya batal atau tidak.
Alina memilih untuk mengantar kan Alina, tapi Alina menolak karena ia membawa mobil sendiri.
''Ini sudah malam,'' jelas Billy.
''Ya, aku juga tau,'' jawab Alina cuek.
Billy tidak ingin menyerah, dia masih mencoba untuk membujuk Alina.
''Apakah tidak boleh seorang kakak mengkhawatirkan kan seorang adik?" tanya Billy.
Mendengar nama adik, Alina merasa kecewa tapi ia mencoba untuk biasa aja.
''Aku sudah dewasa, dan aku juga bisa menjaga diri ku sendiri," jelas Alina.
__ADS_1
''Tapi aku tidak percaya," balas Billy.
Dan detik berikutnya Billy langsung mengecup pipi Alina yang membuat Alina mematung, dan detik berikut nya Billy mengecup b*bir Alina, lama lama kecupan itu menjadi his*pan, Billy membuat Alina membuka bib*r nya, Alina yang sadar ingin melepaskan nya, tapi Billy tidak mengizinkan nya.
''Aku merindukan mu,'' ucap Billy.
Dan setelah itu Billy melanjutkan aksi nya, sekalipun Alina berusaha untuk menolak tapi tenaga Billy jauh lebih kuat, dan Alina hanya pasrah, karena ia yakin jika saat ini Billy tidak akan mendengarkan apapun ucapan nya, Billy mendorong Alina dengan pelan, menuntun nya hingga sampai ke mobil.
Billy membuka pintu mobil nya dengan santai, dengan bi*ir nya yang masih menyatu dengan Alina.
Setelah itu Billy membantu Alina masuk ke mobil nya dengan pelan, dengan tangan yang masih memeluk Alina, dan tangan yang satu nya melindungi kepala Alina takut kejedot pintu.
Billy melepaskan ciuman nya, dan bertanya ''Mau aku antar ?.
Alina menatap Billy dengan intens, ini memang bukan pertama kali nya mereka berciuman tapi entah kenapa malam ini Alina merasa Billy sangat berbeda.
Tanpa sadar Alina menetas kan air nya, begitu pun juga dengan Billy.
Mereka berdua berusaha untuk menutupi perasaan masing-masing tapi mereka gagal.
Ekspresi mereka menunjukkan semua nya, Alina tau jika selama ini ia pergi, Billy hidup dengan berantakan terlihat dengan postur tubuh Billy.
Billy mengecup kening Alina, Alina hanya memejamkan matanya.
Tidak ada yang mereka bicarakan setelah nya, Alina setuju untuk di antar kan oleh Billy.
Di perjalanan pun mereka memilih untuk diam, banyak hal yang tidak bisa mereka bagi, mungkin karena moment nya belum pas.
Billy sibuk menyetir, dan Alina sibuk dengan pemikiran nya sendiri.
''Apa kamu baik-baik saja?" tanya Alina.
Pertanyaan yang sederhana tapi menyangkup banyak hal.
Billy hanya melirik sekilas setelah itu ia hanya tersenyum.
''Bagaimana menurut mu?" tanya Billy.
Seharus nya saat ini mereka sudah tau jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan satu sama lain.
MEREKA TIDAK BAIK BAIK SAJA.
Lagi, dan lagi mereka diam.
Ingin membagi semua nya tapi mereka tidak bisa, ada jarak di antara mereka.
Dan itu membuat ke dua nya sama sama tak bisa melakukan apapun.
''Alin,''
''Hem.''
''Cantik,'' jujur Billy.
Mendengar itu Alina hanya membisu, entah kenapa malam ini ia merasa kaku.
Saat ini mereka tiba di sebuah apartemen karena tadi sore, sang Daddy sudah membelikan nya untuk Alina.
Bagaimana bestie ingin lanjut atau tidak?.
__ADS_1
Jangan lupa koment ya, bye bye