
Alina tidak tau apa yang terjadi antara dua orang yang sudah resmi miliki ikatan tersebut.
Tapi apapun keadaannya ia sudah membuat keputusan untuk tidak lagi peduli dalam hal apapun lagi tentang Billy.
Jika tidak ia bisa di anggap orang ketiga dalam hubungan yang sudah renggang sejak awal.
Alina hanya tidak ingin suasana yang sudah keruh akan bertambah keruh jika ada dirinya di dalam nya.
Alina sudah membuat keputusan, dan ia sudah tidak bisa mundur.
Ia sudah bertekad untuk pergi dengan tenang dan itu adalah jalan terbaik untuk semua nya.
Pernikahan Billy tinggal beberapa hari lagi, pernikahan itu di majukan atas kemauan keluarga Sintya. Jadi mau tidak mau pihak dari keluarga Tyson menyetujui itu karena bagi mereka lebih cepat lebih baik.
Berbeda dengan mama Sea yang merasa keberatan, dia masih tidak terima dengan perjodohan yang di lakukan oleh sang suami. Karena baginya hidup sang putra adalah milik nya, dan sebagai orang tua seharus nya mengikuti apa yang di inginkan seorang anak bukan malah sebalik nya, seorang anak yang mengikuti kemauan orang tua. Karena yang akan menjalankan pernikahan itu Billy sendiri, tapi mau bagaimana lagi pendapat nya di sini tidak di butuhkan, karena Billy sendiri tidak keberatan dengan perjodohan itu.
Mau mama Sea loncat seperti orang fila pun pernikahan itu akan tetap di lakukan.
Karena semua nya sudah di konfirmasi oleh keluarga Sintya, undangan sudah sebar, gedung sudah di siapkan, catering sudah diatur sedemikian rupa, baju untuk keluarga pun sudah di kirim.
''Aki tidak lagi harus bagaimana,'' bingung mama Sea.
''Aku tau ini keinginan dari Billy, tapi aku merasa ada yang janggal, sebagai seorang ibu aku tahu apa yang di inginkan oleh putra ku.''
''Apa yang harus aku lakukan, aku bukan Tuhan yang bisa tau mana yang baik untuk tidak, sekalipun aku seorang ibu, bagaimana takdir nya aku tidak bisa mengubah nya, tapi aku merasa pernikahan ini tidak benar, entah aku salah atau tidak.''
Saat Mama Sea sibuk dengan pikiran nya sendiri hand phone berdering ,dan itu dari orang kepercayaan di perusahaan nya, tanpa menunggu lama, Mama Sea, langsung mengangkat nya.
''Apa terjadi sesuatu?'' tanya mama Sea to the poin.
''Tidak terlalu penting karena dari awal kita sudah memprediksi nya, tapi saya kaget karena tuan muda mengusir Nona Sintya secara kasar dari ruangan nya,'' jelas nya.
''Karena apa?'' tanya mama Sea happy.
''Karena non Sintya memaksa tuan muda untuk ikut fitting baju pengantin.'' Laporannya secara detail tanpa ada yang di tutup tutupi.
''Rasain aku rasa saat ini Billy sedang pusing karena yang aku tau Alina sudah menjaga jarak dengan nya, dan aku rasa itu cukup untuk membuat nya jera, dia pikir dia siapa, seseorang juga akan merasa lelah jika harus terus menerus mengajar tanpa ada imbalan,'' ucap mama Sea secara gamblang.
Billy memang putra satu satu nya, dan ajan terus seperti karena mereka tidak ada niatan untuk menambah momongan, sekalipun Billy harta paling berharga nya, tapi bukan berarti mama Sea akan tinggal diam di saat ia merasa apa yang di lakukan sang putra salah.
Seperti hal nya tentang perjodohan, bukan karena tur setuju, tapi karena ia tau Billy tidak bahagia menjalani nya, itulah sebab nya mama Sea memilih untuk melawan arah.
''Terus bagaimana dengan Alina ?''tanya mama Sea.
__ADS_1
'' Mungkin jawaban saya akan mengecewakan, tapi, memang ini yang terjadi, non Alina terlihat cuek, sekalipun pada awal nya ia kaget dengan teriakan tuan muda,'' jelas nya.
''Kau sedang tidak bercanda kan bona?'' tanya mama Sea memastikan.
''Saya jujur nyonya,'' jawab nya tegas.
''Baik lapor kan semua nya apa yang terjadi, dan selidiki apa yang membuat Alina berubah karena aku merasa dia sedang membuat rencana!'' perintah nya dengan tegas.
Setelah itu mereka mengakhiri sambungan telpon nya.
Sedangkan Alina sudah mulai melupakan apa yang terjadi, padahal saat ini Billy, dan Sintya masih berdebat di luar ruangan nya.
Sampai akhir nya Billy menerobos masuk ke ruangan Alina, tapi sayang nya Alina sedang menggunakan handset pantes saja ia tidak merasa terganggu dengan kebisingan di luar sana.
''Alina,'' panggil Billy.
Tidak ada sautan.
''Alina,'' panggil nya lagi.
''Alina!'' teriak Billy.
''Kau membuat ku tambah naik darah Alina,'' geram nya.
Pandangan mereka terkunci santai sama lain, dan itu berlangsung cukup lama.
Bahkan ada beberapa karyawan mengabadikan moment-moment indah itu.
Sedangkan Sintya hanya menatap mereka bingung.
Tak bisa di pungkiri ia merasa cemburu dengan kedekatan mereka.
Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa karena dari awal Billy sudah memperingati nya untuk tidak macam macam karena pada dasar nya Alina princess di keluarga Tyson.
''Kau sangat cantik Alina,'' gumam Billy.
''Hem.''
''Jika saja aku bisa menyadari nya lebih awal, ini semua tidak akan terjadi,'' gumam Billy.
Saat Alina akan bertanya tiba tiba Sintya mengagetkan mereka
''Bill,'' panggil Sintya.
__ADS_1
Baru lah mereka sadar jika ada Sintya di sana.
Mereka langsung melepaskan pegangan satu sama lain.
''Aku mau kamu nemenin dia pergi ke butik,'' linta Billy pada Alina.
''Ngapain?'' tanya Alina bersikap pura pura bodoh dengan apa yang terjadi padahal jantung nya masih berdetak kencang.
''Temenin dia fitting baju ,'' jawab Billy dengan sengaja.
''Tapi hari ini aku harus ke lapangan, kamu lupa jika pak Handoko sedang nungguin di sana,'' jelas Alina.
''Aku bisa nyuruh orang ke sana,'' jawab Billy datar.
Karena apa yang ia ingin lihat tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
''Baik lah kalau begitu, tapi tunggu sampai tugasku selesai," jawab Alina.
''Tidak perlu repot-repot aku bisa fitting sendiri,'' jawab Sintya pada awal nya.
Karena jika tidak ada Billy semua nya akan sia sia.
Dan setelah mengucapkan itu Sintya langsung pergi.
Setelah Sintya pergi, Billy bukan nya pergi ia malah duduk di kursi Alina.
''Ngapain masih di sini?'' tanya Alina heran.
''Kamu kenapa?'' tanya Billy.
''Kamu sakit?''
Alina hanya menggelengkan kepala nya tanpa berniat ingin mengeluarkan suara nya.
Tidak ada percakapan lagi setelah nya mereka sama-sama diam.
Entah kenapa saat ini keduanya merasa sangat canggung.
''Bi,''panggil Alina.
''Jagalah dia sebagaimana seorang laki-laki menjaga wanitanya, kamu sudah memilihnya, dan kamu harus bertanggung jawabkan atas keputusan yang kamu ambil ," ucap Alina dengan tulus.
''Aku ikhlas melepas mu, jika itu memang keinginan mu.''
__ADS_1