
Mendengar ucapan Axcel Billy mendadak lemes bayangan tentang Alina memenuhi pikiran Billy.
Tanpa sadar Billy meneteskan air mata nya.
Akhir-akhir ini Billy selalu membuat Alina sedih, memperlakukan nya dengan tidak baik, selalu berkata kasar, Billy tidak bisa berpikir dengan jernih, bahkan saat ini ia merasa sangat sesak.
''Sayang,'' panggil mama Sea.
''Hey, Bil,'' panggil papa Sean dengan diiringi tepukan.
Orang-orang di sekeliling nya sangat mengkhawatirkan Billy, panggilan dari sang mama sudah tidak boleh hiraukan, tepukan sang papa pun sudah tidak di ia rasakan saat ini Billy merasa jiwanya meninggalkan raganya.
Mama Sea sudah menangis bukan karena pernikahan sang putra melainkan khawatir dengan keadaan Alina.
Semua orang sudah berbisik karena pemberkatan itu jauh dari kata pemberkatan, dari awal mereka sudah ragu karena tidak ada kebahagiaan di dalam ruangan tersebut seluruh keluarga Tyson hanya hadir sebagai formalitas saja, tapi tidak ikut merayakan nya.
Melihat para tamu sudah merasa tak nyaman akhir nya papa Sintya mengambil alih keadaan.
''Tenang saudara saudara pemberkatan ini akan tetap di lanjutkan mohon kalian untuk tidak beranjak terlebih dahulu,'' ucap nya menenangkan.
Sedangkan Sintya sudah meremas gaun yang ia pakai ia tidak bisa melakukan apa apa karena gerak gerik nya akan menjadi pusat perhatian.
''Tuan Tyson sebaiknya selesaikan dulu pemberkatan hari ini, selesaikan,'' ucap papa Sintya.
Ingat memperingati jika ada seorang anak yang sedang menanti kepastian, dan ingin menunjukkan jika ia adalah seorang orang tua yang juga ingin yang terbaik untuk anak anaknya.
Papa Sean sadar, ia hanya bisa mengangguk kan kepala nya, bukan karena tidak peduli dengan keadaan Alina, Alina sudah ia anggap sebagai putri nya sendiri.
Tapi pemberkatan itu harus tetep di jalan kan karena tamu undangan sudah hadir, dan untuk resepsi nanti malam biar lah apa kata nanti, entah itu terjadi apa tidak.
''Billy,'' panggil papa Sean.
Billy yang sadar langsung bangun dan ia langsung berlari menuju arah pintu utama tujuan nya untuk menyusul Mommy Luna.
Sintya yang sadar dengan gerakan Billy langsung mengejarnya.
__ADS_1
''Billy tunggu.'' Panggil Sintya dengan sangat keras.
Panggilan Sintya tidak dapat mencegah kepergian Billy, dan mau tidak mau Sintya mengejar Bill, dan menghadang nya.
''Kamu mau kemana, acara pemberkatan akan dilakukan. Jangan membuat keluarga kita malu Billy, jangan melakukan hal yang konyol, ini bukan hanya tentang kita, melainkan menyangkut keluarga besar, nama keluarga kita akan tercoreng,'' ucap Sintya.
Tapi sayangnya, Billy tidak peduli dengan semua ocehan Sintya.
Billy akan tetap pergi, sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang bisa mencegahnya ia akan bersikap layak nya seorang laki-laki.
''Billy jangan,'' ucap Sintya.
''Billy aku sudah bilang kembali sekarang, atau kamu akan menyesalinya,'' ancam Sintya.
Sintya sudah tidak tahu harus mencegah Billy dengan cara apa. Dia hanya bisa mengancam menggunakan nama keluarga. Itu adalah satu-satunya kelemahan Billy.
Sintya hanya tidak ingin acara pemberkatan itu hancur itu adalah keinginan nya, kebahagiaan nya, dan impian nya sejak dulu, Sintya tidak rela jika itu semua hancur begitu saya, ia mencintai Billy dari masa sekolah, menjadi istri dari Billy, dan menjadi ibu dari anak-anak Billy adalah impiannya ia tidak bisa menyerah begitu saja.
''Billy,'' panggil sang papa tapi tidak Billy hiraukan.
Keluarga yang mendengar itu langsung beranjak dari tempat duduk nya, karena memang itu yang mereka tunggu.
Pelepasan dari mama Sea untuk sang putra.
Papa Sean menatap sang istri dengan penuh tanya.
''Biarkan dia pergi, biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri, biar kan dia melakukan apa yang dua mau, sudah cukup selama ini putra ku tertekan karena perjodohan sialan itu," jelas mama Sea menatap tajam sang suami.
''Tapi dia juga menerima nya,'' jelas papa Sean tak terima di sudutkan.
''Ya itu semata-mata hanya untuk menghormati keringan mu, tidak kan kamu melihat putra kita tidak bahagia dengan itu, apakah kamu tahu dia menerima perjodohan itu karena Sintya mengancam nya dengan nama keluarga," jelas mama Sea.
Papa Sean tidak pernah tau tentang itu.
''Dia masih sangat muda untuk menentukan pilihan nya pada masa itu, di masih tidak tau apa yang dia inginkan, tapi kepolosan nya pada waktu dia di manfaatkan, karena dia pikir kamu yang menginginkan menjodohkan ini, tapi saat dia sadar semuanya sudah tidak bisa dia kendalikan," jelas mama Sea.
__ADS_1
''Billy pergilah, tidak usah pedulikan nama keluarga,'' ucap mama Sea.
''Kita bukan orang yang gila hormat,'' lanjut nya dengan menatap keluarga Sintya dengan tajam.
Mendengar itu Billy langsung melangkahkan kaki nya.
Tapi di tahan oleh Sintya, melihat itu Billy hanya menoleh tapi, dia tidak mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana. Billy melepaskan tangan Sintya dari tangan dan berkata 'maaf' setelah itu tidak ada lagi yang bisa menghentikan langkah kakinya. Dia sudah mendapatkan Ridho dari sang ibu, langkah kakinya terasa ringan tidak ada beban yang ia rasakan.
Sedangkan Papa Sean hanya menatap kepergian Billy dengan bingung, karena ia tidak tahu apa-apa, tidak ada memberitahu nya tentang tekanan Billy. Jika ia tahu ia sendiri yang akan membatalkannya tapi sekarang sudah terjadi.
Melihat impian sang putri hancur papa Sintya tidak terima ia seperti orang gila, dan mengamuk di kediaman Tyson.
Sedangkan papa Sean hanya menerima cacian yang papa Sintya lontarkan padanya, dan menerima nya dengan lapang dada bukan karena tidak bisa melawan tapi karena ia tau itu kesalahan nya.
''Aku memang brengsek, kerap kali memainkan perasaan perempuan, meninggalkan nya begitu saja ketika bosan, tapi kak Al lebih parah, aku berhenti dengan para perempuan sialan karena tau jika aku sudah di jodoh kan, tapi kenapa aku yang menanggung semuanya, putraku tinggalkan pernikahannya tanpa dosa,'' batin papa Sean tak terima dengan karma nya yah di bayar tuntas hari ini.
Sedangkan Billy sudah mengendari mobil nya dengan kesetanan.
Ia tidak memikirkan keselamatan nya sendiri hanya ada nama Alina, dan Alina.
Sampai akhirnya Billy sadar jika ia tidak tau di mana letak kecelakaan itu.
''Bodoh,'' umpat nya.
Karena dia sudah buang buang waktu terlalu banyak.
Sampai akhirnya ia menghubungi Mikha, karena yang ia dengar tadi Mikha sudah ada di tempat kejadian.
Setelah mendapatkan alamat yang benar Billy langsung memutar arah, karena ia sudah terlalu jauh.
''Aku mohon Alina bertahanlah,'' ucap nya.
Billy tidak tau harus bagaimana jika sampai terjadi hal buruk pada Alina.
Karena ia sadar apa yang menimpa Alina adalah kesalahan nya, dan sekarang tuhan sudah membayar tuntas rasa sakit yang Alina rasakan.
__ADS_1
Cukup apa kurang untuk hari ini?.