Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 1


__ADS_3

Kesetianmu🌹🌹


Indahnya rembulan,


Tak seindah dari kehidupan.


Rintikkan hujan, dan dinginnya angin,


Yang menusuk tulang belulang,


Lalu membangunkanku dari kelamnya mimpi.


Indahnya hidupmu,


Namun tidak pernah memandangku,


Kebaikanmu, hanyalha sebuah imajinasi,


Setiap kata yang kau ucapkan, memiliki seribu makna.


Dan setiap senyuman, kau pancarkan dengan kedamaian.


Betapa aku ingin memilikimu,


Melihatmu menulis sebuah kata indah untukku,


Mengetik dengan seksama, dan penuh cinta,


Memberikan sebuah harapan, yang tak ada duanya.


Dan menjadikanku seorang yang bermakna,


Aku berharap, akan hal-hal itu.


Jika bumi berkehndak, ingin memberikanku kesempatan.


Maka aku ingin menemui, mereka semua,


Yang selalu setia menunggu, dan tetap menunggu.


Setiap cerita yang aku tuliskan.


Aku tidak bisa berkata-kata


Aku tidak pintar untuk membohongi diri,


Dan tidak akan bisa berkarya tanpamu.


Aku ingin di kehidupan kita masing-masing,


Bisa menmukan sebuah langkah yang baik.


Selalu berikan aku dukungan,

__ADS_1


Dan tinggalkan seribu makna untukku.


Sebuah komen, dan like darimu,


bagaikan sejuta impianku, telah terwujud.



🌻🌻🌻🌻🌻


Di pagi yang cerah, dan angin yang berhembus mengoyangkan pepohonan. Kicauan burung yang terdengar menyambut indahnya pagi. Semua makhluk mulai beraktifitas. Sebuah rumah sederhana yang terletak di dekat bukit. Seorang pria parubaya keluar dari dalam rumah tersebut, dan membawa alatnya untuk berkebun.


Istrinya menghampirinya, dan memberikan sebuah bekal pada suaminya. Mereka keluarga sederhana yang hidup dengan serba berkecukupan. Pria itu tersenyum pada wanita yang ada di depanya dan segera pergi melanjutkan perjalanannya. Pria itu pergi kekebun. Sedangkan istrinya hanya bekerja sebagai pengerajin di rumah.


Rumah yang begitu kecil, dan memiliki 3 kamar, ruang tamu sederhana dan dapur yang berukuran kecil. Seorang anak perempuan yang duduk di kamarnya, dengan sebuah buku yang ada di depannya. Dan dua adik perempuannya yang sedang bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Ibunya memanggil mereka untuk segera sarapan sebelum telat pergi ke sekolah. Tapi berbeda dengan anaknya yang satu itu. Dia tidak pernah menghabiskan sarapanya, dan membungkusnya lalu membawa ke sekolah. Adiknya masih duduk di bangku sekolah dasar.


"Lovisa, mengapa kamu tidak sarapan? Apakah kamu akan makan di sekolahan?" Tanya ibunya.


Kedua adiknya begitu lahap memakan sarapan mereka.Walaupun di meja makan hanya ada nasi dan sayuran hijau. Mereka jarang makan dengan lauk, karena keadaan ekonomi. Ibunya tersenyum pada anak-anaknya di saat berangkat sekolah.


"Lovisa, maaf ibu tidak memberikanmu uang jajan kali ini. Ibu hanya bisa memberikanmu ongkos bis saja."


Lovisa tertunduk, dan tersenyum. Dia tidak pernah mempermasalahkan tentang uang jajan. "Hmm." Jawaban yang singkat. Lovisa berumur 13 tahun, dan sekolah di SMP 4. Dia terkenal dengan seorang gadis penyendiri, dan tidak punya teman. Sejak kecil Lovisa tidak pernah memiliki teman yang bisa di ajak untuk bermain, karena dia selalu tidak punya waktu untuk bermain seperti anak lainnya.


Lovisa gadis sederhana dan rajin, dan bisa diandalkan dalam pelajaran apapun. Tetapi dia begitu takut untuk menujukkan kemampuanya itu, dan berpikir bahwa dirinya hanyalha anak biasa. Dan jika di tunjukkan, itu akan membuat orang lain iri. Kehidupan di desa yang sedikit berbeda. Jika kita mampu maka mungkin sebagian ada yang iri bukan? Sejak sekolah dia memiliki nilai buruk walaupun pintar.


Dia tidak pernah menujukkan kepintaran itu, dan hidup dengan kesendirian. Lovisa, selalu pergi diam-diam ke perpustakaan umum untuk meminjam beberapa buku pelajaran. Dia membagi waktunya dengan baik. Sepulang sekolah Lovisa harus membantu orangtuanya, untuk melakukan pekerjaan rumah dan terkadang pergi membantu ayahnya untuk berkebun.


Lovisa belajar lebih giat, karena nilai nya selama ini tidak ada yang baik. Orangtuanya begitu ketakutan tidak bisa menyekolahkan Lovisa. Tapi segala kesulitan hidup akan ada jalan yang lebih baik. Tidak lama setelah Lovisa berangkat ke sekolah seorang wanita parubaya datang ke rumah mereka.


"Ma, ada ibu Elin di depan." Teriak suaminya pada istri yang sedang di dalam rumah.


Ibu Elin adalah warga di desa tersebut. Jarak rumah mereka tidak begitu jauh, dan hubungan mereka sangat dekat. Dia bekerja sebagai dokter dan sikapnya selalu baik, dan suka membantu keluarga Lovisa.


"Ehhh ibu Elin, mengapa kamu datang pagi-pagi sekali?"


"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian."


"Ayo, kita bicara di dalam saja!" Ajak ibunya Lovisa.


Mereka bertiga duduk, dan membicarakan tentang Lovisa.


"Begini, aku lihat kalian begitu sedikit kesulitan akhir-akhir ini. Dan Lovisa juga sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya. Aku tau kalian juga berpikir untuk menyekolahkanya di sekolah yang bagus.


Tapi aku mendegarkan sepupuku yang sedang bekerja di kota B sedang mencari seseorang untuk bisa menemani anak dari atasanya. Karena orangtuanya yang sibuk melakukan pekerjaan bisnis di luar negri.


Dia butuh orang yang bisa menjaga anaknya dengan baik, karena sikap anaknya yang arogant dan tidak bisa bergaul dengan muda. Aku pikir Lovisa bisa, dan mereka juga bersedia menyekolahkan orang yang akan menjaga anaknya itu. Soal biaya sekolah, kalian tidak perlu pikirkan lagi."


"Maksud ibu Elin? Apakah anaknya punya penyakit?" Tanya ibu Lovisa dengan kwatir.


"Aku tidak tau soal itu. Tapi aku dengar bahwa dia hanya perlu menemani anak itu. Karena orang di kota pasti sulit untuk melakukanya, dan tidak salah jika Lovisa melakukannya. Dia juga pintar bekerja di rumah bukan? Disana hanya ada anaknya, dan juga beberapa orang yang kerja dengan mereka.


Tapi orangtuanya kwatir, jika anaknya tidak bisa akrab dengan para pekerja di sana, sehingga mencari seseorang yang masih sekolah. Itu akan menjadi hal yang baik. Lovisa bisa mengetahui bagaiman kehidupan orang-orang di kota."

__ADS_1


"Aku tidak akan masalah soal ini. Tapi apakah Lovisa bisa kembali kesini setiap hari liburnya?" Tanya ayahnya untuk mengetahui kejelasan.


"Tentu bisa. Tapi kamu harus tau jugalha, kota B jaraknya tidak dekat. Dan Lovisa ke sana harus naik pesawat."


Orangtua Lovisa merasa itu adalah hal yang baik. Tapi mereka merasa sedih harus membuat anaknya jauh demi pendidikan.


Malam harinya ibu Lovisa masuk ke kamar putrinya, dan melihat Lovisa yang masih belajar. Ibunya duduk di sampingnya, dan tersenyum pada Lovisa.


"Lovisa, apakah ibu bisa bicara denganmu?" Dengan keraguan


"Hmmm." Jawaban yang begitu singkat.


"Bagaimana jika kamu tidak bisa melanjutkan pendidikan lagi?"


Lovisa terdiam, dan menutup bukunya. Dia melihat ibunya dan tersenyum kecil. Dia tau, hal itu akan terjadi walaupun sulit untuk di hadapi.


"Aku rasa itu tidak jadi masalah. Aku bisa membantu ibu untuk mencari uang bukan?"


"Lovisa, ibu tidak ingin melihatmu menderita seperti ini selamanya. Tapi ibu tau, kamu pasti ingin melalui masa SMA. Ayah dan ibu sudah berusaha, tapi kau juga tau untuk makan saja kita sudah kesulitan, da...n kau juga...."


Ibunya yang memegang tangan Lovisa, dengan air mata yang ingin mengalir. Merasa begitu sedih, untuk menjelaskan sesuatu pada Lovisa. Dia tidak ingin Lovisa harus di sekolahkan oleh orang lain, tetapi ekonomi mereka yang tidak memungkinkan itu harus memaksa keadaan. Lovisa, melihat ibunya dengan penuh makna.


"Ibu, aku tidak hidup seperti ini selamanya. Dan ibu tidak usah kwatir, karena aku juga akan bersekolah di kota. Bukankah itu hal yang sangat baik?"


Ibunya terkejut Karena Lovisa sudah tau tentang pendidikan yang ingin di bicarakan dengannya.


"Ka...kamu sudah tau?" Tanya ibunya


"Iya. Aku mendegarnya dari tante Elin tadi siang. Itu juga bukanlha hal yang buruk."


"Maafkan ibu Lovisa, ibu tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Ibu tidak ingin melihatmu hidup seperti ini selamanya. Ibu juga yakin kamu bisa melakukan yang terbaik."


Memeluk Lovisa dengan air mata yang mengalir. Lovisa juga memeluk ibunya dengan begitu erat, dan menepuk-nepuk punggung ibunya dengan lembut.


Setelah ibunya pergi dari kamarnya. Lovisa mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat. Sebenarnya dia tidak pernah mengiginkan untuk pergi jauh menempuh pendidikan. Dan harus meninggalkan keluarganya di desa. Dia merasa sedih, dan tidak bisa mengatakan apapun. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


2 bulan kemudian.


🌺🌺🌺🌺🌺


Lovisa melanjutkan sekolahnya di salah satu SMA favorite di kota B. Dia memiliki umur yang tidak jauh beda dengan anak yang harus dia temani. Tapi pertemuan pertama mereka begitu sangat tidak menyenangkan, dimana Arion tidak suka melihat Lovisa dan menyuruh agar Lovisa tidak usah mengatakan bahwa dia tinggal di rumah yang sama dengannya kepada orang lain.


Bagi Lovisa itu bukanlha hal yang sulit. Hal paling penting untuknya, bisa masuk SMA dan memiliki pendidikan yang baik.


Arion seorang anak yang terkenal dengan arogant, memiliki penghargaan dari beberapa mata pelajaran, ketampanan yang begitu mempesona. Kelemahannya, tidak muda bergaul dengan orang lain, dan selama ini hidup dengan kesepian. Orangtuanya bekerja di luar negri, dan harus membuatnya di besarkan oleh neneknya. Tapi beberapa bulan lalu neneknya telah meninggal.


Sehingga ibunya mencarikan seseorang untuk bisa menemani Arion. Karena sikap arogant Arion, tidak akan muda baginya punya seseorang yang bisa di ajak untuk bermain, dan lain sebagainya.


Orangtua Arion begitu sibuk, dan Arion tidak pernah tau bagimana kasih sayang dari seorang ibu dan ayah. Orangtuanya yang sudah tau sikap anknya itu, menyuruh orang-orangnya untuk mencarikan seseorang yang bisa tinggal di rumah itu untuk menemani Arion. Tak di sangka orang itu seorang wanita.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 S****ebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❀

__ADS_1


__ADS_2