
Arion memberikan ponsel Lovisa tanpa ekspresi yang meyenangkan. Lovisa terdiam, melihat ekspresi tersebut.
"Apa kamu tidak memiliki harga diri?" Pertanyaan yang tidak di mengerti.
"Hah?" Bingung.
Arion membalikkan badanya dan menatap Lovisa dengan tajam.
"Bagaimana bisa seorang siswa SMA berpelukan di taman pada malam hari? Bahkan kamu membiarkannya melakukan hal menjijikan di tempat umum?"
"Itu..itu ngak seperti yang kak Arion pikirkan." Gugup dan tertunduk.
"Lalu apa? Kamu ingin membiarkan orang-orang seperti itu merusak harga dirimu?" Membentak dengan kesal.
Dia kaget mendegar bentakan Arion. Lovisa tertunduk dan gemetaran, dia menggengam erat sisi kanan kiri jaketnya dengan air mata yang berkaca-kaca, tidak berani mengatakan apapun dan berdiri seperti patung.
Arion menghela napas dan memperhatikan Lovisa sembari merasa begitu kesal. Lalu memalingkan pandangan ke sana sini, untuk menahan emosi.
"Lovisa, kamu harus bisa menjaga diri! Bagaimana pun hal seperti itu, belum wajar untuk kamu lakukan!" Mengelus lembut kepala Lovisa.
"Kamu harus bisa jadi wanita yang hebat, dan di kagumi! Wanita tidak perlu menjadi pintar, cantik dan kaya. Kamu bisa menjaga harga dirimu maka semua pria akan mengejarmu!" Bicara dengan lembut, mencoba menahan emosi.
Lovisa terkejut melihat sikap lembut Arion. Dan mengangkat pandanganya melihat Arion dengan wajah yang tidak bisa di mengerti.
"Jangan melihat ku seperti itu! Kamu harus bisa membuat bangga orangtuamu! Bukankah itu tujuanmu untuk datang kerumahku, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah?" Tersenyum hangat sembari menurunkan tanganya.
Lovisa mengagguk-anggukan kepalanya. Dia tidak pernah melihat Arion selembut itu, dan tersenyum untuk ke dua kalinya selama mengenal Arion.
Pagi hari
Apartemen plus
Victoria tidak seperti biasanya menyuruh pelayannya untuk membuatkan bekal ke sekolah. Victoria kembali ke apartemen setelah ayahnya mengancam untuk tidak mengakuinya sebagai putrinya.
"Kak Arion akhir-akhir ini begitu dekat dengan ku. Aku akan membuat dia jatuh hati padaku, wheheheh." Sembari bercermin.
"Non! Besok ada acara ulang tahun anak teman tuan. Dia memesankan agar non Victoria pergi kesana!" Seorang pelayan yang merapikan seragam Victoria.
"Baiklha. Ahh,,,!? Bibi jangan lupa untuk menghubungi dr. Niko besok! Aku perlu perawatan sebelum pergi ke party, di sana aku akan bertemu teman-teman masa kecil juga." Bergembira.
"Tentu. Non tapi aku dengar-dengar dari berita, terlalu sering melakukan perawatan wajah tidak terlalu bagus juga." Berusaha untuk mengingatkan walaupun takut-takut.
"Itu bukan urusanmu!" Ekspresi yang berubah, dan meninggalkan tempat tersebut.
"Sangat menyebalkan." Kesal.
SMA 2 kota B
Lovisa duduk sembari mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Jiera yang baru masuk ke dalam kelas tersebut dan mulai menggosip dengan teman sekelas terutama pada Lovisa.
"Heh, Lovisa cepat temani aku ke sana!" Menarik tangan Lovisa.
"Ehhh, kemana?" Bingung.
"Ayolha! Murid-murid lagi berkumpul di lapangan basket." Berlari.
__ADS_1
"Kamu harus tau, pangeran di sekolah ini sedang bertanding dengan pangeran lainnya." Semngat.
"Kenapa harus ke sana juga?" Tidak senang.
"Kamu bodoh atau gimana? Kamu harusnya tau, klo pengeran itu kak Arion." Gumanya.
"Lagian hanya pertandingan kecil, untuk apa kita kesana? Aku masih mau mengerjakan soal yang kemarin."
"Huuuu,,, kak Arion bertanding demi seorang gadis. Apa kamu tidak penasaran siapa gadis yang mereka rebut?" Berhenti dan melepaskan tangan Lovisa.
"Hah? Yaudah ayo kita lihat."
Lapangan basket yang ramai di tonton oleh murid-murid di sekolah tersebut. Semuanya tampak ceria untuk mendukung Arion. Basile menantang Arion untuk bermain basket demi Victoria.
Basile seorang murid yang tampan dan dikenal dengan playboy. Dia lahir dari keluarga yang kaya, dan sekelas dengan Arion. Basile menyukai Victoria, namun dia tau bahwa Victoria lebih dekat dengan Arion, sehingga membuat nya memilih pertarungan sengit tersebut.
"Arion.... I love you...."
"Arion...kamu harus menang dari playboy itu."
"Basile, aku akan mendukungmu. Kamu pasti bisa!"
"Ayo...ayo...jangan bertatapan seperti itu terus!"
Teriakan dari murid-murid yang menyaksikan pertarungan tersebut. Lovisa merasa tidak senang karena Arion bertarung demi Victoria.
"Aku katakan padamu! Basile sebenarnya lebih baik dari Arion." Bisik Jiera.
"Aku mau pergi ke kelas duluan!" Gumanya, sembari membalikkan badan.
"Untuk apa aku cemburu?" Berhenti.
"Jelas-jelas wajahmu menujukkan ekspresi cemburu."
"Aku duluan." Melepaskan genggaman Jiera.
"Klo kamu pergi, berarti tebakanku benar." Gumanya tanpa ragu.
Lovisa pun pada akhirnya melihat pertarungan tersebut. Dia menoleh ke kanan, dan tidak sengaja melihat Victoria yang meneriki Arion dengan keras.
"Kak Arion, kamu harus bisa!" Teriaknya.
"Kak Arion, aku mencintaimu." Berteriak lebih keras.
Lovisa memperhatikan reaksi Arion menanggapi Victoria. Raut wajahnya berubah seketika melihat Arion menatap Victoria.
"Kenapa dadaku terasa sesak...?" Menyentuh bagian dadanya.
"Lovisa?" Menoleh dengan bingung.
"Hah? Aku mau ke toilet sebentar." Membalikkan badanya.
Arion yang masih bermain basket melihat Lovisa. Dia melempar bola basket tersebut ke arah Lovisa. Semua yang melihatnya bingung, dan penuh tanya.
"Brukkk."
__ADS_1
"Ehhhh." Melihat bola basket di depanya.
"Maaf, nggak sengaja." Sembari menghampiri.
"Gak apa-apa." Canggung.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu juga sama seperti mereka?" Membisikkan pada Lovisa.
"Hah?"
"Jangan kwatir, aku ngak sebodoh mereka!"
"A..aku..."
"Aku ngak akan memilihnya." Tersenyum dan segera mengambil bola.
"Deg...deg....deg...." Jantungnya semakin berdebar.
Semua menoleh, ke arah mereka. Tapi karena mereka tidak mendegar apa yang di bicarakan terlihat biasa-biasa. Mata Lovisa membesar, dan pipinya merah.
Arion kembali kelapangan basket, dan menoleh ke Lovisa yang ada di tempat penonton. Dia tersenyum lalu mulai melanjutkan permainannya.
"Lovisa!? Ada apa? Bukanya kamu mau pergi ke toilet?" Tanya Jiera.
"I..iya. Aku mau ke toilet dulu." Gagap dan segera beranjak pergi.
"Ada apa denganya? Mengapa dia bilang seperti itu?" Pertanyaan yang melintas di kepala Lovisa.
Permainan yang semakin seru, dan di sorakin oleh para murid-murid. Poin mereka masih seri, dan semua makin heboh. Giliran Basile yang melempar bola, dan ternyata masuk. Sekarang mempertahankan posisi Arion, semua terlihat begitu tegang.
"Kak Arion, kamu harus bisa! Kamu adalah milikku, kita sudah di takdirkan untuk bersama." Bisik Victoria sembari menatap penuh harapan.
Seketika hening melihat Arion yang melemparkan bola. Dan tidak di sangka bolanya meleset secepat itu. Semua merasa kecewa, dan bubar. Victori menghampiri Arion dengan wajah yang kecewa.
"Arion, sesuai perkataan kamu harus menjauh dari Victoria!" Sembari tersenyum sinis.
"Aku rasa itu sangat baik." Tanpa ekspresi.
"Baguslha, aku memang mengakuimu jantan."
"Kak Arion!? Kamu sengaja mengalah kan?" Tanya Victoria dengan kesal.
Arion menoleh tanpa kata-kata, dan pergi begitu saja. Basile tersenyum dan mendekati Victoria dengan rasa percaya diri.
"Victoria, kamu memang sangat hebat sehingga membuat dua pria terpopuler bertarung demi mendapatkanmu." Gumanya.
"Diam! Dasar laki-laki gak tau diri. Aku nggak akan membiarkan Arion pergi begitu saja, dan tidak akan ada kesempatan untuk orang sepertimu." Kesal.
"Menyebalkan, wanita yang cantik hanya dengan perawatan saja begitu sombong. Aku juga gak terlalu banyak berharap akan mendapatkanmu." Malu.
🍀🍀🍀🍀🍀
~T**erima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.😊
Salam hangatku😘**
__ADS_1