Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 6


__ADS_3

**SMA 2 kota B


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ**


Murid yang berlalu lalang di sekolah. Sebuah mobil mewah berwarna merah melaju dengan kecepatan yang tinggi. Beberapa siswa terbelahak melihat mobil tersebut.


"Ckiiitttt...." Berhenti. Tidak lama setelahnya seorang gadis keluar dari dalam mobil tersebut. Dia murid pindahan dari luar negri dengan penampilan yang begitu bagus, dan cantik.


"Wahhh....."


"Apakah dia seorang artis?"


"Sepertinya dia model. Cantiknya....."


"Lihat senyumannya begitu mempesona, dan pinggangnya begitu kecil bagaikan seorang manusia barbie."


Bisik murid-murid yang melihat wanita tersebut. Wanita itu melangkahkan kakinya dengan ke anggunan dan memaparkan senyuman.


"Kak Arion apakah kamu membawa bekal yang aku buatkan?" Tanya Lovisa.


Arion berdiri, dengan tempramen yang arogant.


"Jaga jarak denganku! Aku tidak suka ada gosip di sekolah!" Pergi.


"I...iya." Menundukkan kepalanya.


Jiera yang melihat Lovisa dan segera menghampirinya.


"Lovisa, apakah kamu sudah sembuh?" Kwatir.


"Jiera? Hmmm, aku sudah sembuh."


"Baguslha. Ada apa? Mengapa raut wajahmu sedih?"


"Nggak. Aku hanya memikirkan sesuatu saja."


"Apakah kamu sudah dengar, bahwa Victoria pindah ke sekolah kita loh."


Jiera yang selalu ceria, dan tidak pernah ketinggalan dengan berita. Mereka berdua berjalan menuju kelas.


Suasana kelas yang ribut, dan membicarakan tentang Victoria. Tampaknya semua murid terlihat begitu senang dengan Victoria.


"Mengapa mereka semua menyebut Victoria?" Tanya dalam hati.


"Lovisa apa kamu juga senang bisa melihat Victoria?" Meletakkan tas.


"Hah? Pa..pasti. Tapi aku belum kenal dengan Victoria." Penasaran.


"Dia putri dari seorang aktor. Dan dia di kenal dengan bakat yang bisa berakting juga lho." Menceritakan.


Egmont masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru.


ย "Kepala sekolah mau menghampiri kelas kita."


Semua murid kesana-sini dan dengan cepat duduk di tempat masing-masing dan tentram.


Kepala sekolah masuk ke dalam kelas dengan seorang ibu guru dan siswa baru. Suasa kelas langsung berubah jadi heboh dengan kedatangan murid baru tersebut.


"Kita ternyata satu kelas dengannya." bisik Jiera.


Lovisa terdiam dan membaca buku yang ada di hadapannya.


"Anak-anak perkenalkan ini siswa baru di sekolah kita. Semoga kalian bisa menerimanya di sekolah kita ini, dan saling berbagi pengalaman."ย 

__ADS_1


"Bahkan yang ngantar dia kepala sekolah. Benar-benar wanita yang hebat." Bisik Jiera pada Lovisa.


Jam istirahat.


"Lovisa ayo makan di kantin!" Ajak Jiera


"Ahh, aku masih kenyang kok."


"Kamu pergi sendiri saja Jiera! Aku juga sudah membawakan sesuatu untuk Lovisa." Saut Egmont.


"Mana bisa seperti itu? Kita bertiga kan teman kenapa nggak makan bareng-bareng?" Jawab Jiera dengan kesal.


"Tapi aku cuman membawa sedikit kok. Lagian Lovisa baru sakit kemarin, jadi kamu harus pengertian sedikit!


Di kantin sekolah


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Tidak seperti biasanya kantin lebih ramai saat itu, dibandingkan hari-hari lalu.


Kedatangan Victoria ke kantin, membuat semua orang ingin makan bersamanya.


"Victoria, mengapa kamu pindah ke sini?"


"Bagaimana caranya agar bisa cantik?"


"Apakah kau selalu diet untuk, mendapatkan body yang sexy?"


Pertanyaan-pertanyan yang terucap dari beberapa siswa. Dia pun hanya tersenyum nggak bisa menjawab satu persatu pertanyaan mereka. Murid laki-laki mulai dari senior dan junior mendekatinya juga. Victoria merasa bahagia, dan tersenyum lebar.


"Bibi berikan aku sebotol air mineral!" Pintah Arion pada penjaga kantin.


"Terima kasih Arion." Ucap penjaga kantin.


Arion nggak memperdulikan kehebohan di kantin dan melewati mereka begitu saja. Victoria tersenyum sembari memperhatikan pria yang berjalan dengan penuh pesona di depannya.


"Kamu benar bro. Di memang hanya terlihat tampan. Tapi sepertinya ada kejanggalan. Hahahahh."


Bisik para laki-laki di kantin yang melihat Arion dengan tempramen dingin.


"Victoria, kamu sedang lihat apa?" Tanya seorang siswa di sampingny?


"Dia." Jawabnya dengan penuh tanya.


"Ohh. Kamu pasti tertarik dengan kak Arion?" Ucap gadis itu.


"Mungkin, tidak buruk juga. Whehehh." Jawab Victoria.


"Tapi dia punya termpramen yang buruk."


"Wekaweka."ย  Tertawa.


"Tapi aku rasa kamu bisa menakhlukannya. Dia selalu di sebut sebagai pangeran, atau dewa Karena pesona dan kejeniusannya."


Kelas 11 A yang sedang melakukan pelajaran olahraga di lapangan. Lovisa tidak sengaja melihat Arion yang sedang bermain bola basket dengan baik.


"Whehehehh." Tersenyum.


"Lovisa ada apa?" Tanya Jiera yang melihat Lovisa tersenyum tanpa sebab.


Lovisa tidak mendegarkan Jiera, dan masih memperhatikan Arion yang bermain basket. Dia merasa senang bisa melihat Arion, dan mengingat saat dia bangun dari tidurnya tadi pagi.


Lovisa membayangkan bahwa dirinya sedang melakukan hal-hal dewasa dengan Arion.

__ADS_1


"Whahahhhhhh." Tertawa kerasย  merasa lucu.


Kelas terdiam, dan semua mata tertuju pada Lovisa.


"Lovisa?" Tanya Egmont.


"Ehh. Hmmm... hmmm. Aku cuman batuk aja. Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Melihat sekelilingnya dan merasa malu.


"Jelas-jelas dia tertawa mengapa mengatakan batuk?" Bisik salah satu murid.


"Jiera, kenapa?" Tanya Egmont.


Jiera hanya menggelngkan kepala dan juga kebingungan.


"Aihhh, mengapa aku berpikir yang aneh sih? Huuuuuhhhh." Berbisik dalam hati.


Setelah bel pulang seperti biasanya Lovisa duduk di kursi yang ada di depan sekolah, menunggu paman Jaka. Arion berjalan dengan sebuah buku di tangannya.


"Kak Arion?" Teriak Victoria.


Victoria menghampiri Arion dan mengulurkan tangannya.


"Namaku Victoria, murid pindahan dari Eropa." Merasa senang.


"Arion." Jawab dengan singkat sambil berjabatan tangan.


Lovisa yang mendegarkan suara Arion, dan menolehnya. Dia melihat Arion berjabatan tangan dengan Victoria.


"Mengapa mereka berjabatan tangan? Apakah mereka saling kenal?" Tanya dalam hati.


"Apa kak Arion pulang naik bis?" Sembari berjalan.


"Nggak, aku menunggu jemputan. Weheheheh."


Mereka berjalan sembari mengobrol.


"Mengapa dadaku terasa sesak iya? Sakit banget." Bisik dalam hati.


"Apa karena aku iri pada wanita itu? Dia bisa mendapat senyuman dan berjabat tangan dengan kak Arion." Merasa sedih.


Mereka berdua semakin dekat. Lovisa segera berpura-pura melihat ke arah utara. Karena dia tidak ingin Arionย merasa kesal dengannya.


Lovisa menyajikan beberapa makanan di atas meja. Dia memanggil Arion untuk makan siang.


"Besok nggak usah buatkan bekal untukku!" Sembari makan.


"Kenapa? Apakah bekalnya tidak sesuai dengan selera kak Arion?"


"Hmmm."


"Ohhh. Tapi aku bisa buatkan bekal dengan variasi yang berbeda. Kak Arion nggak usah kwatir!"


"Aku bilang nggak usah, iya nggak usah." Meletakkan alat makannya.


"Ehh, ma..maaf kak Arion. Aku nggak ingin membantahmu, tapi itu kan salah satu tugasku."


"Menjijikkan." Kesal, lalu pergi.


Lovisa tertunduk dan merasa sedih. Dia menangis sembari memakan nasinya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sifat Arion.


"Jika bukan karena pendidikanku, aku nggak akan pernah bertahan di rumah ini." Air mata mengalir.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€

__ADS_1


"****Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!๐Ÿ˜Š Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."โค


~Salam hangatku๐Ÿ˜˜**~


__ADS_2