
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Egmont yang asik bermain game di komputernya. Victoria yang begitu sibuk bersih-bersih, dan ingin menyajikan makan siang untuk dia dan juga suaminya.
"Egmont, bisakah kamu bantu aku menyiapakan makan siang?" Tanyanya dengan lembut.
"Iya, bentar." Jawabnya.
"Aihhh,,, sebentar apanya? Dari tadi pagi aku minta bantuanya dia hanya mengatakan sebentar, dan tidak menghiraukanku." Bisiknya dalam hati dengan kesal.
Sejak menikah Victoria melakukan pekerjaan rumah seperti orang lain. Dia tidak mengandalkan seorang pelayan dan berusaha untuk mengubah sikapnya.
"Egmont, apa kamu tidak dengar aku ngomong?" Kesal sembari menghampiri.
"Arghkk, kan kalah. Apaansih? Emangnya kamu gak bisa lakuin pekerjaan sendiri?" Marah karena kalah dalam game.
"Kamu sudah bermain game sejak pukul 7 pagi. Aku memanggil mu pun kamu hanya menyahut tanpa jelas." Kesal.
"Bodolha, aku mau pergi ke restaurant. Kamu masak untuk mu saja." Gumanya dengan kesal sembari beranjak dari tempatnya itu.
"Egmont!? Kamu anggap aku apa sih? Setiap kalah main game pergi ke tempat ibu, dan selalu mengabaikanku." Sedih, sembari menatap punggung Egmont yang meniggalkanya rumah.
"Aku akan kembali minggu depan, jika ada apa-apa segera hubungi aku!"
Egmont mengambil helmnya, dan memakaikannya. Victoria yang sedang mengandung itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia tau bahwa dirinya menikahi Egmont sudah tidak suci lagi, dan hal itu membuat Egmont sedikit tidak peduli denganya.
"Sudahlha, yang penting aku dan anak ku tetap dalam ke adaan sehat. Sabar iya sayang, papa kamu hanya marah kecil karena game. Ntar juga dia pulang nemanin kita, wheheh." Mengelus-elus perutnya.
Victoria melihat tanggal di kalender yang ada di meja. Dia teringat kebiasanya di setiap tanggal 5 untuk pergi menemui Lovisa dan membawa beberapa makanan.
"Lebih baik hari ini makan bareng Lovisa aja deh. Ehhh, Lovisa udah pulang belum iya? Atau di rumahnya hanya ada Leri dan Rere?" Gumanya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Jiera yang sudah menyelesaikan pekerjaanya, dan segera bersiap-siap untuk menjemput Lovisa. Dia melihat ponselnya yang berdering satu detik yang lalu.
"Jiera kamu yakin mau membawa teman mu bekerja di sini? Aku sarankan agar kamu mencari tempat lain untuknya! Hari ini semua karywan begitu ke takutan dengan sikap atasan yang mengerihkan itu."
Sebuah pesan yang di kirim seseorang rekan kerja Jiera. Hal itu tidak membuat Jiera terpancing untuk mendegarkan perkataan rekan kerjanya tersebut.
"Huhhh, kamu pikir aku bodoh? Hal seperti ini, mana mungkin tidak bisa di hadapi Lovisa? Atasan yang mengerihkan, mungkin saja karena wajahnya jelek kan?" Gumanya.
30 menit kemudian
Iris SPA
"Kamu benar-benar terlihat seperti seorang aktris." Guman Jiera dengan senang.
"Kamu jangan ngomong asal-asalan, bagaimana mungkin wajah jelek ku ini bisa seperti aktris?" Tidak percaya.
__ADS_1
"Rambutmu terlihat cantik setelah di sambung, dan kamu melakukan eyelash extension iya? Ckckck, teman ku udah seperti malaikat bagi para kaum laki-laki nih. Whehehehh." Gumanya.
Lovisa dan Jiera kembali ke rumah kontrakan Lovisa. Mereka berdua tampak lebih bersemangat untuk mengobrol setelah dari SPA. Namun wajah Lovisa masih tetap terlihat sedih.
Setelah tiba di rumah Lovisa, dia melihat seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan beberapa barang di tangan.
"Ehh, siapa itu?" Tanya Jiera.
"Gak tau, mungkin tetangga." Jawab Lovisa.
Mereka berdua keluar dari dalam mobil. Victoria yang mendegar pintu mobil tertutup itu langsung menoleh ke arah Lovisa dan Jiera.
"Akhirnya kau datang juga." Tersenyum.
"Lha kenapa kamu berdiri di sana? Makbun gak boleh capek lho." Sahut Jiera.
"Sudah-sudah, kita masuk aja dulu!" Guman Lovisa.
Mereka bertiga pun masuk ke rumah Lovisa dan terlihat seperti teman yang begitu saling merindukan, namun berbeda denagan raut wajah Jiera yang tidak senang itu. Lovisa mengambilkan dua gelas air putih dan memberikanya pada Victoria dan jiera.
"Kapan kamu kemabali?" Tanya Victoria sembari menoleh Lovisa.
"Dua hari lalu." Jawabnya.
"Tunggu,,, sepertinya hari ini ada yang berbeda dengan Lovisa iya?" Tanyanya bingung.
"Ng,,ngak kok." Jawabnya gagap.
"Ada apa denganya?" Bisik Victoria pada Jiera.
"Aku juga ngak tau, tapi sepertinya dia belum menemukan Arion." Jawabnya.
"Memang sulit untuk mempercayai perkataan laki-laki." Gumanya dengan sedih.
"Wanita ini, huuhh walaupun dia memang sudah berubah tapi aku yakin suatu hari nanti akan menghianati pertemanan kami." Guman Jiera dalam hati.
Sudah 3 tahun mereka berteman, dan tidak ada ke salahan apapun yang Victoria lakukan. Namun menginggat di saat masa SMA membuat Jiera untuk tidak terlalu mempercayai perkataan Victoria, bahkan ragu untuk bicara jujur padanya.
"Lovisa kemari lha! Aku membawakan beberapa makanan untuk kita, panggilย Lira dan Rere!" Gumanya Victoria.
"Kenapa kamu datang sendirian? Dimana suami mu?" Tanya Jiera.
"Dia pergi ke tempat ibu. Akhir-akhir ini di restaurant sangat sibuk, dan dia pergi untuk bantu-bantu karywan lain." Jawabnya dengan malu.
Lovisa duduk dengan wajah sedih. Dia ingin mengajak Leri untuk menenangkan diri, namun sepertinya hal itu sedikit sulit. Leri hanya diam di kamar dan mengurung diri.
"Dimana Leri dan Rere?" Tanyanya.
"Mereka sudah makan, kita makan saja bertiga." Jawab Lovisa.
__ADS_1
"Aku tidak ingin makan, aku merasa kenyang juga nih." Jawab Jiera.
"Yaudah deh, kita makan berdua saja." Sahut Victoria dengan sedih.
Lovisa mengambil peralatan makan. Wajah Victoria tidak begitu senang dan mereka mulai menikmati hidangan tersebut.
"Aku kira di sini bakalan bisa makan dengan ramai. Ternyata tetap juga sepi seperti di rumah. Huuuhhh, tidak apa-apa lha yang penting semuanya masih sama, ada teman walaupun suami sibuk entah kemana." Bisiknya dalam hati.
"Dengar-dengar perusahaan TC sudah beda kepemilikan iya? Dan di sana sedang menerima lowongan kerja besar-besaran?" Tanya Victoria.
"Memang, makanya mulai besok Lovisa sudah bisa bekerja. Dan tidak merepotkan siapapun untuk memikirkan soal makannya." Jawabnya.
"Hmmhmmm, bagaimana dengan bayimu?" Tanya Lovisa untuk menghindari sakit hati di antara Jiera dan Victoria.
"Akhh,, dia begitu sehat. Hanya saja selalu merindukan kasih sayang dari ayahnya. Wheheeh."
"Huhhh, emang bayi dalam perut bisa iya rindu kasih sayang?" Sahut Jiera dengan bengis.
"Jiera kamu ngomong apan sih? Tentu saja setiap ciptaan Tuhan, merindukan kasih sayang dari orangtuanya." Jawab Lovisa.
"Jangan bahas itu lagi, ayo segera habiskan makanmu!" Guman Victoria.
"Hilih,,, lihat saja nanti klo kamu di hianati si laknat ini. Nggak akan ku tolong. Sudah tau wanita berhati busuk masih aja kamu bantu. Ckckckk." Guman Jiera dalam hati.
Victoria merasa sedih dengan perkataan Jiera. Tapi dia berpura-pura untuk tetap tegar, dan menahan emosinya yang meledak-ledak sejak tadi. Dia berpikir untuk tidak melakukan kesalahan lagi seperti waktu mereka SMA.
Jiera juga sedikit tidak terima pernikahan Victoria dengan Egmont. Walaupun dia sering bertentangan dengan Egmont semasa sekolah, namun dia punya perasaan yang tidak bisa di ungkapkan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sebuahย bar club dimana Arion dan Adrian yang sedang asik untuk merayakan hari pertama kerja di perusahaan baru. Tetapi Arion begitu kesal dengan hari ini karena karywan dan juga Adrian yang membawa seorang karywan baru.
"Arion, malam ini kita main bareng mereka yuk!" Melirik wanita-wanita yang berpakaian sexi.
"Aku akan pulang. Kamu bermain lha dengan mereka!" Wajah kesal.
"Aihh,,, aku mau kamu juga main bareng! Dan harusnya kamu senang dong, kan ini hari pertama kamu kerja di perusahaan baru!?" Merayu temanya itu.
"Pala kau senang. Hari ini benar-benar terkutuk, masih kamu bilang senang?" Kesal.
"Hei, besok kamu akan ke datangan karywan yang kompeten dalam pekerjaan. Jika pun hari ini sangat sial, tapi masih ada hari besok untuk bahagia. Bukan begitu tuan muda? Wahahahhah." Tertawa, dan merangkul Arion.
"Lepaskan tanganmu!" Menghela napas.
"Huuhhh, kamu benar-benar sangat tidak bisa di andalkan." Gumanya.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!๐ Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."โค