Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 5


__ADS_3

"Wahhh, ada murid yang di hukum tuh!"


"Pasti dia melanggar hukum."


"Lihat, bukankah dia masih siswa baru? Berani sekali dia?"


Siswa di kelas 11 A yang begitu heboh melihat Lovisa di hukum.


Arion melirik, lalu mengabaikannya.


"Apa yang kalian perhatikan?" Tanya ibu guru.


Semua kembali belajar serius. Sudah satu setengah jam Lovisa berdiri di tengah lapangan tersebut. Wajahnya mulai pucat dan berkeringat.


"Aku gak bisa nyerah. Demi sekolah." Nada yang lemah, dan merasa pusing.


Guru tersebut memperhatikan Lovisa, dan mengatakan " Itu adalah contoh, murid yang sangat bodoh. Masih siswa baru sudah berulah."


Lovisa melihat dengan samar-samar.


"Ehh, dia jatuh pingsan." Teriak salah satu murid.


**Vila green house


🌺🌺🌺🌺🌺**


"Apa yang terjadi?" Tanya supir  Arion atau paman Jaka


"Dia di hukum guru om." Jawab Egmont.


"Kok bisa? cepat bantu om membawanya ke dalam kamarnya!" Panik.


Egmont dan Jiera mengantar Lovisa ke vila green house. Mereka memang teman yang penuh perhatian dan pengertian.


"Aku akan membelikkan obat untukknya. Kalian tunggu dulu sebentar!" Pergi.


"Egmont, sepertinya Lovisa jadi makin demam." Meletakkan tanganya di dahi  Lovisa.


"Benarkah?" Kaget, dan melihat.


"Dirumah ini, sepertinya tidak ada orang lain." Bisik Jiera.


"Maksudmu? Kita harus bawa dia ke rumah sakit?"


"Iya. Kita tidak punya pilihan mungkin orangtuanya juga sibuk." Ujarnya.


"Oke, aku panggilkan taxi aja iya?" Terburu-buru.


Tidak lama di saat mereka hendak pergi ke rumah sakit, Lovisa sadar. Temannya berusaha untuk membawanya ke rumah sakit.


"Lovisa jangan bergerak dulu!"

__ADS_1


"Mengapa aku ada di rumah?" Kebingungan.


"Tenanglha sedikit! Egmont sedang mencari taxi." Mengambil segelas air hangat.


"Bagaimana kalian bisa disini?"


"Ohalah, jelas-jelas kami peduli denganmu. Coba aku periksa dulu." Meletakkan tangannya di dahi Lovisa. "Kamu masih demam, kita harus ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Nggak, nggak aku merasa baik-baik aja kok."


"Taxinya udah di depan." Panggil Egmont.


"Aku udah katakan, nggak apa-apa." Menolak.


Sore harinya.


Lovisa istirahat di dalam kamarnya dan merasa masih lemah. Demamnya makin parah, dan batuk-batuk.


Arion baru pulang dari sekolahan karena mengikuti ekstra school. Dia meletakkan tasnya di tempat biasa, dan mendegarkan suara batuk-batuk Lovisa. Dia mengabaikannya sembari membuka seragam sekolahnya.


"Uhuk...uhuk...acimmm...."


Menarik selimut untuk menutupi badannya. Lovisa melihat jam yang menunjukkan pukul 17.25 Pm. Dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.


Berdiri dengan gemetaran, dan berusaha untuk pergi menyajikan makan malam. Dia tidak ingin membuat Arion marah seperti kemarin malam.


"Ini kepala benar-benar pegen aku buang. Uhuk....uhukkk." bisik Lovisa pada dirinya dengan kesal.


Berjalan perlahan dari dalam kamarnya. Setelah di depan kamar, dia merasa begitu pusing dan penglihatan yang mulai samar-samar.


"Syurrrr.....syurrrr." Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi Arion.


"Bunyi apa barusan? Apakah wanita itu menghancurkan sesuatu?" Tanyanya dalam hati sembari memakaikan handuknya di pinggang.


"Aku periksa dulu, sepertinya bunyinya dari sana." Membuka pintu dengan handuk di pinggang.


Melihat ke kiri dan kanan. Semuanya barang-barang ada di tempat masing-masing, dan seperti biasanya.


"Lalu tadi suara apaan?" Masuk ke dalam kamar.


"Aku belum melihat wanita itu, apa jangan-jangan seorang perampok...?"


Bergegas memeriksa.


"Hei, mengapa tidur di lantai? Dia tidak menjawab, apa dia baik-baik saja?" Mendekati dan melihat wajah Lovisa yang sudah memucat, dan suhu badan yang begitu panas.


"Wanita ini, mengapa tidak peduli dengan kesehatanya?" Mengendong dan membaringkan di dalam kamar.


"Sret..." Handuk Arion terlepas.


Wajah Arion memerah, dan merasa begitu malu. Dia tidak mempedulikan bagaimana posisi Lovisa terbaring, dan segera menggambil handuknya dari lantai lalu meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku tidak mengendongnya ke dalam kamarnya." Wajah yang masih memerah.


Arion segera berpakaian dan menelpon paman Jaka.


"Paman bisakah kesini sebentar?" Menempelkan ponsel di telinga.


"Apa ada masalah?" Dengan suara yang samar.


"Wanita itu...!? Wanita itu lagi demam, dan aku tidak bisa mengurusnya." Merasa kesal.


"Maaf Arion, aku juga lagi di rumah sakit menemani persalinan istriku. Aku baru bisa kesana besok pagi."


"Apa paman punya seseorang yang bisa di suruh kemari?" Penuh harap.


"Mereka semua pasti nggak bisa juga Arion. Begini saja, kamu berikan dia obat yang aku beli tadi. Dan berikan dia makan dulu...."


"Tuuttt....tuuuut" Mematikan panggilan.


"Untuk apa aku peduli? Biarkan saja lha. Nanti juga bakalan sembuh."


Duduk di tempat tidur dengan ponsel di tangan. "Bagaimana jika dia meninggal? Apakah aku akan di salahkan?" Takut.


Merasa kwatir tanpa sebab. Arion pun merawat Lovisa malam itu. Di meredahkan demam Lovisa dengan air es, lalu menyelimutinya dan berjaga sampai pagi.


Lovisa terbangun dan membuka matanya perlahan. Dia memiringkan kepalanya dan melihat Arion yang tertidur di kursi yang ada di samping tempat tidur, lalu melihat mangkok yang berisi air dan alat pengukur suhu badan.


Lovisa memperhatikan Arion, dan melihat wajah putih yang mulus itu.


"Dia begitu tampan, hidung yang mancung, bulu mata yang panjang, alis yang sempurna, kulitnya juga begitu mulus dan lembut, dan dia memiliki wajah yang begitu sempurna. Whehehhh."  Tersenyum dan mengulurkan tangannya ke rambut Arion.


"Apa yang aku pikirkan?" Tersadar, dan menarik tanganya.


"Apakah dia merawatku semalaman?" Menggambil handuk yang ada di dahinya.


Arion terbangun dan kaget di saat melihat Lovisa di hadapannya.


"Ehhh, mengapa kamu di sisi?" Berdiri.


"Hah? Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu pada kak Arion?" Bingung.


"Aish,,, sungguh menjijikkan." Beranjak pergi.


"Ada apa dengannya?" Penuh tanya.


Satu jam kemudian mereka pun sudah bersiap-siap pergi ke sekolah. Arion menggambil tasnya, dan memasukkan beberapa buku ke dalamnya.


Lovisa yang melihat bahwa Arion belum sarapan, lalu menyiapkan bekal.


"Kak Arion, aku membuatkan bekal nasi goreng untukmu. Jangan lupa di bawah iya!" Teriak Lovisa dari bawah.


"Aihh, seharusnya aku tidak merawatnya kemarin."penuh penyesalan.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❤


__ADS_2