Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 9


__ADS_3

Lampu di ruangan tersebut berkedip-kedip. Arion menginggat bahwa dia tidak menyalahkan lampu, tapi mengapa bisa berkedip-kedip?


"Aku harus menelpon seseorang!" Panik dan segera megeser-geser layar ponselnya.


"Arion....Hahahahahah" Suara teriakan dan tawaan dari arah barat, namun tidak ada orang lain selain dirinya di tempat tersebut.


"Siapa itu?" Berdiri dan ketakutan.


"Arion...?" Bisik angin yang berlalu.


"Siapa kamu?" Tanya Arion dengan nada yang ketakutan.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku, tapi aku datang hanya ingin menikmatimu. Whahahahah....."


Arion merinding, dan segera menekan nomor di ponselnya, dan berharap seseorang datang.


"Apa yang kamu lakukan?" bisikan yang semakin dekat.


"Jangan main-main dengan ku!" Ingin menjauh dan mencari ruangan yang terang.


"Kamu tidak bisa lari dari gengamanku. Whahahaha. Sudah saatnya untuk menghabisi nyawamu."


Sosok wanita mengerikan yang muncul tiba-tiba dengan wajah penuh percikan darah, serta gigi yang panjang. Arion terkejut, dan terjatuh ke lantai.


"Ja...ja...jangan mendekat!" Arion semakin ketakutan.


Wanita tersebut mendekati Arion dengan senyuman jahat. Dia mengeluarkan lidahnya bagaikan seekor ular yang kelaparan, dan ingin menyuntikkan racun.


"Aku tidak akan membiarkanmu menindasku, mati lha Arion!"


Membuka mulut lebar-lebar dengan suasana yang begitu mengerikan, dan angin berhembus perlahan.


"Semoga dirimu akan beruntung kali ini, Whahahahah...."


Arion berusaha mendorong wanita itu, namun wanita itu semakin mengerikan bahkan matanya mulai mengeluarkan darah dan gigi yang tajam*.


"Hwaaaaa........." terbangun dengan keringat dingin.


"Ternyata hanya mimpi. Fiuhhh....., wanita di mimpiku begitu mirip dengan Lovisa."


Merasa ketakutan, dan melihat jam sudah pukul 05.34 Am. Arion beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi.


"Kak Arion, bisakah aku meminjam ponselmu sebentar?" Teriak Lovisa dari depan kamar Arion.


Arion yang sedang buang air kecil di kamar mandi tersebut, begitu panik, dan merasa takut. Dia tidak menjawab dan diam di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Ehh, kenapa kak Arion tidak menjawab? Sepertinya aku sudah mendegarnya bangun?" Merasa aneh, dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Di dalam kamar mandi Arion merasa ketakutan, dan medekatkan telinganya ke pintu. Dia ingin memeriksa bahwa Lovisa sudah pergi dari depan kamarnya atau belum.


Lovisa menunggu Arion di depan vila. Dia memperhatikan sebuah bunga kaktus yang tumbuh dengan baik sembari menghela napas.


Tidak lama kemudian sebauh mobil mewah berwarna merah tampak menuju ke vila. Lovisa yang menyadari bahwa itu mobil Victoria,


"Aihhh,,, kenapa Victoria kemari?" dan segera bersembunyi ke dalam rumah.


Masuk kerumah dengan terburu-buru.


"Brukkk...."


Arion yang berjalan ke arah pintu, dan tidak sengaja mereka berdua bersengolan dan jatuh bersamaan kelantai.


Mereka berdua hampir berciuman, dan wajah yang begitu berdekatan. Lovisa terbelahak yang melihat wajah Arion di hadapanya. Arion terdiam, dengan mata terbelahak.


Posisi yang begitu sangat canggung. Lovisa yang di atas tubuh Arion, merasa kan jantungnya berdebar lebih cepat.


"Mengapa dadaku semakin sesak? Ada apa ini?" Bisik Lovisa dalam hatinya.


Wajah Arion terlihat kesal. Lovisa yang menyadari Victoria telah keluar dari dalam mobilnya dan segera bangkit, dan masuk ke dalam kamarnya.


Arion masih tergeletak di lantai dengan wajah penuh kekesalan.


"Hah? Apa kak Arion tidak salah bicara?" Tanya Victoria yang berdiri di depan pintu.


"Ehh,,,Victoria? Bu...bukan kamu maksudku. Whehehh." Merasa semakin kesal.


"Oh,,, kenapa kak Arion berbaring di lantai?" Tersenyum.


Arion segera berdiri, dan merapikan seragam sekolahnya. Victoria tersenyum, dan mendekati Arion.


"Mengapa kamu kesini?" Tanya Arion dengan cuek.


"Tentu saja ingin menjemput kak Arion, wheheheh." Penuh percaya diri.


"Aku tidak perlu jemputanmu! Pergilha! " Merasa kesal dan menghampiri mobil hitam yang baru saja tiba.


"Ehhh, kak Arion? Tapi kan aku juga bawa mobil?" Merasa sedih.


"Aku nggak ingin siswa lain salah paham." Membuka pintu mobil.


"Tapi kan aku udah jauh-jauh datang ke sini?" Wajah cemberut, ingin marah.

__ADS_1


"Akukan, tidak menyuruhmu?" Di jawab dengan begitu arogant, lalu masuk ke mobil.


Di dalam kamar Lovisa.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Aduh,,, bagaimana ini? Mengapa aku bisa bertindak bodoh?"


Memukul-mukulkan kepalanya dengan tangannya.


"Dadaku juga terasa sesak, dan jantung berdetak begitu cepat. Tidak mungkin kan aku jatuh cinta dengannya?" Kebingungan dengan wajah yang memerah.


Lovisa mencoba untuk memeriksa keadaan di halaman vila. Dia pun segera beranjak dan menutup pintu vila.


"Disana aku melihat halte bus kemarin, semoga masih belum telat." Menginggat,ย  lalu jalan ke arah timur.


Sebuah mobil merah yang berhenti tidak jauh dari vila. Victoria menggengam erat setir mobilnya dengan wajah yang begitu kesal.


"Wanita itu? Apakah dia pacaran dengan Arion?" Wajah penuh ke amarahan.


"Siapa yang di atas tubuh kak Arion? Apakah dia kekasihnya?"


*Victoria tidak sengaja melihat Arion dan Lovisa yang sedang bertimpahan dilantai. Victoria berdiri dengan mengertakkan giginya.


"Apa yang Lovisa lakukan di sini?"


Lovisa yang peegi terburu-buru, dan Arion yang masih terbaring di lantai.


"Hah, apa kak Arion tidak salah bicara?" Pura-pura tersenyum, dan menoleh ke lantai dua yang melihat Lovisa masuk ke salah satu ruangan.


SMA 2 Kota B


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Arion, nanti sepulang sekolah bawalha Lovisa membelikan sebuah ponsel!" Ujar paman Jaka.


"Mengapa aku harus membelikkannya ponsel?" Wajah yang masih kesal.


"Jika lain kali begini, akan sulit untuk memberitahunya hal penting. Aku sudah bicara dengan nyonya Resti. Dia setuju dan mengirimkan uang juga untuk membeli beberapa perlengkapan nya."


"Aku sangat sibuk hari ini, biarlha dia pergi sendiri." Jawabnya dengan ketus.


"Iya sudah. Paman akan menemaninya sepulang sekolah, oh iya satu hal lagi aku dengar dari Elin satu kampungnya, bahwa Lovisa orang yang sulit bergaul, dan pendiam." Ingin mengatakan agar Arion menjaganya, tapi paman Jaka berbelit-belit.


"Dia sudah besar, apakah aku perlu memperlakukanya seperti anak bayi?"

__ADS_1


"Maksudku..." Berhenti karena Arion langsung keluar dari mobil dan tidak mendegarkan penjelasan paman Jaka.


~Salam hangatku๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


__ADS_2