Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 17


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


Seorang pria yang masih tertidur pulas. Arion berdiri sembari melihat-lihat ruangan tersebut. Lalu membanguni temanya Adrian dengan menarik paksa selimut yang di kenakanya.


"Aihszzz." Merenge dengan keadaan ngantuk.


"Anak ini?" Memukul pantat Adrian dengan keras.


"Arghkkkk." Terkejut dan merasa kesakitan.


Arion duduk di tempat tidur, dan menoleh ke Adrian yang sudah bangun. Arion mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celana.


"Apa kamu sudah lama disini?" Tanya Adrian sedikit kesal.


"Belum, cepatlha turun! Teman-temanmu sudah menunggu, aku akan menunggu di bawa oke!" Mengedipkan sebelah matanya pada Adrian.


"Aihhhhh." Terkejut melihat tingkah Arion.


"Kamu pikir aku ini suka sama sejenis iya? Kampret emang gak ada akhlak."


Adrian seorang pria yang begitu humoris, dan gampang bergaul. Ayahnya seorang pebisnis terkenal, dan ibunya hanya ibu rumah tangga. Adrian punya seorang kakak perempuan yang sudah bekerja sejak 2 tahun lalu di luar kota.


Arion keluar dari ruangan tersebut, dan pergi ke taman yang di samping rumah Adrian. Dia menempelkan ponsel ke telinganya sembari mengerutkan dahi.


"Halo?" Terdengar suara seorang pria dari ponsel.


"Ada apa?" Merasa kesal.


"Sikap apa itu?" Nada yang mulai kesal.


"Aku sedang di rumah tante Lesi, klo gak ada yang penting bisa kah aku menelpon nanti?" Tanya Arion dengan sikap dinginnya.


"Anak gak tau diri. Apa kamu pikir setelah umur segitu bisa seenaknya bicara tanpa etika? Dengan orang tua dan rasa hormat sedikitpun tidak ada, bagaimana bisa kamu berpikir untuk lebih baik?" Kesal.


"Tanyakan pada dirimu! Apakah akau perlu melakukan semua itu?" Sahutnya dengan dingin.

__ADS_1


"Jika tidak aku yang mengajarimu tata krama, kamu pikir akan ada orang lain yang peduli tentang tata kramamu?"


"Sangat mengesankan, bahkan sejak kecil kamu tidak pernah mengendongku, bagaimana kamu bisa mengajariku tata krama?" Mata yang berkaca-kaca.


"Sialan, dasar anak nggak tau untung. Aku bekerja keras demi membuat masa depan mu bahagia. Apa kamu pikir aku hanya bermain, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia?"


"Aku tidak memerlukan hartamu! Bekerja keraslha untuk dirimu sendiri! Sungguh memuakkan. Seharusnya sebagai ayah kau tau apa yang sedang aku inginkan!" Meneriaki dengan kesal, dan langsung mematikan ponselnya.


Lovisa yang tidak sengaja mendegar percakapan Arion dengan ayahnya. Dia terkejut, dan segera beranjak pergi ke ruang tamu.


"Lovisa, ada apa?" Tanya tante Lesi.


"Nggak ada tante. Wheheheh." Terlihat kebingungan.


"Apakah Arion masih menangis di hari ulang tahunnya?" Tanya tante Lesi.


"Ulang tahun?" Bingung, penuh tanya.


"Iya. Biasanya di setiap ulang tahunnya dia akan menangis sepanjang malam, karena kedua orangtuanya yang terlalu sibuk, dan melulpkan hal berharga tersebut." Ingin menceritakan kehidupan pahit Arion.


"Kebetulan ulang tahunnya dengan Adrian hanya berbeda sehari, makanya setiap ulang tahun Adrian biasanya dia akan menginap disisi. Tapi kemarin malam dia nggak datang dan aku pikir bahwa Arion sudah mulai berubah."


"Iya. Dia di besarkan oleh neneknya sejak kecil. Tapi sekarang neneknya sudah meninggal, dan dia harus berusaha hidup tanpa seseorang yang bisa mengerti dirinya. Bahkan akhir-akhir ini ibunya sering membicarakan soal pertunangan muda yang akan di atur untuk Arion."


"Pertunangan? Ta...tapi bukankah kak Arion masih sangat muda?" Panik.


"Iya, tapi ibunya juga tidak ingin melakukan hal itu. Tapi melihat situasi yang seperti ini, membuat ibunya kwatir jika suatu hari Arion tidak punya seseorang yang bisa di ajak bicara olehnya karena tempramen yang begitu arogant." Menceritakan dengan wajah serius.


"Apakah, Arion setuju dengan hal ini tante?" Tanya Lovisa dengan gelisah.


"Menurutku dia tidak akan setuju. Tapi cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Mungkin setelah Arion menyelesaikan SMA." Merasa sedih.


Lovisa mengerutkan dahi, dengan raut wajah yang sedih. Dia belum pernah tau bahwa Arion bersikap seperti itu karena situasi yang tidak bisa di mengerti.


"Tante tau, anak zaman sekarang lebih pintar dari pada zaman kami. Aku ingin kamu membantu Arion untuk bangkit dari situasi seperti ini! Kamu bisa melepaskan rasa sakit yang dia pikul selama ini." Tersenyum, dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


"Maksud tante?" Bingung dan tidak mengerti sedikit pun.


"Buat dia bisa tersenyum, dan merasa bahwa seseorang ada yang peduli terhadapnya. Dia tidak pernah mendapat kasih sayang yang sesungguhnya dari kedua orangtua, selain dari almarhum neneknya."


Loviasa terdiam, dan tidak lama setelahnya Arion datang dengan mata yang memerah sehabis menangis. Tante Lesi tersenyum, dan beranjak pergi mengambil minuman.


"Aku ingin pulang duluan. Kamu tunggu tinghalha disini, sampai acaranya selesai!" Arion merasa bad mood.


"Hah? Kenapa?" Menatap wajah Arion penuh dengan tanya.


"Aku kurang enak badan. Mungkin karena kehujanan kemarin juga. Nanti aku akan menyuruh paman Jaka untuk menjemputmu." Guman Arion.


"Nggak mau. Aku ikut pulang juga." Wajah tegas.


"Ekspresi apa itu? Sangat menyebalkan." Merasa kesal.


"Tunggu, aku yang akan permisikan sama tante Lesi. Ehh bukan tapi aku permisi sama temanmu yang ulang tahun." Pergi beranjak menemui tante Lesi, karena tidak mengenali Adrian.


"Tente, aku dan kak Arion mau permisi pulang! Aku ingin mengubah hidupnya, tante nggak usah kwatir, aku tidak membiarkan kak Arion bertunangan di umur mudanya ini!" Tersenyum penuh kepercayaan diri.


Memberi hormat dengan penuh keyakinan dan beranjak pergi dari tempat tersebut.


"Anak muda zaman sekarang. Baiklha, aku akan sampaikan pada Adrian klo kalian udah pulang. Klo ada waktu sering-seringlha kesini!" Teriak tente Lesi sembari tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.


Lovisa menghampiri Arion dan menarik tanganya. Arion terbelahak dan kaget, karena Lovisa menarik tanganya.


"Apa-apaan ini?" Merasa kesal.


"Sudah, ayo nggak usah banyak pertanyaan!" Berusaha menjadi lebih berani.


"Lepaskan!" Menarik tanganya, dan terlepas.


Lovisa menghela napas dan membalikkan badan menatap Arion dengan tajam. Arion mengelap tanganya dengan sapu tangan yang selalu dia bawah dari rumah.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.😊


Salam hangatku😘**


__ADS_2