Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 2


__ADS_3

SMA 2 kota B


🌺🌺🌺🌺🌺


Sekolah yang memiliki gedung tingkat, dan berseni. Halaman yang sangat luas, dan murid yang pergi kesana sebagian besar orang kaya dan terpandang. Arion dan Lovisa diantar oleh supir pribadinya ke sekolah.


Lovisa berdiri di depan gerbang sekolah tersebut dan memperhatikan gedung yang besar di hadapannya. Dia tidak mengira akan bisa masuk ke sekolah favorite, dan berada di kota.


Arion yang melihat Lovisa, tidak peduli. Dengan arogantnya pergi begitu saja meninggalkan Lovisa. Murid-murid perempuan begitu berteriak di saat melihat Arion. Tidak peduli senior atau junior, semua mendekati Arion dengan penuh cinta.


"Wah... lihat dia! Dia begitu tampan, apakah dia seorang aktor? Atau model?"


"Uwaaaa....."


Berlari mengelilingi Arion. Murid-murid itu selalu terpesona dengan ketampanan dan kepintaranya.


Arion terlihat tidak senang dengan sifat gadis di sekolahnya. Dia dengan tempramen yang dingin, pergi begitu saja.


Lovisa tersenyum, dan melangkahkan kakinya. Seorang siswa berlari mendekatinya, dan berkenalan. "Hey, apakah kamu siswa baru?"


Tanya perempuan itu dengan ramah.


"Iya." Jawab Lovisa dengan canggung.


"Namaku Jiera." Mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Lovisa merasa senang, di saat seseorang mengajaknya berkenalan dan bersikap ramah. Dia pun mengulurkan tanganya sembari tersenyum bahagia.


"Lovisa. Whehehee."


"Kamu jurusan apa?"


"IPA."


"Benarkah? Aku juga jurusan IPA. Semoga kita di ruangan yang sama juga iya."


"Iya."


Jiera tersenyum dan menggandeng tangan Lovisa. Dia merasa senang dapat teman baru. Lovisa kaget, dan ikut begitu saja. Mereka melihat ruangan, dan lain sebagainya.


Jiera putri dari seorang jendral, dan ibunya seorang dokter yang bekerja di rumah sakit terbaik di kota tersebut. Jiera di kenal dengan keramahan, dan juga bakat yang jago bernyanyi. Dia punya seorang adik laki-laki yang masih berumur 12 tahun. Sejak kecil, dia di besarkan dengan penuh kasih sayang tanpa kekurangan apapun. Namun walaupun demikian, dia tidak pernah sombong dan selalu rendah hati.


Setelah beberapa jam mereka mendapat kelas masing-masing. Lovisa masuk di kelas 10 B, dan bertemu dengan orang-orang yang begitu sulit di pahami. Lovisa duduk di kursi ketiga dari depan, dan dekat jendela. Dia merasa senang tapi, sedikit gelisah, dan kwatir.

__ADS_1


Murid-murid di dalam kelas itu tampak bersemangat, dan wajah-wajah yang masih cerah. Seorang pria masuk dan menarik kursi yang ada di samping Lovisa.


"Apakah aku bisa duduk di sampingmu?"


"Ahh?" Terkejut, karena selama ini belum ada orang yang pernah duduk disampingnya.


Pria itu tersenyum, dan meletakkan tasnya di atas meja.


"Ada apa?" Tanya pria tersebut.


Lovisa menggelengkan kepala, dan mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.


"Ehh, Lovisa mengapa dia yang jadi teman sebangkumu? Awas! Aku yang akan duduk di sini."


Meyingkirkan pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu pun pindah ke belakang mereka, dan merasa kecewa. Dia mengangkat tasnya ingin memukul Jiera, dan menurunkannya segera.


"Lovisa, hari ini kita kan tidak akan belajar serius. Mengapa kamu membawa buku bacaan?"


"Ehhh, benarkah?"


"Hmm, kita hanya penyesuian dulu. Oh iya aku kira kita tidak satu ruangan lho."


"Wheheh, aku juga berpikir begitu."


"Aku dengar di saat pembagian kelas, di sekolah ini ada cowok yang begitu populer, dan dia bagaikan dewa."


Lovisa merasa tidak biasa punya teman, dan orang yang mengajaknya untuk berbicara. Dia menjadi gugup tak mengerti harus berbuat apapun. Jiera melihat Lovisa, dan menarik buku yang ada di depan Lovisa.


"Ada apa? Apakah kamu baik-baik saja?"


"I...i..ya aku baik-baik saja."


"Kamu penasaran tidak dengan pria itu? Dan aku sempat mendegar dari kakak kelas, bahwa dia orang yang super jenius. Aku tidak sabar ingin melihatnya. Apakah kamu juga berpikir sepertiku?"


"Iya, aku juga jadi sedikit penasaran."


"Hah, sedikit doang?"


Pria di belakang mereka menguping dan berdiri. Dia mengulurkan tangan pada Lovisa "Seharusnya kita berkenalan dulu! Namaku Egmont. Whehehh."


"Lovisa." Dengan canggung.


Jiera pun mengulurkan tanganya pada Egmont " Jiera."

__ADS_1


"Wah nama kalian benar-benar bagus. Tapi aku rasa namaku jauh lebih bagus, whahahah. Apa kalian tau? Arti namaku "Perasan terpesona" dan hal itu memang benar-benar terbukti."


"Perasaan terpesona?" Tanya Jiera.


"Benar, dan yang memberikan namaku adalah mantan pacar ibuku."


"Hah?" Lovisa dan Jiera merasa heran.


"Kok bisa?" Tanya Jiera ingin mengetahui lebih jelas.


"Iya bisa lha. Kan mantan pacar. Dan itu sebuah anugrah yang aku terima sebelum kepergian mantan pacar ibuku."


"Wah, ayahmu pasti orang yang baik. sampai bisa membiarkan mantan ibumu untuk memberikan nama pada anaknya."


Lovisa hanya mendegarkan dan melihat kedua temannya itu.


"Itu seharusnya sangat lha bagus! Itu pertanda bahwa hubungan kedua orangtuaku masih tetap terjalin dengan baik."


"Aku tidak mengerti apaΒ  yang kamu bicarakan."


Tidak lama kemudian seorang guru datang ke dalam kelas. Dan semuanya duduk sesuai tempat duduk masing-masing.


Egmont seorang pria yang baik, dan pintar memainkan alat musik. Ibunya pemilik restaurant terbesar di Asia, dan ayahnya telah meninggal 5 tahun lalu. Egmont tinggal bersama ibu dan neneknya. Mereka hidup dengan rukun, dan penuh senyuman. Egmont pria yang berbadan tinggi, kulit putih dan juga wajah yang tidak kalah tampan. Dia begitu pandai bergaul, dan memiliki teman dimana-mana.


Tidak terasa bel sekolah pun bunyi. "Selamat siang anak-anak."Β  Seorang guru yang mengatakan dengan penuh kelembutan.


"Siang bu.." Jawab murid-murid dengan sopan.


Egmont mengendong tasnya dengan segera.


"Pulang bareng yuk!" Kata Egmont pada dua wanita itu.


"Aku tidak bisa." Jawab Jiera


"Yaudah, Lovisa aja deh. Lagian aku bawah sepeda motor gak kencang-kencang kok. Kamu tidak perlu takut!"


"Maaf, tapi aku tidak bisa juga." Jawab Lovisa dengan nada lembut.


"Yaudah lain kali kita pulang bareng iya! Aku akan mentraktir kalian makan."


"Oke, kami pulang dulu iya! Papay Egmont." Jawab Jiera.


Lovisa menunggu Arion di gerbang sekolah. Dia tidak ada melihat Arion seharian di sekolah, mungkin karena beda kelas. Arion berjalan dengan kedua tangan di dalam kantong celana. Dia duduk di kursi yang ada di depan sekolah tersebut, sembari mendegarkan musik melalui handshetnya.

__ADS_1


Lovisa duduk di sampingnya, dan merasa canggung. Lovisa ingin berbicara pada Arion tapi, dia tidak tau harus memulai dari mana duluan. Arion membuka handshetnya dan segera berdiri karena jemputan mereka sudah tiba. Lovisa pun masuk ke dalam mobil, dan tidak tau apa yang ingin dia katakan agar suasana beda.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2