
Tidak lama kemudian Arion datang bersama 2 penjaga sekolah. Arion yang melihat Lovisa dengan lemah dan tubuh yang bau, dan lalat yang berterbangan di sekelilingnya.
"Lovisa?" Mendekati dengan wajah yang begitu kesal.
"Kak Arion...." Nada lemah.
"Dasar menyebalkan." Membuka ikatan di tangan Lovisa.
Arion menggendong Lovisa tanpa peduli dengan ikatan di kaki Lovisa. Dia begitu terburu-buru dan menahan napas beberapa kali karena aroma yang tidak sedap tersebut.
Vila green house.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Arion menggendong Lovisa ke kamar mandi dan menceburkanya bathup miliknya. Lovisa merasa kesakitan, dan perih dengan luka di jarinya.
"Arion, apa paman perlu membantumu?" Tanya paman Jaka sembari masuk ke dalam kamar mandi.
"Ahhhh, paman keluarlha!" Panik, dan segera mendorong paman Jaka dengan perlahan ke luar.
"Whahahah, jangan sampai kehilangan akal sehat iya!" Bisik paman Jaka sembari tertawa.
"Aihzzzz, apa yang paman pikirkan? Tolong panggilkan bibi Susan untuk membantuku!" Merasa begitu malu.
"Ternyata Arion bis
Arion menoleh ke Lovisa dan segera memalingkan pandanganya. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan dan berjalan bolak-balik.
"Duhhh..." Guman Lovisa merasa kesakitan.
"Aihzzz,, aku benar-benar benci dengan situasi seperti ini. Tapi klo aku biarkan dia akan sakit. Menunggu bibi Susan mungkin butuh waktu lebih dari 30 menit." Berpikir keras sembari menoleh ke Lovisa.
"Aku gak bisa membantu membersihkan tubuhnya. Lebih baik tunggu seseorang yang bisa membantuku."
Pergi meninggalkan kamar mandi tersebut. Setelah tiba di dalam kamar dia begitu gelisah, dan memutuskan untuk membantu Lovisa.
"Aku tidak bisa membiarkanya disana. Klo aku suruh paman Jaka, maka itu tidak benar lebih baik aku menganggap dia sebagai laki-laki juga."
Masuk ke kamar mandi dan mendekati bathup sembari melihat Lovisa. Arion menelan ludah dan begitu gemetaran di saat membantu Lovisa melepaskan seragamnya.
"Tidak bisa. Aku hanya bocah kecil tidak mungkin akan melakukan hal bodoh."
Melepas perlahan kancing seragam Lovisa. Setelah terlepas dia menutupi dengan badan Lovisa dengan handuk besar. Arion berkeringat dingin sampai wajah yang begitu memerah.
__ADS_1
"Tubuhnya begitu mulus." Bisiknya dalam hati sembari melihat kulitย di leher Lovisa.
"Arghhhh,,,aku tidak bisa berpikiran bodoh." Menghela napas, dan membalut Lovisa dalam handuk besar.
Setelah beberapa menit dia berhasil melepaskan pakaian Lovisa walaupun dengan kesulitan. Dia mengeluarkan Lovisa dari bathup dan mengganti airnya.
"Huuuhh,,, rambutnya begitu bau." Memberikan shampo ke rambut Lovisa.
Lovisa melihat dengan samar-samar tanpa daya. Dia hanya terdiam dan merasa bahwa ibunya sedang memandikanya seperti beberapa tahun lalau di saat masa kecilnya. Dalam penglihatanya Arion adalah ibunya, sehingga dia tersenyum sembari meneteskan air matanya.
"Menjijikan masih bisa tersenyum. Apakah dia tidak takut aku...." Merasa kesal bercampur kwatir.
"Aku tidak bisa menyentuhnya sembarangan. Lebih baik aku hanya mengeramasinya, dan membilasnya seperti kain." Cepat-cepat.
Setelah beberapa menit Arion menggendong Lovisa dan mendudukanya di lantai kamarnya. Dia berdiri sembari menoleh ke atas, dan membuka handuk basa yang di kenakan Lovisa.
"Wanita ini benar-benar membuatku kesal, huhhh." Melilitkan handuk bersih ke tubuh Lovisa lalu memindahkanya ke tempat tidur.
Handuk yang begitu berantakan tak beraturan di tubuh Lovisa. Arion mengambil ponselnya dan menelpon paman Jaka.
"Dring...dring....dringgg...." Bunyi ponsel paman Jaka yang terdengar di depan kamar Arion.
"Maaf, kami lama! Di jalanan macet." Guman paman Jaka semabri masuk ke dalam kamar.
"Nak, Arion?" Tersenyum dan terkejut melihat seorang wanita yang terbaring dengan handuk di badan.
"Susan cepat bantu wanita ini!" Pintahnya.
"Kami akan keluar, bantulha dia berpakaian bi! Oh kamarnya di sebelah aku akan ambilkan pakaianya dulu." Guman Arion sembari beranjak.
"Jaka!? Ada apa ini?" Tanya Susan dengan bingung.
"Dia gadis yang tinggal bersama Arion. Dia di bully di sekolah, dan Arion membantunya untuk membersihkan badanya dari kotoran yang di lempari para murid tak ber etika itu." Jawabnya dengan nada pelan.
"Hah? Kamu yakin Arion membantunya? Ja..jangan-jangan mereka sudah anu...!?"
"Syuuuttt! Jika pun hal itu terjadi maka kamu harus diam! Lagian gadis ini begitu baik, tidak masalah jika mereka melakukan hal seperti itu di saat masa remajanya."
"Ta...tapi bagaimana bisa kita diam? Jika nyonya tau, habislha kita."
"Untuk itu kamu diam! Dengar-dengar juga setelah lulus dari SMA Arion akan bertunangan. Kita sudah tau bagaimana sifatnya, dan mungkin gadis yang akan di tunagkan itu bukanlha gadis baik seperti Lovisa." Bisiknya.
Di kamar Lovisa.
__ADS_1
Arion membuka lemari pakaian Lovisa dan mengambil pakaian yang berpasangan. Lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan teringat..."
"Sial, dia seorang wanita pasti memakai...?" Kembali ke dalam dan mencari pakaian dalam Lovisa.
Arion membesarkan matanya dan merasa begitu gugup. Dia mengambil pakaian dalam Lovisa dengan tangan yang begitu gemetaran.
"Sial." Sembari beranjak pergi dari ruangan tersebut.
2 jam kemudian.
Lovisa terbangun, dan merasa badanya begitu sakit. Dia mengedip-edipkan matanya lalu melihat ke kanan dan kiri, dan terkejut di saat melihat ruangan Arion.
"Apa yang aku lakukan disini!?" Bangkit dari tidurnya.
Arion yang duduk di meja belajar, menoleh ke arah Lovisa.
"Mengapa begitu heran?" Memutar-mutarkan pena yang di tangan.
"Ka..kak Arion?" Panik, dan membuka selimutnya memeriksa pakaian.
"Klo udah mendingan silahkan..." Terhalangi
"Arghkkkk... dasar ********." Berdiri dari tidurnya, menghampiri Arion.
"Plakkk." Menampar dengan kuat.
Arion mengerutkan dahi, dan tidak mengapa Lovisa menamparnya. Lovisa menatap dengan tajam dan penuh amarah.
"Apa-apaan ini?" Meneriaki Lovisa "Brak." Meletakkan pena di tanganya dengan keras.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa malah meneriakiku?"
"Apa, jangan-jangan kamu merasa rugi iya!?"
Arion tiba-tiba tersenyum sinis, dan melangkahkan kakinya. Dia menatap Lovisa dengan penuh kekesalan. Lovisa terbelahak dan mundur perlahan merasa ketakutan.
"Ada apa ini? Aku seperti melihat ada hawa kegelapan." Bisik Lovisa dalam hatinya sembari mundur.
"Kenapa? Bukanya barusan kamu begitu berani menamparku? Kenapa malahย ingin menghindar?"
Lovisa ketakutan melihat tatapan tajam dan hawa kegelapan tersebut. Arion mengantongi kedua tanganya sembari mendekat. Lovisa masih lemah dan kakinya tidak berdiri dengan kuat.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!๐ Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."โค