
Arion mengambil selendang dari tangan Lovisa, lalu memakaikanya pada leher Lovisa. Posisi mereka berhadapan, dan sangat dekat membuat wajah Lovisa memerah.
"Deg,,,,deg,,,deg,,,"
Degupan jantung Lovisa yang semakin cepat. Arion menatapnya dengan lembut selama beberapa menit, lalu kembali ke kursinya.
"Perasaan ini, kenapa muncul lagi? Aku pernah merasakanya, beberapa tahun lalu." Bisiknya dalam hati.
"Lovisa!? Mengapa kamu ingin bekerja sebagai model?" Tanya presdir tersebut.
"Hah!? A...aku, aku sangat menyukai pekerjaan sebagai model pak." Jawabnya dengan gugup.
"Benarkah kamu sangat menyukainya?" Tanya serius.
"Iya pak, dan juga pekerjaan ini bukan lha sulit untuk di tangani." Jawabnya.
"Hohoho,,,kamu terlalu percaya diri iya? Baguslha kalau begitu, mulai hari ini kamu harus bekerja keras iya!" Pintahnya.
"Tentu pak." Jawabnya bingung.
"Soal,,soal kemarin malam aku minta maaf!" Guman Arion dengan malu.
"Kenapa bapak minta maaf? Bukan kah seharusnya saya yang minta maaf? Saya bahkan mabuk berat, sehingga ke tiduran di depan atasan saya." Jawabnya.
Arion mengerutkan dahi, dan mengaruk dagunya. Lovisa tampaknya tidak mengingat apa pun yang terjadi kemarin malam kecuali di saat dia mabuk.
"Wanita ini masih cereboh. Bahkan dia tidak ingat sedikit pun? Sungguh membuat ku kesal, huhh,,,," Bisiknya dalam hati.
"Sebenarnya, kemarin malam,,," Guman Lovisa dan
"Stop! Aku sudah mengerti, maka dari situ maaf telah merugikan mu lagi." Guman Arion.
Lovisa merasa bingung dengan Arion, dia pun tidak mengerti, mengapa Arion meminta maaf padanya. Seingatnya dia tidak berbuat salah, bahkan seharusnya yang minta maaf bukanlha Arion.
"Ada apa dengan orang ini? Tadinya aku pikir dia benar-benar memiliki sifat dan wajah yang sama dengan kak Arion. Ternyata itu hanya lha hayalan ku saja." Bisiknya dalam hati.
"Baiklha pak aku tidak akan mengatakannya lagi. Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi, aku pamit dulu iya pak!" Guman Lovisa sembari berdiri.
"Baiklha! Jaga dirimu baik-baik! Jangan mengecewakan ku!" Guman Arion.
Lovisa terhenti dalam langkahnya dan menoleh ke Arion. Dia tersenyum hangat, dan menganggukkan kepala.
"Iya tentu." Senyum hangat.
Beberapa menit kemudian, Lovisa begitu tidak mempercayai dirinya sendiri. Dia pergi ke kamar mandi, dan menyirami air di wajahnya.
"Huh,,,ada apa dengan ku akhir-akhir ini? Aku bahkan tersenyum pada orang itu?"
"Syur,,,,syur,,,,," Suara air.
"Dia benar-benar mirip sama kak Arion. Sifatnya juga tidak begitu jauh beda, dan aku merasa nyaman dekat denganya. Entah mengapa aku merasa degdegan berbicara padanya."
πΊπΊπΊπΊπΊ
Victoria pergi ke mall, membeli perlengkapan untuk bayinya nanti. Dia memilih beberapa pakaian bayi, dan peralatan makan bayi.
__ADS_1
"Lucu banget ini." Mengambil sebuah mangkok kecil bermotif kucing.
"Ada yang perlu saya bantu bu?" Tanya karywan.
"Tolong bungkus alat makan ini! Dan ini juga iya!" Tersenyum ramah.
Victoria lagi-lagi sendiri tanpa sang suami. Ponselnya berdering di dalam tas yang dia gandeng. Dia mengambil ponselnya dan tersenyum di saat melihat nama yang tertera di ponselnya "Suami."
"Halo?" Gumanya, sembari menempelkan ponsel di telinga.
"Dimana kamu? Aku udah di rumah nih." Suara dari ponsel.
"Ohh, iya aku akan segera pulang." Jawabnya.
Egmont yang berdiri di salah satu sisi di dalam mall yang di kunjungi Victoria. Di sampingnya ada seorang wanita yang sedang asik berbelanja. Egmont menurunkan ponselnya, lalu menemani wanita yang bersamanya, memilih beberapa gaun.
Victoria tersenyum pada karywan yang menyodorkan barang beliannya. Dia segera pulang, karena mengetahui suaminya ada di rumah. Mereka sudah tidak bertemu selama beberapa hari, dan dia sangat senang jika suaminya di rumah.
"Dasar wanita bodoh, cih,,, entah mengapa waktu itu aku bisa menikahi mu!?" Bisiknya dalam hati.
"Sayang, bagaimana dengan gaun yang ini?" Tanya wanita itu pada Egmont, sembari memperlihatkan sebuah gaun.
"Hah, ini terlalu gelap. Bagaimana dengan yang ini." Mengambil sebuah gaun berwarna cerah.
"Kamu yakin? Ini kan cocoknya di pakai di siang hari sayang?" Gumanya.
"Yaudah kamu maunya yang mana?" Tanya Egmont, sembari mencubit pipi wanita itu dengan gemas.
Wanita itu tersenyum, dan bermanja pada Egmont
"Ckckck, jadi ini cowok yang pernah aku suka?" Bisik Lovisa dalam hati.
"Walaupun aku benci sama istrinya, tapi bagaimana pun dia pasti sangat sakit hati jika mengetahui suaminya dengan prilaku bina**** seperti ini."
Jiera pun menghampiri Egmont dan wanita itu. Secara tiba-tiba Jiera langsung menampar Egmont, dan menangis di hadapanya.
"Plak.."
Seketika diam, melihat hal itu. Egmont mengerutkan dahi dan bingung dengan tamparan itu. Wanita itu maju ke depan Egmont dan mulai menomeli merasa tidak senang.
"Apa-apan kamu ini?" Tanyanya.
"Huhuu, Egmont teganya kamu selingkuh? Kita bahkan sudah menikah, dan juga punya anak. Kamu malah sibuk mengurus wanita jala** ini." Gumanya
"Klo ngomong jangan sembarangan iya! Kurang ajar kamu iya, gak tau malu nampar ke kasihku dengan seenaknya?" Meneriaki.
Egmont menarik tangan wanita yang bersamanya. Dia tidak mengerti apa yang di katakan Jiera, dan menangis di hadpanya.
"Jiera, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Egmont.
"Kamu mengenalnya?" Tanya wanita itu.
"Hilih,,,wanita seperti ini harus di beri pelajaran! Bagaimana pun Victoria pernah juga bersikap baik walaupun aku masih ragu. Dan Egmont si kampret ini, lihat saja iya!" Gumanya dalam hati.
"Apa yang kamu katakan barusan? Membuat orang tidak senang aja!" Guman Egmont kesal.
__ADS_1
"Apa!? Kamu tidak senang? Baik lha aku akan menyuruh kakak ku Victoria ke sini sekarang juga. Kamu harus tanggung akibatnya sendiri. Hikss,,,bernainya kamu selingkuh di belakang istri mu?"
Orang yang mendegar perkataan Jiera, seketika langsung bergosip dengan orang lainnya. Egmont yang melihat wajah-wajah tidak senang di sekelilingnya itu merasa kwatir.
"Pria kayak gini ngak pantas jadi manusia."
"Coba lihat tampangnya! Ganteng tapi gak punya otak."
"Lihat itu wajah, pelakor di belakangnya! Udah jelek malah rebutin suami orang?"
"Mungkin dia tidak punya pendidikanΒ iya?"
"Jika suami ku seperti dia, aku akan minta cerai."
"Untung aja suami ku tidak seperti dia?"
Guman dari beberapa orang, dan menatap Egmont dengan tajam. Jiera tersenyum dalam hati merasa puas melihat ekspresi Egmont dan wanita di belakangnya itu.
"Aku harus menelpon kak Victoria." Mengambil ponsel dari tas.
"Jiera dengarkan! Ini tidak seperti yang kamu lihat, jangan memberi tahu Victoria!" Gumanya ke takutan.
"Jadi dia benaran istri kamu?" Tanya wanita di belakngnya.
"Bu,,,bukan begitu. Dia bukan istri ku." Jawabnya.
"Plak,,,dasar pria gak tau diri. Masih mau mengelak menagatakan dia bukan istri mu?" Menampar dengan keras, lalu pergi meninggalkan Egmont.
"Huuu,,,pergi sana! Dasar pelakor gak tau diri." Guman orang di tempat itu.
"Jiera, apa maksud mu? Kamu kira aku tidak bisa marah sama mu?" Wajah kesal.
"Entahlha, aku hanya membantu sahabat ku saja." Menaikkan bahu, sembari berbisik.
"Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga ku! Kamu tidk pantas untuk hal itu!" Gumanya dengan kesal.
"Cih,,,sungguh malu aku pernah menyukai pria seperti mu. Dasar menjijikan, mengabaiakan istri yang sedang mengandung anak sendiri, bahkan kamu tidak cocok di sebut sebagai pria, bagaimana dengan bencong?" Tanya Joera dengan nada pelan.
45 menit kemudian.
Jiera pergi ke kediaman Victoria, dengan beberapa barang belanjaan di tanganya. Setelah dia melihat Egmont bersama wanita lain, dia pun merasa kasihan dengan Victoria.
"Huh,,,mungkin malaikat sedang berpihak pada wanita itu. Aku yang tidk pernah menyukai sifatnya, sekarang mala kasihan?" Gumanya.
Jiera menurunkan barang bawanya, dan membunyikan bel rumah. Setelah beberapa menit, Victoria membuka pintu.
"Hey, apa kabar?" Tanya Jiera.
"Ehhh, kenapa kamu tiba-tiba datang kemari?" Tanya Victoria.
"Aku merasa kwatir dengan teman ku. Whehehe." Jawabnya.
"Silahkan masuk dulu!"
Tidak seperti biasanya, Jiera terlihat berbeda hari ini. Dia bicara seolah begitu dekat dan seperti sahabat sehidup, semati. Victoria menyajikan segelas teh hangat, dan memberikanya pada Jiera.
__ADS_1
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€