
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa berdiri di depan jendela kamarnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Arion. Dia merasa begitu sedih dan tidak mengira semua perjajian itu hanya lha kebodohan yang tidak pernah dia sadari.
"Huhuhuuu,,, andaikan aku lebih pintar sedikit lagi. Mungkin aku tidak akan merasakan perasaan meyakitkan ini." Air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
"Bahkan aku berusaha keras menolak cinta dari beberapa laki-laki, dan nggak pernah mengeluh untuk tetap makan apa adanya, demi menabung untuk bisa menemuinya. Hiksss,,, apa semua hal ini akan terjadi begitu cepat? Mengapa aku jadi wanita yang tidak tau malu, dan mengemis padanya?
Aku pikir waktu itu ketulusan untuk membantuku, dan pada akhirnya hanya untuk mempermainkanku. Huhuhuuu, aku rela kerja sembari menempuh pendidikan, dan terus berusaha tak kenal lelah hanya untuk bisa bertemu dan menjalani hidup bersamanya. Hiksss,,,,mengapa aku begitu bodoh...?"
"*Seingatku, tidak pernah berbuat janji denganmu. Dan satu hal yang harus kamu tau! Aku seorang pengusaha muda yang banyak di kenal di dunia. Dan apa kamu tidak malu di katakan seorang simpanan? Bahkan mengoda pria kaya hanya untuk uang?"
Berdiri dengan suram sembari memperingatkan Lovisa. Hal itu membuat Lovisa benar-benar terpukul, dan tidak bisa berkata apapun selain merasakanΒ dadanya yang semakin sesak itu.
"Jika kamu butuh uang, maka aku akan menyuruh asistenku memberikan cek yang bisa memuaskanmu! Dan setelahnya jangan pernah muncul di hadapanku! Aku tidak suka ada gosip tentang diriku.
Kamu jangan berharap lebih! Aku tidak pernah mencintai mu sedikitpun. Jadi anggap saja waktu itu aku membantu mu karena kau sudah bekerja keras di vila. Jika kamu ingin mencari orang yang mencintaimu, seharusnya kamu tau diri sedikit! Jangan mempermalukan dirimu, dan bermimpi terlalu tinggi!" Tanpa merasa salah*.
Pergi meninggalkan tempat tersebut seperti orang yang tidak saling mengenal. Lovisa tidak lagi mengejarnya, dan berdiri melihat punggung laki-laki di depanya yang semakin menjauh itu.
"Dan pada akhirnya orang miskin tetaplha miskin, tapi dia tidak seharusnya menganggapku sebagai pengemis dan hanya membutuhkan uangnya.
Aku belum terlambat untuk memulai semuanya, jika aku sudah punya pekerjaan mungkin dia akan melihatku. Aku tidak bisa menyesali hari ini, masih ada waktu untuk besok walupun nyatanya hatiku masih begitu sakit, hikssss.... Aku tidak akan melepaskan orang yang pernah aku cintai begitu saja."
Semangat yang tiba-tiba membara dengan perasaan yang begitu hancur berkeping-keping. Dan tidak lama setelah semangat tersebut, pada akhirnya kesedihan tidak bisa di tutupi begitu saja.
Lovisa masih terpuruk dengan setumpuk perasaan menyakitkan di dalam dirinya. Sudah berlalu 3 hari tanpa sebuah semangat lagi, dan berdiam diri di dalam kamarnya.
Seorang pelayan di hotel tersebut menemui Lovisa. Tampaknya Lovisa nggak ingat bahwa dia hanya memesan waktu untuk 3 hari di hotel tersebut.
Wajah murung yang tiada habisnya itu, membuat dirinya hilang harapan. Dia keluar dari dalam hotel, dan berniat untuk kembali ke kota B. Di depan hotel dia bertemu dengan wanita yang pernah dia lihat bersama Arion.
"Hei, tunggu dulu!" Menghampiri Lovisa.
Lovisa mengabaikan perkataan wanita itu dan melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikit pun.
"Apa kamu tidak dengar?" Berdiri di samping Lovisa.
Lovisa menghentikan langkahnya dan menoleh wanita itu dengan wajah yang begitu menyedihkan tanpa semangat.
"Apa aku bisa mengajakmu mengobrol sebentar denganku?" Tanya wanita itu.
Β "Aku tidak punya waktu." Jawabnya dengan sedih.
"Ini tentang Arion." Tanpa ragu.
"Aku tidak mengenalnya." Jawabnya.
"Ayolha! Apakah kamu tidak ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Arion selama ini?"
"Maafkan saya nona, tapi saya benar-benar tidak kenal dengan Arion. Saya permisi dulu."
"Hei! Arion tidak mencintaiku, kamu masih punya kesempatan untuk memilikinya!" Tegas.
Lovisa berpura-pura tidak mendegar perkataan wanita itu dan melanjutkan langkahnya. Wanita itu berusaha keras dan mengikuti Lovisa dengan wajah ingin menyemangati.
__ADS_1
"Jika kamu tidak keberatan, aku akan membawa mu untuk menemuinya!
Dia pasti begitu senang di saat melihat mu di sana!"
"Taxi...!" Melambaikan tangan pada sebuah taxi.
"Hei! Aku tidak bohong! Bukan kah kamu mencintai Arion? Kenapa pergi begitu saja? Dia benar-benar menunggumu!" Kecewa.
"Jika aku pergi menemuinya, itu hanya untuk memberikan diriku di caci maki, dan aku hanya seorang pengemis yang tidak berterima kasih."
Restaurant Canva
πΊπΊπΊπΊπΊ
Egmont yang begitu sibuk melayani para pelanggan. Dan juga semua karywan terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Ponsel Egmont berdering sedari tadi namun di biarkan karena begitu sibuk.
Ibunya yang melihat ponsel Egmont berdering terus menyuruhnya untuk memeriksa ponselnya.
"Egmont, ponsel mu udah lebih dari beberapa puluh kali berdering. Tampaknya ada hal yang begitu mendesak, cepat perhatikan dulu!"
"Iya bu." Mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan.
π¨"Halo?"
π©"Kamu sudah gila iya? Berani-beraninya gak jawab telpon dariku?" Marah.
π¨"Maaf sayang, aku begitu sibuk makanya gak ada waktu. Wheheheh"
π©"Apakah perkerjaanmu lebih penting dari anakmu?"
π©"Nggak, tapi aku ingin makan-makanan pedas! Dasar nggak peka, suami seperti apa sih kamu ini?"
π¨"Fiuhhh, aku pikir sudah mau melahirkan? Baik-baiklha aku akan mengirim makanan yang kamu inginkan."
π©"Aku tidak mau di kirimkan. Tapi kamu juga harus pulang cepat! Biar kamu yang bawakan!" Nada kesepian.
π¨"Tapi sayang, aku harus bekerja! Bukankah kamu bulan depan ingin berbelanja yang banyak? Makanya aku kerja nih."
π©"Aku gak mau belanja, aku mau suamiku di samping ku sekarang juga!"
π¨"Nggak! Kamu harus tunggu minggu depan!"
"Egmont!? Benar-benar kamu anak yang gak punya hati. Cepat pulang sekarang! Istrimu sedang hamil, dan kamu berani menolak permintaanya? Siapa yang mengajarimu seperti itu?"
Β Ibunya yang mendegar hal tersebut dan marah besar pada Egmont. Ibunya tidak pernah menyuruh Egmont untuk membantunya di restaurant setelah menikah. Namun menyuruh Egmont untuk lebih fokus membangun sebuah perusahaan untuk masa depannya kelak.
"Wanita sungguh merepotkan." Gumanya dalam hati.
π©"Untungnya, ibu mertua baik. Klo tidak aku akan tidur sendirian selama beberapa hari lagi." Tersenyum bahagia.
Sebelum lulus kuliah Egmont sudah menikah dengan Victoria. Mereka telah menikah hampir 3 tahun, dan sekarang istrinya mengandung anak pertama. Victoria tidak lagi putri dari seorang yang terkenal, sejak dia melakukan hal-hal buruk.
Egmont dan Victoria hidup dengan kesederhanaan yang di inginkan Victoria. Dia berubah sejak ayahnya memutuskan hubungan dengannya. Walaupun Egmont punya banyak uang, tapi mereka memilih ke hidupan yang sederhana.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa pergi ke bandara dengan wajah yang begitu sedih dan muram. Dia cek-in lalu masuk ke dalam pesawat menuju kota B. Tadinya dia berharap agar Arion mengejarnya ke bandara, namun hal itu tidak terjadi.
Lovisa duduk di kursinya dengan pandangan yang begitu menyedihkan, dan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia berpikir bahwa dirinya telah bodoh, untuk mempercayai perkataan Arion waktu itu. Bahkan dia mendegar kata-kata yang membuat hatinya semakin terpuruk.
π’
Good afternoon sir, miss. Welcome to the **** flight. With the aim of the city B from New york. Flight to city B which we will take in time .... hours. Above a cruising altitude of 32,000 feet above sea level. We need to say that the lighting **** is smoke-free, we beg you to use, seat belt, straighten the back of the chair, and fold the table in front of you! The leader this time is the captain ... and all the aircraft on duty. Saying welcome, and enjoy this flight. thanks.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mempercayai buakn lha hal yang mudah,
Dan berjanji adalah tindakan sulit,
Membiarkan semua berlalu,
Menyakiti setumpuk perasaan.
Semua telah hilang,
Tanpa sebuah ke indahan,
Menopang kehidupan tanpa sebuah senyuman.
Menjalani setiap waktu yang penuh dengan bara api.
Apa kesalahan yang di perbuat?
Orang miskin tetap miskin di mata mereka,
Dan yang kaya tetap berkuasa.
Cinta bukalha sebuah game, yang harus di hianati.
Cinta tidak bisa kita bohongi,
Walaupun hal itu menyakitkan,
Sebuah perasaan tidak akan bisa melupakanya.
Berharap dunia akan hilang, dan cinta lenyap untuk selamanya.
Goresan luka ini,
Mulai menggrogoti hidup
Dan lelah untuk berjuang kembali.
Menyia-nyiakan waktu untuk hal yang memiluhkan,
Aku tidak ingin mempercayai cinta.π’π’
πππππ
__ADS_1
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€