
Di perjalanan ke ke kelas Lovisa bertemu dengan Egmont.
"Hey,,, dari mana?" Tersenyum hangat.
"Lapangan basket."
"Ohhh, Lovisa aku mau ngomong sesuatu. Tapi sepertinya di sini nggak tepat, bagaimana klo kita ngomong nya nanti sepulang sekolah?"
"Aku nggak bisa."
"Aihhh, apa karena Arion?" Kesal.
"Bu...bukan begitu. Tapi aku memang gak bisa." Memalingkan pandagan.
"Kamu nggak usah takut! Aku akan bicara pada Arion." Menepuk bahu Lovisa dengan hangat.
"Lovisa...!?" Berteriak.
Arion yang melihat sikap Egmont pada Lovisa membuatnya tidak senang. Dan memanggil Lovisa dengan nada yang keras.
"Aihzzzz." Egmont merasa kesal.
Lovisa menoleh dan kaget. Arion menghampirinya dan menarik tangan Lovisa lalu membawanya ke kantin. Murid-murid yang melihatnya berbisik-bisik.
"Aku sudah katakan..." Berjalan sembari menarik tangan Lovisa.
Lovisa tidak bisa berkata-kata, dia hanya diam dan mengikuti Arion.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arion sembari menyuruh Lovisa duduk.
"Hah? Bu...bukannya masih pagi? Aku belum lapar." Gagap dan bingung.
__ADS_1
"Klo gitu, kita ke kelas ku aja!" Menarik tangan Lovisa.
"Wah,,, Arion ternyata sudah punya pacar."
"Aku pikir dia belum punya pacar." Sedih.
"Gadis itu pasti sangat beruntung."
"Ehh, bukanya barusan Arion dan Basile memperebutkan Victoria?"
"Oh iya, jangan-jangan gadis ini perusak iya?"
"Aku yakin pasti gadis ini sudah membuat keonaran. Lihat saja wajahnya tidak begitu cantik. Sedangkan Victoria sempurna, mungkin dia gadis yang tidak tau diri."
"Aku rasa begitu. Aku juga sering lihat dia bersama Egmont. Sekarang dengan Arion, dan waktu aku pergi ke party Adrian ada dia juga. Jangan-jangan dia wanita malam?"
"Apa? Adrian? Kamu nggak salah lihat?" Cemburu.
"Kurang ajar. Dia bahkan berani mengoda Adrian, dengan wajah yang begitu pas-pasan."
"Aku kasih tau iya, dengar-dengar juga dari teman sekelasnya nih. Dia pernah nginap di rumah Egmont, bahkan bekerja selama beberapa hari di restaurant ibunya Egmont."
"Kita harus selidiki dia! Dan dari cara berpakaian sama penampilanya dia sepertinya bukanlha dari kalangan orang kaya."
"Iya. Aku sangat ingin memberi dia pelajaran juga."
"Yaudah, cepat habiskan makananmu!"
"Wheheheh, akhirnya aku punya teman untuk memberi pelajaran sama wanita jelek itu." Bisiknya dalam hati.
Beberapa murid yang begitu tidak suka dengan Lovisa. Mereka iri, dan merasa tidak adil karena laki-laki yang tampan dan paling populer di kota tersebut mendekati Lovisa.
__ADS_1
Kelas 11 A
πΊπΊπΊπΊπΊ
Arion membawa Lovisa ke kelasnya. Murid-murid yang melihatnya langsung berbisik-bisik, dan ada yang tertawa.
"Kak Arion aku mau pergi ke kelasku." Guman Lovisa dengan malu-malu.
"Tunggu sebentar lagi!" Duduk.
"Arion, apa kamu sudah buta?" Guman salah satu murid laki-laki di kelasnya.
"Aku rasa Arion sudah bisan dengan cewek-cewek cantik. Whahahah."
"Brak." Memukul meja keras menggunakan tanganya.
Semua tiba-tiba diam, dan mengabaikan Arion. Arion menyuruh Lovisa duduk di tempatnya.
"Arion apa-apaan ini? Sebagai ketua kelas seharusnya kamu bijak! Dia bukan siswa dari kelas ini kan? Kenapa kamu menyuruhnya duduk?" Guman seorang murid wanita yang merasa iri, dan kesal.
"Apa ini sebuah tindakan yang tidak benar?" Tanpa ekspresi.
"Bagaimana bisa kamu membawa seorang siswa yang bukan pemilik kelas ini?"
"Lalu apakah kamu pemilik kelas ini juga?"
πππππ
"Maaf untuk ceritanya yang terlalu pendek, tapi di kelanjutan cerita bakalan normal kok."
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.π
__ADS_1
Salam hangatkuπ**