
Di perjalanan ke vila green house. Egmont tampak mengenderai sepeda motor dengan hati-hati. Lovisa memperhatikan perjalanan mereka di sepanjang jalan.
"Aku rasa kamu mengantarku sampai disini aja!"
Masih berjarak 100 meter dari vila green house. Dia kwatir jika Egmont melihat Arion, dan salah paham.
"Kenapa? Kan tanggung juga? Lagian udah dekat kok." Mengendara perlahan, dan tiba-tiba mengrem.
"Yaudah deh. Tapi lain kali aku ingin datang main-main ke rumah mu iya!"
Egmont nggak keberatan, dan menghentikan motornya di tempat tersebut. Lovisa turun dari atas motor, dan melepaskan helmnya.
"Terima kasih Egmont." Memberikan helm.
"Harusnya aku yang berterima kasih, karena kamu sudah menemaniku." Tersenyum, dan menggambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini! Karena bulan depan sudah mulai musim dingin kamu pasti akan memerlukannya." Memberikan pada Lovisa.
"Ehh apa ini?" Bingung.
"Udah kamu lihat di rumah aja, oh iya aku belum punya we-chatmu."
Lovisa mengerutkan dahi, dan nggak mengerti apa we-chat. Dia belum pernah menggunakan aplikasi tersebut sebelumnya.
"Apa kamu nggak ingat we-chat mu?" Penasaran.
"Ohh, bukan begitu. Tapi aku nggak punya we-chat." Mengatakan dengan serius.
"Aihzzz, kamu benar-benar. Yaudah deh, aku pergi dulu. Lain kali daftarkan we-chat mu!
"Apakah Victoria masih di rumah?" Jalan dengan perlahan dan memperhatikan vila tersebut dari jarak 30 meter di hadapanya.
"Fiuhhhh.... mengapa sejak melihat kak Arion bersama Victoria hatiku terasa seperti terbakar?"
Menyentuh dadanya, dan menghela napas berkali-kali.
"Apakah karena aku belum pernah bisa bicara lebih akrab, makanya merasa iri di saat melihat orang lain bisa akrab denganya?"
Melihat pintu vila tertutup rapat, membuat Lovisa merasa bahwa Victoria dan Arion pergi jalan-jalan. Dia mendorong pintu dengan lemas, tak semangat.
Arion berdiri satu meter di belakang pintu dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dia tampak tak senang melihat Lovisa pulang lama.
"Arghhhhh." Terkejut dan melemparkan barang di tanganya.
Arion terdiam, dan memperhatikan tingkah Lovisa.
"Ka..k, kak Arion mengapa berdiri disana?" Panik, dan merasa canggung.
"Apa kamu tau pukul berapa sekarang?" Wajah kesal dan penuh tanya.
"Ta..tapi....?" Masih belum selesai bicara, dan di halangi.
__ADS_1
"Kamu kira rumah saya, tempat apaan? Sehingga dengan sesukanya kamu pergi kesana-sini?" Dengan nada tinggi.
Lovisa kaget, dan tertunduk tanpa sepatah katapun. Dia menggengam roknya, dan menahan amarah.
"Jika kamu masih mau tinggal di rumah ini, maka patuhi peraturan!"
Merasa kesal, dan mengangkat pandangan lalu menatap dengan tajam pada Arion.
"Kamu pikir aku pergi kesana-sini bukan karena peraturan konyolmu?" Meneriaki dengan kesal.
Arion terkejut dan melihat Lovisa yang memasang wajah mengerikkan di saat marah. Lovisa tersadar dan tertunduk kembali, sembari meminta maaf.
"Ma..maaf kak Arion! Bukan bermaksud ingin meneriakimu, tapi aku pergi kesana, agar Victoria nggak salah paham."
"Menjijikkan. Aku nggak ingin mendegarkan alasan konyolmu lain kali!" Pergi meninggalkan tempat tersebut.
Lovisa merasa lega dan bercampur ketakutan karena telah meneriaki Arion.
Dia segera menggambil selendang yang ada di lantai tersebut.
"Ada apa denganya? Setelah 5 bulan dia sudah berani meneriakiku?" Bicara dalam hati, dan pergi ke ruang musiknya.
Arion membuka pintu ruangan musiknya, lalu menyalahkan lampu. Dia mengingat teriakan Lovisa, dan membuatnya nggak bisa fokus melakukan apapun.
"Aku harus lebih waspada terhadap wanita itu. Mungkin saja selama ini dia terlihat pendiam, dan lugu namun aslinya? Ihhhhhhh,,, sampai membuatku merinding."
Di dapur
"Apakah aku sudah keterlaluan? Bagaiamana jika dia memberitahukan pada orangtuanya? Lalu aku nggak bisa melanjutkan sekolah lagi?"
Memikirkan kejadian beberapa menit lalu. Lovisa merasa kwatir dan juga cemas. Lovisa tidak bisa fokus melakukan pekerjaanya, dan memikirkan sesuatu cara untuk meminta maaf pada Arion.
"Aku harus meminta maaf padanya dengan tulus. Mungkin dia akan bisa memaafkanku, jika aku bersikap seperti Victoria maka, aku harus belajar tersenyum, dan membawakannya segelas jus."
Mendapat ide yang cemerlang, dan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Setelah menyajikan makan malam Lovisa membuatkan segelas jus wortel mix jeruk, lalu membawanya ke ruang musik Arion.
Dia menarik napas, lalu menghembuskanya. Menarik lalu, menghembuskannya kembali. Terdegar dari ruangan musik nada-nada piano yang di mainkan secara lembut.
"Aku pasti bisa demi mempertahankan sekolah. Aku akan rela meminta maaf walaupun bukan keselahanku." Tersenyum dan penuh kepercayaan.
"Hay, kak Arion. Aku membawakan segelas jus untukmu." Nada yang lembut, dan memaparkan senyuman yang tidak ikhlas, dan senyumannya menjadi terlihat seperti sedang marah.
Arion terkejut, dan menghentikan alunan musiknya.
"Mengapa dia masuk tiba-tiba dan tersenyum seperti serigala yang ingin memangsa?" Duduk dengan penuh pertanyaan.
"Sebelum makan, sangat bagus untuk minum jus terlebih dahulu lho." Mendekat dan menyodorkanya pada Arion.
"Ehh, mengapa dia semakin aneh? Apa jangan-jangan dia ingin membunuhku lagi?" Berkeringat dingin dan ketakutan.
__ADS_1
"Kak Arion? Ada apa?" Merasa tidak di tanggapi.
"Bu..buk..bukan. Kamu tidak perlu mengantarkan jus untuku! Tapi aku akan meminumnya nanti, kamu keluarlha!" Curiga dengan sifat Lovisa yang nggak seperti biasanya.
"Ahhh, baiklha. Selamat menikmati kak Arion." Tersenyum dan segera pergi.
"Sepertinya kak Arion jadi berubah lebih penurut di saat berbicara anggun dan tersenyum padanya." Merasa senang.
Pukul 18.57Pm.
Lovisa telah menyiapkan alat makan, dan menunggu Arion untuk makan.
Tidak lama kemudian Arion datang dengan tatapan lebih tajam.
"Kak Arion, cepatlha duduk!" Tersenyum dengan tatapan lembut.
"Apakah wanita ini benar-benar...? Sangat mencurigakan." Merasa tidak nyaman dan segera duduk.
Arion menggambil beberapa lauk, dan sayuran ke dalam piringnya. Tidak sengaja mereka berdua ingin menggambil lauk yang sama, dan merasa lebih canggung lalu menarik alat makan masing-masing.
Dalam beberapa menit mereka telah selesai makan. Arion beranjak dari tempatnya dan masih merasa curiga dengan sifat Lovisa tersebut.
"Kak Arion?" Sembari merapikan meja makan.
Arion yang mendegar Lovisa memanggilnya, dan terdiam membeku ketakutan.
"Apa yang di maksud dengan we-chat?" Ingin tahu.
Terdiam dan menaikkan sebelah alis sembari tersenyum sinis. Dia tidak yakin Lovisa nggak mengetahui apa yang di maksud dengan we-chat. Mengabaikan dan pergi begitu saja.
"Mengapa dia tidak bicara apapun? Apakah dia juga nggak tau?" Mengerutkan dahi, dan mencuci piring.
Ruang musik yang begitu gelap dan sepi. Arion duduk dengan sebuah ponsel di tangannya lalu seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
"Tok....tok..." Bunyi pintu yang sedang di ketuk.
"Siapa di sana?" Melirik lalu mengabaikannya.
Namun ketukan itu tidak berhenti, sampai 10 menit. Arion merasa bingung dan mencoba untuk melihat siapa yang ada di balik pintu tersebut.
"Siapa di sana?" Mulai ketakutan, dan mendekati pintu.
"Krekkkk....." Suara pintu.
Pintunya terbuka sendiri, dan hawa yang semakin buruk angin berhembus dari jendela ruangan yang belum di tutup.
"Arion?" Bisik suara angin padanya dengan mesra.
"Syussss.....syusssss" Suara angin.
~Salam hangatku🌸🌸🌸
__ADS_1