
Lovisa pergi ke tempat pemotretan bersama tim nya. Di lokasi kali ini mereka akan mengambil pemotretan dengan merek beberapa pakaian, dan juga sepatu.
Lovisa beranjak pergi ke ruang ganti, dan membuka syal yang di pakaikan oleh Arion. Dia bercermin sembari menunggu Nisa, dan terkejut melihat sesuatu di lehenya.
"Hah!? Apa ini? Kok aneh iya?" Tanyanya sembari memperhatikan dengan teliti.
Dring,,,,dring,,,dring,,,dring,,,,
Ponsel Lovisa berdering di dalam tasnya. Dia pun segera mengambil ponselnya, lalu menempelkan di telinga sembari menjawab panggilan dari nomor tak di ketahui.
"Apa yang kamu lakukan? Mengapa melepaskan syalnya?" Suara seoranag pria dari dalam ponsel.
Lovisa mengerutkan dahi, dan bingung. Dia pun melihat sekelilingnya sembari merasa kwatir.
"Si,,,siapa? Mengapa kamu tau aku melepaskan syal ini?" Tanyanya bingung.
Di satu sisi, Arion yang menonton rekaman CCTV melalui komputernya yang di ambil dari ruang ganti. Dia bernajak dari tempat duduknya, dan berjalan cepat.
Tut,,,tut,,,tut,,,tut,,,,
"Aneh? Siapa dia itu sebenarnya? Di dengar dari suaranya, sepertinya dia presdir itu bukan?" Gumanya.
Lovisa duduk di kursi yang ada di depan kaca rias. Dia mengeluarkan sebuah bedak dari dalam tasnya, lalu mengoleskan pada bekas aneh di lehernya itu.
"Apa kemarin malam telah terjadi sesuatu yang aneh? Aku tidak ingat apa pun setelah tidur di sofa itu, dan bangun sudah ada di dalam kamar?" Gumanya.
Beberapa menit kemudian ketua tim, yang asik mengatur pemotretan itu berguman dengan panik. Suaranya terdegar ke dalam ruang rias, membuat Lovisa penasaran.
"Jangan ada yang diam! Anak laknat itu datang, ayo kerja semuanya!" Guman ketua tim.
Suasana di luar terdengar begitu sibuk, kesana sini. Lovisa keluar dengan ponsel di tanganya. Dia tercengang melihat Arion berjalan ke arahnya, dan menariknya ke dalam ruangan ganti.
Ketua tim bingung, dan menyuruh Cika memeriksanya. Namun mengetahui hal itu Arion menoleh dan mengatakan " Jangan kwatir, aku tidak akan menyakiti model ini!"
__ADS_1
Perkataan Arion, seakan-akan menyuruh Cika untuk tidak mengikuti mereka ke dalam ruang rias tersebut. Lovisa bingung, dan ikut begitu saja. Setelah di dalam ruang ganti Lovisa menghempaskan tangannya.
"Apa yang bapak lakukan? Mengapa menarik ku seperti ini?" Gumannya bingung.
"Aihzz,,,dasar wanita menyebalkan. Apa kamu ingin memberitahu mereka....!?" Tidak bisa melanjutkan perkataanya.
"Apa yang bapak maksudkan?" Bingung.
Arion berjalan mendekati Lovisa, dan mentok ke dinding yang ada di ruang itu. Lovisa takut, dan gugup tidak mengerti apa yang di lakukan atasanya itu.
"Ja,,ja,,jangan macam-macam! Saya tau, bapak kesal karena saya melepaskan syal ini. Tapi itu hak saya." Gumanya gagap.
Glek,,,,
Arion yang melihat bibir Lovisa, begitu tidak bisa mengahlikan pandangan dan menginggat apa yang terjadi di malam itu. Lovisa memperhatikan wajah atasanya itu, dan terbelahak di saat mengingat Arion.
"Dia,,,dia sangat mirip dengan kak Arion. Apa yang harus aku lakukan?" Gumanya dalam hati.
Arion menatap Lovisa dengan dan meletakan tanganya di wajah Lovisa. Dia berusaha untuk tidak melakukan apa pun, tapi hatinya selalu ingin memeluk erat Lovisa dan bertindak selayaknya pasangan.
"Sentuhan ini mengigatkan ku pada kak Arion, seandainya dia ada disini dan memperlakukan ku dengan sehangat ini." Bisiknya dalam hati sembari mata yang berkaca-kaca.
Arion dengan tiba-tiba menarik Lovisa kepelukanya. Dia memeluk begitu erat, sembari memejamkan mata. Lovisa panik, dan tidak tau apa yang harus dia lakukan, lalu mencoba untuk melepaskan pelukan dari atasnya itu.
"Ada apa ini? Mengapa dia memelukku?" Gumanya dalam hati.
"Jangan bergerak! Biarkan aku memeluk mu sebentar saja!" Guman Arion.
Lovisa terdiam, dan membiarkan atasnya itu memeluknya. Namun entah mengapa firasatnya semakin kuat mengatakan bahwa yang memeluknya itu Arion.
"Bagaimana bisa aku membiarkan orang lain memeluk ku sembarangan?" Bisiknya dalam hati, dan segera mendorong atasnya itu.
Lovisa beranjak pergi, dengan air mata di pipinya. Dia tidak tau mengapa air matanya tiba-tiba tak henti mengalir. Hatinya semakin sakit menginggat Arion, yang mengatakan pernikahan dengan wanita lain waktu itu.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Dia semakin mengila di pikiran ku? Hiksss,,,pria itu menginggatkan ku pada kak Arion." Gumanya, sembari berjalan.
Drap,,,
Arion menahan tangan Lovisa dan menariknya ke pelukanya. Lovisa meronta-ronta, ingin melepaskan diri. Arion menekan punggung Lovisa ke pelukanya, dengan erat.
"Mengapa kamu menangis? Jangan biarkan aku melihat air mata itu! Tersenyumlha walaupun itu menyakitkan, dan jangan pernah menyerah!" Guman Arion.
"Hiksss,,,mengapa kamu sepertinya tau apa yang aku rasakan? Bagaimana bisa kamu menginggatkan ku dengan pria itu? Huhuu,,,,bagaimana pun aku tidak akan memberikan hati ku pada orang lain, selain menunggu dia." Bisiknya dalam hati.
Dring,,,dring,,,dring,,,,
Ponsel Arion tiba-tiba berdering, dan dia segera merogo-rogo kantong celananya. Dia beranjak ke sudut ruangan itu, dan menempelkan ponsel ke telinganya.
Lovisa yang tidak bisa menghentikan air matanya itu, berdiri bagaikan patung. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, karena menangis di depan atasannya, bahkan jatuh ke pelukan atasanya.
Beberapa menit kemudian, Arion menurunkan ponselnya dan memasukkan dalam kantong celana. Dia mengambil syal yang terletak di meja tata rias tersebut, lalu menutupi kepala dan wajah Lovisa.
"Apa yang ba,,,kamu lakukan?" Tanya Lovisa.
"Hari ini kamu ikut aku!" Guman atasanya itu, sembari menuntutnya dari ruangan itu.
Lovisa seperti seseorang yang di awasi, dengan penutup kepala dan wajah itu. atasanya berhenti di depan pemotretan, dan melambaikan tangan memanggil ketua tim.
"Lovisa tidak bisa bekerja hari ini, dia sedikit demam. Kalian bisa merekrut model lain, untuk menggantikanya!" Pintah atasnya itu.
"Ehhh,,,ada apa dengan Lovisa? Apa kami harus membawa dia ke rumah sakit?" Tanya salah satu anggota tim.
"Tidak perlu! Aku yang akan mengantarkanya ke rumah sakit. Kalian bekerja lha!" Guman atasnya tersebut, sembari memegangi syal yang menutupi kepala dan wajah Lovisa.
Lovisa yang merasa semakin bingung dengan perkataan atasnya. Dia ingin melepaskan tangan atasnya yang memegang selendang di kepalanya, namun merasa sedikit canggung karena matanya sembab.
"Jika mereka melihat ku yang baru menangis, pasti akan mencurigai sesuatu."
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❤