
2 hari kemudian
vila green house
Malam yang begitu kelam, dan menjadikan hawa yang dingin. Sudah begitu larut tapi Arion tidak bisa memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dia tidak bisa melupakan apa yang dia katakan pada Lovisa.
Sejujurnya dia memang masih menyukai Lovisa, namun sebuah penyesalan, di saat dia pergi waktu itu. Ayahnya dan ibunya bercerai, dan keluarganya semakin hancur.
Dia tidak bisa mengatasi pertengkaran antara ayah dan ibunya. Dia juga tidak bisa menarik kata-katanya untuk membantu Lovisa pada saat itu. Ibunya yang tidak terima bahwa suaminya memberikan uang senilai 1 M pada Arion, dan uangnya tidak tau kemana.
"Tuan, dokumen yang anda minta sudah ada di atas meja!" Seorang kepala pelayan.
"Aku akan memeriksanya." Menoleh.
Sejak waktu itu Arion menjadi tuan muda di keluarganya, dan semua kekayaan tiba-tiba muncul dari kerja keras ibunya. Ayahnya tidak pernah kembali, bahkan memberikan kabar.
"Tuan, seseorang mengirimkan mu surat sore tadi." Memberikan.
"Hah? Siapa?" Penasaran.
"Saya tidak tau tuan, tapi sepertinya surat ini sangat rahasia." Gumanya.
"Baiklha, kamu bisa pergi!" Pintahnya.
Arion memperhatikan amplop berwarna pink tersebut. Dia membolak-balik amplop itu, dan beranjak pergi ke meja kerjanya.
"Dring,,,,dring,,,,dring,,,,," Ponselnya berdering.
π² " Halo!?"
π² "Siapa ini?" Melihat no tak di ketahui.
π² "Hohoho,,,begitu jadi tuan muda yang kaya, sudah tidak mengenaliku." Tertawa.
π² "Aku tidak punya waktu untuk berbincang yang tidak penting." Ingin memutuskan panggilan.
π² "Wah benar-benar kamu ini. Aku di depan vila mu nih! Aku datang khusus mengunjungimu." Guman pria di seberang.
3 jam yang lalu Arion baru kembali ke Kota B dengan urusan bisnis baru yang mereka bangun di sana. Sebagai seorang pebisnis dia juga memerlukan beberapa keahlian dalam mengurus segala sesuatunya.
Rumah kontrakan Lovisa
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa yang masih terpuruk dalam perasaanya, berpikir untuk tetap bangkit walupun hal itu sangat sulit. Bagaimana pun dia harus mencari pekerjaan untuk ke berlangsungan hidupnya dan kedua adiknya itu.
__ADS_1
"Aku akan membuat surat lamaran yang banyak." Gumanya, sembari duduk.
"Kak, minggu depan kami akan mengadakan ujian. Dan ibu bendahara sudah berkali-kali menagih uang sekolah." Seorang gadis imut menghampiri Lovisa.
"Kamu yang sabar! Kakak belum dapat pekerjaan, nanti aku akan menelpon guru bendaharamu!" Gumanya.
"Tapi kak, uang sekolah ku sudah berbulan-bulan tidak di bayar. Percuma saja jika kakak meminta bantuan ibu bendahara. Mereka tidak akan memberikan kesempatan itu." Wajah menyedihkan.
"Baiklha, kamu pergi lha ke sekolah! Kakak akan memikirkan hal ini. Dimana kakak mu?" Berusaha menenagkan.
"Dia tidak pergi ke sekolah."
"Kenapa? Cepat bangunkan dia! Anak ini masih saja bermalas-malasan." Wajah kesal dan menghampiri adiknya ke kamar.
"Kak!" Menahan Lovisa dan menggelengkan kepala.
"Ada apa? Apa dia membuat masalah lagi di sekolah?" Tanyanya pelan.
"Kak! Kita bicarakan di luar saja!" Menarik Lovisa.
Halaman rumah
"*Dua hari lalu ketika kakak gak di rumah, kita pergi mencari pekerjaan. Kami mondar-mandir dari sepulang sekolah sampai malam. Dan ketika kami ingin pulang di tengah jalan bertemu dengan seorang kakak yang cantik. Kami mengobrol, lalu dia mengatakan punya lowongan kerja, dengan gaji yang akan di bayar perjam.
Aku dan Rere begitu senang mendegar perkataan kakak cantik itu. Malam itu juga kakak itu membawa kami untuk bekerja. Kami sempat curiga, karena dia membawa kami ke sebuah motel. Setelah tiba di sana, kita di suruh menunggu. Setelah beberapa menit aku dan Rere tidak sengaja mendegarkan pembicaraan kakak itu dengan bosnya.
Mereka ingin menjual kita pada om-om. Mendegar hal itu kita berusaha kabur, dan tidak di sangka Rere sudah terlanjur memakan makanan yang di sediakan di sana, dan pingsan. Aku tidak bisa menyeretnya keluar dan pergi mencari bantuan.
"Kurang ajar, ini semua gara-gara pria bermulut busuk itu. Jika bukan karena dia aku tidak akan meninggalakan kedua adikku." Emosi dan menyesal.
3 jam kemudian
πΊπΊπΊπΊπΊ
Β
"Apa kamu sudah lama menunggu?" Tanya Jiera.
"Nggak kok, aku masih baru nyampe." Jawabnya dengan lesu.
"Hei, ada apa dengan wajah konyol mu ini?" Bingung, dan menarik kursi yang ada di depanya.
Lovisa yang terlihat tidak ada semangat. Jiera menngajaknya untuk datang ke tempat biasa mereka mengobrol dari sejak kuliah.
"Oh iya, bagaimana hubungan mu dengan Arion?" Tanyanya.
"Apa kamu tidak memesan minuman?" Mengahlikan pertanyaan.
__ADS_1
"Aku sudah pesan tadi. Ayo cerita! Jangan katakan kalian bakalan berencana menikah iya? Wheheheheh." Bahagia.
"Jiera, apa kamu bisa membantuku mencari pekerjaan?" Mengahlikan pertanyaan lagi.
"Hohoho,,, ada apa dengan teman cantik ku ini? Jangan sembunyikan apa pun dariku!" Penasaran.
"Jiera, aku serius aku butuh pekerjaan."
"Hmmm, aku juga serius tuh. Katakan apa kamu telah bertemu dengan Arion? Jangan malu-malu, aku tidak akan bicara pada siapa-siapa kok." Menatap Lovisa.
"Jiera, bisakah kamu tidak menyebut nama orang itu?" Wajah menyedihkan.
"Ada apa? Apa dia sudah menikah? Katakan padaku!" Marah.
"Bukan-bukan! Syuttt,,,aih, kamu ini jangan keras-keras klo ngomong! Ini kan bukan rumahmu!" Menutup mulut Jiera dengan ke dua tangan.
Seketika hening, dan pandangan orang tertuju ke mereka berdua. Lovisa merasa begitu canggung dan malu. Jiera menatap Lovisa dengan penuh pertanyaan yang muncul sejak tadi.
"Huhhhh, awas aja klo dia berani menyakiti sahabat ku. Bakalan aku cincang dia. Jangan berbohong pada ku! Kamu harus menceritakan apa yang sudah terjadi!" Memelankan suara dengan wajah emosi.
"Duh,,,klo ngomong sama nih anak bisa-bisa aku ingin bunuh diri mendegar omelannya. Tapi klo aku nggak cerita tetap saja dia akan mencari tau terus." Berbisik dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatmu ini! Jika kamu menyembunyikan sepatah katapun, itu artinya persahabatan kita tidak sempurna." Menyakinkan Lovisa.
Jiera memegang kedua tangan Lovisa dengan wajah yang penuh harap. Melihat wajah yang begitu manis itu membuat Lovisa tidak bisa berbohong, dan mengatakan semuanya.
"Apa...!? Jadi kamu pergi begitu saja, tanpa mendapatkan apapun?" Suara yang begitu keras.
"Kan aku sudah ngomong jangan bicara keras-keras!" Wajah memerah melihat Jiera.
"Fiuhhh,,,bagaimana aku tidak terkejut? Laki-laki brengsek itu beraninya dia menyakiti ketulusanmu? Sekarang juga ikut denganku! Kita harus mengubah penampilan cantik mu ini menjadi sosok malaikat!"
"Jiera, aku tidak butuh mengubah penampilanku. Aku hanya ingin mencari pekerjaan sekarang, dan adikku Rere punya masalah yang sangat serius." Gumanya.
"Setelah kita mengubah penampilan baru mencari pekerjaan!" Berisi keras.
"Jiera!? Lagian aku sudah melupakan Arion. Bulan depan juga dia akan menikah, untuk apa aku mengubah penampilan ini?" Menyedihkan.
"Dasar wanita bodoh. Kamu butuh pekerjaan juga harus mengubah penampilan! Dan untuk laki-laki kurang ajar itu, aku akan memberikanya pelajaran." Emosi yang meluap-luap.
"Semua sudah terlambat Jiera! Aku juga sudah menghancurkan masa depan Rere, aku tidak berguna. Aku membiarkan mereka jatuh ke dalam jurang yang dalam, hanya karena memikirkan diriku sendiri. Huhuhuu,,,,seandainya hari itu aku tidak pergi, maka masalah tidak akan semakin rumit."
"Lovisa jangan bicara seperti itu! Emangnya masalah apa yang telah kamu perbuat? Dan kamu juga membawa nama Rere terus, ada apa? Jika mereka belum membayar uang sekolah, aku juga tidak keberatan untuk meminjamkan uangku! Bulan ini gajiku lumayan besar, kamu jangan kwatir!"
"Bukan hanya itu Jiera, tapi aku telah membuat kesalahan besar sebagai kakak. Rere di lecehkan dan sekarang dia tidak berani ke sekolah karena di ejek oleh teman-temannya. Kepala sekolah juga bahkan memberikan skor selama 2 minggu." Meneteskan air mata.
Jiera mendekati Lovisa dan memeluknya dengan erat. Dia menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu, dan berusaha untuk menenangkan hati teman nya itu.
__ADS_1
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€