
Market.
Arion berpakaian layaknya seperti seseorang yang mencurigakan. Dia pergi melihat-lihatย perlengkapan wanita, dan bingung.
Seorang karywan wanita menghampirinya dan tersenyum. Arion merasa malu untuk melakukan hl tersebut, namun dia merasa kasihan dengan Lovisa.
"Apakah anda sedang mencari perlengkapan untuk pacar?" Tersenyum.
"Bu...bukan. Ta,,tapi aku memerlukan yang sering di gunakan wanita saat...!?" Canggung dan tidak bisa berpikir jernih.
"Kamu tidak perlu malu! Pacarmu pasti akan bangga punya cowo yang pengertian sepertimu." Gumanya sembari terharu.
Beberapa pembeli wanita melihatnya, dan berbisik-bisik. Arion merasa malu, namun dia berusaha untuk menahanya.
"Merek apa yang biasa pacar anda pakai?"
"Merek?" Bingung.
"Berikan aku satu bungkus dengan merek yang berbeda! Dan itu,,,untuk meredahkan nyeri juga!" Menahan malu.
"Wahh,,, apa dia membeli itu untuk pacarnya?" Bisik pembeli.
"Dia begitu baik, beruntung sekali wanita yang menjadi pacarnya itu?" Guman salah satu karywan pada karywan lainnya.
"Hanya inikah yang di perlukan wanita saat sedang...!?" Menghela napas, merasa malu.
"Jika masih ada, tolong berikan aku beberapa yang di perlukan juga!" Wajah memerah.
"Laki-laki itu, selain tampan perhatian dengan pacarnya juga."
"Pengen punya pacar kayak dia jadinya."
"Duh,,, aku jadi begitu sedih mengingat pacarku yang brutal."
Bisik-bisik pembeli di market tersebut, sembari memperhatikan Arion.
Setelah membayar Arion cepat-cepat keluar dari dalam market. Dia menarik dan menghembuskan napas dengan begitu berat.
"Fiuhhhh.... mungkin aku sudah gila melakukan ini untuk wanita menyebalkan itu." Wajah yang begitu masih menahan malu.
beberapa menit kemudian Arion tiba di vila, dan segera memberikan pada Lovisa.
Dia berpikir selama lima menit untuk memberikanya, dan mencari alasan yang tepat.
"Tok...tok...tok..." Mengetuk pintu.
"kreeekkk...."
Lovisa terkejut melihat Arion masuk ke kamarnya. Arion mendekatinya dengan cepat, sehingga membuat Lovisa semakin ketakutan.
"Nih!" Memberikan dengan pandangan ke tembok.
"Apa?" Bingung dan memeriksa.
"Hah? ka...ka..kak Arion yang membelinya?" Kaget.
"Jika temanmu kemari itu akan membuat masalah. Jadi lebih baik beritahu dia agar tidak kemari besok!" Malu, dan segera keluar.
Arion menahan rasa malu, dan tidak tenang. Sesampai di dalam kamarnya dia menghela napas beberapa kali, dan berusaha untuk menenagkan pikiranya.
"Fiuhhh...."
SMA 2 Kota B
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Arion, aku memasak sesuatu untukmu!" Menyodorkan dengan malu-malu.
Arion tidak melirik sedikitpun lalu menghiraukanya begitu saja.
"Arion, apa kamu tidak bisa menghargai perasaanku?" Wajah sedih.
"Wow... kamu benar-benar wanita hebat, dan begitu berani."
"Wahhh,,, Jenny kamu sangat hebat."
"Duh,,, kamu tau gak klo Arion punya tempramen yang buruk?"
"Jenny, hanya memalukan dirinya sendiri."
Sekelas berbisik dengan tingkah temanya. Jenny satu kelas Arion yang di juluki bunga kelas. Dia sudah lama menyukai Arion, namun Arion tidak pernah menujukkan reaksi menyukainya.
"Arion, aku benar-benar sangat mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?" Keberanian yang luar biasa.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain?" Gumanya dengan dingin.
"Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali mengenalmu. Dan aku juga sudah mengabaikan beberapa laki-laki hanya karena aku mencintaimu."
"Lantas? Apa aku yang salah?"
"Tentu."
"Dimananya aku salah?"
"Kamu tidak bisa mengerti perasaanku."
"Apa sekolah tempat untuk pacaran?"
"Ta..tapi aku sudah menghabiskan banyak waktu."Sedih.
"Apa kamu benar-benar akan menolakku?" Terpukul.
"Menurutmu?"
"Arion, jika kamu membenciku maka apa kamu ingin melihatku menghilang dari dunia ini?"
"Aku tidak membencimu."
"Lalu, apa? A..apa yang kamu rasakan? Apa kamu juga mencintaiku?"
"Aku juga tidak mencintaimu."
"Lantas apa? Apa karena wanita yang jelek itu?"
"Nggak."
"Jika bukan karena dia lalu? Apa kamu nggak punya perasaan setelah aku terus berusaha untuk memberimu yang terbaik."
"Apa kamu tidak salah bicara?"
"Kamu sungguh menjijikan. Laki-laki sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan wanita sepertiku. Cuihhh." Marah bercampur malu.
"Seharusya aku yang mengatakanya." Menggelengkan kepala.
Wanita itu pergi begitu saja dan meletakkan kotak bekalnya di meja Arion. Semua teman sekelasnya hanya diam melihat percekcokan mereka sembari ada yang berbisik-bisik.
"Hei! Aku tidak suka barang seseorang menyentuh wilayahku!" Menoleh ke kotak bekal tersebut.
__ADS_1
"Sungguh keterlaluan, breng***. Aku menyesal hingga mempermalukan diriku sendiri."
"Ada apa melihatku? Apa kalian nggak punya sesuatu untuk di kerjakan?" Melihat teman sekeliling yang sedang memperhatikanya.
Semuanya panik, dan mengeluarkan buku masing-masing. Arion duduk, lalu melihat ke lapangan sekolah.
Pulang sekolah
"Egmont, benarkah Victoria kabur dari apartemenya?" Tanya Jiera.
"Kabur? Apakah karena hal ini dia nggak ke sekolah?" Guman Lovisa.
Mereka bertiga keluar dari kelas bersamaan. Egmont merasa gak senang di saat mereka menyebut nama Victoria.
"Egmont ada apa?" Tanya Lovisa
"Ibuku sudah datang, aku duluan iya!" Sembari melambaikan tangan ibunya.
Egmont menuju parkiran, dan mengabaikan pertanyaan Lovisa dan Jiera.
Ponselnya berdering, dia mengeluarkan dari kantong celana.
"Halo!?" Menempelkan ponsel ke telinga.
"Egmont cepatlha pulang, temanmu ada disini!"
"Teman? Siapa bu?"
"Cepatlha! Ibu lagi sibuk nggak bisa menemaninya ngobrol."
"Tut...tut..."
Vila gren house
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Sejak kemarin malam aku gak berani melihat kak Arion, apa yang harus ku lakukan?" Berbisik dalam hatinya.
"Paman bisa kah kamu panggilkan seorang dokter kemari?" Guman Arion.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" Panik.
"Bu..bukan. Aku nggak sakit, tapi dia!" Menoleh ke Lovisa.
"Mengapa kalian diam, tidak memberitahuku? Sejak kapan sakit?" Melihat Lovisa.
Lovisa menoleh, dan terkeju lalu membesarkan matanya. Arion diam dan memalingkan pandangannya.
"A..aku nggak sakit kok paman!" Gagap dan kesal.
"Paman dia berbohong!" Mendekat dan membisikkan.
"Tunggu, aku akan panggil dokter kesini. Kalian ganti seragam aja dulu! Paman yang menyiapkan makan siang, Lovisa istirahat lha tunggu dokternya datang!"
Lovisa menatap Arion dengan tajam. Arion tidak menoleh, dan pergi begitu saja ke kamarnya.
"Kak Arion apa yang kamu lakukan?" Menerobos masuk ke dalam kamar Arion.
"Ingin berganti pakaian." Santai.
"Kamu benar-benar gila. Aku hanya....!?" Merasa begitu malu.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
~****Terima kasih sudah mampir iya teman! Semoga suka dengan karyaku juga.~
"Salam hangatku๐**"