
"Aku tidak yakin kamu hanya datang bul..." Lovisa menutup mulut Arion dengan kedua tanganya.
"Tolong jangan lanjutkan!" Wajah memerah.
"Wanita ini!?" Gumanya dalam hati, sembari terbelahak, mata semakin membesar.
Lovisa menghela napas.
Restaurant
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Ibu aku pulang" Memeluk dan mencium pipi ibunya.
"Apa kamu mengendarai dengan kecepatan tinggi?" Terkejut.
"Nggak kok, dimana temanku yang ibu katakan?" Melihat-lihat.
"Ehh, tadi dia disana. Apakah dia sudah pergi?" Melihat sebuah meja yang sudah kosong melompong.
"Ahkkk,,, mungkin dia hanya datang mampir saja." Melepaskan ranselnya.
"Dia bilang ingin menemuimu kok. Dia cantik, kulitnya putih, dan rambut yang panjang." Guman ibunya.
"Ibuku, bisa kah kamu tidak halu?" Mengandeng ibunya.
"Ibu berkata benaran, coba saja kamu cek CCTV!"
Egmont mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan gambar Victoria pada ibunya.
"Apakah wanita ini?" Tanyanya.
"Ahhh,,, iya. Sepertinya dia sedang ada masalah. Matanya bengkak seperti habis menangis."
"Dia memang terlihat seperti itu. Aku kirain teman yang mana." Cuek.
Desa
π»π»π»π»π»
"Halo tante." Suara wanita dari dalam ponsel.
"Lovisa!?" Jawabnya dengan senang.
"Iya ini Lovisa, bagaimana kabar di sana tante?"
"Baik kok, bagaimana denganmu?" Sembari berjalan menuju ke rumah Lovisa.
"Baik juga tan."
"Tunggu sebentar iya, tante lagi di perjalanan menuju rumah kamu nih."
"Terima kasih banyak tante."
Orangtua Lovisa yang duduk sembari menganyam, dan kedua adiknya yang sibuk merapikan pekerjaan rumah. Ayahnya kebetulan gak pergi berkebun, sembari menunggu bibit.
5 menit kemudian
__ADS_1
"Rahel, putrimu ingin bicara denganmu!" Memberikan ponsel dintanganya.
Ibunya begitu senang, dengan wajah yang berseri-seri. Ayahnya mendekat, agar bisa mendegar suara putrinya lebih keras.
"Ibu!?" Nada penuh kerinduan.
"Lovisa, bagaimana keadaan mu disana nak?"
"Baik bu, bagaimana dengan kalian?"
"Baik. Mengapa kamu lama tidak menghubungi kami? Apakah semuanya baik-baik saja?" Cemas.
"Aku sibuk dengan tugas sekolah bu, aku punya kabar baik lho." Kembali semangat.
"Wah,, sepertinya putri ibu lagi senang iya?" Tersenyum.
"Hmmm, aku sangat senang. Apa ibu tau? Sekarang aku sudah punya ponsel, dan bibi itu membelikkan beberapa pakaian untukku."
Ayahnya tersenyum hangat mendegarkan perkataan putrinya tersebut. Tetangganya Elin juga ikut senang mengetagui hal itu.
"Kamu sangat beruntung nak, tapi jangan lupa berdoa iya! Kamu harus bersyukur setiap saat!" Guman ibunya.
"Iya bu. Ibu aku mengirimkan sepatu sekolah untuk adik-adik. Aku sudah memberitahunya pada tante Elin, dia akan membantu ibu mengambil kirimannya." Tersenyum.
"Dari mana uangmu membelinya? Apa kamu melakukan hal yang tidak terpuji?" Marah.
"Bu...bukan aku ingin membeli sesuatu untukku, tapi karena mengingat sepatu mereka sudah rusak makanya aku berubah pikiran."
"Jangan berbohong, mana mungkin kamu punya uang untuk membeli sepatu? Apa yang akan ibu dan ayahmu lakukan jika kamu melakukan hal buruk?" Curiga.
Wajah Lovisa berubah menjadi sedih. Dia tidak mengira ibunya curiga terhadapnya, dan kepercayaan yang berkurang drastis.
Orangtua Lovisa kaget, begitu juga dengan Elin. Mereka berpikir bahwa Lovisa telah melakukan hal di luar dugaan. Rahel ibunya gemetaran, dan mengembalikan ponsel tente Elin.
"Halo...? Halo...? Halo...?" Cemas, dan sedih.
Lovisa duduk tak berdaya, dia melihat ke luar kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Dia berpikir ingin pergi pulang dan memeluk orangtuanya dan kedua adiknya. Dia tidak percaya ibunya sebegitu curiga denganya.
"Lovisa, apa kamu tidak dengar? Paman Jaka menayaiku tau." Dengan kesal.
"Hiksss....hikssss....hikssss." Menangis terisak-isak sembari duduk menudukkan kepala.
"Lha, kenapa kami menangis? Masih bilang gak sakit, tapi kenyataanya memang sakit." Mengejek.
"Kamu bisa diam nggak sih?" Berdiri, dan meneriaki Arion.
"Apaan? Apa sifat aslimu sudah keluar sekarang?" Kesal sembari menyilangkan kedua tangan di dada.
"Diam! Keluar! Hiksss....hiksss." Menatap Arion dengan tajam.
"Berani sekali kamu?" Emosian.
"Kamu memang benar-benar menyebalkan. Gara-gara kamu, masalah semakin rumit."
"Bukan urusanku."
"Dasar bina****. Bagaiaman kamu bisa bicara seperti itu, apa kamu pikir semua pemikiran orang sama? Hiksss...hiksss."
__ADS_1
"Apa kamu bisa mengulangi perkataanmu?" Semakin kesal.
"Klo kamu nggak menyuruh paman Jaka memanggil dokter masalahnya nggak akan seperti ini. Bagaiamana aku menjelaskan pada ibu, dan ayah? Hiksss."
"Menjijikan, sungguh tidak tau malu." Dingin.
"Apa yang harus aku lakukan? Hiksss....hiksss....hiksss." Menangis tersedu-sedu.
"Bahkan aku sudah menyuruh paman Jaka untuk memanggil dokter kandungan, karena aku tau hal seperti itu hanya bisa di periksa oleh dokter bagian...." Terdiam.
Masalah yang rumit.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam itu aku benar-benar tersentuh dengan kehangatan. Pria yang aku sukai, begitu peduli denganku, bahkan rela membeli perlengkapan wanita untukku. Jujur, aku tidak bisa berkata apapun selain ingin memeluknya.
Aku menatap wajah tampannya, dan mulai membayangkan untuk bisa menggengamnya. Aku tidak meyadari bahwa umurku masih belum cukup untuk hal bodoh seperti itu.
Aku sempat kesal dengan kelakuannya yang begitu arogant, dan tidak peduli itu. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku di saat dekat denganya, dan berpikir untuk menikah denganya.
Hahahah,,, aku memang bodoh, umurku masih muda sudah berpikir sejauh itu. Tapi aku belum pernah merasakan hal bodoh seperti ini sebelumnya. Dia begitu kwatir dengan kesehatanku, sehingga menyuruh seseorang untuk memanggilkan dokter.
Namun aku tidak bisa mengerti akan diriku yang sebenarnya. Kali pertamanya sesorang pria mengetahuiku sedang datang bulan, dan pria itu yang aku suka dengan diam-diam. Aku begitu malu, dan ingin menghilang dari hadapanya.
Di balik kehangatan tersebut, terselip sebuah kesakitan yang tidak bisa aku pecahkan. Orangtuaku yang mendegarkan seorang pria mengatakan kepadaku bahwa seorang dokter kandugannya sudah datang untuk memeriksaku.
Orangtuaku terpukul, dan berpikir bahwa aku telah melakukan hal di luar dugaan. Aku merasa terpuruk di saat mengetahui bahwa kepercayaan mereka telah berkurang untukku.
Aku tidak mengira orangtuaku akan berpikir sejauh itu tentangku. Aku marah penuh emosi pada laki-laki yang aku suka, dan merasa kesal kepadanya karena sudah mengatakan hal yang membuat orangtuaku salah paham.
Aku meneriakinya, dan membuatnya emosi sehingga dia mengusirku dari rumah tersebut. Aku terpuruk tak bisa mengatakan apapun, karena semua adalah kesalahan yang telah ku mulai.
Aku pergi tanpa sepatah katapun, dan merasa begitu kehilangan segalanya. Aku ingin menjelaskan kepada orangtuaku, tapi mereka sudah sulit mempercayaiku.
Aku berpikir untuk tetap melanjutkan sekolah, tapi aku sadar bahwa uang sekolah begitu mahal, dan aku tidak punya siapapun di kota selain Arion.
Aku berjalan tanpa tujuan, dan terpikir untuk pergi menemui Jiera. Tapi aku belum pernah tau Jiera tinggal dimana, dan aku pergi menemui Egmont.
Aku kira Egmont akan menolakku untuk tinggal sementara waktu. Malah sebaliknya, ibunya mempekrjakanku di restaurant miliknya sepulang sekolah, dan aku bisa berpikir untuk lebih tenang.
Selama seminggu aku bagiakan seseorang yang tidak tau diri, tinggal bersama Arion, dan sekarang bersama Egmont. Aku bahkan tidak berani untuk melihat Arion, bahkan meliriknya pun aku tidak bisa.
Aku berpikir bahwa aku yang telah keterlaluan, telah meneriakinya dan bertingkah seperti seorang tuan putri. Suatu saat aku mendegar bahwa Arion mendapat penghargaan dari sekolah. Aku ikut bahagia untukknya, tapi hatiku tersayat di saat melihat Victoria memeluknya di hadapan banyak siswa.
Aku menahan rasa cemburuku, dan menggepalkan tangan untuk menahan emosiku. Aku memang tidak pantas untuk disukai orang seperti Arion. Aku hanya seseorang yang tidak tau berterima kasih.
Akan tetapi di saat aku pulang sekolah laki-laki yang aku suka itu, mengikutiku. Dan dia mengetahui bahwa orangtuaku salah paham. Ponselku yang aku tinggalkan saat itu, menerima pesan dari desa, bahwa orangtuaku menyuruhku untuk pulang jika memang aku sudah berbuat di luar dugaan. Hal itu membuatnya mengerti dan meminta maaf.
Jujur aku tidak ingin kembali ke rumahnya. Karena aku paham, bahwa aku terlalu bersikap tidak sopan, dan tidak bisa di andalkan sepenuhnya. Tapi Orangtuanya bicara denganku melalui telpon, dan meminta tolong untuk kembali. Aku tidak bisa membiarkan orangtua yang memohon padaku, dan aku pun kembali.
Orangtuaku mengetahui semuanya, karena ibunya menjelaskan melalui telpon. Orangtuaku tidak lagi marah, dan merasa bersalah. Kami pun kembali ke jalur seperti awal, tapi mungkin tidak hanya sampai di sini. Aku masih belum menyelesaikan persaanku terhadapnya.
Bersambung....
πππππ
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.π
__ADS_1
Salam hangatkuπ**