
Arion dan Lovisa pergi ke taman hiburan. Bagi Lovisa ini adalah pertama kali baginya pergi ke taman hiburan. Arion memakai pakaian casual yang terlihat elegan dan manarik.
Lovisa terlihat tidak baik-baik saja, dengan raut wajah yang begitu membingungkan sejak beberapa menit yang lalu. Arion sekali-kali melirik Lovisa.
"Heh? Bagaimana klo kita naik kapal bajak laut?" Tanya Arion dengan kelembutan.
"Hah?" Menoleh dengan bingung.
"Yok," Tersenyum dan menarik tangan Lovisa.
"Itu benar-benar tinggi. Apa kita kan baik-baik saja setelah menaikinya?" Kwatir.
"Kamu tidak usah banyak berpikir! Naik kapal bajak laut sangatlha menyenangkan."
Setelah beberapa menit mereka naik kapal bajak laut dengan penuh semangat. Arion duduk sembari menoleh Lovisa dan tersenyum hangat. Lovisa merasa canggung karena sikap Arion yang tiba-tiba berubah jadi lembut.
🍁 Manusia tidak akan tau,,,,
Apa yang sebenarnya terjadi, walaupun hati semakin berdebar
Dan ingin menggengam erat tangan mungilnya,
Bumiku, sejak kapan aku telah jatuh hati padanya???
🍁Mengapa hatiku sakit melihat wajah sedihnya,
Dan ingin memeluknya untuk pertama kali,
Tapi....ku tak sanggup untuk saat ini
Hanya dia yang mampu mengubah selangkah demi selangkah hidupku,
🍁Aku ingin dia tetap semangat, dan tatapan penuh kasih sayangnya.
Mampu mengubah kepahitan dengan kemanisan
Sungguh ku tak menyangka, semua terjadi seiring berjalanya waktu
Ku ingin memilikinya, walaupun nyatanya akan sulit untuk di hadapi.
Setelah menaiki kapal bajak laut mereka pun pergi mencoba permaianan lain. Lovisa tampak murung kembali, dan pandangan begitu terlihat jelas sedang bersedih.
"Lovisa, apa kamu suka kembang gula?" Tanya Arion?
"Hah?" Terkejut dari lamunannya.
"Kenapa begitu nggak semangat? Apakah kamu tidak enak badan?"
"Ahhh,,,wheheeh aku baik-baik saja kok." Mencoba menutupi kesedihan.
"Wanita ini benar-benar sulit di tebak." Bisiknya dalam hati.
🌹Mengapa dia begitu lembut padaku?
🌷 Aku tidak ingin membuatnya membebani dirinya.
🌹Jangan menatapku seperti itu! Aku bisa salah paham.
__ADS_1
🌷Wajah mungilnya sungguh membuatku terpikat.
🌹Ingin aku memeluknya untuk pertama dan terakhir kalinya.
🌷Apa yang telah kamu pikirkan? Bisakah aku memelukmu?
🌹Aku tidak habis pikir untuk semua kebaikanmu.
🌷Wanita ini benar-benar membuatku tidak mampu berkata-kata.
Lovisa dan Arion saling berbisik dalam hati masing-masing. Arion menghela napas dan meraih tangan Lovisa lalu menggengamnya dengan perlahan penuh kasih sayang.
Lovisa kaget dan menoleh Arion sembari wajah yang kebingungan. Arion melihatnya dan tersenyum lalu membawa Lovisa ke sebuah toko aksesoris.
Lovisa masih begitu bingung dan melihat Arion sekali-kali merasa gugup.
"Jangan melihatku dengan wajah menakutkan itu!" Guman Arion sembari tersenyum.
"Kak?" Tidak tau apa yang ingin dia katakan.
Arion tersenyum dan berhenti lalu berdiri di hadapan Lovisa. Dia melepaskan gengamannya dan mengelus-elus kepala Lovisa dengan lembut smbari tersenyum.
Lovisa merasa begitu gugup, dan jantungnya tidak bisa di kontrol. Dia tertunduk dengan wajah yang memerah. Arion mengerutkan dahi melihat ekspresi Lovisa dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Lovisa.
"A...apa yang ingin dia lakukan?" Bisik Lovisa dalam hati.
"Apakah dia berniat ingin menciumku? Tidak, itu tidak akan ku biarkan." Berpikir keras " Tapi aku rasa hal ini juga tidak apa-apa. Dia adalah orang yang pertama membuatku bisa tersenyum, dan mungkin setelah aku pulang ke desa kami tidak lagi bisa bertemu."
Lovisa yang begitu mencintai Arion mengiginkan bahwa hubungan mereka lebih dari saat itu. Lovisa menutup matanya, lalu mendekatkan wajahnya, dan menunggu tindakan apa yang akan di lakukan oleh Arion.
"Aihhh." Kaget, dan memgang jidatnya.
"Aku udah merasa lapar, yok cari makan dulu!" Ajak Arion.
"Hah? Ba...baik, baiklha." Merasa malu.
Ponsel Lovisa berdering, lalu dia merogo-rogo tas kecilnya. Dia menerima panggilan tersebut dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Lovisa, apa kamu baik-baik saja?" Suara seorang laki-laki.
"Iya, ada apa?" Tanyanya.
"Ngagetin aja. Aku kira kamu sakit makanya nggak masuk sekolah."
"Ohhh, aku ada urusan jadi nggak datang ke sekolah."
Arion berdiri dengan kedua tangan di dalam kantong celana sembari memperhatikan Lovisa yang sedang berbicara.
"Urusan apa sampai membuatmu tidak bisa datang ke sekolah?" Penasaran.
"Lovisa siapa yang berbicara? Hidanganya udah mau digin jika tidak segera di nikmati rasanya akan hambat." Guman Arion.
"Ehhh, kok ada suara cowok? Siapa itu?" Tanya Egmont cemburu.
"Ahhh, bu...bukan siapa-siapa kok. Wheheheh."
__ADS_1
Arion merasa kesal dengan jawaban Lovisa yang mengatakan dirinya bukan siapa-siapa. Lovisa tidak ingin ada yang salah paham dengan dirinya dan Arion, sehingga berusaha untuk tidak memberitahukanya.
"Lovisa sayang, kenapa kamu berbohong? Apa kamu tidak suka iya aku menamanimu lagi?" Mendekati Lovisa bicara dengan kesal.
🌺🌺🌺🌺🌺
Egmont merasa aneh, dan cemburu juga. Dia segera menurunkan ponselnya dan memutuskan panggilan dengan Lovisa.
Egmont yang berdiri dengan wajah kesal tersebut segera melacak lokasi Lovisa. Dia mengambil jaket berwarna hitam, dan menggunakan sarung tangan untuk berkendara.
"Mau kemana kamu?" Tanya ibunya yang melihat Egmont terburu-buru.
"Aku ingin pergi keluar sebentar ibu." Sahutnya.
"Hei! Jangan lari kamu! Ibu ingin pergi ke party teman siapa yang menjaga restaurant?" Sembari berjalan ke arah pintu.
Egmont memakai helm, dan menoleh ke ibunya sembari terswnyum tanpa ragu. Ibunya begitu bingung, dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Egmont yang terburu-buru tidak seperti biasanya.
"Aku pergi dulu ibu." Memainkan mata pada ibunya.
"Aiszzzz, anak zaman sekarang benar-benar tidak penurut. Fiuhhhh...." Guman ibunya.
Cafeteria
🌺🌺🌺🌺🌺
Arion memesan beberapa makanan sederhana, dan juga minuman. Lovisa heran untuk makanan yang di pesan Arion seharusnya cukup untuk lebih dari enam orang.
"Mengapa kak Arion memesan makanannya begitu banyak?" Tanyanya dengan bingung.
"Aku ingin kau mencicipi beberapa hidangan yang ada di tempat ini." Dengan santai.
"Bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan semua makanan ini?" Heran.
"Siapa suruh kamu akan menghabiskannya?"
"La...lalu?"
"Dasar wanita bodoh, masih tetap tidak ingin memberitahuku iya?"
"Hah? Memberitahu apaan?" Bingung.
🍀🍀🍀🍀🍀
Catatan kecil :
"Thor, kamu kenapa tega sih?" Wajah kasihan.
"Sudah seharusnya, mau gimana pun hal itu memang tidak bisa terjadi." Ketus.
"Gak seru akh, masa aku harus rel melihat Lovisa bersenang-senang dengan Anak laknat itu?"
"Mereka tidak bersenang-senang, tapi hanya acara untuk perpisahan saja."
"Bodoamat, aku gak mau tau! Pokoknya aku yang harus menjadi masa depn buat Lovisa."
"No,,,no,,,no,,,sayang! Masa depanmu tidk bersamanya. Tapi dengan wanita yang sudah tentu akan jadi pilihanmu sendiri, selain Lovisa."
__ADS_1
"Hiksss,,,,hikssss,,,,hikssss. Tak ku sangka aku harus mengalah total." Mengigit sarung tangan miliknya sembari menagis menahan emosi.