
"Ehhhh...." Lovisa ingin terjatuh.
Arion dengan sigap menangkap Lovisa ke pelukanya. Arion menatap Lovisa dengan lembut dan mata yang bercahaya. Lovisa terbelahak dan memandangi wajah tampan Arion tersebut.
"Deg....deg....deg...deg...." Detakan jantung Lovisa yang semakin cepat.
"Dia sangat manis." Bisik Arion dalam hatinya.
Arion mendekatkan wajahnya ke Lovisa. Dia menatap dengan begitu penuh kebahagiaan. Lovisa mengerutkan dahi dan melotot melihat wajah Arion yang semakin mendekat.
"Nak Arion, bibi sudah memasak soup kesukaan...!?" Masuk tanpa mengetuk pintu.
Arion yang terkejut, segera melepaskan Lovisa. Dan batuk-batuk merasa gugup dan duduk kembali ke kursi belajarnya.
"Duhh,,,benar-benar menyebalkan." Kesakitan.
"Astagah, apa kamu baik-baik saja?" Bibi Susan segera membantu Lovisa.
"Iya, aku gak apa-apa kok tante!?" Tersenyum paksa.
"Kamu jangan terlalu banyak bergerak! Tanganmu terluka." Mendudukkan di tempat tidur.
"Bagian paha dan punggung juga tergores tuh." Guman Arion tanpa ekspresi.
"Akhhh,,, ba...bagaimana kak Arion...?" Panik.
"Dia pasti tau, dialah yang memandikanmu. Wheheheheh." Bisik bibi Susan.
"Ahhhhhh...mana mungkin si ******* ini....!?" Menyesal, dengan kepanikan.
"Istirahatlha! Aku akan mengambilkan semangkok soup untukmu!" Beranjak pergi.
"Jangan mengataiku seperti itu! Tapi klo kamu senang tidak apa-apa juga, sebagai hadiah sudah memberi kesempatan." Tanpa ekspresi.
"Wahhh....hikssss,,,,hiksss,,, dasar orang gak punya hati."Merasa kecewa.
Arion tersenyum kecil, dan menutup buku di depannya. Lovisa menangis menyesali, dan membayangkan apa yang dia lakukan dengan Arion. Dia membungkukkan badanya sembari menangis terisak-isak.
"Tidak ada gunanya menangis! Yang sudah terjadi, biarlha terjadi. Bukankah begitu?" Bisik Arion dengan nada penuh kegembiraan.
Bibi Susan menyajikan sop di mangkok. Paman Jaka membantunya untuk membersihkan vila tersebut. Bibi Susan nggak habis pikir dengan apa yang dia lihat di lantai atas.
"Syutttssss, Jaka!" Melambaikan tangan.
"Ada apa?" Menoleh.
"Sepertinya Arion dan gadis itu sudah terlalu sering anu...!?"
"Jangan banyak berpikir yang aneh-aneh!"
"Kamu tidak tau sih. Barusan aku dari kamar Arion, dan melihat mereka berpelukan seperti ini." Memperaktikkan.
"Huhhh, kamu ini. Namanya juga anak remaja, pastilha akan tertarik dengan lawan jenis."
__ADS_1
"Tapi mereka masih terlalu muda."
"Aku aja dulu masih SMP udah melakukanya."
"Apa? Kamu ini pantasan saja masih umur segitu udah punya 4 anak ." Kesal.
"Wheheheehh,,, iya dong. Istriku juga terlalu cantik makanya aku gak bisa menahan."
"Kita harus berbuat sesuatu pada mereka, jika tidak bagaimana klo mereka berhubungan lebih jauh?"
"Kita tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka!"
"Kamu ini. Bagaimana jika nyonya besar tau? Habislha kita."
"Selama kamu tidak mencari masalah mungkin hal itu tidak akan terjadi."
"Konyol. Padahal aku ingin menjadikan Arion pacar putriku." Berbisik dalam hati.
"Jika kamu sudah baikan pindahlha ke kamarmu!" Guman Arion.
"Dasar laki-laki menyebalkan. Hiksss,,,,hikssss."
"Wheheheheh, jangan nangis terus dong! Toh juga kamu ngak nelawan tadinya."
"DIAM...." Meneriaki Arion, dan menatapnya dengan hawa yang begitu menakutkan.
Arion menaikkan kedua bahunya, sembari mengerutkan dahi. Arion melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan tersebut dan senyum-senyum.
Bibi Susuan membawa semangkok soup, dan berjalan dengan hati-hati.
"Nak Arion?" Berjalan.
"Hmmm." Segera mengubah wajah tanpa ekspresi.
Lovisa tak henti menangis di kamar Arion. Dia menudukkan kepalanya dan merasa begitu menyesal. Bibi Susan masuk dan meletakkan soup tersebut di meja yang ada di ruangan itu.
"Non? Ada apa?" Mendekati Lovisa.
"Hiksss,,,hikssss tante?" Menangis sembari mengangkat pandangan.
"Ada apa? Mengapa kamu menangis? Apa badanmu masih sakit semua?" Bingung.
"Bu...bukan hiksss,,,, tapi itu...!?" Gemetaran.
"Ada apa? Kamu jangan menagis terus dong!"
"Laki-laki brengsek itu, mengambil kesempatan tante."
"Kesempatan?" Bingung.
"Hwaaaaa....."
"Kamu jangan nangis terus! Lagian udah berlalu juga." Mulai kesal.
__ADS_1
"Tante, gimana gak kesal? Kesucianku di renggut sama bocah tengik itu." Tidak terima.
Bibi Susan terkejut dan makin kesal mendegarkan hal tersebut. Dia berdiri dan pergi dari ruangan itu.
"Cihhh,,,gadis nakal itu masih berpura-pura tidak senang dan menangis. Dia seharusnya tidak ada disini, putriku jauh lebih cocok dengan Arion. Lihat aja, aku akan membuatmu pergi dari tempat ini. Menjijikan sekali, dasar tidak tau malu." Berbisik dalam hati penuh kebencian.
ROSE SPA
πΊπΊπΊπΊπΊ
Victoria begitu gembira karena apa yang dia lakukan terhadap Lovisa membuatnya semakin semangat. Dia berpikir untuk mengajak teman-temanya yang membantunya membully Lovisa pergi ke salon bersama.
"Wahhh, kamu benar-benar hebat Victoria."
"Hmmmm." Tersenyum sinis.
"Duhhh, udahlha iya! Kalian gak usah bengong gitu dong! Teman kita Victoria sudah ngajak kita, tentunya kita bisa melakukan apapun."
Victoria menoleh temannya yang berbicara tersebut. Temanya itu menciut dan memalingkan pandangan. Victoria tersenyum dan beranjak masuk ke ruangan salaon SPA tersebut.
"Dia benar. Yuk kita ambil treatmen! Soal pembayaran kalian tidak usah kwatir!"
"Ohh, makasih banyak Victoria."
"Kamu memang yang terbaik."
"Aduh, nggak nyesal aku jadi temanmu Victoria."
"Aku mau facial, pedicure, menicure dan juga perawatan rambut nih."
"Iya,,,iya aku juga mau sekalian message."
Semua teman yang datang bersama Victoria begitu senang. Mereka berbicara begitu manis, dan mulai beranajak untuk mengambil treatment masing-masing.
"Huhhh, dasar anak-anak sampah ini. Mereka ingin mengrogotiku hingga mati, untung saja om harlen memberiku uang yang cukup banyak. Jika mengandalkan ayah aku mati saja dia mengurusnya udah bagus." Bisik Victoria dalam hati.
Victoria duduk dan melambaikan tanganya memanggil pelayan yang ada di di ruangan itu. Pelayan tersebut langsung menghampiri Victoria dan membawa sebuah brosur.
"Halo nona, ada yang bisa saya bantu?" Ramah.
"Hmmm, kita mau melakukan treatmen. Kami ingin menikmati treatmen terbaik di SPA ini." Angkuh.
"Baik non. Mohon tunggu sebentar!" Tersenyum dan beranjak pergi.
"Wahhh,,, Victoria kamu serius? Treatment terbaik di sini lumayan mahal lho!?"
"Aku tau. Kita hanya perlu menikmatinya kan? Jika kamu tidak suka, bisa pergi kok." Jawabnya dengan sombong.
"Bu...bukan begitu tapi kamu juga harus memikirkan bahwa kita banyak."
"Aku tidak peduli sekali pun banyak. Mau bertambah beberapa orang juga tetap gak rugi."
"Baiklha."
__ADS_1
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€