Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 21


__ADS_3

"Perutku kenapa terasa nggak enak iya? Kok mulesnya aneh...hkkssss." Wajah mulai memucat.


"Mungkin karena kemarin banyak minum soda kali. Aku masih harus membersihkan ruangan musik." Segera bergegas.


"Duh,,, kok makin mules? Kenapa sakit banget? Padahal aku nggak ada makan yang aneh-aneh kok bisa?" Berkeringat.


"Duh, kayaknya nggak saggup lagi bersih-bersih. Aku harus ke kamar dulu, duh..hkssss...ahhhhkkk. Berdiri makin sakit, aku harus duduk sebentar." Wajah yang semakin memucat.


"Nggak mungkin aku datang bulan. Lagian biasanya nggak pernah sesakit ini juga, mungkin terlalu capek kali." Duduk dan bersandar ke sofa.


"Duh makin sakit,,,aku panggil kak Arion nggak iya? Nanti dia bakalan marah nggak klo aku menggangunya?" Berpikir keras.


"Nnggak bisa. Itu akan mempersulitkanku untuk mendekatinya jika membuat dia kesal." Menahan sakit.


"Mengapa wanita itu belum membersihkannya?" Mengerutkan dahi.


"Huuuhhhhh, akhhhhhh. Sakit banget,,, duhhh kenapa sakit banget? Akhhhhhrgggg..." Suara dari balik sofa.


"Suara? Apa seseorang sedang melakukan hal jinah?" Berbisik dalam hati dan mencoba memperhatikan.


Lovisa semakin pucat, dengan wajah yang berkeringat. Dia memegangi perutnya, dan merasa begitu kesakitan hingga pingsan.


"Mungkin pikiranku sedang tidak baik." Terdiam karena sudah hening.


"Kaki siapa disana?" Kaki yang terlihat dari balik sofa.


Arion menghampiri sofa "Arghkkkk." Panik.


"Ada apa denganya? Apa seseorang membunuhnya?" Mengoyang-goyangkan dengan kaki.


"Dia nggak bergerak, mungkinkah....? Arghkkkkk,,,, gak aku harus menelpon polisi." Panik dan gemetaran.


"Duh,, ponselku kuletakkan dimana lagi?" Sibuk mencari.


Arion menoleh ke Lovisa dengan takut-takut. Dia melihat kejangalan dan memperhatikan dengan begitu teliti.


"Darah, apa seseorang sudah memperkosanya?" Tercengang, melihat percikan darah di celana Lovisa.


"Duh,,, aku harus bagaimana ini? Klo dia di perkosa mungkinkah orangtuanya akan berpikir aku pelakunya? Jika begitu aku lebih baik berpura-pura tidak melihatnya." Panik dan keluar dari ruangan tersebut.


Setelah di depan ruanga Arion menoleh kembali, dan tidak tega meninggalkan Lovisa, dan segera menggendongnya.


"Aku harus menolongnya terlebih dahulu. Mungkin wanita ini telah kehilangan kesuciannya, tapi aku harus menolongnya juga. Jika sudah meninggal, bisa jadi hantunya gentayangan dan menakut-nakutiku." Membaringkan di kasur.


"Ehh, sepertinya dia hanya pingsan." Memeriksa nadinya.


Setelah beberapa menit Lovisa sadar, dengan wajah yang masih memucat.


"Kenapa aku disini? Bukankah ini kamar kak Arion?" Bangkit dari tempat tidur.

__ADS_1


"Arghkkkkkk....." Panik dan terkejut melihat percikan darah di tempat tidur.


"Duh..." Kesakitan, dan memegangi perutnya.


Arion masuk sembari membawa ponselnya. "Kamu sudah sadar?"


"Brakkk...Apa kamu sudah gila?" Menampar Arion dengan kesal.


"Apa-apaan ini?" Wajah berubah emosian.


"Ka..kak Arion mengapa? Mengapa...?" Menunjuk ke tempat tidur yang ada percikan darah.


"Wanita nggak tau malu, apa kamu pikir dengan menujukkan hal itu membuatku akan jatuh ke tanganmu? Sungguh menjijikan dasar wanita menyebalkan, payah. Cuihhhh." Tidak terimah.


"Aduh... perutku masih sakit." Memegangi.


"Keluar.....!" Meneriaki dengan kesal.


"Kamu melakukannya, dan menyuruhku keluar begitu saja? Hkssss,,,sakit banget, huuuuhhhh." Berkeringat dingin, dan sekujur tubuh gemetaran.


"Apa kamu tidak mendegar! Keluar sekarang juga! Tidak pantas untuk orang sepertimu tinggal disini." Wajah penuh kekesalan.


"A..apa? Dia mengusirku dari rumah ini? Bagaiaman bisa, dia mengusirku dalam keadaan seperti ini? Bahkan sudah mengambil kesucianku." Bisik dalam hati dengan wajah emosian.


"Laki-laki breng***. Kamu beraninya mengotoriku, dan sekarang mengusirku begitu saja." Ingin menampar penuh emosian dan di halangi.


"Tanganya kenapa begitu dingin?" Bisik Arion dalam hatinya.


"Lepaskan tanganku breng***." Menghempaskan.


Lovisa berusaha untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Arion terbelahak dan merasa begitu sangat malu.


"Sepertinya wanita itu salah sangka, dan dia nggak tau klo dia lagi anu...!?" Mengetahui sesuatu.


"Hei! Bukanya kamu sedang itu...!?" Malu-malu.


Lovisa berusaha berdiri dengan benar, dengan penuh amarah. Arion berpaling kesana, sini merasa canggung ingin memberitahu.


"Jangan harap aku ingin tinggal disini lagi! Terima kasih untuk semuanya." Pergi begitu saja.


"Klo aku nggak menjelaskan bisa jadi masalahnya akan rumit." Berbisik dalam hati, dan mencoba ingin memberanikan diri.


"Lovisa, sepertinya kamu lagi datang tamu! Deng...deng....deng...." Terdiam.


"Tamu? Maksudnya aku lagi datang bulan kah?" Berpikir dalam hati.


Lovisa melirik ke Arion, dengan wajah memerah sembari kebingungan.


"Astagah, aku ceroboh sekali. Tapi aku ingat tanggal sekarang bukanlha waktunya, dan aku belum pernah merasa kesakitan seperti ini." Gumanya dalam hati.

__ADS_1


"Ka...kamu jangan memikirkan perkataanku tadi! Kamu pergilha istirahat, aku akan berpura-pura tidak mengetahui apapun." Mencoba untuk menenangkan suasana.


"Duh,,, malunya. Rasanya lebih baik mati dari pada menahan rasa malu ini. Gimana nih? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bahkan menatapnya pun sudah tidak mungkin." Menyesal sembari memegangi perutnya.


2 jam kemudian.


Arion melihat meja makan kosong, dan menoleh ke kamar Lovisa. Dia menghela napas untuk mencoba menenagkan emosi.


"Apa wanita itu ingin membunuhku?" Menghampiri kamar Lovisa.


"Tok...tok...tok..." Mengetuk pintu.


Lovisa terbaring di tempat tidur, dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan. Dia merasa begitu kesakitan, dan tidak bisa menyajikan makan malam.


"Apa kamu ingin membunuhku?" Teriak Arion dari balik pintu.


"Duhhh...Kak Arion bisakah kamu masak sendiri untukmu? Malam ini saja!" Guman Lovisa.


"Aku gak bisa melakukanya." Dengan dingin.


" Klo nggak pesan makan dari luar aja!"


"Nggak suka."


"Duh...aku benar-benr gak punya tenaga."


"Bukan urusanku."


"Apa kamu benar-benar manusia atau bina****?" Meneriaki dari dalam kamar.


"Mana ku tau?"


"Menyebalkan, apa kamu tidak punya hati sedikit pun? Jika tidak rebuskan indomie untukmu!" Mencoba menahan emosi.


"Tidak selera."


"Aku nggak memakai pemba***, makanya keluarpun....!?" Nada rendah.


Arion tercengang, dan merasa malu. "Lalu sampai kapan kamu disana?" Berpura-pura tidak mengerti.


"Aku nggak tau, tapi aku sudah menelpon Jiera, mungkin besok pagi dia baru bisa kesini." Gumanya.


Lovisa merasa begitu malu untuk memberitahunya, namun tidak ada jalan lain. Dengan tempramen Arion yang begitu dingin, tidak akan muda untuk mempercayai seseorang.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.😊


Salam hangatku😘**

__ADS_1


__ADS_2