Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 46


__ADS_3

Atasanya membawa Lovisa ke tempat parkir, dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya. Lovisa tidak mengerti mengapa atasanya itu membawanya ke mobil.


"Apa yang ingin bapak lakukan?" Tanyanya bingung.


Dia menarik syal itu dan menaruhnya di kursi belakang mobil. Dia masuk ke dalam mobil tersebut, lalu menyetir.


"Apa bapak gak dengar?" Tanyanya mulai kesal.


Dia hanya fokus menyetir, dan mengabaikan Lovisa bicara. Setelah beberapa menit mereka tiba di green house. Lovisa tercengang melihat orang di sampingnya itu membawanya ke vila tersebut.


"Mengapa bapak membawa ku kemari?" Tanya Lovisa.


"Apa kamu masih ingat tempat ini?" Tanya pria itu.


"A,,,ada apa? Mengapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu pada ku?" Masa lalu yang mulai mengrogoti pikirannya.


"Kamu hanya perlu jawab iya atau tidak!" Pintahnya.


Lovisa membuka pintu mobil tersebut dan keluar dari dalam. Dia berjalan ingin pergi dari tempat itu. Pria itu menghentikanya, dengan cepat.


"Siapa dia? Beraninya membawa ku ketempat sial ini." Guman Lovisa, sembari menangis.


Air mata Lovisa mengalir spontan ketika melihat vila itu, dan teringat akan perasan yang dia simpan selama bertahun-tahun untuk Arion.


"Hiksss,,,aku tidak ingin menginggat masa lalu bodoh bersama pria brengsek itu." Gumanya.


"Lovisa, tunggu!" Menahan tangan Lovisa.


Lovisa menghentikan langkahnya, lalu menghempaskan tangan pria tersebut, dan menoleh ke pria itu. Karena kesal, dan di penuhi emosi dia pun menampar pria itu dengan sangat keras.


Plak...


"Kamu kira, siapa makanya ingin mengurusi hidup ku?" Gumanya tanpa ragu.


Pria itu terkejut, dan memegangi wajahnya yang memerah itu. Dia tidak marah, dan bisa mengerti akan perasaan Lovisa saat itu.


Lovisa tidak peduli dengan jabatan pria itu, lalu melangkahkan kakinya cepat. Pria tersebut mengejarnya, dan menahan tangan Lovisa kembali.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan? Jika kamu tidak senang dengan perlakukan bawahan seperti ku, aku juga tidak apa-apa di pecat." Gumanya kesal.


"Lovisa dengarkan aku!" Gumanya.


"Apa hak Anda mengatakan seperti itu? Aku tidak mengenal Anda, jadi tolong jangan berbuat sembarangan!" Gumanya, dengan air mata yang tidak henti-henti.


"Tapi aku mengenal mu Lovisa. Aku sangat mengenal mu dan karena itu tolong dengarkan aku!" Gumanya.


"Diam!" Teriak Lovisa makin kesal.


"Maafkan aku Lovisa, dan untuk kemarin malam kamu juga tidak menolak ciuman itu." Tanpa ragu.


Lovisa terkejut mendegar perkataan pria itu, dan menatapnya dengan bingung. Dia tidak tau soal ini, tapi pria itu berusaha untuk memperbaiki situasi.


"Apa yang kamu katakan?" Bingung.


"Aku tidak sengaja, dan aku juga merasa hal itu tidak begitu buruk. Karena aku tau..."


"Kamu mengambil keuntungan dari aku?" Tak bisa berhenti memikirkan hal itu.


"Bukan seperti itu, tapi aku ternyata orang bodoh. Aku berpikir ingin melupakan mu, namun hal itu sangat sulit aku lakukan Lovisa.


Aku ingin selalu bersama mu, dan menjalani kehidupan seperti perjanjian waktu itu. Aku ingin mencari segalanya dari awal bersama mu. Maafkan kekejaman yang aku lakukan selama ini, aku hanya saja....!?"


"Kamu...kamu!?" Bingung.


"Aku Arion, aku laki-laki yang tidak bertanggung jawab dengan perjanjian kita. Aku memang tidak pantas untuk di cintai. Tapi aku tidak ingin membuat mu larut dalam kesedihan. Aku ingin menjalani setiap hari-hari bersama mu Lovisa.


Hikss,,,hiks,,,,


"Jangan menangis! Air mata itu memberikan luka di hati ku Lovisa."


"Kamu pembohong, jangan mencoba untuk mengatakan hal yang tidak masuk akal kepada ku!" Tidak percaya.


"Aku tidak bohong Lovisa. Waktu itu, aku memang terlalu egois dengan perasaan ku, sehingga tidak ingat klo perasaan saling menyukai itu masih ada hingga detik ini."


"Maaf tapi, aku tidak pernah menyukai pria seperti itu. Aku sudah memutuskan untuk melupakan mu." Guman Lovisa sedih.

__ADS_1


Arion menarik Lovisa kepelukanya, dengan erat dia memeluk Lovisa.


"Aku sungguh-sungguh minta maaf Lovisa, dan tidak akan mengulangi hal itu lagi." Gumanya.


🌺🌺🌺


Victoria duduk dengan wajah yang sedikit pucat. Dia beusaha menelpon suaminya, karena merasa perutnya kesakitan sejak beberapa menit lalu.


Tut...tut....


Panggilan yabg di tolak berkali-kali. Victoria pun mencoba menahan rasa sakit itu, dan membaringkan badanya di atas tempat tidur.


"Kemana dia? huh....perut ku benar-benar sakit." Gumanya kesakitan.


Sudah berhari-hari Egmont tidak pulang ke rumah, bahkan membohonginya. Dia tidak pernah tau, bahwa pria yang dia nikahi tidak menganggapnya.


"Jika memang dia tidak bisa mencintai ku, lantas mengapa harus memaksakan diri menikahi ku? Ini jauh lebih menyulitkan bagi ku, aku tidak pernah melarang kebebasan yang dia inginkan." Gumanya kesal.


Victoria meraih ponselnya kembali, dan menelpon Egmont. Lagi-lagi Egmont menolak panggilan darinya, karena itu Victoria pun berusaha menelpon orang yang bisa membantunya.


Dring...dring...dring...


ponsel Victoria tiba-tiba ada panggilan dari Egmont. Dengan senang hati, langsung cepat menganggkatnya.


"Halo...?" Suara wanita di seberang.


"Siapa...?" Tanya Victoria.


"Ehhh, tunggu sebentar! Sayang ada, panggilan untuk mu." Guman wanita itu.


Bruk....


Victoria yang mendegar hal itu syok dan tidak bisa paham. Dia pun segera melacak alamat Egmont. Tanpa ragu pergi menaiki motor, dengan keadaan mengandung.


"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanya terus-terusan seperti itu. Anak ku sudah mau lahir, siapa yang akan menjaga dia jika aku tiada nanti?"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❀


__ADS_2