
30 menit kemudian.
"Arion, bagaimana kabarmu nak?" Suara seorang wanita dalam ponsel.
"Baik." Dengan singkat.
"Syukurlha. Ibu mengirim beberapa pakaian untukmu, dan juga gadis yang bernama Lovisa." Dengan senang.
"Hah? Lovisa? Gadis yang mana?" Bingung.
"Iya ampun putra ibu bahkan nggak tau nama orang yang bersamanya. Bagaiamana ibu percaya kamu akan tinggal sendirk jika begitu pelupa?"
Arion tidak pernah peduli dengan nama Lovisa walaupun sudah berkali-kali dia dengar.
"Mengapa ibu menyuruh seorang wanita untuk menemaniku?"
"Ahh soal itu, ibu juga baru tau dari Jaka. Ibu mengira dia mencari seorang cowok, tapi Jaka bilang klo Lovisa juga bisa diandalkan dalam pekerjaan rumah. Makanya ibu setuju, lagian kamu bisa belajar untuk mandiri darinya."
"Apa-apaan? Mandiri dari mananya. Bahkan menangis di saat makan dan tidur di lantai saat sakit, bahkan....? "Β Bisik dalam hati. Tiba-tiba menginggat di saat handuknya terlepas di kamar Lovisa.
"Aishkkk, pokoknya aku nggak suka ada wanita seperti dia di rumah." Dengan tegas.
"Arion apakah kamu seserakah itu? Lovisa dari keluarga yang berkecukupan, dan ibu juga nggak merasa keberatan untuk membantunya bisa sekolah. Itu kan merupakan berkat anakku?" Dengan lembut.
"Tapi bu, bagaimana jika murid di sekolahan berpikiran yang aneh-aneh?"
"Mengapa mereka harus berpikir aneh? Bukankah ini juga hal yang bagus? Orang-orang akan berpikir bahwa ibu seorang pengusaha yang berhati baik, dan bisa menyekolahkan orang yang tidak mampu."
Arion terkejut mendegarkan kata-kata ibunya, dan segera memutuskan obrolan mereka.
"Tok...tok...."
Arion membuka pintu dan panik.
"Apa yang kamu lakukan di depan kamarku?" Kwatir.
"Aku ingin memberikan jus milik kak Arion. Tadi belum minum Jus kan? Wheheheh." Tersenyum lebar.
"Sudah berapa lama kau di situ?" Tanya dengan cemas.
"Masih batu datang kok. Ada apa kak?" Wajah penuh harap.
"Nggak ada, kamu pergilha!" Menggambil jus dari tangan Lovisa dan menutup pintu.
"Fiuhhhhh, semoga dia nggak mendegarkan apapun." Menghela napas.
Ponsel Arion berdering dan pesan dari ibunya.
"Arion bersikap baiklha pada Lovisa! Ini benar-benar keberuntungan untuk kita. Jika kamu nggak suka dengan masakannya kamu bisa pergi membeli makan di luar, dan pergilha sekali-kali berlibur! Agar kamu nggak terlalu kesal dengannya!Β Jaga dirmu baik-baik anakku. Ibu sangat merindukanmu, umahhhhh.π"
Arion meletakkan ponselnya, tanpa membalas sepatah katapun.
Kamar Lovisa.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Lovisa duduk di kursi belajarnya dan menundukkan kepala. Dia menagis dan mengenggam erat sisi celananya dan terisak-isak.
"Hiksss... sangat menyebalkan. Bahkan mereka rela mempermainkan orang miskin demi ketenaran."
Menginggat pembicaraan Arion dan ibunya.
__ADS_1
"Seandainya bukan karena pendidikan...hikss....hiksss."
Angin berhembus dengan perlahan, Lovisa belum menutup jendela kamarnya.
Dia mendegarkan pembicaraan Arion dengan ibunya, tapi dia berpura-pura tidak mendegar apa-apa di saat di tanyakan oleh Arion.
"Nggak akan ku biarkan kedua adikku merasakan apa yang aku rasakan. Cukup aku yang merasakan hal yang menyakitkan seperti ini. Hiksss,,,, aku akan berusaha melakukan yang terbaik."
Merasa hatinya begitu rapuh, dan menginggat keadaan orangtuanya di desa.
Dia menganggkat pandanganya dan melihat ke langit dari jendela.
"Tuhan kuatkan aku, untuk melakukan yang terbaik. Aku percayakan segala hidupku padamu. Hiksss....hiksss."
SMA 2 Kota B
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Lovisa bisakah kamu temani aku sepulang sekolah?" Tanya Egmont.
"Kemana?" Meletakkan buku di tangannya.
"Hari ini ibuku ulang tahun, dan aku ingin membelikkan sesuatu untuk beliau."
"Tapi, aku nggak bisa. Karena..." Berpikir.
"Ahhh, aku tau, apakah kamu akan pergi dengan Arion?" Menaikkan alis.
"Hooo,,, nggak kok. Aku nggak mengenal siapa Arion." Gugup.
"Bener? Beberapa minggu lalu di saat kamu sakit, aku melihat di rumahmu ada foto Arion di ruang tamu."
"Whahahahah, mungkin yang kamu lihat foto sepupuku kali." Mencari alasan.
"Sepupu? Kamu pikir aku akan bisa di bohongi?" Penasaran.
"Bu...bukan bohong, tapi aku punya sepupu kok." Takut.
"Lihat wajah bodohmu itu? Berbohong aja gak pintar. Aku juga nggak akan bilang sama siapa-siapa." Membisikkan pada Lovisa.
Jiera masuk ke kelas dan segera menghampiri Lovisa. Dia meletakkan tasnya dan menarik tangan dengan senang.
"Ehhh, Jiera ada apa?" Kebingungan.
"Ayo, buruan! Kamu harus lihat sesuatu yang sangat menarik sedang terjadi di lapangan." Bicara dengan cepat.
"Woi,,, tunggu aku dong!" Panggil Egmont.
Di lapangan sekolah yang begitu ramai, dan siswa yang berlalu lalang. Lovisa dan Jiera melihat dari lantai dua.
"Ada apa disana?" Penasaran.
"Kamu perhatikan aja!" Menjawab sembari memperhatikan dengan cermat.
"Jiera, apa kamu membawa Lovisa ke sini hanya karena alasan konyol seperti ini?" Tanya Egmont dengan kesal.
"Lha kenapa? Mengapa kamu yang terlihat kesal?" Merasa nggak terima.
Victoria dan beberapa murid ada di lapangan. Dan seorang kakak kelas yang berpenampilan kren, dan tampan lalu berdiri di depan Victoria. Tampaknya pria itu menyatakan cintanya pada Victoria, dan di tolak mentah-mentah oleh Victoria.
Pria itu merasa tidak senang, dan berkata kasar pada Victoria. Lalu semua jadi heboh,dan Victoria yang merasa malu mendegarkan perkataan kasar dari pria tersebut. Dan tertunduk sembari menangis.
__ADS_1
"Sok cantik amat sih. Aku bahkan yakin kamu sudah tidak suci lagi, tapi masih sok berlagak untuk menolak. Cihhh,,, wanita sok cantikan."
"Wahhh, seru nihh."
"Lihat Victoria nggak membantah, berarti benar bahwa dia udah..."
Bisik murid-murid dengan penasaran. Victoria menangis, dan wajahnya memerah merasa malu.
"Aku yakin wajahmu bahkan di operasi. Tidak tau diri banget luh jadi wanita?"
"Apa kamu sudah selesai bicaranya?" Arion yang tiba-tiba muncul di keramian itu, dan berdiri di depan pria yang meneriaki Victoria.
"Hmmm, apakah kamu salah satu yang telah menikmatinya?" Dengan kesal, dan senyuman sinis.
"Brengsek."Β Memegang kera seragam pria itu, dan mereka berkelahi sampai babak belur.
Victoria berusaha memisahkan mereka, begitu juga dengan siswa lain. Setelah beberapa menit beberapa guru datang, dan membawa mereka keruang BP.
Lovisa mengepalkan tanganya, lalu beranjak pergi ke kelas.
"Lovisa tunggu aku!" Mengikuti Lovisa.
"Jiera? Apa kamu sudah gila?" Tanya Egmont dengan kesal.
"Ada apa denganmu?" Menyilangkan kedua tanganya di depan dada.
"Nggak ada." Jawab dengan ketus, dan menghampiri Lovisa.
Suasana kelas yang menceritakan soal kejadian yang di lapangan. Victoria yang duduk dengan wajah yang berseri-seri.
"Wah, kak Arion benar-benar kren."
"Whahahahahh, aku juga melihat matanya yang begitu marah."
"Pasti kak Arion sedang jatuh cinta dengan teman kita Victoria. Whehehh."
Murid-murid yang memuji Arion. Victoria merasa senang, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, mendegarkan perkataan dari temannya.
"Aku yakin banget, klo kak Arion suka sama Victoria."
"Jangan mengatakan hal itu. Aku merasa jadi bersalah juga lho." Jawab Victoria dengan malu-malu.
Lovisa berusaha untuk tidak mendegarkan apa-apa, dan membaca tulisan yang ada di sampul bukunya berulang-ulang.
"Lovisa ada apa?" Tanya Jiera.
Catatan kecil
πππππ
"Arion, aku ingin menujukkan wajahmu pada mereka." Berpikir sepuluh kali lipat.
"Oh." Melirik.
"Jawaban macam apa itu?" Ingin marah.
"Itukan urusanmu! Mengapa harus bertanya?" Pergi begitu saja.
"Baiklha, tapi kamu harus ingat jangan membuatku kecewa!"
__ADS_1