
Lovisa telah mengupload cerita melalui sebuah aplikasi. Dia menghabiskan waktu luangnya untuk menulis kisahnya, dan berpikir agar dia tidak melupakan apa yang telah dia lalui.
Dimana bulan ini, banyak kesalah pahaman di hidupnya. Tidak di sangka Arion sendiri yang datang menemuinya, dan meminta untuk kembali ke rumah.
Vila green house.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Arion.
"Aku cuman bermain ponsel doang kok. Wheheheh." Tersenyum dengan canggung.
"Aku mau pergi keluar, apa kamu ingin menitipkan sesuatu?" Gumanya.
"Nggak ada" Canggung.
"Klo gitu ayo temani aku!" Melirik tanpa ekpresi.
Arion dan Lovisa pergi ke taman kota. Entah mengapa setelah Arion marah waktu itu pada Lovisa membuat dirinya merasa kasihan. Dan berusaha untuk bisa menerima keberadaan Lovisa.
"Kak Arion, liburan untuk tahun ini aku bisa pulangkan?" Tanya dengan canggung.
"Pulang? Lalu siapa yang menemaniku?" Wajah tak senang.
"Ta..tapikan itu udah perjanjian juga. Setiap di hari libur aku bisa pulang." Nada yang mengecil.
"Nggak bisa." Tanpa ekpresi.
"Kenapa? Bu..bukannya waktu itu bibi menyetujuinya?" Berdiri di depan Arion.
"Jika ibuku setuju, tapi aku ngak setuju, berarti sama aja ngak bisa." Dingin.
"Ohhh." Jawabnya dengan sedih.
Arion berjalan dengan kedua tangan di dalam kantong celana, dan sikap yang begitu dingin. Lovisa berjalan di belakangnya, dan merasa sedih.
Arion melangkahkan kakinya dengan cepat, tanpa mempedulikan Lovisa yang tertinggal jauh di belakang. Arion pergi ke sebuah toko musik dan membeli sebuah violin.
Lovisa menghela napas dan duduk di kursi yang ada di taman. Dia memegangi ponselnya dan melihat jam yang menujukkan pukul 21.36Pm.
"Sepertinya aku harus bisa menahan rasa kangen kepada mereka." Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.
"Setidaknya aku bisa menyelesaikan pendidikan di SMA. Bagaimana pun juga kak Arion sudah menerima ku kembali di rumahnya." Beranjak dari tempat duduknya.
"Dringg....dringgg.....dringg..." Bunyi ponsel Lovisa.
Lovisa segera menjawab panggilan masuk dari Egmont, dan menempelkanya pada telinga.
"Halo?"
"Lovisa, bisakah kita bertemu malam ini?" Suara pria dari dalam ponsel.
"Hah? Tapi ini sudah larut malam." Sembari berjalan.
"Hanya sebentar, kenapa nggak bisa? Aku akan datang ke rumahmu sekarang!" Penuh kegembiraan.
"Aku nggak di rumah. Aku lagi di taman kota, ta...tapi kamu nggak usah kemari, aku sudah mau pulang. Jika kamu mau membicarakan sesuatu bisa melalui telpon juga!"
"Tunggu di sana! Aku akan tiba 5 menit lagi...tut...tut...tut." Segera menutup panggilan.
__ADS_1
"halo,,,? hey....halo....? halo...." Menurunkan ponsel.
"Tunggu sajalha, lagian kak Arion mungkin udah pulang duluan." Menghela napas, sembari berjalan perlahan.
Beberapa menit kemudian Egmont tiba, dan menghampiri Lovisa. Wajah yang penuh semangat, dan gembira tersebut membuat Lovisa penuh tanya.
"Egmont?" Penuh tanya.
"Lovisa, aku punya kabar baik." Mendekati Lovisa dan memeluknya dengan gembira.
"Aih,,,, jangan peluk aku! Aku gak bisa napas nih." Berusaha untuk melepaskan diri.
"Nggak mau, aku ingin memelukmu hanya sebentar saja." Gumanya.
Lovisa merasa tidak nyaman, dan membiarkan Egmont memeluknya walaupun dia tidak menyukai pelukan tersebut.
"Lovisa, bulan depan aku akan pergi ke negara D." Sembari melepaskan pelukanya.
"Oh, aku kirain kabar apaan sehingga membuatmu begitu semangat." Gumanya.
"Kamu nggak senang iya? Padahal aku sudah berusaha untuk bisa pergi ke negara D. Ternyata kamu tidak senang untuk hal ini." Raut wajah sedih.
"Bu..bukan begitu."
"Trus ekspersi apa itu?"
"Kamu memelukku, jadi ekspresiku berubah."
"Huhhh, bilang aja alasan! Pasti kamu tidak suka aku pergi jauh-jauh?"
"Bukan seperti itu. Sebagai wanita aku harus bisa menjaga harga diri."
"Wah, ternyata kamu wanita yang baik. Bagaimana klo kita pergi ke suatu tempat? Aku traktir kamu makan yuk!" Gumanyanya.
"Makan tidak butuh waktu lama, lagian suasana bahagia seperti ini harus di rayakan."
Arion yang melihat mereka menghela napas. Dia menghampiri sembari ekspresi wajah tidak senang. Dengan sebuah violin yang dia gendong di punggungnya.
"Iya sudah. Aku antar kamu pulang aja, tapi kenapa kamu ada di taman kota jam segini?" Menatap Lovisa.
"Aku hanya kebetulan ingin melihat-lihat aja. Wheheheh."
"Lovisa!?" Mendekati Lovisa penuh ekspresi cinta.
"Hah?" Bingung sembari menoleh.
Egmont suka diam-diam pada Lovisa. Dia sudah mengetahui Lovisa tinggal bersama Arion yang membuat hatinya tergores. Namun dia tidak menyerah, dan mengikuti kemanaย pun Lovisa pergi melalui lacakan dari ponsel.
Dia membohongi Lovisa, agar dia bisa bertemu dengan nya di taman. Dan ingin mengungkapkan perasaan terhadap Lovisa. Berpura-pura ingin mengatakan ada kabar baik, dan berbohong akan pergi ke kota D.
"Ada apa dengan Egmont? Mengapa dia semakin mendekat?" Bisiknya dalam hati dengan kebingung sembari menghindar.
Egmont meletakkan kedua tanganya di belakang kursi tersebut dan tersenyum hangat dengan tatapan penuh cinta.
"Lovisa aku benar-benar ingin menciummu." Bicara dalam hati.
Egmont semakin mendekat, membuat Lovisa tidak nyaman dan merosot dari tempat duduk. Wajah yang begitu ketakutan dan gemetaran melihat sikap Egmont.
"Tap." Mencekram bahu Egmont dengan keras.
__ADS_1
Lovisa dan Egmont menoleh, dan terkejut di saat melihat Arion berdiri dengan wajah yang begitu marah.
"Apa yang kalian coba lakukan?" Melepaskan cengkramannya.
"Bu...buk...bukan. Wheheheh." Berdiri merasa canggung sembari memegangi kepala.
"Kak Arion!? Beranjak pergi ke sisi Arion.
"Aku ingin pulang duluan. Jika kalian ingin bermesraan carilha tempat yang wajar!" Tanpa ekspresi dan pergi.
"Kak Arion, tunggu! Ini ngak seperti yang kak Arion pikirkan!" Mengejar Arion.
"Wanita ini, masih aja mengatakan hal seperti itu, jelas-jelas aku melihatnya berpelukan." Berbisik dalam hati.
Egmont merasa tidak senang dengan ke datangan Arion. Dia menghela napas merasa malu, lalu melihat ponsel Lovisa yang tergeletak di kursi.
"Lovisa ponselmu ketinggalan!"
Arion membalikkan badanya, dan berjalan cepat ke arah Egmont. Lovisa berhenti dan panik melihat ekspresi Arion yang tidak bisa di tebak tersebut.
"Pulanglha! Bukankah besok sekolah?" Menarikkan ponsel Lovisa dari tangan Egmont dengan tatapan yang penuh amarah.
Memilih untuk tetap diam
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Indahnya cahaya bulan,
Lebih indah dari lampu warna warni.
Dibawah cahaya bulan ini,
Aku ingin berdiri dan menikmatinya,
Aku tidak bisa berhenti memikirkanya,
Setiap detik berlalu, aku selalu mengingat kehangatanya,
Ingin menyentuhnya, dan menatapanya,
Semakin aku memikirkanya, maka semakin aku megiginkanya.
Di atap yang sama,
Tapi aku sungguh tidak bisa berbicara dengan perasaanku.
Aku ingin mengungkapkan segalanya,
Tapi aku kwatir, dia akan membenciku selamanya.
Pilihanku memendam segalanya,
Maka semua akan baik-baik saja,
Dan tetap berjalan seperti semula,
Aku hanya ingin dia tetap bersamaku.
Lama kelamaan mereka semakin dekat. Tapi Arion masih begitu sulit untuk di pahami. Lovisa semakin menyukai Arion, dan tidak bisa berpikir untuk lebih jernih di saat melihatnya dari dekat.
__ADS_1
๐๐๐๐๐
"Salam hangatku๐."