Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 35


__ADS_3

"Arion yok!" Ajak wanita tersebut.


"Hmmm."


Lovisa tidak bisa menghentikan air matanya. Rismon menghampirinya dan menanyakan ke adaannya. Lovisa yang merasa begitu di kecewakan mengangkat pandanganya dan memberanikan diri untuk memastikan siapa sebenarnya laki-laki yang mirip dengan Arion itu, bahkan nama yang sama.


"Tunggu!" Berlari mendekati Arion.


"Krekkk" Membuka pintu mobil dan terhenti.


"Suara itu?" Terbelahak.


Wanita yang sudah duduk di dalam mobil tersebut merasa aneh dengan ekspresi Arion. Dia melihat wanita yang berlari ke Arion dan mengerutkan dahi.


"Plukkk." Memeluk Arion.


"Ehhh, ada apa dengan wanita itu?" Tanya wanita di dalam mobil, dan juga Rismon yang melihat dari jarak beberapa meter.


Arion terkejut dan mengangkat kedua tanganya tanpa ekpresi. Lovisa menangis di pelukanya dan merasa lebih baik di saat dia mencium bau badan Arion. Pelan-pelan air matanya berhenti dan perasaanya lebih baik.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Arion dengan marah besar.


Lovisa panik dan terkejut mendegar Arion yang bicara dengan nada seperti itu. Dia segera melepaskan pelukanya dan berdiri di hadapan Arion sembari menatapnya.


"Kak Arion!? Apakah kamu....?" Menaikan tanganya dan ingin menyentuh wajah Arion.


"Apa kamu sudah gila?" Menghempaskan.


"Apa kamu sudah lupa dengan perkataanmu waktu itu?" Sedih.


"Rismon! Sepertinya nyonya ini salah orang tolong tenangkan dia!" Wajah serius, dan masuk ke mobil.


"Kak Arion ayo bicara! Aku tidak mungkin salah orang, bagaimana dengan janji waktu itu?" Teriak Lovisa semabari berusaha untuk menghentikan Arion.


Rismon sebagai sekretaris dan teman dekat Arion mencoba menghentikan Lovisa. Arion segera meninggalkan tempat tersebut dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan.


"Apa kamu mengenal wanita itu?" Tanya wanita di sampingnya.


"Wanita itu kelihatanya mengenalmu. Bahkan dia tau namamu juga, apa kamu pergi diam-diam untuk mencari wanita lain?" Wajah kesal, sembari menyilangkan kedua tanganya di depan dada.


"Huuuhhh, dari hal ini aja aku tau kamu melakukan ke salahan. Kamu pikir dengan diam seperti itu aku tidak melaporkanya pada bibi?" Teriak wanita itu.


"Cikieeetttt...." Arion tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan.


"Kenapa berhenti?" Tanya wanita itu.


"Keluar!" Pintahnya dengan santai.


"Hah? Bahakan kamu menurunkaku di tengah jalan. Berani sekali kamu? Apa sekarang juga kamu mengubah pikiran dan menjemput wanita itu?" Wajah kesal.


"Apa aku perlu mengulangi perkataanku?"


"Kamu pikir aku langsung takut, dan memohon? Tetap saja aku akan memberi tau bibi." Sombong.

__ADS_1


"Keluar........!" Dengan kesal, dan marah.


Wanita itu terkejut, dan segera keluar dari dalam mobil. Dia merasa kesal dan begitu marah melihat ekspresi Arion.


"Kamu pikir dengan cara ini bisa membatalkan pernikahan? Cuih....jika bukan karena uangmu mana mungkin aku mau menikahi laki-laki aneh sepertimu?"


Gumanya dalam hati.


Arion memutar balik arah mobilnya. Dia melaju dengan kecepatan yang begitu tinggi. Setelah tiba di depan perusahaan dia keluar dari dalam mobil dan mencari wanita yang memeluknya itu.


Dia menelpon Rismon dan bertanya dengan wanita tersebut. Untungnya wanita itu masih ada di dalam perusahaan bersama Rismon. Karena dia menangis, Rismon berusaha untuk menenagkan dan membawanya ke dalam ruanganya.


"Apa nona mengenal tuan muda Arion?" Tanya Rismon.


Lovisa tidak menjawab pertanyaan apapun sedari tadi. Dia hanya menundukkan kepalanya dan tidak bisa mengatakan apapun setelah melihat perubahan Arion.


"Kriekkkkkkk" Suara pintu.


Arion masuk ke dalam ruangan Rismon dan menghela napas. Dia berusaha untuk tetap santai, dan menyuruh Rismon untuk keluar dari ruangan tersebut.


Mendegar Arion datang, Lovisa segera menoleh.


"Apa kak Arion sudah ingat aku?" Tanyanya.


"Ngggak." Jawabnya dengan dingin sembari duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Jangan berbohong lagi! Aku tau jelas bahwa kak Arion tidak akan melupakan ku." Percaya diri.


"Siapa yang menyuruhmu kemari?"


"Lepaskan tangan kotormu!" Berusaha melepaskan pelukan Lovisa.


"Kenapa? Apa kak Arion benar-benar sudah melupakanku?" Menatap Arion.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Arion tanpa menjawab Lovisa.


"Aku ingin menemuimu. Dan aku juga sangat senang, telah menyelesaikan apa yang kak Arion inginkan." Tersenyum.


"Jika kamu tidak ada kepentingan lebih baik pergi!" Guman Arion dengan tegas.


"Kak Arion bercanda kan?"


"Jangan pangil aku seperti itu! Apa kamu tidak tau sedang bicara dengan siapa?"


"Tapi,,,tapi kak Arion aku benar-benar sudah melakukan seperti yang kamu katakan."


"Sudah ku katakan jangan panggil aku seperti itu! Dasar wanita menyebalkan.  Jika kamu tidak ingin menyesal, maka lebih baik cepat pergi!" Menaikkan nada suara.


"Aku tidak menyesal, apa yang aku sesali? Aku hanya datang sesuai perjanjian kita."


"Aku tidak punya perjanjian dengan mu. Dan satu hal yang harus kamu ketahui! Bulan depan aku akan mengadakan pernikahan aku harap kamu tidak menghancurkannya!" Tegas.


"Apa?" Berdiri merasa kecewa.

__ADS_1


"Jika kamu sudah mendegarnya, maka cepatlha pergi!" Memalingkan pandangan.


"Plak...." Menampar dengan keras.


Lovisa yang begitu tidak percaya akan perkataan Arion, menampar Arion sembari menangis. Arion tidak berguman, dan tidak berani menatap Lovisa.


"Huhuhu,,,hiksss,,,,hiksss." Berjongkok dan menangis.


"Tidak ada gunanya menangis!" Santai.


"Kamu berbohong kan? Katakan kamu bohong! Hiksss,, kamu berbohong." Menggengam erat kera jas Arion, sembari manangis.


"Jangan menyentuhku!" Merasa marah.


"Hikssss,,,,di mana janji yang kamu buat? Aku sudah menyelesaikan semuanya." Kecewa.


"Aihzzz...." Dorong.


"Hikssss,,,,," Terjatuh kelantai dan terus menangis.


"Kak Arion, apa kamu berbohong waktu itu mengatakan perasaanmu? Hikssss,,,aku tidak percaya ini."


"Jika aku tidak berbohong, bagaimana bisa kamu lulus sekolah? Ckckckc,,,meyebalkan sekali." Meremehkan.


"Mengapa kamu berbohong? Jika waktu itu kamu jujur aku juga bakalan bisa sekolah. Apa mulutmu begitu busuk dan terbiasa berbohong,,,hikssss,,," Berusaha berdiri.


"Jika kamu sudah tau jelas, maka pintu itu terbuka! Aku tidak terbiasa dengan orang yang bicara keras-keras, dan tidak punya sopan santun." Santai.


"Aku tidak akan pergi sebelum kak Arion mengakuinya!" Keras kepala.


"Sampai kapan pun tidak akan ku akui. Benar-benar pintar mengemis."


"Degh,,,,deg,,,,,deggg...."


Lovisa merasa begitu terhina di saat mendegar perkataan Arion yang mengatakan mengemis. Dia berhenti menangis dan menatap Arion sembari mendekatinya.


"Mengemis? Sejak kapan aku mengemis?" Tanyanya.


"Jangan menatapku dengan pandangan menjijikan itu! Jika kamu tidak mengemis mana mungkin aku berbuat hal bodoh? Bahkan hasilmu mengemis sangat menguntungkan dirimu bukan?" Sombong.


"Mengemis? Mengemis? Mengemis? Di mana aku mengemis? Apa maksud perkataanya? Sejak kapan? Kapan aku mengemis?" Pertanyaan yang muncul di benak Lovisa.


Arion merasa tidak bersalah dan berdiri, sembari memasukkan kedua tangan dalam kantong celana. Arion membalikkan badanya dan pergi ke luar dari ruangan tersebut.


"Tunggu!" Dengan cepat menghalangi jalan Arion.


Tidak peduli dan terus menerobos pergi. Lovisa yang tidak mengerti dari perkataan mengemis itu begitu emosi dan penuh pertanyaan.


Rumah kontrakan Lovisa



🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❤


__ADS_2