
Pagi hari.
Apartemen plus.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Seseorang yang tampaknya seperti pasien. Terbaring dengan wajah yang baru melakukan perawatan.
"Non, air mandian nona sudah di siapkan. Segeralha mandi agar ngak telat ke sekolah!" Ujar seorang pelayan wanita.
"Hari ini aku nggak pergi kesekolah. Suruh Imran untuk mengurus surat izin nggak masuk sekolah!" Gumannya.
"Tapi non, sebentar lagi ujian sekolah akan dimulai..."
"Kamu masih mau kerja? Jika sudah bosan, maka bisa paksa aku untuk tetap pergi kesekolah!" Merasa kesal.
"Akhhh, Ba...baiklha non." Segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Hadeh, apa dia nggak bisa lihat usahaku kemarin malam untuk tampil cantik? Masih ngotot untuk memaksaku ke tempat menyebalkan itu." Wajah tidak senang.
Ponsel Lovisa berdering, dia segera menjawab panggilan dari ayahnya.
"Halo." Dengan nada lembut.
"Lovisa apa kamu sudah tidak waras?" Teriak ayahnya dengan keras.
"Mengapa ayah mengatakan hal seperti itu?" Segera menjauhkan ponsel dari telinga, lalu berpura-pura sedih.
"Kamu menghabiskan puluhan juta, hanya untuk melakukan perawatan? Apa kamu pikir perawatan di umur muda akan membuatmu semakin cantik? Apa yang kamu pikirkan? Hah...?" Nada keras, penuh kekesalan.
"Bukankah ayah punya segalanya? Mengapa untuk uang segitu ayah mengomeliku? Aku tau wajahku akan rusak nantinya, tapi apakah ayah berpikir mengapa aku melakukan hal ini semua?" Terbawa emosi.
"Diam kamu! Apa kamu ingin menjadi wanita malam, dan menjual diri agar tenar dimana-mana? Bahkan kamu bermalas-malasan untuk sekolah, apa kamu pikir unag sekolahmu di ambil dari daun?" Meneriaki lebih keras.
"Klo kamu tidak ingin menghabiskan uang untukku, maka biarkan aku pergi ke ibuku! Maka tidak akan ada yang menyusahkanmu lagi, bahkan uangmu bisa kamu gunakan untuk bersenang-senang dengan wanita lain." Mata berkaca-kaca.
"Anak sama ibu tidak jauh beda, benar-benar tidak tau diri. Aku tidak akan mengirimmu uang bulanan lagi, kamu benar-benar tidak bisa di andalkan sebagai anak. Jika kamu ingin menemui wanita gila itu pergilha! Apa kamu pikir dia akan mampu membiayai hidupmu. Cuihhhh...menyesal telah membesarkan anak sepertimu." Kesal, dan tidak bisa mengontrol diri.
"A...aku, aku lebih membenci seorang ayah sepertimu. Aku membenci pria yang tidak bertanggung jawab sepertimu. Kamu hanya bisa memanfaatkan ku untuk ketenaranmu. Aku tidak akan memaafkanmu, aku membencimu." Duduk dari tidurnya, dan meneriaki merasa kesal sembari menangis.
__ADS_1
"Tut...tut..." Memutuskan panggilan.
Victoria melemparkan ponselnya ke lantai hingga hancur. Dia merasa sedih dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia menangis terisak-isak, sembari menatap foto keluarganya semasa kecil.
Pukul 14.20 Pm.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Arion berdiri di depan sekolah menunggu jemputan. Lovisa dan Egmont berjalan dari kelas bersamaan, sembari membahas acara kemarin.
"Kamu tidak perlu membayarnya! Aku melakukanya sebagai hadiah untuk kak Arion juga." Sembari menoleh ke Lovisa.
"Ta...tapi kan aku yang menyuruhmu?" Gagap, dan malu.
"Akhh,,, kamu jangan berlebihan, aku hanya menyiapkan apa yang sepantasnya. Tapi ingat lain kali kamu traktir aku makan saja oke!" Mengedipkan sebelah matanya pada Lovisa, lalu pergi ke tempat parkiran.
"Oke, aku akan mentraktirmu. Hati-hati di jalan iya!" Melambaikan tanganya pada Egmont.
Arion berpura-pura tidak mendegar perkataan mereka, dan memasangkan handshet ke telinganya.
Ponsel Egmont berdering. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celana, dan menempelkannya ke telinga.
"Egmont, kamu dimana?" Suara wanita dari dalam ponsel.
"Masih di sekolah ada apa?" Gumannya.
"Aku mendapat kabar, Victoria kabur dari apartemennya. Bisa kamu bantu aku mencarinya?" Sedih.
"Kamu suruh yang lain saja! Aku masih ada urusan di restaurant ibuku. Klo nggak ajak Jiera saja!" Gumanya dengan dingin dan memutuskan panggilannya.
"Setidaknya dia nggak seburuk kehidupan Lovisa. Mau kabur kemana danΒ sampai berapa bulan pun masih bisa hidup enak." Guman Egmont.
Vila green house
Lovisa membersihkan rumah seperti biasanya. Dia melihat Arion yang bermain biola dengan begitu serius.
Lovisa begitu senang mendegar suara biola yang di mainkan oleh Arion. Dia tidak ingin menggangu Arion dan membalikkan badanya lalu meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lama suara biolanya berhenti.
"Kenapa berhenti?" Menoleh ke ruang musik.
__ADS_1
"Sini!" Arion melambaikan tanganya pada Lovisa.
Lovisa terkejut, dan menujuk dirinya sendiri sembari berbalik badan. Arion menganguk dan tersenyum tidak seperti biasanya.
"Iya ampun, apa dia tersenyum?" Bisik Lovisa pada dirinya.
"Kenapa? Apa kamu masih bersih-bersih? Lupakan pekerjaan itu, sini aku perlu seseorang untuk menilaiku bermain musik!" Menghampiri Lovisa dan menarik tanganya.
"Ehhh?!" Panik dan mengikuti.
"Apa kamu suka juga bermain musik?" Tanya Arion sembari meraih biolanya.
Lovisa berdiri dengan canggung, dan melirik sana sini. Arion mendekatinya lalu membawa biolanya, dan duduk di samping Lovisa yang sedang berdiri.
"Kak Arion, aku masih harus membersihkan rumah." Merasa tidak nyaman.
"Aku katakan nanti! Apa kamu tidak mau mendegar perintahku? Atau sudah merasa bosan di rumah ini iya?"
"Bu...bukan begitu."
"Ahhkhhh sudah, kau keluarlha!" Kesal.
"Apa dia marah? Bagaimana...?" Bisik dalam hati.
"Mengapa masih berdiri disana? Apa aku kurang jelas bicaranya?" Aura dingin.
"Kak Arion marah?"
"Aku tidak ingin berlatih lagi, kamu bersihkan juga ruangan ini!" Keluar.
"Oke, jangan marah-marah! Ntar cepat tua lho, wheheheh." Berpura-pura untuk tersenyum.
"Wanita ini, membuat ku kesal aja."
Lovisa membersihkan ruangan yang lain terlebih dahulu sebelum ruang musik. Dia begitu pintar untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan melakukanya dengan teliti.
πππππ
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.π
__ADS_1
Salam hangatkuπ**