
Arion mengangkat tangan kananya dan seorang pelayan langsung datang menghampiri. Arion menyuruh pelayan tersebut untuk menyajikan beberapa makanan lagi.
Lovisa tampak berpikir dengan kebingungan. Dia merasa bahwa Arion telah mengetahui bahwa dia akan pergi. Lovisa berharap agar Arion tidak mengetahuinya, namun tampak jelas dari cara Arion berbuat lembut padanya sehingga tau bahwa Arion sudah mengetahuinya.
"Kenapa bengong?" Tanya Arion.
"Kak Arion aku ingin katakan sesuatu." Memberanikan diri.
"Hmmm, ada apa?" Sembari memainkan ponselnya.
"Sebenarnya besok aku akan pergi ke desa....."
Lovisa menjelaskan semuanya pada Arion. Hal itu membuat perasaan Lovisa sedikit lega karena melihat Arion tidak bersikap berlebihan sepertj menghentikanya. Arion meletakkan ponsel di tanganya ke meja. Dia menatap Lovisa sembari menghela napas.
"Lovisa." Gumanya dengan kehangatan.
"Hah!?"
"Maukah kau berjanji satu hal untukku?"
"Janji?" Bingung.
"Iya."
"Berjanji apaan kak?"
"Berjanjilha kelak setelah kamu lulus dari universitas kamu akan datang menemuiku! Dan jangan pernah mengubah persaanmu yang sekarang untuk kedepannya juga!" Penuh keseriusan.
"Deg,,,deg,,,,deg,,,," detakan jantung Lovisa semakin cepat mendengar perkataan Arion.
"Ta...tapi?" Gugup.
"Aku tidak ingin mendegarkan kata-kata mengecewakan!"
"Kak Arion jujur saja, kemungkinan besar di saat aku pulang ke desa peluang untuk bisa kembali ke sekolah sangatlha kecil. Orangtuaku bukanlha orang yang bisa dengan muda mencari uang.
bagaimana pun aku akan tetap berusaha. Namun untuk lulusan pendidikan yang lebih tinggi tidak akan mungkin terjadi" Memberanikan diri.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendegarkan alasan apapun. Jika kamu benar-benar menyukaiku maka jangan menolak apapun yang ku katakan!"
Beberapa hari yang lalu tidak sengaja Arion membaca cerita yang di tulis Lovisa di online. Walaupun nama di dalam cerita tersebut tidak sama, namun semua hal yang di lakukan jelas tertulis di dalam. Sejak saat itu Arion sudah mengerti bahwa Lovisa menyukainya, namun dia tidak pernah tau cara membalas perasaan Lovisa.
Lovisa terkejut di saat mendegarkan perkataan Arion. Tidak di sangka Arion sudah mengetahui soal perasaannya pada Arion. Dia tidak bisa berpura-pura untuk tidak mengerti pada saat ini, dan hanya menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"I..itu!? Sebenarnya aku tidak menyukaimu." Berusaha untuk tidak memberitahu.
"Benarkah begitu? Hah,,,aku hampir lupa dengan kelinci imut. Aku juga ada yang mau di bicarakan dengannya dan sekarang aku sedang berusaha mencari kelinci imut."
Lovisa tidak bisa menghindar lagi. Dia merasa begitu malu untuk memberitahukan soal perasaanya.
"Soal,,,soal itu aku hanya mengada-ngada saja. Lagian tidak salah juga kan mengarang cerita seperti itu?"
"Hahahahah, kamu memang pintar untuk menghindar iya? Hmmm,,,aku salah prediksi rupanya." Meletakan ponsel di meja.
"Iya kak Arion jelas-jelas salah prediksi."
"Lovisa jadilha pacarku!" Menatap Lovisa penuh kepercayaan.
Lovisa begitu terkejut mendegar perkataan Arion. Jantungnya berdebar semakin cepat dan pipinya memerah. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang sedikit lama, dan terdiam karena canggung.Seorang pelayan datang menyajikan makanan dan mereka pun saling memalingkan pandangan dan tersenyum pada pelayan tersebut.
"Aku ingin jawabanmu!" Mengabaikan makanan.
"Hah? Jawaban?" Gugup.
"Aku serius! Jadilh pacarku mulai sekarang!"
"Apa kak Arion tau apa yang kamu bicarakan?"
"Iya. Jika kamu tidak menjawab itu juga tidak apa-apa. Tapi berjanjilha sesuai perkataanku yang tadi! Aku akan menuggumu saat kamu telah siap menerimaku."
"Ta...tapi!?"
"Sepertinya kamu sudah menyetujuinya. Aku tidak ragu lagi untuk bisa membantumu mulai saat ini. Besok kamu tidak perlu pulang ke desa, dan tetaplha sekolah!"
"Apa? Tapi aku..." Bingung.
__ADS_1
"Sebagai orang yang telah menyukaimu aku juga sudah bersusah payah untuk mengungkapkan perasaanku. Jadi aku tidak akan keberatan untuk membantu apapun masalahmu!" Tegas.
"Ini nggk seperti yang kak Arion pikirkan! Tapi aku memang harus kembali ke desa."
"Itu bukan alasan untuk ku. Aku akan membantu paman untuk biaya pengobatanya, dan kamu tidak perlu kwatir soal sekolah! Tapi sesuai apa yang aku inginkan kamu harus berjanji menemuiku di saat lulus dari universitas!
Aku tidak ingin merasa di kecewakan. Tapi satu hal yang harus kamu tau juga! Aku tidak ingin kamu mengubah perasaan yang sekarang untuk selamanya."
Lovisa terdiam memikirkan perkataan Arion. Dia tidak pernah tau bahwa Arion memiliki sisi yang begitu pengertian.
"Tapi kak...?"
"Mulai besok pindah lha dari vila! Aku sudah menyuruh paman Jaka untuk menyediakan sebuah rumah sederhana untuk kontrak 3 tahun. Selama kamu sekolah tinggal lha di sana, dan untuk pendidikan yang lebih tinggi maka kamu harus berusaha sendiri!"
"Hah? Bagaimana bisa aku meninggalkan kak Arion di Vila, dan kebaikanmu ini tidak pantas untuk ku terima."
"Pantas atau tidaknya, ini adalah perintah dari ku. Jika kamu menolak maka siap-siap lha untuk mendengar kondisi buruk ayahmu!"
Lovisa tercengan mendegar hal tersebut. Arion menghela napas, dan mengambil alat makan yang ada di meja.
"Apakah dia benar-benar akan menyakiti ayahku? Namun jika aku menolak memang benar bahwa aku tidak bisa sekolah lagi. Jika aku menerima ini lebih beruntung dengan biaya pengobatan ayah dan juga aku bisa menyelesaikan masa SMA.
Tapi aku merasa ini tidak begitu masuk akal, bagaimana bisa dia bermurah hati dengan cepat? Atau jangan-jangan dia merasa menyesal sudah merenggut kesucianku lalu ingin menggantinya dengan cara seperti ini?
Tidak buruk juga, dan umurku masih muda. Aku tidak ingin masa depan ku kelak tidak punya pendidikan, dan tetap di desa. Aku ingin bisa membangkitkan semangat keluargaku, dan membawa nama baik untuk orangtua ku. Hal ini sepertinya tidak begitu sulit untuk di lakukan, dan juga saling menguntungkan bukan?." Guman Lovisa dalam hati.
"Makanannya sudah dingin, cepat makan!" Pintah Arion.
"Kak Arion, aku setuju dengan apa yang barusan kita bicarakan. Tapi aku juga punya satu permintaan."
"Katakan!"
"Aku tidak ingin ada hal yang menyulitkanku kelak, dan aku anggap hal ini adalah utangku di masa depan. Dan aku berjanji setelah aku lulus dari universitas aku akan datang ke padamu."
"Kamu sungguh pengertian rupanya." Tersenyum.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❤