
Arion beranjak dari ruang makan dan pergi mengambil tas sekolahnya. Di saat dia ingin masuk ke kamarnya, dia mendengar Lovisa berbicara dengan seseorang di telpon.
"Tapi bu?" Nada penuh kesedihan.
"Lovisa? Ibu tidak ingin menyusahkanmu. Tapi ayahmu sakit dan kita butuh biaya untuk membawanya ke rumah sakit. Kamu tau di kampung juga tidak muda untuk menemukan pinjaman. Jadi pulanglha! Kamu masih punya kesempatan tanhun depan untuk melanjutkan sekolahmu!"
"Bu...hiksss.....hiksssss."
"Lovisa? Hanya kamu satu-satunya yang bisa di andalkan! Ibu tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Ibu sudah bicara dengan tetua di desa klo kamu akan bekerja di rumahnya dengan gaji harian."
"Hiksss....hiksssss."
"Jangan menangis nak! Ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Adik-adikmu juga sudah tidak sekolah selama empat hari karena uang sekolah merek belum di bayar. Jadi tolong mengertilha nak! Ibu janji akan memberimu kebebasan setelah ayahmu sembuh!" Nada yang penuh dengan kelembutan.
"A...a...aku akan kembali besok pagi! Aku ingin pergi ke sekolah untuk terakhir kalinya." Sembari menangis.
"Baiklha! Jangan merasa sedih! Semua akan baik-baik saja jika kamu mengikuti perkataan ibu. Kita akan berjuang bersama untuk menyembuhkannayahmu." Guman ibunya.
Lovisa menutup pembicaran dengan ibunya. Dia menurunkan ponselnya dengan begitu lemah sembari menangis terisak-isak. Dia tidak bisa menolak permintaan orangtuanya di saat keadaan seperti ini.
Taman vila
πΊπΊπΊπΊπΊ
Arion menempelkan ponselnya di telinga lalu berbicara dengan ayahnya.
"Ada apa? Mengapa pagi-pagi begini menghubungi ayah?" Tanya Lucas ayahnya.
"Ayah, aku akan menerima tawaran ayah sebelumnya." Serius.
"Wahhhh, ada apa ini? Mengapa anakku tiba-tiba mengerti akan perasaan ayahnya?" Senang.
"Jangan senang dulu!" Dengan sikap yang begitu dingin.
"Whahahahah, anakku tampaknya sudah dewasa. Apa kamu sudah memikirkan semuanya?" Tanya ayahnya.
"Hmmm, aku sudah pikirkan secara matang-matang." Jawabnya dengan santai.
"Baiklha, ayah akan mengurus semua data-data yang kamu perlukan."
__ADS_1
"Tapi aku punya satu syarat!" Guman Arion dengan ragu-ragu.
"Anakku benar-benar sudah dewasa, tak ku sangka punya syarat juga. Katakan apa syarat yang kamu inginkan!"
"Kirim ke rekeningku uang sebanyak 1 M! Aku mau sekarang juga, tapi ibu tidak bisa tau akan soal ini! Masalah ini hanya kita berdua yang bisa tau!" Dengan tegas.
"Whahahah, anakku sangat pemeras seperti ayahnya. Baik-baiklha kamu jangan kwatir, ayah akan segera mentransfkannya. Ayah kira kamu begitu sibuk dan ingin pergi ke sekolah? Jangan sampai telat ke sekolah dan tinggalkan kesan yang baik untuk teman-temanmu!"
"Hmmm." Menutup pembicaran.
Beberapa menit kemudian Arion pergi menghampiri Lovisa ke kamarnya. Dia begitu sedih mendegarkan pembicaraan Lovisa dengan ibunya.
"Ehh, kak Arion kenapa disini?" Bingung karena melihat Arion berdiri di depan kamarnya.
"Hari bolos sekolah yuk!" Ajaknya.
"Hah? Ta...tapi kan?"
"Hah, dasar wanita bodoh. Di sekolah juga tidak ada kegiatan hari ini. Kita sudah siap melaksanakan ujian untuk apa pergi ke sekolah lagi? Wheheheh" Tersenyum.
Lovisa terlihat seperti biasanya dan tidak ingin menujukkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Wanita bodoh. Aku mau pergi ke taman bermain, jika kamu tidak menemaniku maka aku akan melapor pada ibu." Memasang wajah kesal.
"Hah? Ta..tapikan ini jam sekolah? Mana mungkin tante marah?"
"Oh kamu nggak percaya? Kita lihat saja!" Mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana.
"Apa yang ingin kak Arion lakukan?" Kwatir.
"Menurutmu?" Sembari megeser-geser layar ponsel.
"Duhh,,, yaudah deh!" Merasa kesal.
"Nah gitu dong, yuk ganti pakaian dulu!" Arion pergi ke kamarnya.
Lovisa menghela napas dan pergi mengganti pakaian. Dia merasa sedikit aneh dengan kelakuan Arion beberapa menit lalu. Dia belum pernah melihat Arion tersenyum di saat berbicara di pagi hari. Dan mereka berdua begitu tidak akrab sebelumnya.
Apartemen Plus
__ADS_1
Victoria duduk dengan ponsel di tangan. Tampaknya dia tidak bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Seorang pelayan masuk ke ruangan tersebut dan menayakan apa dia ke sekolah atau tidak.
"Non, ini sudah pukul enam lewat. Mengapa non Victoria belum juga bersiap-siap?" Dengan lembut.
"Aku nggak pergi ke sekolah hari ini." Gumanya tanpa melihat pelayan.
"Tapi non..."
"Apaan sih? Reseh banget dah? Aku mau sekolah atau nggak itu bukan urusanmu! Cuman pelayan juga belagu banget." Kesal.
"Maaf...maaf non. Aku permisi dulu!" Menudukkan kepala dan pergi dari ruangan tersebut.
"Ihhhh, buat kesal amat sih? Gau kala lagi kan gara-gara pelayan bodoh itu." Gumanya.
Victoria memainkan game bersama teman-teman melalui online. Dia beranjak dari sofa dan menelpon seorang pria paru baya yang dekat dengannya.
"Pagi Victoria?" Suara dari ponsel dengan nada lembut.
"Pagi juga om." Tersenyum sembari berdiri di depan jendela.
"Tumben banget kamu nelpon om sepagi ini?"
"Memangnya om gak senang iya?" Bermanja.
"Tentu senang dong sayang, whehehhh." Mengoda.
"Hari ini aku mau ketemu sama om, boleh tidak?" Tanyanya.
"Dengan sangat senang hati, mengapa tidak boleh? Apa kamu bolos sekolah?"
"Iya."
"Oke om akan jemput kamu di kafe tempat biasa iya! Jangan lupa dengan selera om juga!"
"Oke, oke yang penting om juga harus tau selera Victoria!"
Tampaknya Victoria begitu dekat dengan laki-laki parubaya tersebut. Dan Victoria menangapi perkataanya dengan santai dan penuh kebahagiaan. Victoria menutup telponnya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi menemui pria tersebut.
πππππ
__ADS_1
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€