
1 Jam kemudian.
Wajah Lovisa memerah, dan sudah tidak sanggup lagi untuk menghabiskan minuman yang ada di gelasnya. Arion melihat Lovisa dengan samar-samar sembari tersenyum dan meneguk semua minuman di gelasnya.
"Wah,,,kamu hebat juga?" Menuangkan minuman ke gelas Lovisa.
"Whehehh, apa kamu kira aku akan menyerah? Dasar bodoh." Jawabnya dengan ke adaan mabuk.
Semua karywan juga terlalu banyak minum dan merasa mabuk. Mereka pulang satu persatu ke rumah masing-masing. Lovisa tertidur di sofa, dengan gaya yang tidak bisa di bayangkan.
"Bos, apa kamu baik-baik saja?" Melihat Arion yang mabuk dengan segelas minuman di tangan.
"Eitss,,,tunggu! Siapa kamu? Jangan menyentuh ku dasar brengsek." Keadaan mabuk.
"Kita harus pulang, bos sedang tidak keadaan baik-baik saja." Gumanya dengan keadaan sedikit mabuk.
"Aihzzz,,, bisa gak sih tinggalin! Kenapa cerewet amat sih? Bencong luh iya?" Kesal.
Arion yang sedang mabuk terlihat begitu mengelihkan. Tidak mengenal siapa yang bicara dengannya, dan tidak ingin tau. Peminum yang sangat buruk lebih tepat jadi julukannya.
"Breng**k, gak punya hati. Hiksss,,,sangat menyebalkan aku tidak mengira ada pria sebren***k kamu." Guman Lovisa dan tiba-tiba duduk.
"Duh, aku harus bawah bos pulang nih." Gumanya, lalu mengantuk dan tertidur di lantai.
Lovisa memperhatikan Arion yang ada di depanya, lalu menghampirinya dengan keadaan mabuk berat. Arion ingin tertidur dan bersandar pada sofa yang dia duduki.
"Pria bren**ek,,, karena kamu hidup adik ku hancur." Guman Lovisa sembari menujuk-nujuk wajah Arion.
"Aku sungguh merindukan mu." Guman Arion dan tersenyum.
"Apa kamu sudah menginggat ku sekarang? Hiksss....aku berusaha keras untuk bisa menemui mu. Huhuuuhh, kamu malah melupakan janji mu." Menangis di hadapa Arion.
Arion duduk seperti biasanya, lalu menatap Lovisa. Dia mengulurkan tanganya ke pipi Lovisa.
"Maafkan aku! Aku tidak pernah melupakan mu, bahkan sedetik pun. Aku tidak ingin membuat mu menderita lagi Lovisa. Aku sangat merindukan mu." Pandangan yang sedih.
Lovisa menatap Arion dan menangis terseduh-seduh. Arion memeluk Lovisa dengan erat sembari mengelus-elus rambutnya dengan lembut.
"Maafkan aku Lovisa, aku tidak akan pernah membiarkan mu tersakiti lagi. Aku sungguh bodoh telah berpura-pura melupakan mu. Aku ingin mencintai mu seperti orang lain, namun aku masih belum bisa Lovisa."
"Bodoh, kamu sungguh bodoh. Untuk apa kamu berpura-pura? Aku tidak bisa melupakan perasaan ku sejak lama. Jika bukan karena mu, aku tidak akan bisa bangkit jadi orang yang punya pendidikan.
Aku rela menghabiskan waktu untuk terus belajar dengan motivasi dari mu waktu itu. Aku bahkan tidak pernah mengeluh soal apa pun yang aku hadapi setiap harinya, untuk bisa lebih pantas bersama mu kak Arion hiksss,,,
__ADS_1
Banyak hal yang begitu menusuk hatiku, dan membuat ku terasa tidak berguna untuk bangkit. Banyak yang menjatuhkan ku dan tidak ada yang mendukung ku untuk jadi seorang yang berharga. Tapi kamu satu-satunya orang yang mendukung ku, dan memberi ku semangat yang tiada habisnya.
Hati ku sangat hancur melihat mu bersama wanita lain, mendengar kata-kata yang seharusnya tidak ku dengar. Mematahkan beribu semangat di hidup ku, di saat mendegar kamu ingin menikah dari mu sendiri.
Aku tidak yakin akan hal itu kak Arion. Huhuhuuu,,, katakan kamu tidak melakukan hal seperti pada ku! Itu hanya bohong kan? Hikss,,,, jangan membuat ku semakin jatuh terpuruk! Aku tidak punya seseorang yang bisa berganti pikiran selain diri mu. Aku ingin bersama mu, dan telah menyiapkan diri sesuai apa yang kamu katakan waktu itu kak Arion,,, huhuh."
Lovisa tak henti menangis, dan mencurahkan apa yang ada di perasaanya. Arion memegang kedua lengan Lovisa dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Lovisa, jangan menangis! Jika kamu menangis tidak ada yang akan berubah! Aku di sini bersama mu, aku tidak akan menikahi siapa pun ke cuali diri mu. Aku sudah membatalkan pernikah ku dengan wanita itu, itu hanya pernikahan demi bisnis Lovisa.
"Di hati ku hanya ada kamu seorang, tak ada orang lain selain dirimu. Maafkan ke cerobohan ku, yang telah membuat mu tersakiti.
Hanya saja aku, tidak ingin membuat mu jadi seorang yang lemah. Jangan pernah menangis di hadapan ku! Aku tidak ingin melihat air mata mu Lovisa! Itu menyayat hati ku, dan membuatku tak berdaya."
Arion menyentuh pipi Lovisa dan mendekatkan wajahnya. Dengan mesra mereka pun berciuman hangat. Arion terlihat begitu menikmati ciuman mereka, tak ada di antara mereka yang menolak ciuman tersebut.
"Hah,,,hah,,,aku tidak bisa beranapas." Bisik Lovisa dalam hatinya.
Arion memejamkan matanya, dan mendorong secara perlahan Lovisa ke sofa. Lovisa melingkarkan tanganya di punggung Arion, sembari memejamkan mata.
"Hmmm, hmm,, akhhhh. Hah,,,hah,,,hah,,,"
"Walaupun ini hanya mimpi aku tidak ingin bangun." Guman Lovisa.
"Cit...cit...cit.." Suara burung di pagi hari.
"Hanya mimpi? Tapi sepertinya halnitu nyata!?" Gumannya.
Dia bangkit dari tempat tidurnya, dan melihat jam dinding yang menujukkan pukul 08.20 Am. Dia pun panik, dan terburu-buru untuk pergi ke kantor.
"Duh, ****** aku!? Masih baru kerja udah telat. Aku tidak sempat berdandan nih. Ehhh, adik ku apa kah mereka sudah bernagkat?" Gumanya dalam hati.
Lovisa yang terburu-buru sampai tidak melihat ke dua adiknya masih tidur di ruang tamu. Pakaian yang tidak rapi, dan rambut yang masih belum di sisir.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Panggilkan model kita yang bernama Lovisa!" Pintah Arion pada Rismon.
"Baik bos." Sahutnya.
Arion masih merasa pusing karena terlalu banyak minum. Dia memijit-mijit kepalanya dengan tangan kanannya. Dia menginggat apa yang terjadi di bar tadi malam.
"Arhgkkkk,,,harusnya aku lebih berhati-hati." Gumanya.
__ADS_1
"Tok,,,tok,,,tok,,,!" Mengetuk pintu.
"Masuk!" Pintah Arion.
"Ceklek, kriettt,,,," Suara membuka pintu.
Lovisa berjalan ke arah presdir dengan rambut di ikat acak-acakan. Dan tas kecilnya di tangan. Dia memberi salam, membungkukkan badanya.
"Selamat pagi pak." Gumanya.
"Wanita ini, kenapa terlihat begitu tenang iya? AishzzzΒ membayangkan itu pun aku tidak sanggup." Gumannya dalam hati.
"Hmmm, silahkan duduk!" Pintahnya dengan canggung.
Seketika ruangan itu menjadi sangat canggung dan tidak ada yang berguman. Lovisa duduk seperti mayat hidup, dan Arion duduk dengan rasa malu untuk melihat Lovisa.
10 menit berlalu mereka hanya diam satu sama lain. Lovisa tidak mengerti mengapa Arion terdiam. Arion tidak tau untuk membicarakan apa, dan mengatakan apa soal kemarin malam.
"Ada apa dengan nya? Dia kan bukan Arion, hanya mirip. Tapi kenapa serasa sifat yang seperti ini, pernah terjadi sebelumnya?" Tanya Lovisa dalam hatinya.
"Apa...!?" Serentak bicara.
Arion jadi semakin canggung, dan Lovisa mengerutkan dahi merasa aneh. Arion menaikkan pandanganya, dan melihat Lovisa. Dia terbelahak melihat bekas ****** di leher Lovisa.
Lovisa yang memperhatikan Arion, merasa sedikit tidak nyaman karena di lihatin. Dia pun menoleh sana-sini, dan mengaruk lehernya.
"Ada apa...!?" Serentak bertanya lagi.
"Krik,,,krik,,krik,,," Terdiam merasa lebih canggung.
20 menit berlalu, dengan begitu saja. Arion membuka lacinya, dan mengambil sebuah selendang lalu memberikanya pada Lovisa.
"Pakaikan ini! Jangan membuat gosip yang akan mempengaruhi pekerjaan mu ke depanya!" Guman Arion.
"Hah!?" Bingung, dan merasa hal itu sangat familiar.
Lovisa tidak mengerti mengapa atasanya itu memberikan selendang padanya, dan menyuruhnya untuk memakai selendang tersebut. Dia memperhatikan Arion, dan matanya merasa panas ingin menangis.
"Ada apa dengan ku? Seketika aku ingin menangis melihat orang ini?" Bisiknya dalam hati.
"Mengapa belum di pakai?" Tanya Arion.
"Ehhh, iya-iya." Gumanya, sembari mengambil selendang itu.
__ADS_1
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€