Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 27


__ADS_3

Perhatianmu


🌸🌸🌸🌸🌸


Tidak ada yang bisa mengerti,


Disaat kamu terpuruk,


sekalipun itu adalah sahabatmu,


Jauh dari kedua orangtua,


Bahakan berusaha untuk menjadi,


seseorang yang bisa diandalkan,


Namun ada waktu, dimana aku merasa gagal


Aku hanya bisa meratapi nasib, dan terus berusaha,


Dan terkadang usaha yang kita perbuat tidak begitu memuaskan.


Berpikir, bahwa di dunia ini tidak ada yang peduli selain orangtua,


Bahkan menangis secara diam-diam, dan melirik waktu.


Dan semua datang tanpa pemberitahuan,


Rasa perhatian yang begitu amat di inginkan ,


Dan rasa kasih sayang seperti seorang malaikat,


Tidak terpikir olehku, untuk melaluinya.


Dan ternyata dia hadir dan memberikanku sebuah senyuman.


"Ayo!" Menarik tangan Lovisa ke luar dari ruangan tersebut.


"A..aku mau pergi ke kelasku." Gagap.


Β "Lovisa!? Klo ada yang bertanya apa hubunganmu dengan ku...."


"Aku, gak akan bilang kok. Kak Arion jangan kwatir!" Melihat penuh dengan kepercayaan.


"Berani sekali kamu memotong pembicaraanku?" Menatap.


"Ehh, bu..bukan begitu." Dengan nada pelan.


"Kamu harus mengatakan pada mereka klo kita berpacaran!" Memalingkan pandangan ke kanan, kiri merasa malu.


"Hah? Pa..pacaran?" Terkejut dan membesarkan mata.


"Cepatlha pergi ke kelasmu! Sebelum guru masuk kelas duluan." Tanpa ekspresi.


Di dalam kelas 10 B


🌺🌺🌺🌺🌺


Semua mata menatap Lovisa dengan tajam, dan penuh amara kecuali Egmont dan Jiera. Mereka begitu ingin menghajarnya ketika melihat Lovisa dekat dengan Arion.


"Cepat duduk!" Menarik tangan Lovisa.


"Ada apa? Mengapa mereka menatapku seperti itu?" Bingung.


"Nanti aku ceritakan." Guman Jiera.


Lovisa duduk di tempatnya dan mengeluarkan buku pelajaran. Egmont berdiri dan berbisik kepada Lovisa.


"Lovisa berhati-hatilha! Mereka ingin memberimu pelajaran yang mematikan."


Lovisa menoleh ke belakang, dan mengerutkan dahi sembari melihat Egmont. Dia tidak mengerti, apa yang terjadi di dalam beberapa menit lalu.

__ADS_1


4 jam kemudian


Bel pulang bunyi, dan semua murid merasa gembira. Di saat mau keluar dari kelas Victoria menghampiri Lovisa.


"Lovisa bisakah aku bicara denganmu sebentar?" Tersenyum.


"Bicara!?" Menoleh.


"Iya, tapi aku ingin bicara empat mata denganmu. Wheheheh." Sembari tersenyum ramah.


"Yaudah aku pergi duluan iya." Guman Jiera pada Lovisa.


"Hmmm." Menganggukan kepala.


Victoria mengajak Lovisa berbicara ke lantai atas gedung tersebut. Victoria tersenyum pada Lovisa sembari berjalan ke lantai atas gedung tersebut.


"Kenapa harus bicara di atas?" Tanya Lovisa.


"Mengobrol di ruangan terbuka lebih seru. Apa kamu tidak suka ngobrol di ruang terbuka?" Menoleh ke Lovisa.


"Hmmm, aku suka juga kok." Gumanya.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di lantai atas. Dari atas gedung tersebut terlihat kota B yang begitu indah dan memiliki gedung-gedung pencakar langit.


"Ternyata lantai atas benar-benar bersih juga."Β  Menghela napas.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Merasa tidak nyaman.


"Kenapa terburu-buru?" Berfoto.


"Jika tidak ad yang perlu, aku mau pulang." Beranjak.


"Wah,,, kamu benar-benar anak baik iya? Sehingga harus pulang tepat waktu juga?" Tersenyum jahat.


Mengabaikan dan melangkahkan kakinya. Victoria membunyikan jari tanganya, dan melirik sekeliling. Beberapa siswa datang dari sebuah ruangan kosong yang ada di atas gedung tersebut dan menghalangi Lovisa.


Lovisa berhenti dan membalikkan badan melihat Victoria. Dia mengerutkan dahi, dan penuh tanya.


"Cuman ingin bermain denganmu." Tersenyum sinis.


"Aku nggak punya waktu untuk bermain. Maaf aku duluan pulang." Beranjak.


Beberapa murid menghalangi Lovisa dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.


"Brakk."


"Arghkkk." Kesakitan.


"Lovisa? Apa kamu tidak ingin tanya mengapa mereka mendorongmu?" Tanya Victoria.


"A...apa yanga kamu lakukan? Aku tidak ingin bermain permainan konyol denganmu." Menatap Victoria.


"Wah,,,ada apa? Kamu tidak pantas menatapku seperti itu." Mendekati Lovisa dan menginjak kakinya.


"Arghkkk. Sakit..."


"Ohhh, apakah aku menginjak kakimu? Maaf aku gak lihat." Dengan penuh keangkuhan.


"Teman-teman apa kalian ingin berdiri saja?" Melihat para murid-murid lain.


"Mana mungkin kami hanya berdiri? Kami akan membuatnya menderita dan memberikan kesan di wajahnya." Guman salah satu murid.


"Victoria kamu bilang ingin berbicara, tapi mengapa malah ingin membulyku?" Kesal


"Wah kamu pintar, ternyata kamu juga tau kita akan membulymu. Whahaahha, tak ku sangka murid sepertimu bisa berpikir lebih cemerlang juga."


"Aku tidak ingin berurusan denganmu." Berusaha berdiri.


Beberapa murid tersebut menjatuhkan Lovisa kelantai, dan ada yang melempar tepung dan beberpa butir telur. Mereka tertawa-tawa merasa senang melihat Lovisa seperti adoanan kue.


"Lovisa seharusnya kamuntau diri dikit dong! Massa iya, kamu udah

__ADS_1


"Kami memang akui, kamu sangat hebat mengoda laki-laki di umur segini. Tapi setidaknya jangan mengoda laki-laki yang tidak pantas untukmu."


Lovisa menggengam kedua sudut roknya. Dia berusaha berdiri dan penuh emosian yang sedang membara.


"Hahahaahha,,, lihatlha dirinya seperti adoanan."


"Hwahahahahaah... benar-benar mirip adinan."


"Dia masih saja berusaha berdiri, dasar tidak tau malu." Guman salah satu murid lalu mendorongnya kembali.


"Apa yang kalian lakukan....?" Teriak Lovisa dengan kesal.


Semua terdiam selama beberapa detik, lalu tertawa kembali. Victoria mendekati Lovisa dan menginjak jari-jari tangan Lovisa dengan begitu keras.


"Arghkkk...Hiksss,,,hikssss." Kesakitan, dan menangis.


"Wheheheh,,, kamu ternyata anak yang cengeng iya?" Bisik Victoria lalu menutup hidungnya.


"Wah, kamu juga begitu bau. Apakah kamu tidak pernah mandi?" Menghindar.


"Hiksss....hikssss." Menangis.


"Teman-teman, apakah menurut kalian permainan kita ini sudah cukup untuk hari ini?" Tanya Victoria.


"Tentu sudah cukup. Tapi aku ingin membuatnya merasakan hal yang lebih seru lagi." Seorang murid yang begitu membenci Lovisa,Β  menyilangakan tangan sembari memberi kode pada teman-temanya.


Mereka mengotong Lovisa ke ruangan yang ada di lantai tersebut secara paksa. Lovisa berusaha memberontak, namun dengan tenaga mereka yang lebih dari lima orang membuatnya tidak berdaya.


Di depan sekolah.


Paman Jaka datang untuk menjemput Arion dan Lovisa. Namun sudah lebih dari setengah jam Lovisa belum juga muncul. Arion menghubunginya berkLi-kali namun tidak ada jawbanan.


"Kenapa wanita itu belum juga muncul?" Kwatir.


"Arion, masuklha duluan ke dalam mobil! Paman akan menyusulnya ke kelas."


"Hmm, baiklha." Beranjak mendekati mobil.


Arion membuka pintu mobil, sembari memegangi ponselnya. Dia menoleh dan melihat paman Jaka yang sudah pergi masuk ke sekolah tersebut, dan menghela napas.


"Apa jangan-jangan wanita itu pergi ke rumah cowok breng*** itu?" Melihat lokasi Lovisa melalui ponselnya sembari mengerutkan dahi.


Di atas gedung.


"Ikat dia di sudut!" Pintah murid yang membencinya.


"Nency, apa itu tidak terlalu keterlaluan?" Tanya Victoria.


"Apanya yang keterlaluan? Dia harus tau, bahwa kita tidak bisa di buat kesal."


"Akhh, yang kamu katakaan memang benar." Merasa senang.


"Lumuri kepalanya dengan air cucian ikan yang kita ambil!"


"Baik." Jawab temanya.


"Biarkan lalat juga bersenang-senang denganya." Merasa puas.


"Cewek-cewek bodoh. Tak ku sangka kalian berbuat sejahat itu, dengan satu cewek. Sungguh keberuntungan yang luar biasa." Guman Victoria dalam hatinya.


"Udah cepat, tinggalkan dia! Kita harus segera pergi sebelum ada yang curiga." Terburu-buru pergi.


"Bahkan orang yang tidak kukenal begitu membenciku. Hiksss,,,," Bicara dalam hati dan air mata yang mengalir terus.


"Dan aku tidak meyangka orang yang tidak pernah aku usik sekalipun membenciku dengan cara yang begitu kejam."


Keadaan Lovisa yang begitu buruk, dan badanya menjadi begitu sangat bau. Lalat mulai berdatangan karena air cucian ikan yang disiramkan padanya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Salam hangatku😘."

__ADS_1


__ADS_2