
πππππ
Setiap hari berjalan penuh dengan kesedihan yang tidak pernah berujung. Semua berlalu seakan dunia menelan satu persatu harapan. Tidak ada gunanya untuk melihat apa yang sudah berlalu, dan semua hanya air mata yang melaluinya, serta setimpuk perasaan yang menyakitkan.
Setiap detik berjuang untuk bisa bangkit, walaupun nyatanya akan sulit untuk di lalui. Begitu banyak hal yang terjadi selama beberapa tahun dimana melihat kepahitan sesungguhnya. Ayah meninggal, dan ibu jatuh sakit di waktu yang begitu lama dan pergi menyusul ayah.
Aku hanya bisa berusaha untuk lebih kuat, dan memberikan semangat yang kuat untuk kedua adikku. Tidak ada satupun keluarga yang mengiginkan kami, karena kemiskinan. Semua keluarga menjauh begitu saja, dan membiarkan kami terlantar.
Bahkan aku tidak pernah menyangka bahwa pamanku akan menjual tanah peninggalan orangtuaku, dan hanya memberikan 2% untuk hidup ku dan kedua adikku. Mereka hanya mengatakan bahwa semua peningalan orangtua kami di simpan di bank, dan menyuruhku dan kedua adikku tinggal di kota B untuk sementara waktu.
Walaupun begitu aku merasa begitu bersyukur masih bisa hidup, dan makan sehari-hari dengan sederhana bersama kedua adikku. Paman berjanji untuk mengirimkan kami setiap bulanya uang untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah. Mendegar hal itu, aku bisa tenang untuk sementara waktu dan masih punya harapan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Namun hal itu tidak berlangsung dengan lama. Paman hanya memenuhi perkataanya selama enam bulan, lalu mereka memutuskan hubungan denganku dan kedua adikku. Aku tidak bisa membiarkan mereka terlantar, dan menjadi orang yang tidak memiliki pendidikan.
Aku sekolah sembari bekerja di sebuah rumah makan. Bahkan aku tidak pernah merasa malu untuk meminta sisa-sisa makan yang masih layak untuk di makan, dan membawanya pulang. Aku tidak akan membiarkan kedua adikku mati kelaparan, lalu dengan hal itu uang yang ku hasilkan tidak seberapa itu pun ku simpan untuk membiayai kedua adikku sekolah.
Aku bersyukur, bahwa laki-laki yang pernah aku cintai memberikan tempat, dan membayar uang sekolahku waktu itu. Aku hanya perlu berusaha lebih giat belajar untuk mendapatkan beasiswa, dan menwujudkan perjanjian tersebut.
Setiap malam aku tidak bisa tidur dengan tenang, dan terus belajar bahkan aku berniat untuk menunjukkan wujud asli ku. Aku tidak lagi pendiam, dan bodoh di antara orang-orang yang di anggap paling jenius di sekolah. Namun sulit di percaya di mana aku sudah tidak pernah tersenyum. Aku memberikan kedua adikku pendidikan lalu aku mengajari mereka.
Mereka terlihat begitu polos dan tidak tau apa-apa. Namun aku memiliki tujuan yang benar-benar harus terwujud di waktu yang dekat ini. Aku tau benar bahwa mereka sering di ejek oleh teman-temanya di sekolah, bahkan terkadang pulang dengan mata, yang bengkak karena menangis.
Aku menjadi ayah dan ibu untuk mereka berdua. Semua hal yang ingin ku gapai tercapai satu-persatu walaupun kekayaan belum memihak diriku. Aku masuk universitas ternama di kota B dengan beasiswa dan kemampuanku sendiri. Lalu aku meminjam beberapa uang ke temanku Jiera dan Egmont. Uang tersebut memperpanjang kontrak rumah untuk tempat kami tinggal.
Semua terjadi dengan hal yang menyulitkan. Uang yang aku terima dari pemerintah aku tabung, dan uang yang aku dapat dari kerja sampingku membiayai kehidupan kami. Walupun masih sering memakan makanan yang sisa, namun Egmont dan Jiera begitu sering mengunjungi rumah dan membawa beberapa makanan.
Aku cukup bersyukur memiliki teman seperti mereka. Tapi aku sedih dengan orang yang telah mengungkapkan perasaanya terhadapku yang menghilang begitu saja. Aku tidak pernah bertemu, bahkan berkomunikasi setelah hari itu. Aku hanya tau bahwa dia tinggal di luar negri dan sekolah, sembari menjalankan bisnis ayahnya di umur yang begitu muda.
Waktu begitu cepat berlalu, dan tidak terasa aku sudah menyelesaikan pendidikanku. Sudah saatnya aku untuk memenuhi perjanjian tersebut. Kedua adikku sudah masuk ke SMA walupun yang paling kecil masih kelas 10, tapi guru mengakuinya yang terbaik. Dan adikku yang paling besar sering mendapat pujian sejak SMA.
__ADS_1
Aku mengajari mereka untuk bisa hidup mandiri. Tidak di sangka setelah lulus seseorang menawarkan pekerjaan dengan ku di luar negri. Pekerjaan yang memang begitu sangat menguntungkan dengan gaji yang besar. Aku menolak pekerjaan tersebut lalu pergi ke luar negri dengan uang tabunganku selama ini. Tabunganku tersebut cukup untuk ongkos pulang pergi, dan biaya untuk beberapa hari sampai aku telah menemukannya. Dia adalah orang yang pertama mendukungku untuk bisa sampai seperti yang sekarang.
6 tahun kemudian
Kota New York
Seperti yang sudah banyak di ketahui oleh dunia. Dimana kota ini begitu terlihat sangat mewah, dan memiliki gedung yang berseni. Lovisa berdiri penuh dengan kepercayaan untuk menemukan laki-laki miliknya.
Datang dari bandara Lovisa langsung memesan kamar hotel yang murah. Dia meletakakan tas ranselnya, lalu dengan semangat ingin mencari Arion. Lovisa mencari taxi, lalu beberapa menit menemukan taxinya.
"Please take me to the Revoir company!" Guman Lovisa sembari duduk di kursi taxi tersebut.
"Okay miss." Jawab supir tersebut.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Seorang laki-laki dan wanita yang keluar dari dalam gedung besar. Mereka terlihat begitu dekat, dan wanita itu mengandeng tangan laki-laki tersebut penuh kemesraan.
"Suruh sekretarismu untuk memikirkan hal yang bisa di berikan pada orangtua!" Jawabnya ketus.
"Klo aku bertanya pada sekretarisku, apa artinya anaknya ada bersamaku?" Merasa kesal.
"Aku ingin pulang dan pergilha naik mobilmu sendiri!" Pintahnya.
"Mobilku sedang di perbaiki dan aku juga ingin pulang denganmu."
"Oh, naiklha sendiri! Apa aku perlu membukakan pintu?" Wajah tanpa ekspresi.
Di sisi lain Lovisa berdiri di depan gedung tersebut. Dia melihat gedung pencakar langit itu dengan wajah yang kagum. Dia melangkahkan kakinya dan berdoa dalam hati agar bisa menemui Arion secepat mungkin. Dia melihat kiri kanan, dan terdiam.
__ADS_1
"Ehhh, sepertinya laki-laki yang di sana itu....!?" Memperhatikan.
"Dia mirip dengan kak Arion, tapi warna rambutnya dan wajahnya sedikit berbeda. Itu mungkin bukan dia, aku ternyata begitu mencintai kak Arion, sampai-sampai mengira orang lain adalah dirinya." Gumanya dan melanjutkan perjalanan.
Seorang pria yang berpakaian kantoran keluar dari perusahaan dengan terburu-buru.
"Arion....! Tunggu dulu kita perlu membicarakan hal yang kemarin!"
Lovisa yang mendegar pria tersebut memanggil nama Arion langsung membalikkan badan dan melihat laki-laki yang berdiri dengan jarak 20 meter di hadapanya. Matanya mulai berkaca-kaca dan tidak bisa menahan dirinya untuk segera memeluk erat Arion.
"Dia, dia...? Aku menemukanya." Gumnaya dengan pelan, sembari bejalan menghampiri.
"Aku sudah katakan, hal itu tidak perlu di bahas lagi!" Tanpa ekspresi.
"Benar yang di katakan Arion! Kamu lebih baik mengurus acara pernikahan kami! Bukankah itu lebih baik?" Sembari bersandar ke bahu Arion dengan manja.
Lovisa menghentikan langkahnya, dan tidak bisa berkata-kata di saat mendegarkan wanita itu mengatakan tentang pernikahan. Dia jadi tidak punya kemampuan untuk menghampiri Arion, dan berdiri dengan kaki gemetaran tak berdaya.
Lovisa menudukkan kepala sembari memegang erat baju di bagian dadanya dan menekan-nekan dadanya. Perasaanya tiba-tiba buruk, dan air matanya mengalir tanpa di sadari.
Wanita yang bersama Arion melihat Lovisa yang berdiri tidak jauh di hadapan mereka.
"Rismon, apakah wanita itu karywan di sini?" Menunjuk ke Lovisa.
"Hah? Sepertinya bukan. Tapi sejak aku kesini dia sudah ada disitu." Jawabnya sembari melihat.
"Coba periksa! Dia sepertinya tidak baik-baik saja. Dia sepertinya menangis tuh!"
Arion asik memainkan ponselnya, dan mengabaikan perkataan wanita yang di sampingnya.
__ADS_1
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€