Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 18


__ADS_3

"Apa hak mu menatapku seperti itu? Menjijikkan. Cuihhhh...." Kesal, dan jalan lebih cepat.


"Semejijikan itukah?" Keberanian yang tak terduga. Namun tak di tanggapi oleh Arion.


Lovisa berdiri, dan merasa canggung. Namun berusaha untuk bisa mengibur Arion. Dia pun berjalan di belakang Arion sembari mengotak atik layar hpnya.


Setelah satu jam kemudian.


"Aku ingin pergi ke suatu tempat. Kamu pulanglha duluan!" Pintah Arion pada Lovisa yang masih menunggu bus di halte.


"Nggak mau." Berpura-pura tidak mengatakan apapun.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berusaha untuk menjadi penguntit disaat kemana pun aku pergi?" Menoleh dengan kesal.


"Aku gak peduli. Pokoknya aku mau ikut." Menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari melirik ke Arion.


Arion merasa kesal dan tersenyum sinis. Lovisa melirik dengan tajam dan berdiri di depan Arion dengan menatapnya. Arion terbelahak dengan kebingungan.


"A...apa yang ingin kamu lakukan?" Terbelahak tak megerti.


"Wah di rambut kak Arion ada daun.Whehehe." Merasa lucu, dan mengambil sehelai daun yang ada di kepala Arion.


"Hmmm,,," Canggung dan terdiam.


"Kak Arion nanti temani aku yuk!" Guman Lovisa sembari duduk kembali.


"Wanita ini, berani sekali dia?" Bisik Arion dalam hati sembari bermain ponsel kembali.


"Kak Arion? Bisakan?" Tanya Lovisa lagi.


"Nggak, aku mau pulang kerumah." Jawabnya dengan ketus.


"Ohhh." Wajah yang sedih, dan tertuduk.


Lovisa melihat ponselnya pesan dari Egmont. Arion melirik, dan membaca


" Sekitar 1 jam lagi datangnya iya! Aku nggak akan mengecewakanmu kok. Wheheheh."


"Egmont? Kapan dia mendapat we-chat anak kampret itu? Jangan-jangan dia ingin melakukan sesuatu pada Lovisa?" Mengerutkan dahi dengan penuh pertanyaan.


"Nggak, aku kenapa peduli. Lagian wanita ini semakin membuatku kesal." Memainkan ponselnya kembali dan mengabaikan.


Lovisa menghela napas dan berdiri sembari menoleh ke arah Arion. Raut wajahnya begitu sedih, lalu melihat bus yang datang dari arah Utara, dan segera naik. Arion menyadari keberadaan bus tersebut dan masuk.


Lovisa duduk di dekat jendela bus. Arion duduk di sampingnya tanpa ekpresi, sembari memainkan ponsel.

__ADS_1


Setelah beberapa menit busnya berhenti. Lovisa turun dari dalam bus, begitu juga dengan Arion. Lovisa mengerutkan dahi dan penuh tanya.


"Mengapa kak Arion turun di sini?" Tanya Lovisa.


"Aku nggak ada pilihan selain ingin menemanimu. Aku nggak ingin kamu membuat masalah baru, makanya ikut." Wajah tanpa ekspresi.


Apartemen plus


🌺🌺🌺🌺🌺


Victoria berendam di bath. Dia memejamkan mata, sembari berusaha untuk merilexkan pikiran.


"Huuu,,, sangat tenang dan damai." Guman Victoria sembari membuka matanya perlahan.


"Kemarin malam sepertinya aku melihat Egmont, itu mimpi atau nyata iya?" Tiba-tiba mengingat.


Seorang pelayan wanita masuk " Apakah airnya masih hangat non?" Tanya pelayan tersebut.


"Iya, tolong siapkan pakaianku!" Pintah Victoria.


Tidak lama setelahnya Victoria duduk di meja riasnya, sembari bercermin.


"Apa aku kurang cantik dari pada wanita sialan itu? Wajahku begitu mulus, dan bibirku begitu sexi. Tapi wanita itu dengan wajah pas-pasan bisa memikat hati Arion." Memperhatiakan wajahnya dari cermin.


"Lihat aja, aku akan menyikirkan wanita itu. Wajah pas-pasan tapi bisa mendapatkan pria yang begitu sempurna bahkan berteman dengan Egmont si brengsek itu." Gumanya dengan kesal.


"Halo dr, Niko. Bisakah hari ini datang ke tempatku? Aku membutuhkan perawatan, untuk kulit hari ini!"


Victoria yang begitu rutin melakukan perawatan kecantikan sejak umur 15 tahun sampai sekarang.


Ayahnya memberikan apapun yang Victoria inginkan. Kecuali pergi keluar rumah tanpa sepegetahuan ayahnya yang akan menjadi bahan percekcokan mereka.


"Aku nggak akan membiarkan seorangpun berpaling dari kecantikanku." Menurunkan ponselnya dengan senyuman sinis.


Restaurant Canva


🌺🌺🌺🌺🌺


Arion dan Lovisa berdiri di depan restaurant tersebut sembari sama-sama kebingungan. Arion menoleh ke Lovisa, begitu juga dengan Lovisa menoleh kembali pada Arion.


"Apa kamu bercanda?" Tanya Arion.


"Ta...tapi, Egmont mengirim alamat yang persisi sama kok." Bingung.


"Apa anak itu ingin mempermainkanmu?" Tersenyum sinis, dan membalikkan badan.

__ADS_1


"Lovisa kak Arion?" Teriak Egmont dari pintu Resaturant, sembari melambaikan tangan.


"Itu dia." Segera menghampiri Egmont.


Arion menghela napas dan membalikkan badan, lalu mengikuti dari belakang.


Egmont mengajak mereka ke sebuah ruangan yang ada di lantai atas. Arion dan Lovisa bingung dan mengikuti Egmont.


"Kreekkkk...." Suara pintu yang terbuka.


Egmont mempersilahkan mereka untuk masuk. Lovisa menoleh ke arah Egmont, dan merasa bingung. Egmont mengedipkan matanya, lalu menujukkan ekspresi wajah agar menyuruh Arion masuk duluan.


"Kak Arion ayo! Ehh, aku mau ke toilet dulu, kak Arion duluan iya!" Alasan.


Arion masuk dengan santai, lalu berdiri sembari melihat-lihat ruangan tersebut.


"Duarr.....duar....duar....duarr...."


Arion terkejut dan menoleh ke arah suara petasan tersebut. Lalu beberapa orang mulai berdatangan sembari menyanyikan lagu happy brithday. Arion bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi.


Beberapa jam yang lalu, Lovisa meminta bantuan Egmont untuk mengatur hal ini. Dia hanya meminta untuk membelikkan kue, dan juga menyiapkan suprise sederahana. Tak diduga Egmont mengundang beberapa teman dari sekolah untuk merayakannya.


"Happy brithday to you...happy britday to you.." Menyanyikannya sembari bertepuk tangan, mengelilingi Arion.


Lovisa datang dengan membawa sebuah kue di tanganya. Arion terbelahak, dan kebingungan. Lovisa berdiri di hadapan Arion sembari ikut bernyanyi.


"Happy brithday kak Arion." Tersenyum hangat.


Arion terkejut, dan terdiam, dia membesarkan matanya dan masih bingung.


Lovisa tersenyum dan tiba-tiba ekpresi wajahnya sedih, mengingat perkataan tante Lesi mengenai Arion.


Teman-temanya menyuruh untuk meniup lilin dan memotong kue. Arion tidak bisa berkata-kata dia pun meniup lilin tersebut sembari kebingungan.


Untuk potongan pertama Arion memberikanya pada Lovisa, sembari tersenyum. Lovisa ikut merasa senang, dan menerimanya.


"Ahhh, senyummu ternyata mematikan." Guman seorang teman kelasnya.


"Pantasan Arion gak pernah tersenyum ke kita. Ternyata, karena senyuman yang berbahaya." Guman beberapa teman laki-laki sekelasnya.


"Wah,,, kak Arion senyumanmu begitu menawan." Ucap teman sekelas Lovisa sembari malu-malu, dan melihat Arion.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.😊

__ADS_1


Salam hangatku😘**


__ADS_2