
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"*Bro, apakah kamu sudah lama menunggu?" Tanya Egmont pada temannya yang duduk di kursi sembari mengambil segelas minuman keras.
"Belum nih. Ayo kita minum dulu!" Ajak temannya dan menyodorkan segelas minuman keras ke depan Egmont.
"Aku nggak bisa minum. Aku mau langsung pulang, karena besok ada kerjaan. Wheheheh." Menolak tawaran pria itu dengan lembut.
"Tampaknya kamu anak yang berbakti iya? Ini barangnya, kamu transfer ke atmku uangnya. Oke!" Guman pria tersebut sembari memberikan sebuah barang pada Egmont.
"Terima kasih iya bro, semoga launchpad nya membawa kesuksesan." Menepuk pundak laki-laki itu dan segera beranjak dari tempat tersebut.
Egmont merasa senang bisa membeli launchpad baru dengan hasil tabunganya sendiri. Dia terburu-buru pergi dari bar club, karena dia tidak pernah menyukai club malam.
"Apa yang kalian lakukan?" Terdengar suara wanit yang tidak jauh dari tempat Egmont berdiri.
"Sepertinya aku mengenali suara ini, tapi bodoh lha mungkin kebetulan mirip."
Melangkahkan kakinya, dan tidak sengaja Nisa menyenggolnya.
"Aihhh..." Kesal.
"Ha...? Nisa juga ada disini?" Segera menyembunyikan wajahnya dengan jaket yang dia pakai.
Egmont tidak sengaja menoleh ke salah satu sudut Club tersebut, dan melihat Victoria yang sedang bersama beberapa pria.
"Apa yang ingin mereka lakukan? Sepertinya Victoria dalam masalah." Segera keluar dari dalam club, dan mengotak atik layar ponsel lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinga
"Halo pak, ini dari Bar Clun Ares. Disini sedang mengadakan pesta yang tidak layak, dan banyak anak pelajar*."
Ternyata Egmontlha yang melapor pada polisi karena kwatir dengan keadaan temannya, yang sedang mabuk.
"Sangat memalukan, bagimana jika aku tidak menyuruh polisi datang, pasti dia sudah habis di kerjain para pria brengsek itu." Menghela napas, dan segera berajak pergi meninggalkan tempat itu.
Vila gren house
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Makasih untuk hari ini kak Arion!" Tersenyum dengan canggung, dan beranjak pergi ke kamarnya.
Arion menoleh tanpa wajah ekpresi, dan memberikan barang yang di tanganya pada Lovisa. Lovisa bingung, karena semua barang tersebut di berikan untuknya.
"Bukankah ini punya kak Arion?" Tanyanya dengan bingung.
"Ibu menyuruh untuk membelikkannya. Kamu juga bisa menulis harian melalui ponsel tanpa menggunakan buku."Gumanya dan mengingat buku yang di beli Lovisa tadi di mall.
"Ta...tapi ini sangat berlebihan. Aku bahkan belum bertemu dengan bibi."
"Kamu bisa menlponnya melalui ponsel tersebut!" Dengan arogant dan beranjak ke kamarnya.
"Ponsel? A..apa, apa aku sedang mimpi? Aku belum pernah memiliki ponsel selama ini." Bisiknya dalam hati.
"Kak Arion?" Menghampiri Arion.
Arion menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Aku nggak bisa menggunakannya." Menyodorkan pada Arion.
"Apa kamu anak kecil?" Menatap dengan kesal.
"Bukan. Ta..tapi aku belum pernah menggunakan ponsel sebelumnya, jadi lebih baik aku kembalikan, karena takut aku hanya bisa menghancurkannya." Dengan gagap dan kwatir.
"Kamu hanya perlu menghidupkanya, dan lihat ada buku panduan di dalam kotak. Jika ada yang tidak kau mengerti, tanyakan!" Pergi begitu saja.
"Ohhh... makasih kak Arion!" Menghela napas dan masuk ke kamarnya.
Setelah beberapa jam Lovisa pun mengerti menggunakan ponselnya. Dia begitu senang, bisa memiliki ponsel.
"Aku akan menelpon ke desa. Aku minta no tante Elin sama kak Arion dulu deh." Beranjak dari kursinya
Kamar Arion
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Arion yang asik sedang asik mengerjakan tugas sekolah. Kamar pria yang begitu rapi, bahkan lebih bersih dari kamar seorang gadis.
"Tok...tok..." Suata pintu di ketuk.
Arion menghentikan pena yang di tanganya, dan menoleh ke pintu kamar.
"Kak Arion, bolehkah aku minta nomor tante Elin?" Suara Lovisa dari balik pintu.
"Aihhh." Meletakkan penanya, dan beranjak membukakan pintu.
"Kreekkk...." Pintu terbuka.
"We-chat? Aku belum daftar akun we-chat." Sahut Lovisa dengan penuh tanya.
"Aku sudah mendaftarkannya di saat membeli." Jawab Arion dan menutup kembali pintunya.
"Ehh, tunggu dulu!" Mendorong pintu kembali.
"Apa lagi?" Wajah yang mulai kesal.
"Ba...bagaimana aku bisa menulis cerita di ponsel?" Wajah penuh permohonan.
"Masuk!" Pintah Arion sembari melepaskan tanganya dari pintu.
"Mengapa dia menyuruhku masuk? Apa dia ada niat buruk, dan jangan-jangan dia ingin menyuruhku menukar kebaikannya dengan....?" Berpikir dengan keras.
"Mengapa berdiri disana?" Duduk di kursi belajarnya dan menoleh ke Lovisa.
"A...aku akan mencari tau sendiri aja. Wheheheh." Gagap dan membalikkan badan.
"Apa kamu pikir aku akan melecehkanmu? Dasar wanita gak ada akhlak."
Bicara merasa kesal, dengan sikap Lovisa.
Lovisa terbelahak, dan tanpa pikir lagi segera masuk ke dalam kamar Arion. Dia berdiri di depan Arion, sembari menundukkan kepala.
"Mengapa berdiri? Kamu pikir aku ini seorang pangeran?" Wajah kesal.
__ADS_1
"Duh,,, lantas aku duduk dimana? Gak mungkin aku duduk di lantai, dan itu akan menimbulkan aku di tertawakan, lalu duduk di tempat tidur maka bisa jadi setanya muncul secara tiba-tiba." Pikiran yang begitu kacau.
"Jika kamu tidak duduk, aku nggak akan mengajarimu!" Mengerutkan dahi.
"Se...sebentar, aku akan ambil kursi dari kamarku dulu!" Gagap dan melangkahkan kakinya.
"Wanita idiot. Apa kamu tidak lihat ada tempat tidur?" Guman Arion.
"******, apa yang ku pikirkan sepertinya benar." Ketakutan, dan gelisah.
Arion menghela napas, berdiri lalu mendudukkan Lovisa di tempat tidur dan menarik kursinya ke dekat Lovisa.
"Duh...jantungku serasa ingin meledak. A..apa, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku...?" Bisik dalam hati, dengan ketakutan.
"Tampaknya kamu berpikir yang enggak-nggak. Aku rasa kamu ini wanita yang terlalu banyak berpikiran aneh." Tanya Arion sembari mengulurkan tanganya untuk minta ponsel yang di pegang oleh Lovisa.
Lovisa memberikanya dengan ragu dan takut. Arion merasa jengkel, dan langsung mengambil ponsel dari tangan Lovisa.
Setelah beberapa menit Arion mengembalikan ponsel Lovisa.
"Nih! Aku sudah download beberapa aplikasi untuk menulis." Beranjak mengambil sesuatu dari lacinya dan memberikan pada Lovisa.
"Apa ini?" Mengambil.
"Ibuku mengirim beberapa pakaian dari sana, dan membelikan juga untukmu." Merapikan kursinya kembali.
"Oh, terima kasih." Merasa tidak nyaman.
Kantor polisi kota B
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Seorang pria parubaya datang untuk mengurus masalah Victoria. Dia Imran seorang pengawal kepercayaan ayah Victoria untuk mengawasinya.
"Maaf pak, Victoria meropotkan Anda. Tapi saya akan mengigatkan putri saya untuk tidak mabuk lain kali." Sembari memperhatikan Victoria yang tertidur di kursi.
"Sebagai orangtua seharusnya anda, tau bahwa anak pelajar tidak bisa keluar di jam segini! Malam sangat berbahaya bagi seorang pelajar, apalagi seorang gadis." Guman polisi tersebut pada Imran.
"Iya pak, saya memang benar-benar tidak tau akan hal ini. Tapi saya akan berusaha untuk tidak mengulangi masalah seperti ini."
Victoria bangun dan duduk, dia mendekati Imran dan menepuk-nepuk punggung Imran sembari keadaan mabuk.
"Wah, Imran mengapa kamu juga ada di mimpiku hah? Menyebalkan, kamu ingin membawaku ke aparteman?" Guman Victoria, sembari merasa pening.
"Pak kami harus pergi dulu, terima kasih." Merasa kwatir dan segera menuntun Victoria pergi dari tempat tersebut.
"Aihh, mengapa kamu selalu menjijikan?" Victoria bicara sembari menatap Imran dengan kesal.
"Seharusnya kamu menuruti perkataan ayahmu! Bagaimana jika hari ini polisi mengetahui identitasmu, maka ayahmupun tidak ada muka untuk hidup." Guman Imran dengan kesal.
"Aku mengiginkan hal itu, agar ayah tidak bisa mengurungku hanya di apartemen, dan tidak bisa sembarangan berteman bukankah itu hal baik?"
Masuk ke dalam mobil, dan tertidur.
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.๐
__ADS_1
Salam hangatku๐**