
Arion pergi ke ruang musiknya. Disana dia senyum-senyum mengingat wajah terkejut dan kwatir Lovisa. Arion duduk di bangku piano, dan meletakan jari-jarinya di tus
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Arion memanikan piano begitu lembut dan terdengar alunan yang begitu indah. Dia begitu menikmati permainannya dan merasa lebih baik serta bisikan yang selalu membuatnya semakin semangat.
Malam hari
"Bibi, bisakah kamu tinggal untuk beberapa saat disini?" Tanya Arion sembari duduk di sofa ruang tamu.
"Aku juga ingin tinggal untuk beberapa saat disini. Tapi akhir-akhir ini kondisiku tidak baik nak, bagaimana jika aku mencarikan seseorang?"
"Itu juga boleh!" Tanpa ekspresi.
"Aku akan menyuruhnya datang kemari besok setelah nak Arion pulang sekolah." Merasa senang.
"Kenapa tidak sekarang? Aku butuh mulai sekarang juga, bagaimana pun wanita payah itu gak bisa melakukan apa-apa dengan tangan terluka." Gumanya.
"Tapi ini sudah larut?"
"Bibi bisa pulang! Aku sendiri yang akan mencarikan pelayan. Aku sudah mentransfer gaji untuk sebulan penuh karena sudah membantuku hari ini."
Beranjak pergi.
"Huuhhhh, anak ini makin lama makin sombong. Toh juga nanti kamu akan jadi menantuku, wheheheheh." Merasa senang.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Lovisa!?" Masuk tanpa mengetuk pintu.
"Apa yang di lakukan anak laknat ini?" Berbisik dalam hati.
"Mengapa belum tidur?" Hangat.
"Menyebalkan, pengen aku cekik." Berbisik, dan masih kesal.
"Fiuhhhhh,,," Berbaring di tempat tidur.
Lovisa terbelahak dan bingung. Dia segera berdiri dari kursi belajarnya dan melihat Arion penuh ketakutan. Arion memejamkan matanya dan ingin tertidur.
"A....a...apa yang kamu lakukan?" Gagap.
Arion tidak menjawab membuat Lovisa makin kwatir.
"Baiklha, aku akan tidur di ruang tamu." Mengambil selimut dengan tangan kirinya. Arion membuka matanya dan mengerutkan dahi sembari memperhatikan Lovisa.
"Selangkah pergi dari pintu itu, maka selamanya jangan harap untuk bisa pergi ke sekolah!" Gumanya dengan santai.
Lovisa menghentikan langkahnya, dan berpikir keras dengan apa yang barusan dia dengar. Dia membalikkan badan dan menghela napas sembari melemparkan bantal dan selimutnya.
"Lalu, apa yang kamu lakukan disini?" Kesal.
__ADS_1
"Tentu ingin tidur." Menarik selimut.
"Hah....? Apa kamu masih waras?"
"Hmmm, menurutmu? Jangan berisik! Aku nggak bisa tidur klo kamu terus ngoceh, lebih baik segera tidur juga agar tubuhmu gak lemah!"
"Gimana aku mau tidur?"
"Tinggal berbaring, dan tidur! Bukankah itu hal yang gampang?" Mencoba untuk memejam mata.
"Apa kamu kira aku ini wanita apaan...?" Meneriaki.
"Aihzzzz,,,bisa diam gak sih? Toh juga udah pernah kenapa masih takut sih?"
"Brengsek. Memang gak punya akhlak. Jangan kira dengan seperti itu jadi seenaknya ingin meniduriku!" Kesal dan emosi yang melunjak.
"Sudah cukup blom bicaranya?" Terbangun dan menoleh ke arah Lovisa.
Lovisa terdiam tanpa kata-kata. Dia merasa begitu kesal dengan sikap Arion, namun tidak ada yang bisa di lakukan olehnya kecuali melawan.
"Kenapa masih berdiri di sana? Perlukah aku menggendongmu untuk tidur?"
"Si brengsek ini!? Apa dia benar-benar sudah gila sehingga ingin tidur dengan seorang wanita?" Bisik dalam hati.
"Tentu aku tidak gila! Cepat sini! Jangan gitu dong, masa wajahnya murung terus? Gak senang iya? Aku nemani kamu lho?" Mulai iseng.
"Siapa yang akan senang tidur dengan manusia yang sakit jiwa? Terutama kamu seorang laki-laki, nggak wajar tidur bersama dengan wanita!"
"Kamu masih kecil, lebih baik jangan melakukan hal yang gak benar! Umurmu masih sangat muda untuk hal-hal yang tidak penting." Berusaha untuk mengigatkan.
"Pfffffffttttt." Merasa lucu dengan perkataan Lovisa.
"Dia benar-benar sudah gila. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi anak laknat ini?" Gumanya dalam hati.
"Siapa bilang kecil? Buktinya kamu merasa senang di saat....!?" Menahan tawa.
"Ka...ka...kamu!? Akhhhhh,,, meyebalkan benar-benar cabul. Kenapa orangtuamu masih membiarkanmu sekolah? Mereka akan menyesal di saat mengetahui anaknya begitu buruk." Lovisa bicara dengan kesal, sembari merasa malu.
"Aku tidak mengira akan seperti itu kok." Guman Arion.
Lovisa begitu kesal melihat tingkah Arion. Dia terdiam berdiri sembariΒ menahan air mata yang ingin mengalir dari kedua sudut matanya. Arion beranajak dari tempat tidur tersebut dan mendekati Lovisa.
"Hei,,, kamu tau tidak di vila ini? Jika ada yang menangis di malam hari maka mereka tidak akan diam lalu berusaha untuk membunuh orang yang menangis tersebut." Membisikkan ke telinga Lovisa.
"Huftttt..." Mengigit bibir menahan amarah.
"Klo mau marah jangan di pendam iya! Ntar sakit lho." Guman Arion.
Lovisa tidak bisa menahan emosi lebih lama dan menatap Arion sembari menginjak kakinya dengan kuat.
"Awwwww." Kesakitan.
__ADS_1
Lovisa menatap penuh dengan kebencian dan menginjak kaki Arion semakin keras. Arion kesakitan dan mencoba mengeluarkan kakinya dari injakan Lovisa.
"Awwwww,,, apa kamu sudah gila?" Guman Arion dengan wajah yang kesakitan.
"Wheheheh, siapa duluan yang gila? Bleeeehhhhh" Melepaskan, dan meledek Arion.
"Dasar wanita yang gak tau terima kasih." Memegangi kakinya yang kena injak.
"Selamat malam kak Arion, semoga mimpi indah. Wheheheheh." Beranajak pergi dari ruangan tersebut.
Pagi hari yang begitu sejuk dan angin yang berhembus perlahan. Lovisa masih terbaring di sofa dengan tidur yang begitu lelap. Arion duduk di ruang makan dan melihat meja kosong melompong.
"Hah? Kenapa wanita itu belum menyediakan sarapan?" Gumanya sembari mengerutkan dahi.
"Apakah dia masih sakit?" Bingung dan beranjak untuk memeriksa.
"Arghkkkkk,,,,,," Terjatuh dengan ketakutan.
Arion berteriak keras dan panik di saat melihat sosok yang mirip hantu. Lovisa yang merasa begitu ngantuk, karena tidak bisa tidur kemarin malam. Lalu dia berusaha untuk bangun dan berjalan ke dapur dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan dan rambut yang begitu berantakan.
"Aihhh, apaan sih? Masih pagi udah teriak-teriak?" Guman Lovisa.
"Kamu ini wanita atau apa? Masih pagi aja udah buat orang hampir mati." Berdiri.
"Menurutmu? Jika aku laki-laki mana mungkin kamu jadi orang brengsek yang mengambil kesempatan?" Mengabaikan lalu pergi.
Lovisa membuka lemari penyimpan makanan dan mengeluarkan beberapa sayur dan juga 2 butir telur. Dia ingin memotong beberapa bawang, namun tanganya kanannya masih begitu lemah.
"Kak Arion?" Menoleh sembari mengedip-edipkan matanya ingin meminta bantuan.
"Cih,,," Mengabaikan.
"Heh...? Tidakkah bisa kak Arion membantuku?" Wajah kasihan.
"Aku ingin pergi mandi. Dalam 15 menit aku ingin sarapan, tidak bisa telat 1 detik pun!" Pergi.
"Hah? Tapi tangan ku masih lemah. Makanya kamu bantu aku dulu, biar enggak telat sarapanya!"
"Bodoamat." Bisiknya.
Β
Setelah 15 menit Arion datang ke ruang makan dan menarik kursinya lalu duduk. Dia melihat di meja makan seperti biasanya sudah tersedia sarapan. Dia tersenyum kecil merasa senang karena Lovisa tidak telat satu detikpun.
Arion melihat sekelilingnya dan tidak melihat Lovisa. Dia mengambil piringnya lalu mengisi beberapa sarapan dan mulai menyantapnya. Dan setelah sarapan Lovisa pun tetap belum kelihatan.
"Kemana wanita itu?" Pikirnya dalam hati.
πππππ
"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!π Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."β€
__ADS_1