
"Tik...tik...tik..." Rintikan hujan.
"Aihhh." Arion segera berlari begitu juga dengan Lovisa.
Arion menoleh ke belakang dan membuka kemejanya lalu memayungi Lovisa dengan kemeja tersebut.
Lovisa terkejut dan terbelahak. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan wajah yang memerah.
"Mengapa menatapku seperti itu? Ayo cepat! Nanti lukamu makin parah."
Guman Arion sembari melihat Lovisa tanpa ekespresi.
Lovisa menunduk-nundukkan kepala dan mereka berlari secepat mungkin ke halte yang tidak jauh di depan mereka. Lovisa merasa begitu sangat senang.
"Tap....tap...tap..." Suara hentakan kaki mereka.
"Jantungku berdebar semakin cepat, apakah ini sebuah perasaan cinta?" Bisik Lovisa dalam hatinya, dengan wajah bahagia.
Tidak lama mereka sudah tiba di halte bus. Arion memperbaiki rambutnya dengan tangan. Lovisa berdiri menyentuh luka di kepalanya, dan merasa perih.
"Srek...srekkk." Mengibaskan kemejanya.
Lovisa duduk dan meletakkan barang bawaanya. Arion menoleh ke arah timur untuk melihat bus.
"Mengapa hari ini perasaanku semakin mengejolak?" Bisik Lovisa dalam hati, sembari melihat punggung Arion.
"Apa lukamu perih?" Tanya Arion sembari menoleh.
"A...hhh iya, sedikit perih." Segera mengalikan pandangan dengan canggung.
Arion mencoba untuk memeriksa luka Lovisa, dan membuka perbannya. Arion meraba kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru. Dia mengantikan perban tersebut dengan saputangan yang dia bawa dari rumah.
"Walaupun luka kecil, sangat berbaya jika di biarkan basah seperti ini." Meniup, sembari memperbaiki sapu tangan yang dia gunakan sebagai perban.
"Mengapa dia bersikap lembut? Bahkan meniup lukaku?" Guman Lovisa dengan bingung
__ADS_1
"Deg...deg...deg....." Detakan jantung yang makin cepat tak menentu.
Lovisa menoleh ke Arion yang sedang mengobati lukanya. Arion berpura-pura tidak melihat dan menempelkan sapu tanganya lalu duduk.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku melakukanya karena itu kesalahan ku juga." Guman Arion tanpa ekspresi.
"Hah? A...aku, aku nggak berpikir aneh-aneh kok." Jawab Lovisa dengan gagap sembari melihat kiri, kanan.
"Busnya sudah datang!" Arion yang melihat bus datang dari arah timur, dan segera berdiri sembari membawa barang-barang belanjaan yang ada di samping Lovisa.
Bar club Ares
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Victoria yang duduk dengan beberapa laki-laki remaja di sofa club. Nisa berjoget-joget dengan beberapa orang yang ada di bar club tersebut.
Victoria di kelilingi beberapa laki-laki dengan minuman keras di tangan. Mereka mengajak Victoria untuk minum, dan bersenang-senang.
"Heiii,,, apakah kamu ingin minum denganku?" Tanya salah seorang pria yang baru datang.
Mendekati Victoria sembari menyodorkan segelas minuman keras. Dia memperhatikan paha Victoria, sembari tersenyum sinis.
Laki-laki yang mengelilingi Victoria terlihat tidak baik, dan berencana untuk mencelakai Victoria. Mereka saling menatap, dan tersenyum jahat. Nisa asik dengan dunianya sendiri dan melupakan bahwa Victoria sedang mabuk bersama laki-laki.
"Apa kalian juga teman Arion? Kalian benar-benar tampan sepertinya. Whahahah." Guman Victoria yang sudah mabuk.
"Wah, sepertinya dia masih seorang gadis sungguhan." Bisik laki-laki di sampingnya sembari mulai beraksi ingin mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Coy, ayo segera bawa dia! Kita akan berpesta malam ini." Pintah seseorang yang sedang bersamanya.
Victoria terlihat sudah mabuk berat, dan membaringkan badanya di sofa. Dia melihat langit-langit ruangan tersebut sembari tersenyum.
"Bahkan dunia ini terlihat lebih indah. Pantasan ayah tidak memperbolehkanku melihat dunia luar, mungkin karena keindahan ini yang akan membuatku terus bertahan di sini. Hikssss.....hikssss."
"Coy, sepertinya wanita ini putri seorang aktor. Dia sangat mirip, bagaimana klo kita kena masalah nantinya?"
__ADS_1
"Kamu nggak usah banyak bacot deh! Ayo kalian tuntun dia ke markas kita! Aku akan membayar tagihan sebentar."
"Aku serius, dia begitu mirip dengan di foto ini!" Memberi tunjuk pada temanyaย melalui ponsel. Tapi mereka tidak peduli, dan segera melakukan apa yang di perintah oleh ketua gengnya.
Beberapa orang dari mereka menuntun Victoria, dan dua orang lainnya mengambil tasnya, dan mengantongi semua uang yang ada di dalam tas Victoria.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Victoria sembari melihat dengan mata sedikit terbuka.
"Kamu tidak usah banyak bertanya! Bisik salah satu orang tersebut.
"Kamu lihat di depan, tidak ada polisi kan?" Tanya teman laki-laki tersebut.
"Sepertinya aman, ayo segera kita bawah! Ini akan sangat menyenangkan." Guman salah satu temannya.
"Oekkk,,,,oekkkkk,,,," Muntah ke bahu salah satu laki-laki tersebut.
"Aihh, bedebah ini malah muntah di bahuku." Merasa kesal.
Masih di depan bar club, beberapa polisi telah datang mengerebek tempat tersebut. Semua panik, dan terburu-buru untuk menyelamatkan diri masing-masing.
"Ahh, sial ayo cepat tinggalkan wanita itu!" Lari secepat mungkin dan melepaskan Victoria.
Victoria terjatuh di jalanan, dan melihat seorang polisi yang berdiri di hadapanya dan dia tertawa sembari menangis.
"Mengapa aku nggak bisa keluar dari tempatku? Bahkan sekarang ayah mengirimkan polisi untuk menghukumku juga? Hiksss,,,,hiksss."
"Amankan wanita ini! Sepertinya dia mabuk berat!" Pintah polisi tersebut pada temannya. Victoria yang terlihat begitu kacau, dan menoleh ke kiri kanan, lalu melihat dengan samar-samar.
"Mengapa di mimpiku juga ada anak menjijikan ini?" Menutup mata dan tertidur.
Egmont yang berdiri di belakang salah satu toko di dekat bar club, sembari memperhatikan Victoria.
"Apakah dia melihatku?" Guman Egmont, dan segera bersembunyi ke dalam gang.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
~**Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku. Semoga kalian suka dengan karyaku.๐
Salam hangatku๐**