Pelukan Hangat

Pelukan Hangat
Bab 40


__ADS_3


Perusahaan TC


Hiruk pikuk semua orang di dalam perusahaan itu yang terlihat sangat sibuk. Hari pertama kerja pun akan di mulai. Tidak tau ini hari yang menyenangkan dan mendapat akhir yang bahagia atau sebaliknya.


Lovisa melangkahkan kakinya memasuki gedung pencakar langit itu. Dia di antar oleh sahabatnya Jiera, untuk hari pertama kerja. Terlihat aura dingin yang sulit untuk di tebak di dalam ruangan tersebut.


"Tak,,,tak,,,tak..." Suara langkah kaki dari arah timur.


Seketiga ruangan itu semakin dingin dan aura yang gelap. Semua memberi hormat pada orang yang baru datang itu dengan ketakutan yang terlihat jelas pada wajah karywan.


"Selamat pagi pak." Sapa karywan.


"Tak.,,tak,,,tak." Pergi begitu saja.


"Sepertinya perusahaan ini tidak begitu harmonis dengan atasannya. Dan siapa pria yang barusan mereka sapa itu? Aku tidak sempat menolehnya." Guman Lovisa.


Setelah beberapa menit Jiera pergi ke kantornya yang tidak jauh dari perusahaan TC. Lovisa sedikit gugup karena ini pertama kali untuknya kerja di perusahaan.


"Permisi, apakah Anda karywan baru yang bernama Lovisa?" Seorang karywan menghampiri Lovisa.


"Iya, ada apa?" Tanyanya.


"Silahkan ikut dengan saya!" Membimbing Lovisa ke ruang Direktur utama.


Ruangan yang begitu mewah, tampak seperti di hiasi dengan karya seni yang begitu unik. Seorang pria parubaya yang duduk dengan setumpuk kertas di mejanya.


Lovisa bingung dengan wanita yang menyuruhnya untuk menemui direktur utama. Sedikit gugup, dan tidak terlalu percaya diri.


"Silahkan duduk!" Menujukkan sebuah kursi di hadapanya.


"Terima kasih pak." Gumanya dengan gemetar.


"Cika, tolong bawakan dokumen ini ke ruangan presdir!" Pintah pria itu.


Lovisa tidak berani berguman, dan hanya duduk dengan kegugupan. Dia melirik isi kertas yang ada di meja direktur tersebut, dan tidak sengaja melihat data pribadinya yang ada di atas kertas, tepat di depan direktur itu.


Setelah wanita itu mengambil berkas yang di berikan direktur dia pun segera pergi. Suasana semakin membuat Lovisa canggung.


"Apa kabar Lovisa?" Tersenyum hangat.


"Di,,dia bicara santai?" Tanya dalam hati, kebingungan.


Pria itu menyodorkan sebuah kertas yang berisikan surat kontrak. Lovisa terbelahak melihat surat itu, dan masih tidak paham dengan tujuan direktur.


"Kamu karywan baru kan? Dan aku sudah melihat data pribadi mu, dan sudah mendegar tentang mu dari rekan kerjaku. Aku mungkin terlalu berlebihan, karena langsung menyodorkan surat kontrak.

__ADS_1


Di lihat dari sisi pendidikan, dan juga karakter Anda aku yakin bahwa Anda bisa bekerja kompeten di perusahaan ini. Anda juga bisa memikirkannya terlebih dahulu! Ini ada surat kontrak kerja sebagai model kelas atas.


Saya dengar dari teman Anda, kepribadiaan yang anda miliki sangat menarik. Gaji juga sangat menjamin kehidupan Anda ke depannya. Jadi tolong pertimbangkan iya!


Jika Anda bersedia bisa hubungi saya! Nomor saya ada tertera di kertas itu." Guman direktur tersebut.


Lovisa terdiam, dan makin bingung. Dia tidak mengira seorang direktur berbicara begitu sopan dan punya etika yang sangat patut di contoh. Padahal dia hanya lha seorang karywan baru, bahkan belum ada sejam bekerja.


"Mengapa jadi seperti ini? Aku kan nggak pernah tertarik dengan pekerjaan model?" Bisiknya dalam hati.


"Anda jangan terlalu memikirkannya! Ini kan hanya sebuah kontrak, jika Anda terus memikirkannya bisa-bisa Anda jatuh sakit." Guman direktur tersebut.


Lovisa menaikkan pandanganya, dan melihat di rektur tersebut. Di tersenyum dengan canggung dan wajah yang penuh kebingungan.


"Terima kasih pak, tapi saya sebelumnya ke sini untuk bekerja sebagai karywan biasa." Gumanya.


"Hohohoo,,, saya tau jelas akan hal itu. Tapi teman Anda berisi keras mengajukan untuk menjadikan Anda sebagai model kelas atas." Jawabnya dengan santai.


"A...apa? Teman saya? Maaf pak, klo boleh tau teman saya yang mana iya?" Penasaran.


"Jika saya memberitahu Anda, kemungkinan besar dia akan memutuskan kerja sama dengan ku. Untuk itu aku belum bisa memberitahukanya pada Anda."


Lovisa mengerutkan dahi. Dia melirik isi surat kontrak tersebut. Tiba-tiba matanya terpana dengan gaji yang tertera di atas kertas itu.


"Wahh,,, klo aku menandatangi ini sih rasanya cukup menarik juga!? Gajinya sebesar itu pasti bisa mengubah hidup ku dan kedua adikku. Model kan hanya perlu berpose!?" Gumanya dalam hati.


"Anda bisa memikirkanya dulu!" Gumanya yang mulai kesal.


Lovisa tidak mengerti dengan perkataan direktur tersebut. Lovisa hanya tetap diam dan duduk tanpa segera pergi meninggalkan tempat itu. Direkturnya begitu canggung menyuruhnya untuk keluar, dia sudah memperhalus bahasanya berkali-kali.


"Baik pak aku sudah memikirkanya." Penuh energi.


"Hah!? Jangan bercanda? Mana mungkin dalam beberapa menit Anda langsung bisa memikirkanya?" Terkejut.


"Itulha ke ahlian saya pak." Tersenyum.


"Waduh,,,sepertinya aku tidak berhasil membujuknya menjadi seorang model." Bisik direktur dalam hatinya.


"Apa saya boleh pinjam pena bapak?" Sembari tersenyum lebar.


"Hah?" Mengerutkan dahi.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Rismon aku dengar hari ini ada model baru yang belum berpengalaman di terima iya?" Tanya Arion.


Arion yang sedang sibuk dengan pena dan kertas di hadapanya. Dia yang mengetahui bahwa direktur utama menjadikan seorang karywan baru yang belum berpengalaman menjadi model. Dia tidak bisa menerima kecerobohan para kliennya, dan bertanya pada sekretaris pribadinya.

__ADS_1


"Benar pak, dan wanita itu juga baru pertama kalinya bekerja." Sahutnya.


"Bruk..." Menghentakan tangan di meja.


"Ehhh, ada apa pak?" Gugup seketika.


"Panggil direktur utama ke ruangan ku! Berani sekali dia bertindak bodoh di perusahaan ini!?" Emosi yang meluap-luap.


Sekretarisnya segera bergegas, memanggil direktur utama. Dia tidak pernah melihat Arion semarah itu, dan ruangan menjadi sangat suram.


Ponsel Arion berdering, dan dia melihat di layar ponselnya yang tertera nama Adrian. Dia menjawab sembari memasang wajah yang masih kesal.


πŸ“²"Apa kamu sudah bertemu dengan karywan pilihan ku?" Tanyanya dengan nada santai.


πŸ“² "Sangat menyebalkan. Aku sudah menutup pendaftaran untuk penerimaan karywan baru." Kesal.


πŸ“² "Hah? Jangan bilang kamu tidak menerimanya?"


πŸ“² "Apa kamu sudah bosan hidup? Apa urusanya pekerjaanku dengan mu?" Wajah yang penuh emosi itu semakin memanas.


πŸ“² "Awas saja jika kamu menolaknya. Kamu akan menyesali perbuatan itu!" Kecewa.


πŸ“² "Apa kamu mengancan mu? Aku menolaknya, dan menyuruh agar dia bekerja di bagian perekonomian. Tapi dia malah membuat masalah besar!" Teriaknya dengan kesal.


"Tut,,,tut,,,tut,," Panggilan terputus.


Arion yang begitu kesal tidak bisa di redahkan dengan waktu yang cepat. 2 jam yang lalu dia sengaja menyuruh direktur utama untuk mengurus karywan baru itu. Tanpa diduga karywan baru itu, malah di jadikan model kelas atas.


🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah pulang kerja Lovisa kembali bersedih. Beberapa waktu lalu, sebelum dia pergi mencari Arion semuanya seakan baik-baik saja.


Namun akhir-akhir ini sangat berbeda. Kesedihan yang terus menerus menerpa dirinya, dan hidup yang semakin sulit di jelaskan.


"Seandainya ayah, dan ibu masih hidup semuanya akan terlihat menyenangkan. Saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersama, namun sekarang semuanya telah berbeda." Gumanya sembari menatapi langit yang di penuhi bintang.


Dari raut wajah Lovisa bisa terlihat kesedihan yang begitu dalam di hatinya. Dia sangat malu pada dirinya yang telah membuat kesalahan besar. Demi sebuah cinta dia kehilangan adiknya yang ceria.


"Jika bukan karena perasaan bodoh itu, mungkin Leri tidak akan membenci ku. Aku telah menghancurkan harapan dan masa depanya. Apa artinya aku sebagai kakak untuknya? Aku tidak bisa mempercayai sebuah perasaan bodoh itu lagi.


Tapi sangat menyakitkan jika aku menginggat semangatku yang tidada duanya untuk mengumpulkan uang, agar bisa menemuinya. Semuanya hanya lha imajinasi ku yang tidak masuk akal.


Aku begitu mempercayai omongan laki-laki yang tidak betanggung jawab dalam omonganya. Aku bahkan menolak pekerjaan yang seharusnya sudah membuahkan hasil, demi bisa menemuinya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku, semoga suka dengan ceritanya iya!😊 Sebuah like, dan komentar dari kalian seribu makna dan kebahagian untukku."❀

__ADS_1


__ADS_2